Personal Problem
Valissa tiba-tiba terbangun. Tubuhnya berkeringat dan napasnya tersengal-sengal. Ia baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang terus menghantuinya, ketika ia terkurung di dalam kulkas dan suara dentuman membuatnya terpelanting sebelum terjatuh berdebum. Dadanya terasa sesak sekalipun itu hanya mimpi, rasanya begitu nyata.
Ia meraih hpnya, mencoba mengalihkan pikirannya dan melihat satu pesan masuk. Dari Theo.
'Mau makan ramen instan?'
Pesan itu dikirim sejak pukul 9 malam. Jam ketika mereka baru pulang dari butik setelah pesta perpisahan Victor. Valissa menginap di salah satu hotel milik perusahaan ayahnya.
Ia mengecek jam, sekarang pukul 2 dini hari.
'Mau'
Valissa baru membalas pesan itu. Meskipun ia tahu Theo mungkin sudah tidur.
TOK TOK!
Suara pintu kamarnya diketuk beberapa menit setelah ia mengirim pesan tersebut. Valissa beranjak dan mengintip dari celah pintu. Itu Theo. Ia menginap di kamar sebelah. Valissa membukakan pintu.
Theo berdiri di depan pintu, mengangkat dua cup ramen. "Apa kau tidak bisa tidur atau mimpi buruk?"
Valissa bergidik. "Kau membuatku takut, apa kau tidak tidur dan menungguku membalas pesanmu?"
Theo melangkah masuk. "Itu tidak penting," jawabnya langsung menuju dapur. "Apa kau punya stok telur?"
"Tidak," Valissa menjawab sebelum ia menguap karena masih mengantuk.
"Payah," Theo akhirnya menelpon petugas hotel untuk meminta telur.
[]
Mereka menyantap ramen instan sambil menonton tv. Hal yang biasa mereka lakukan. Theo baru saja selesai membersihkan dapur mini dari sisa-sisa sampah dan kembali duduk di sofa.
"Sepertinya mimpi buruk ya," kata Theo.
Valissa menoleh dari tv ke arah Theo. "Apa?"
"Kau sudah tidur dan terbangun karena mimpi buruk?"
Valissa mengangkat bahu. "Aku hanya lapar."
Theo teringat ucapan nenek, bahwa Valissa tidak pernah tidur sampai mendengkur.
Valissa melirik Theo. "Apa kau akan tinggal di sini terus?" tanyanya sarkas untuk mengusir Theo.
Theo mengubah posisi duduknya menjadi posisi nyaman. "Ya, aku akan di sini sampai kau tidur mendengkur."
Valissa melempar cup ramennya dan ditangkap oleh Theo. "Aku tidak mendengkur!" protesnya.
"Aku akan merekamnya nanti, sebagai bukti."
Valissa kehabisan barang yang bisa dilemparnya dan memutuskan untuk membiarkannya kali ini.
Waktu berlalu dan mereka hanya duduk di sofa ujung ke ujung sambil menonton tv. Saat Theo sudah mulai ikutan mengantuk, ia lalu mendengar suara deru napas yang halus Valissa.
Ia menoleh ke sumber suara. Valissa sudah tertidur dengan kepala terkulai bersandar pada sofa. Theo merogoh saku celananya, menyiapkan hpnya untuk mengabadikan bukti namun, saat ia telah memegang hpnya, ia kembali menatap Valissa yang sedang terlelap.
Ia mengurungkan niatnya.
[]
Theo tinggal bersama ibunya. Ayahnya meninggal saat dirinya masih dalam kandungan ibunya. Ibunya hidup bersusah payah demi membesarkan anaknya. Suatu saat, ibunya bekerja di salah satu perusahaan kecil milik ayah Valissa. Ayah Valissa memberikan bantuan persalinan dan sebisa mungkin memberikan kehidupan yang sejahtera pada seluruh karyawannya. Hal ini pula yang membuat banyak orang yang setia kepada keluarga Collin yang memiliki loyalitas yang totalitas pada karyawannya terutama bagi yang membutuhkan.
Theo tumbuh di lingkungan keluarga Collin, ia hidup berkecukupan. Theo berteman dengan Valissa, anak sulung dari perusahaan Collin dan mereka menjadi dekat. Melihat potensi Theo, ayah Valissa memberikan pendidikan akademik mau pun non-akademik pada Theo dengan harapan anak itu dapat berguna. Setidaknya bagi anak sulungnya. Meskipun niat awalnya adalah memanfaatkan Theo, perilaku ayah Valissa pada Theo sudah seperti anaknya sendiri. Ia menyekolahkan Theo sama seperti ia menyekolahkan Valissa dan Victor.
Saat Theo berusia 16 tahun, ibunya meninggal dunia akibat suatu penyakit. Di saat-saat terakhir ibunya, Theo mendengar permintaan terakhir ibunya, yaitu untuk selalu menjaga Valissa dan Victor.
[]
Valissa terbangun, ia mendadak waspada efek tidur kebablasan lagi. Ia menatap sekitarnya, masih di kamar hotel. Ia tertidur di sofa dan ada selimut yang menyelimutinya. Ia beranjak sambil mengusap matanya, menghilangkan kantuk. Ia melihat makanan terhidang di atas meja makan. Valissa meraih hp-nya dan menelfon Theo.
"Dimana?" tanya Valissa.
"Butik," jawab suara di seberang. "Kau sudah sarapan? Aku meminta petugas hotel menyiapkannya di kamarmu karena kau pasti bangun melewati batas jam sarapan hotel,"
Valissa mulai mencicipi makanan. "Jadi, kau dapat rekamannya?"
