Trigger

Seperti seseorang yang dipindahkan tanpa bertanya, Zayn membawaku berdiri di tengah pesta pernikahan kami.

Bau anggur, parfume, dan hidangan lezat saling menekan satu sama lain untuk menjadi yang paling menonjol. Para tamu memperlihatkan penampilan terbaik mereka, memujiku, sekaligus mengatakan betapa beruntungnya Zayn mendapatkanku.

Ini pesta pernikahan. Para tamu memang selalu berbicara, tersenyum, dan mengangkat gelas. Musik mengalun dari arah band, menjadi suara lainnya di dalam kepalaku.

Ini pesta pernikahan. Lilin menyala di bawah lampu gantung keemasan. Orang-orang bilang suasana seperti ini hangat. Aku tidak merasakannya.

Aku … seharusnya bisa menjadi Ammy yang terbiasa menyapa di depan publik. Menjadi Ammy—seorang penulis—di mata pembaca dan orang-orang yang mendukungnya, bukan Ammy sebenarnya dengan tenggorokan yang diam-diam terasa terbakar.

Kilatan lampu menyala, setelah seorang photographer menghitung sampai tiga untuk mengambil foto diriku. Sebuket bunga lily masih terjebak di antara jari-jariku yang kaku. Bunga itu lebih cerah daripada gaun pengantinku, dan tampak kontras dengan warna rambutku. Putih yang tidak terasa seperti kesucian. Lebih dekat pada duka.

Duka?

Ini pernikahan. Tidak seharusnya duka.

Seharusnya … ketulusan. Penghormatan terdalam dari Zayn padaku.

Setidaknya, itu yang seharusnya kurasakan.

Akan tetapi, setiap kali lampu kilat menyala, setiap kali photographer mengarahkan posisi tubuhku, ketegangan selalu menyapu lembut tengkuk lalu menjalar di kedua lengan, serta sudut bibirku.

Zayn, ayahnya—Damian, dan para pria yang tidak lagi mengenakan topeng bauta berdiri memenuhi manor. Tidak ada perempuan, termasuk orang yang menangkap diriku di dalam kameranya. Aku satu-satunya perempuan, masih bisa bernapas dan tersenyum saat diminta. Namun, itu hanya tubuh yang digerakkan dari luar karena setiap kilatan cahayanya, ruangan luas ini terasa menyempit, seolah dindingnya bergerak pelan ke arahku.

Bukan hanya itu, tapi juga mengeluarkan akar beracun yang tanpa bisa dirasa mulai menusukkan racun untuk melumpuhkanku.

Telapak tanganku berkeringat. Buket bunga lily semakin berat, daripada seharusnya. Dan saat Joe terlihat di depan pintu utama manor, aku tidak bisa menyapanya. Ada batas—entah apa—seperti diriku terjebak dalam figura foto yang kacanya tidak bisa dihancurkan oleh tanganku sendiri.

Tatapan kami bertemu. Pria itu melangkah ke arahku, tapi terhenti tepat saat tangan Zayn melingkar di pinggangku dan suara photographer kembali terdengar memberikan instruksi.

Dua, tiga, lima, kilatan lampu menusuk mata. Mengikuti isi kepala yang tidak menentu untuk tetap berfungsi sebelum berhenti atau sebaliknya. 

“Look at me, Ammy.” Aku menengadah.

Tangan Zayn, dia tidak menekan, hanya dietakkan pada garis rahangku. Dan sebelum hitungan ketiga terdengar, dia mendekatkan wajahnya—menempelkan bibirnya pada milikku, mungkin menggeser lipstikku dari garis bibir.

“Whoa, that's amazing, Sir.” Photographer berbicara sedikit lebih bersemangat dari sebelumnya, mungkin ini adalah hasil foto terbaik untuknya.

Orang-orang yang sebelumnya memerhatikan sesi pengambilan foto di sekitar kami kembali ke aktivitas masing-masing, termasuk Damian. Pria itu tidak banyak bicara dan sekarang melangkah meninggalkan manor bersama satu pria di sisinya.

Joe menghampiri kami. Mengenakan setelan rapi yang sangat jarang kulihat saat kami masih … berteman. Tangannya membawa sekotak hadiah kecil, berbentuk persegi panjang.

“Hai, aku tidak tahu apakah ini pantas untuk berada di tengah-tengah kemewahan semua ini.” Dia tertawa kecil, tidak sampai ke mata, tapi terasa hanya ditujukan padaku.

