Borrowed Control
Joe tidak lagi seperti yang kukenal sebelumnya.
Dulu dia menunggu. Membiarkanku berbohong. Membiarkanku pergi.
Setelah empat hari hidup dengan bayangan Zayn di kepalaku, hari ini aku mulai menyadari sesuatu—
“Joe … juga berubah.”
Dan aku tidak yakin perubahan itu membuatku lebih aman atau justru sama seperti sebelumnya.
Pertemuan kami di coffee shop, hari aku dan Zayn bertemu dengannya di kantor county, dan malam pesta pernikahan saat dia menemukanku—aku sedikit demi sedikit menyadari perubahannya.
Air keran mengalir deras di wastafel. Dingin menempel di kulit saat aku membilas tanganku yang masih licin oleh sisa lemak ayam. Jari-jariku saling menggesek terlalu keras, seolah kotoran itu terjebak hingga ke pori-pori.
Potongan dadu daging itu menumpuk di atas talenan. Pisau mengetuk kayu setiap kali ujungnya jatuh terlalu keras. Genggamanku sedikit bergeser, merasa posisi ini tidak nyaman untuk sekadar memotong.
… atau aku hanya mencoba mencari alasan, saat beberapa helai rambutku menyentuh pipi.
“Oh ….” Aku berhenti sejenak. Bahu menegang tanpa sadar dan napasku tertahan, setengah detik terlalu lama.
“Jangan lagi,” bisikku, perasaan gatal di telapak tangan kembali merayap. Namun, bukannya melepaskan pisau, aku justru menengadah. Ujung ibu jariku menekan gagang pisau, mencari rasa nyata dari benda tersebut.
Satu. Dua. Embuskan. Suara Joe dan Zayn bercampur di dalam kepalaku, menghitung setiap napasku seolah mereka sedang berebut untuk mengambil kendali. Namun, dadaku bergerak terlalu cepat, menolak mengikuti hitungan itu.
“Joe ….” Suaraku tersangkut.
Pisau di tanganku bergeser. Bukan ke ayam. Ke kulitku sendiri.
Sedikit lagi—aku kembali ingin merasakannya.
“Help.”
Ujung jari hantu itu menyentuh garis rahangku. Membuat bibirku terbuka, tapi udara tidak benar-benar masuk.
Satu bagian rambutku terasa tertarik ke belakang.
Tidak—pikiranku saja.
Aku mengerjap, menatap langit-langit yang dibiarkan polos tanpa cat. Tanganku masih menggenggam pisau.
“Fokus pada teksturnya, Ammy.” Tapi seseorang seolah lebih dulu berdiri di belakangku untuk tetap mengepang setiap helainya.
No hiding.
“No secret ….” Aku menggeleng cepat. Menolak larut bersamanya. Rambutku yang tersanggul jatuh sepenuhnya, menampar wajah, dan beberapa bagiannya terselip di antara bibirku. Aku menggigit helai rambut itu tanpa sadar, menahannya di sana, sebelum meniup untuk mendorongnya menjauh.
“Joe.” Aku berdehem, sebelum melanjutkan, “kau masih bersama pekerjaanmu?”
Joe mengangkat wajahnya, menjauh sedikit dari laptop.
“Aku hanya bertanya,” kataku segera mencegahnya, saat suara kursi yang digeser terdengar. “Aku … tidak, aku akan memanggilmu saat semuanya selesai.” Telapak tanganku bergeser ke tepi meja, menekan kayu dengan kuat.
“Kau bisa memanggilku kapan saja.” Bayangan itu kabur, bersama dengan suara Joe yang memantul di dapur kecil ini. “Sebentar lagi, tinggal beberapa scene yang harus kuselesaikan.”
Aku menjawab dengan suara yang kubuat baik-baik saja. “Kau akan datang saat hidangannya selesai.” Kepalaku mengangguk terlalu cepat, tidak selaras dengan kata-kataku.
Aku berbalik, menghadap kompor, dan saat uap panas dari panci berisi air mendidih menyambut wajahku, tangannya yang seputih susu kembali hadir.
Bukan tanganku, meski yang kulihat adalah milikku yang sedang mengecilkan besar api.
Pandanganku berpaling, jantungku berdenyut nyeri saat suaranya kembali menempel di telingaku. Dan aku sedikit memiringkan leherku, seperti memberi ruang pada sesuatu yang tidak ada.
Tolong, jangan lagi. Aku hanya ingin tenang, dan—
Tidak perlu terlalu tegang. Suaranya pelan, seperti bisikan yang menyapu garis leherku.
Aku menengadah—bukan karena mau. Tubuhku yang melakukannya.