Hening sejenak.
"Aku tak berani merekamnya,"
"Kenapa?" tanya Valissa.
"Terlalu mengerikan. Aku terlalu takut untuk merekamnya dan memutarnya kembali–"
TUT!
Valissa memutuskan telfonnya dengan kesal dan melanjutkan sarapan.
[]
Valissa tiba di butik. Kayla, karyawan butik menyambutnya dengan senyum merekah. Pertanda suasan butik bagus.
Ia berjalan menuju ruangannya. Membuka laptopnya dan memeriksa emailnya. Ada beberapa janji pertemuan dengan sumber informasi. Valissa melakukan pekerjaannya seperti biasa. Ia meminta kelengkapan data dalam bentuk file dan di-upload ke databasenya, tempat teraman untuk menyimpan informasi dan data.
Suara pintu ruangannya diketuk. Seseorang masuk membawa sebuah map dokumen di tangannya. Theo.
"Lisa, apa kau marah?" tanya Theo.
Valissa mengerutkan dahi. Apakah yang Theo maksud adalah masalah tentang rekaman tadi pagi?
"Mengenai apa?" tanyanya.
"Mengenai... desain yang kau pilih tidak terlalu laku. Aku sudah meminta desainernya untuk membuatkan desain baru--"
"Theo, aku tak peduli. Berapa kali kukatakan, laku atau tidak, viral atau tidak, dikomplain atau tidak, aku tidak peduli!" Valissa menghela napas frustasi.
"Tapi, desain yang satu ini aku yakin akan laku, ini lagi trend di kalangan anak muda, coba kau lihat dan pilih desain mana yang bagus menurutmu," Theo menyerahkan beberapa lembar gambar desain.
"Tidak, kau saja yang pilih," Valissa menolak.
"Tetap saja, aku ingin lihat pilihanmu," Theo mendesak.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin menilai selera fashionmu," ucap Theo datar.
Valissa pun mengamati desain tersebut dengan serius. "Yang ini," ia menunjuk salah satu desain.
Theo mengangguk-angguk, memberi penilaian. "Apa kau yakin?"
"Sudahlah, keluar kau!"
Valissa melempar sepatu haknya dan berhasil dihindari Theo, ia bergegas keluar.
[]
Jam menunjukkan pukul enam sore. Butik sudah bersiap untuk tutup. Seluruh karyawan bersiap, membereskan segahal hal sebelum menutup butik. Namun, saat pintu hendak dikunci, seseorang datang dan berkata hendak membeli 'pakaian' dan memaksa hendak bertemu dengan Valissa.
"Siapa?" tanya Theo pada Kayla yang baru saja menjelaskan situasi.
"Katanya ia harus bertemu dengan Nona Collin, ia butuh 'pakaian' yang sangat mendesak."
Theo melirik Valissa, menunggu ia memutuskan.
Valissa duduk di meja kerjanya. "Mari kita dengarkan dulu, 'pakaian' seperti apa yang ia cari."
Kayla mengangguk dan bergegas kembali untuk mempersilakan pelanggan untuk bertemu pemilik butik.
Seorang wanita muda, usianya tak lebih dari 25 tahun, pakaiannya seperti orang kantoran. Wajahnya terlihat sedikit pucat, seperti baru saja dikejar sesuatu.
"M-maaf saya sudah memaksa masuk, nama saya Tania. Saya mendapat informasi sangat penting dan... sepertinya saya sudah ditargetkan... saya mungkin tidak akan selamat..." wanita itu sebisa mungkin menutupi rasa takutnya akan teror yang sedang menghantuinya.
"Baiklah, informasi apa itu?" tanya Valissa dengan tenang.
Tania menarik napas dan sebisa mungkin mengatur napasnya agar dapat menjelaskan dengan leluasa.
"Kelompok Jims.Co baru saja melakukan transaksi senjata secara ilegal di kota Xeratie, mereka menyelundupkannya ke beberapa perusahaan mereka di beberapa tempat dan dalam waktu dekat akan ada penyerangan antar kelompok lawan bisnisnya... Val.Co salah satu targetnya, tapi masih belum ditentukan waktunya," jelas Tania.
"Senjata ya," gumam Theo.
"Apa ada bukti konkrit dari informasimu ini?" tanya Valissa.
Tania mengeluarkan hpnya, lalu menunjukkan sebuah foto seorang pria. "Dia adalah Chief Operating Officer (COO) sekaligus anak dari ketua kelompok Jims.Co. Dia yang mengatur semua rencana ini, anda bisa melakukan background cek menggunakan foto ini."
Valissa dan Theo mengangkat kedua alis mereka. "Anak dari ketua kelompok Jim.Co?" gumam Valissa.
"Apa kau ketahuan?" tanya Theo.
Tania mengangguk. "Mereka mencurigaiku sebagai mata-mata Collin, cepat atau lambat, aku pasti akan dilenyapkan."
"Theo, hubungi Ash, minta dia kirimkan pengamanan," ucap Valissa. "Tenang saja, kau akan aman."
Theo mengangguk, mengeluarkan hpnya dan menelfon Ash.
Tania sedikit tersenyum lega. "Saya berterima kasih, tapi... ada sedikit masalah personal..."
"Masalah personal?" Valissa mengangkat sebelah alisnya.
"Saya... sedang menjalin hubungan dengan anak Ketua kelompok Jims.Co..."
[]
A/n:
When your enemy is also your lover🥲
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top