Joe menatapku, mengarahkan hadiah itu dan aku menyambutnya.

“Thank you … Joe.” Sesuatu yang hangat memeluk pundakku yang tidak tertutup kain. Namanya, dulu hanya sebuah panggilan, tapi sekarang—

Berhenti. Aku menggeleng, tanpa membuat tubuhku melakukannya. “Boleh kubuka?”

Ia mengangguk, setelah selesai berjabat tangan dengan Zayn.

“Entahlah, hanya kuharap ini masih hal yang kau sukai ….”

Tubuhku tersentak, saat lidahku ingin mengatakan sesuatu. Ujung jari Zayn menyentuh tulang pipiku, menggeser sejumput rambut yang keluar dari kepangan dan menyelipkannya di balik telinga yang tersemat namanya.

“Yeah.” Joe mengedikkan bahu, seperti gugup tapi senyumnya memperlihatkan sesuatu yang nyaris kulupakan. “Dulu kau selalu memilih yang seperti ini.”

Memilih.
Memilih?

Pukulan lembut meninggalkan sesuatu di balik tulang rusukku, tidak bermaksud ingin menyakiti, tapi kepalaku mengingatnya seperti itu berarti penting.

Disappear.

Jariku gemetar saat membuka kotak itu dan benda kecil dengan tali logam dan bandul karakter yang khas, membuat pukulan lembut itu tidak lagi seperti menggelitik. Dia semakin tegas, menarikku paksa, menyadarkanku tentang—

Safety should not require you to disappear.

“Minnie Mouse?” Suara Zayn terdengar. Ujung jarinya menyentuh pengait di tanganku, menghentikan bandul itu agar berhenti bergetar. “Seharusnya dia sepasang,” katanya pelan.

“Ya, tapi tidak semua Minnie butuh Mickey.”

Zayn tertawa kecil tangannya yang bebas mengisyaratkan seorang pelayan laki-laki untuk mengarahkan nampan berisi beberapa gelas anggur agar diberikan ke arah Joe.

“Dalam ceritaku, iya,” jawabnya, “Minnie … tetap milik bayangannya.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku mengering, sakit, seperti cairan itu menyimpan jarum yang kutelan bulat-bulat.

Ini hanya gantungan kunci, Minnie Mouse, karakter yang kusukai, tapi percakapan dan suasana di antara mereka mengingatkanku pada sesuatu yang sangat lama.

Sandbox VR.

Tawa kering lolos begitu saja di bibirku, suara di tengah pesta menjadi dengung yang tidak lagi bisa kudengar jelas. Pikiranku bergerak mundur tanpa sempat dihentikan, sandwich, apel, sosok di balik topeng bauta—yang kurindukan, tapi juga kutakuti—dan … ibu.

Gigiku bergemeletuk, saat angin menyapu kulitku. Badai telah berakhir beberapa jam lalu, menyisakan langit berat dan kelembapan. Malam ini berbeda dengan saat itu, tapi tubuhku menggigil dan kurasakan basah seperti saat tangannya mendorongku.

“Sudah berlalu,” bisikku, “aku masih bernapas.” Tapi rongga hidungku panas, seakan air masuk begitu saja setiap udara mencoba memenuhi paru-paru.

Mataku tertuju pada Zayn, lalu Joe. Mereka masih saling bertukar kata, seolah aku tidak ada.

… atau memang tidak pernah ada, sejak darah Abraham berhasil kutumpahkan.

Luka yang membentuk garis horizontal di lenganku berdenyut. Tanda yang dibuat Zayn—bukti penyerahanku.

“Disappear.” Kata itu keluar, jelas terdengar di telingaku. “Kau… menghilang.” Aku menggeleng. “Tidak.” Ya. “Kau seperti—”

Rasa besi meledak di dalam mulutku. Wajah ibuku yang penuh darah tampak jelas di depan mataku. Seolah di di sini, tidak peduli dengan keadaannya yang tanpa pakaian.

Napasku pendek, saat mata itu membalas tatapanku. Dia di sana.

Tidak. Ibuku sudah mati.

Tapi dia berdiri di sana, sama seperti terakhir kali peluru memutus napasnya dan—

Run.
You can run.
You always run.
Ammy Harleigh … you are my daughter.

