Signed

Tidak ada yang bertanya apakah aku siap. Semua telah diisi, kecuali satu tanda tangan.

Aku menatap kertas itu, selagi Zayn menggenggam tangan kiriku di bawah meja. Dengan sedikit tekanan, yang aku kenali dan tidak ingin mengulanginya lagi.

Tidak. Aku tidak ingin melakukannya.

Tidak. Meski nyawaku akan menjadi taruhannya.

Sungguh, aku menolaknya. Tapi tangan kananku terangkat, meraih bolpoin yang tergeletak di atas kertas—berisi data-data kami.

Seorang wanita di hadapanku berdeham, menghentikan ujung perak itu sebelum benar-benar menggoreskan tintanya.

"Do you both consent to this marriage?"

Aku mengangkat wajahku, menatapnya yang seolah berusaha membacaku. Wanita itu tidak tahu apapun, 'kan? Semua berjalan dengan sangat rapi di gedung ini, terlalu terlambat untuk sebuah perasaan.

"Yes." Zayn menjawab, mewakili dirinya dan diriku.

Ujung jarinya menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga kananku. Yang menyematkan namanya di bawah kulitku, yang selalu menjadi tempatnya membisikkan kata-katanya.

Dan tubuhku selalu bergerak lebih dulu, daripada pikiranku. Namun, kali ini kehampaan memenuhi isi tengkorakku, sehingga yang tercipta hanya satu anggukan kecil.

"Please state your consent." Wanita itu melirik ke arah kertas di hadapanku.

Di atas kertas, tinta basah membentuk titik kecil. Tanganku sempat berhenti beberapa detik, oksigen menipis di paru-paru, tetapi satu garis vertikal tercipta, disusul beberapa lengkungan kasar, patah, dan di sanalah akhirnya aku berada. Satu titik di akhir tanda tanganku.

Pintu telah tertutup. Tidak ada lagi jalan keluar. Zayn memberikan ciuman singkat di kening sebagai hadiah atas sebuah kepatuhan yang terlalu mahal.

Wanita itu merapikan dokumen-dokumen kami. Bibirnya yang dipoles lipstik merah muda, bergerak sekadar memaku telingaku dengan kenyataan bahwa kami telah resmi bersama di bawah hukum negara.

"Dokumennya akan dikirim paling cepat tiga hari ke alamat yang tertera," katanya, masih tidak puas menanamkan paku yang telah mencapai dasar dan siap meretakkan apa yang ditempanya. "Selamat atas pernikahan kalian."

Dia menjabat tanganku, setelah Zayn lalu kami pergi dengan tangan pria itu melingkar di pinggangku.

Kami berjalan di lorong, dinding-dinding dengan kaca memantul kabur bayanganku. Setiap langkah yang kuambil, terasa menyempit dari sebelumnya.

Aku melihat beberapa pasangan di ruang tunggu, saling menggenggam atau berbicara dengan mata mereka yang memancarkan perasaan paling jujur untuk satu sama lain. Napasku berembus, pelan dan tipis, selagi kuku telunjuk menekan ibu jari. Bukan aku, tidak seharusnya aku dibawa terlalu jauh.

Pintu terbuka, angin membawa daun-daun kering bergerak bebas di atas paving block, dan beberapa bagian mengenai sepatuku. Aku menunduk sejenak, burung gagak berhenti di dekat tempatku berdiri, mematuk tanah keras seolah berharap akan menemukan sesuatu.

"Pakai ini." Suara Zayn terdengar, bersamaan dengan long coat yang tersampir di kedua bahuku.

Hangat, tapi menyimpan sesuatu yang tidak bisa diberi nama. Angin berembus semakin kencang, menerbangkan rambut dan mengeringkan tenggorokanku.

Tetes hujan mulai mengenai kulit. Air yang tidak membantu sedikitpun.

Seseorang terlihat dari sudut mata, tidak menjadi hal yang kupedulikan, tapi suaranya menarikku.

Tidak melihatku, tapi Zayn. Tidak menyapaku, hanya Zayn. 

Selalu Zayn.

"You might want something warm."

Kedua tangannya menggenggam gelas kertas berisi cairan yang mengepulkan uap tipis, kontras dengan udara yang semakin dingin.

"Temanku membatalkan kehadirannya, dan terlalu banyak untuk diminum sendirian." Dia menyerahkan satu gelas ke arah Zayn, membawa aroma kopi masuk ke rongga hidungku setelah woody dan leather miliknya.

Zayn mengambil gelas kertas itu. Mereka tersenyum—tidak sampai ke seluruh wajah—saling mengangguk. "Kafein memang tidak selalu baik," katanya pelan, "seperti stimulan yang selalu terlihat sebagai bantuan."

"Yeah." Dia mengedikkan bahu, dan sekilas menatapku.

Nyaris tidak terlihat, tapi membuat Zayn menajamkan tatapannya.

"Untuknya juga?" Suaranya tidak terdengar seperti pernyataan, tapi izin yang setengah hati karena jarak.

"Sure." Gelas kertas itu berhenti, nyaris menyentuh bibirnya. "She hasn’t had anything today, Joe."

Dia menjeda nama itu. Seolah sengaja menekankan maksud di balik sapaan yang seharusnya biasa.

… atau aku yang terlalu terlambat menyadari hal yang seharusnya tidak pernah menjadi biasa itu.

Joe menoleh ke arahku. Tatapan yang sama, senyum yang sama, tapi tidak memberikan efek apapun padaku. Tangannya terulur ke arahku, segelas caramel latte. Berpindah darinya, menjadi milikku dalam waktu yang lebih lama dari seharusnya.