Tenggorokanku terbuka. Seolah menunggu sesuatu yang tidak ada, tapi aku tahu rasanya.
Kau tidak—
Suaranya terputus, saat potongan ayam kujatuhkan ke dalam air yang sedang mendidih. Desis keras meledak dari panci. Air panas memercik ke pergelangan tanganku.
“Aku di sini,” bisikku. “Jangan lagi menyusahkan atau menyakiti Joe.” Dadaku naik turun, cepat, selaras dengan gigi belakangku yang saling menghantam satu sama lain. Rahangku mengunci, bunyi gesekan halus terdengar.
Rasa perih menusuk kulit—tajam—kubiarkan, hanya untuk mempertahankan keberadaanku. Jari-jariku justru mendekat ke sumber panas, menahan sepersekian detik lebih lama.
“Aku ….”
“Bukan di sana.” Suara Joe terdengar di belakangku, sedikit di atas telinga.
Napasku berat. Tidak sanggup menjawab, hanya mendengarkan saat suara Zayn terus menggema di dalam kepalaku, seolah berusaha melawan kenyataan di depan mataku. Pundakku naik, hampir menyentuh telinga.
“Ammy,” panggilnya lebih rendah dari biasanya, napasnya menekan kata itu seperti peringatan. “Don't” Kedua tangannya menutupi punggung tanganku yang sebelumnya terkena percikan air panas. “Just stop it!”
Aku menoleh, sekadar memastikan bahwa dia bukanlah Zayn, tapi Joe yang berbicara. Tatapanku berhenti sepersekian detik di bibirnya sebelum naik ke matanya.
“Don't keep chasing someone who isn't choosing you."
Rahang Joe menegang saat matanya turun ke pergelangan tanganku yang memerah. Ujung jarinya menyentuhku dengan hati-hati, lalu menggeser mereka menjauh dari uap panas yang masih menahanku untuk meredakan pergerakan aneh di bawah kulit.
“I'm … sorry.” Pelan, nyaris tidak terdengar, aku tidak tahu untuk siapa kalimat itu ditujukan. Aku hanya mengatakannya, saat kedua lututku terasa lebih ringan untuk sekadar menahanku tetap berdiri tegak.
“Tolong,” katanya pelan, selagi ibu jarinya berhenti tepat di titik nadi—tekanannya ringan, tapi terlalu presisi untuk sekadar kebetulan.
Tubuh Joe bergerak, menempel di belakangku, selagi tangannya mengambil alih tugasku untuk memasukkan potongan ayam yang tersisa.
“Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlarut, ‘kan?” Nada suara Joe tidak berubah, tapi jelas itu tidak memberi ruang untuk sebuah jawaban ataupun penolakan.
“Jangan biarkan dirimu memanggilnya, Ammy. “ Dia memutar tubuhku, membawaku menghadap dirinya. Telapak tangannya berhenti di pinggangku lebih lama dari yang diperlukan sebelum melepas. “Panggil aku dengan keras dan dia akan menghilang.”
Jarinya membawa seluruh rambutku ke belakang, menyanggulnya kembali sebelum akhirnya kembali berkata, “Karena bisikanmu atas namanya, hanya akan membuatnya terlihat menang tanpa harus menyentuhmu.”
Dia menelan ludah, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi masih tertahan. Jelas terlihat dari rahangnya yang mengeras, lalu mengendur perlahan.
“Aku ….”
Lalu kedua alisnya menyatu, mata itu menjadi sayu seperti anak anjing yang pernah kehilangan dan kali ini memohon untuk tidak lagi merasakan hal tersebut.
“Aku tidak akan lagi membiarkan dia mengambilmu.” Keningnya menempel di bahu kananku, dan dia melanjutkan ucapannya. “Bahkan dari kepalamu sendiri.” Jarinya di punggungku menegang sesaat sebelum kembali melembut.
Tidak ada lagi yang tertahan. Salah satu tangannya menyentuh belakang kepalaku, selagi tangan lainnya mendorong punggungku agar tidak menjauh darinya. Tekanan itu lembut, tapi cukup untuk membuatku berhenti bergerak.
Kehangatan itu menjalar, lalu berubah menjadi kebas yang tidak kukenal.
Perasaan kotor itu datang bukan darinya—tapi dari semua yang pernah kulakukan pada pria ini. Perlakuan burukku, kata-kata tajam penuh kebohongan, dan saat aku mengusirnya demi Zayn, mereka berputar di kepala dengan begitu menyakitkan.
Akan tetapi, tetap saja, tubuhku tidak menjauh saat Joe menyentuhku. Sama seperti malam itu, saat dia seharusnya meninggalkanku.