Buket lily terlepas dari genggaman, kait gantungan Minnie Mouse yang tersangkut di telunjukku, dan ibu yang berdiri di depan pintu masuk lenyap saat embusan angin masuk melalui celah tersebut.

Dia memang tidak ada di sana, tapi pipiku basah. Suara-suara di pesta kembali dan aku sudah berjarak cukup jauh dari mereka.

Zayn dan Joe, mereka jauh, lima meter dari tempatku sekarang, dan punggungku sudah menempel pada dinding.

“Kau baik-baik saja?”

Aku tidak menjawab, tidak juga menoleh untuk mencari tahu siapa yang bertanya. Hanya bergeser, berbalik, sebelum suara ketukan heels beradu setiap kali menyentuh lantai marmer. Milikku. Langkah yang tidak tergesa, tapi seperti rantai yang berusaha kuhancurkan.

Udara dingin menyambut rongga dadaku, menusuk, lembap, dan membuat kulit yang tidak tertutup gaun terasa basah tanpa tetesan hujan. Lampu kuning menjadi satu-satunya penerang jalan setapak di antara dinding berisi tumbuhan merambat, dan itu membuat napasku pendek.

Aku tidak perlu bertanya tempat apa ini karena seolah dipanggil, tubuhku sudah berada di antara jalan yang membentuk labirin. Pohon apel menjadi sebagian besar tanaman di tempat ini, selain lily dan mawar.

Hanya tumbuhan biasa, tapi perutku terasa berputar hebat. Patung-patung malaikat dengan anggota tubuh yang tidak lagi sempurna seolah menatapku. Mereka diam, tapi seakan bernapas bersamaku, dan menyatu dalam satu tubuh.

Tanganku menyentuh satu-satunya bangku di tengah kebun labirin dan kekacuan di dalam perutku berhasil meruntuhkan pertahananku. Cairan asam keluar, sedetik setelah lututku menyentuh rumput basah. Sebagian kecil mengotori gaunku, tapi tampak menyatu dengan warnanya di bawah cahaya seperti ini.

Aku menengadah. Cahaya? Satu patung wanita suci berada di hadapanku, yang paling sempurna, tinggi, dan menatapku.

You have your own way.

Suara ranting yang saling bergesekan terdengar. Angin menggerakkan mereka sebelum menyapu tengkukku.

Don't be … disappear.

Entah siapa pemilik suara-suara itu, tapi mereka memaksaku—bangkit, jangan berhenti.

Aku baru saja ingin melangkah, tumitku bahkan belum sempat menjauh dari tanah basah yang menenggelamkan sebagian heels-ku, dan sebuah tangan menyergap mulutku dari arah belakang. Menarikku ke arahnya, bersama tangan lainnya yang menahan kedua pergelangan tanganku di balik pinggang.

Citrus dan musk.

Aku menjerit di balik tangannya, menangis tanpa alasan jelas.

“Jangan takut,” bisiknya, tapi cengkeramannya berkata sebaliknya. “Ini aku.”

Kepalaku mengangguk, tapi ketakutan itu sudah menguasai hingga lidahku kehilangan fungsi.

“Kau menghilang, aku mencarimu, dan membuatku khawatir.” Dia menyeret tubuhku pada sandaran bangku besi, memaksa dadaku menempel di sana. “Tenang, Ammy, suamimu adalah pria yang pemaaf. Kau….” Tangannya menjauh dari mulutku, turun untuk menarik bagian bawah gaunku.

“Hanya harus diingatkan kembali. Untuk menenangkanku. Untuk memberitahu dunia bahwa kau telah menjadi istriku.”

Tidak! Teriakan itu hanya tersimpan di dalam kepalaku. Jangan sekarang. Mataku menatap balik ke arahnya. He is here. Bayangan nyaris terlihat jelas, bukan untuk bersembunyi, tapi jelas untuk diperlihatkan.

Api dari cerutunya menyala di tengah kegelapan, semakin mencolok saat ia menghisapnya. Dia berjarak cukup jauh, tapi aroma tubuhnya seolah saling menekan dengan citrus dan musk milik Zayn yang menghentakkan tubuhku dari belakang.

“Hen … tikan.” Suaraku pelan, tenggelam dalam desahan Zayn. “Dia … melihatnya.” Zayn tidak mendengarnya, jelas dari ritme tubuhnya yang bergerak lebih cepat di dalam tubuhku.