Gelas itu hangat, seperti perang terselubung untuk mengalahkan dinginnya telapak tanganku.

Dan bukan hanya itu, ada tekstur lain. Kasar, tidak tertutup sepenuhnya oleh jariku, tapi Zayn tidak akan melihat ini, ‘kan? Seharusnya tidak.

Tidak.

Cairan manis di gelas itu tidak berani kusentuh. Dia masih sama, di posisi serupa, hanya bergeser menjadi berada di sisi tubuhku, lebih jauh untuk Zayn mengetahui apa yang belum kuketahui.

"Kalau kau tidak sibuk." Suara Zayn memecah keheningan, tangannya menggenggam tanganku di balik long coat-nya. "Tidak ada pesta besar, hanya keluarga, tapi aku ingin kau datang sebagai teman dekat Ammy."

Kedua alis Joe menyatu. Sesaat, seperti hanya gerakan refleks. Ia menengadah sesaat sebelum kembali pada Zayn, dan senyum lebar terlihat di wajahnya.

Tidak. Tidak ada yang menyukai jenis senyum itu. Cairan panas dari caramel latte mengenai tanganku yang gemetar.

"Of course. Send me the address."
Tangannya terulur untuk menjabat tangan Zayn—yang tidak langsung disambut. "Congratulations. To both of you."

Congratulations. To both of you. Kalimat itu terdengar lambat, seperti senyum Joe yang merekah ke arah Zayn. Bukan untukku, dan aku juga tidak tahu harus seperti apa.

Suara kendaraan di jalan raya terdengar, klakson menyertai di bawah cicit burung gagak. Jari-jariku yang menekan kertas tersembunyi dari Joe bergerak pelan, menariknya semakin ke dalam sebelum ia berpindah ke dalam genggamanku bersama gelas kertas yang beralih ke tangan kiri.

Zayn mungkin tahu ini. Dan membiarkannya, justru membuatku berada pada perasaan yang kutolak untuk diberi nama.

Tangan Joe berpindah ke arahku, membuat mataku turun sekadar menatapnya. Woody dan leather, manis caramel dan pahit biji kopi, semua memudar oleh musk dan citrus miliknya—tenang, terukur, mengalir dalam setiap tarikan napas.

"Ammy." Suara Joe terdengar. "Aku senang atas pernikahan kalian." Tangannya masih belum menerima sambutan, dan aku justru menoleh ke arah Zayn, bahkan sebelum pikiranku menolaknya.

Pria itu tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat, dengan wajah sedikit terangkat yang sengaja dibuat asimetris. Dia menilai, memuji, entahlah, karena lengannya perlahan melingkar di bahuku. Sentakan kecil, memaksa kami saling mendekat.

"We are late," katanya, seperti bisa ular yang diarahkan kepada siapa saja yang mendengar. "Keluarga kami menunggu untuk makan bersama, sekaligus membicarakan pestanya besok."

Cincin di jari manisku terasa panas.

Keluarga?
Pesta?
Dan … kami ….

Tidak pernah ada kata kami di sini. Sejak tangannya memotong napasku, atau mungkin sejak awal miliknya di atas kulitku yang kuanggap sebagai tangan Tuhan kusambut sebagai jawaban doa.

Joe tidak menjawab, tapi tubuhnya sedikit menjauh seakan memberi jalan yang tak seharusnya ia berikan. Teras gedung ini luas, keberadaannya tak menghalangi, dan meninggalkannya di balik punggungku tanpa sadar menyeretku pada saat itu.

Saat dia memohon diriku untuk bertahan, tapi aku lebih memilih bayangan yang merupakan Zayn. Suamiku. Hari ini. Secara hukum.

Zayn membukakan pintu mobil untukku, memutus bayangan Joe yang terpantul separuh—tanpa wajah—pada pintu mobil yang dingin. Tetes hujan sedikit membasahi rambut dan long coat milik Zayn di tubuhku, tapi tidak pernah cukup menghangatkan.

Terlambat. Dan sejak awal tidak bisa menjadi mungkin. Kenyataan yang kejam, saat sudut mataku masih melihat dirinya berdiri di tempat yang sama. Gedung yang sama denganku yang artinya—

"Kau tahu cara menghargai keberadaanku." Zayn sudah duduk di sampingku, tangannya yang dingin meraih tanganku yang masih menggenggam gelas kertas.

Ia letakkan gelas itu di dalam cup holder di antara kursi mobil kami, sebelum tangan lainnya menarik lembut garis pipiku agar melihat ke arah yang seharusnya.

"Thank you," bisiknya, tapi jelas terdengar di telinga. Ini pertama kali. Zayn tidak pernah mengatakannya, tapi kekosongan masih terlalu dalam untuk diisi. "No one gets to hurt my wife."

Tangannya di garis pipiku menuntun untuk mendekat. Bibir dengan rasa pahit dari kopi menempel di bibirku, sebelum lidah hangat yang tidak lagi membangunkanku menuntut menerima balasan.

Kegelapan menyambut, saat mata kupaksa untuk menutup. Untuk merasakannya. Untuk mencari ketulusan dari ucapan terima kasih. Dia ingin melindungiku.

Tapi suara di sudut terdalam kepalaku berbisik pelan, sangat pelan, dan nyaris tidak jelas.

Aku … tidak sanggup merangkai kata itu.


***

Sorry, ya, cerita ini mungkin lambat buat kalian yang terbiasa pace cepat 🙏🙏 semoga kalian bisa sedikit bersabar lagi karena bab selanjutnya, mereka akan bersitegang.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top