Jangan.
Jangan.
Kenapa kau di sini?

Rambutku mengencang, sakitnya mengangkat paksa wajahku hingga tulang punggung melengkung ke arah Zayn. Bibir pria itu melahapku, tarikan pada kepangan rambutku sedikit menciptakan rasa sakit di kulit kepala.

Lebih keras, batinku, tarik lebih jauh. Mungkin ini akan mengaburkan bayangan yang sedang menonton kami. Namun, sekuat apapun Zayn menyakiti tubuhku saat ini, dia masih di sana, nyata, dan tanpa bantuan cahaya aku tahu apa yang dia lakukan.

Cerutu itu terlalu lama terjepit di bibirnya. Apinya bergetar patah, seperti gerakan Zayn setiap kali memasukkan dirinya ke dalam tubuhku.

“Scream my name, Ammy.” Suara Zayn rendah, tapi ada sesuatu yang rapuh—yang tidak dia izinkan keluar.

Aku mengangguk. Memikirkan namanya, mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan satu kata itu, tapi tidak, bayangan bangkai gagak muncul di depan mataku.

It’s not real. Yet I can still smell something familiar.

“Z-Zayn—” Jari-jariku mati rasa, tanpa sadar menggenggam besi dingin pada sandaran bangku tersebut.

Zayn tidak menjawab, tangannya yang lain mengarah pada leherku, mencengkeram selagi gerakan pinggulnya menjadi lebih liar dan dia menggeram.

Cairan hangat keluar dari tubuhku. Miliknya di antara kedua pahaku. Milikku di kedua sudut mata. Dan api dari cerutu itu jatuh, padam seperti diinjak oleh pemiliknya.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Hening menyelimuti, tapi tubuhku gemetar karena menunggu sesuatu.

Tidak ada apapun.

“No … please.” Napasku pendek.

Aku mendengar suara Zayn, tapi tidak tahu apa yang dia—

Suara ledakan terdengar. Sekelompok burung dan hewan liar di ujung sana bereaksi, seperti tubuhku yang langsung kehilangan kekuatannya.

Aku jatuh. Tertelungkup. Tanganku meraba seluruh tubuh, mencari apa saja yang seharusnya terasa hangat, lengket, merah.

“Tembakan.” Kebisingan memenuhi telingaku, seolah orang-orang tak kasat mata mengelilingi kami. “Bukan aku. Siapa?” Aku menoleh.

Zayn.

“Zayn!”

Aku merayap ke arahnya, menyentuh tubuh yang meringkuk di atas rumput basah.

“No, no way, please.”

Tidak. Aku yakin tidak ada.

Telapak tanganku bersih saat menyentuhnya. Tapi—

“Zayn.” Aku memanggilnya lagi.

Tidak ada jawaban. Hanya mata yang tertutup rapat dan kulit dibanjiri oleh keringat. Dingin. Seperti ditenggelamkan di tengah lautan.

Napasnya pendek. Nyaris hilang.

Bukan dia yang ditembak. Bukan dia, aku meyakininya. Ayahku pergi. Tembakan itu bukan miliknya, tapi Zayn—

Aku meraih tangannya yang berusaha meraih sesuatu. Jari-jarinya berkedut, rahang bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu.

Dia tidak pernah seperti ini. Kenapa?

“Kau ….” Tubuhku bergerak mundur, saat dorongan itu datang. “Kau tidak terluka.” Suara langkah terdengar, bukan hanya satu tapi beberapa. “Bukan kau yang ditembak. Bukan—”

Run, Ammy.

Suara ibuku terdengar entah berasal dari mana. Aku menengadah, menatap patung wanita suci itu.

It's your chance.

Dia. Dia berbicara padaku. Patung tanpa nyawa, tapi terkoneksi denganku.

You're both lost. Leave.

Aku menoleh ke arah Zayn. Hanya sekali, sebelum tubuhku bangkit dan aku melakukannya.

Tanpa kalimat perpisahan. Maaf. Tidak perlu berpikir.





***

Halo, bab depan boleh aku taro di KK? Karena ada adegan incest (nyaris) super implisit, tapi batasnya bisa dibilang tipis dan pembunuhan dengan pelaku anak di bawah umur. Diriku takut kena report. Cuma 5k, kok.

Maaf atas ketidaknyamanannya 🙏

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top