“Joe—” Sesuatu terasa mencair di dalam dadaku, sekaligus menggelitik di bawah kulit.
“Maaf. Maaf—” Tanganku akhirnya bergerak, mencengkeram kaos untuk menariknya sedikit lebih dekat denganku. “Maafkan aku—untuk segala hal yang kulakukan padamu.”
Telapak tanganku menggesek kaos Joe, berusaha meredakan gatal yang tidak hilang. Napasku tidak stabil.
Detak jantung pria itu terdengar tenang.
Tidak seperti miliknya.
Zayn selalu terasa seperti menelan, menarik napas dari paru-paruku sampai hanya tersisa dia.
Joe … tidak.
Dia hanya ada. Dan aku tidak menjauh.
Tenggorokanku mengering, keinginan untuk menelan ludah tidak pernah sekuat ini. Namun, aku menolak melakukannya, terutama saat pikiranku mulai menjerit, memohon, saat dia kembali muncul—menarikku ke pelukan yang terlalu kukenal.
Leherku menegang.
Hentikan. Kau … tidak punya hak untuk—
“Don't—” Tangannya menahan punggungku, saat aku baru ingin menjauh. “Tetaplah di sini. Ini buruk karena dulu, aku tidak menahanmu.” Jarinya mencengkeram kain bajuku, bukan kulitku.
Gigiku mengatup, menahan kata-kata yang seharusnya tidak keluar.
Aku tahu ke mana arah ucapan Joe—tapi tubuhku menolak mengikutinya.
Tajam.
Dan gelap.
Itu yang kucari dalam pelukan ini.
Mataku terpejam. Bukan hangat yang memberimu napas.
Dan yang membuatku takut—aku merindukannya.
“Padahal aku bersikeras, dia bukanlah pria yang baik untukmu.” Napas Joe menyentuh kulit leherku, hangat dan tidak terburu-buru. “Dan aku … selalu terlambat untuk bersikap keras, menahanmu, membenarkan semua ucapanmu bahwa ….”
Tangannya bergerak sedikit, menekan kepalaku dengan lembut seolah memastikan aku benar-benar ada di sini. Ibu jarinya menyapu pelan di garis rambutku, sekali saja.
“Bahwa hal yang paling kutakuti adalah kehilanganmu dan aku tidak peduli jika itu membuatmu menjauh.”
“Joe—” Aku tidak ingin mendengar lebih jauh lagi, perkataannya terdengar seperti pedang api yang membelah tubuhku.
“Selama itu bukan dia.”
Tidak. Tidak bisa.
Suara mereka menumpuk di kepalaku. Bukan hanya Zayn dan Joe, tapi aku yang bersembunyi di dalamnya.
Mereka mengatakan hal yang sama: aku tidak pantas.
Joe—aku memanfaatkannya. Berlindung di balik kehangatannya, seolah itu bisa membersihkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tubuhku menggigil di dalam pelukannya. Mataku panas. Tenggorokan mengering. Semuanya bercampur—benar, salah, dan suara-suara yang tidak bisa kubedakan lagi.
Aku menekannya ke dada, mencoba meredakan sesuatu yang tidak pernah berhenti di bawah kulitku.
Napas Joe stabil di depanku..
Aku mengikuti, seperti ketukan ujung jarinya di punggungku seolah mengatur ritme. Gerakannya teratur dan sulit diabaikan.
“Joe …,” gumamku pelan, hampir seperti permintaan maaf yang tidak lagi bermakna saat terlalu sering dikatakan. “Supnya.” Tanganku akhirnya melepaskan kaos Joe dan mendorongnya pelan.
Akan tetapi, pria itu tidak langsung menjauh. Ia masih di sini, beberapa detik, sebelum akhirnya keningnya menjauh dari bahuku. Napasnya sempat menyentuh kulitku.
Joe menatapku, langsung ke arah mata yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Nyaris seperti yang dilakukan Zayn, hingga aku merasa ditelanjangi.
Aku mengalihkan pandangan, dan barulah suara kompor yang dimatikan terdengar.
“Ya, ambil mangkuknya.” Tangannya sempat menyentuh pergelangan tanganku, tapi aku tidak memperpanjang hal itu.
Aku berbalik, mengambil mangkuk besar di meja makan dan memberikannya pada Joe. Pria itu tidak langsung menuang, ia mencicipi kuahnya sebelum menoleh ke arahku.
“Aku punya jahe bubuk,” katanya dan kalimat sederhana itu, tanpa sadar meninggalkan protes kecil di bagian terdalam diriku. “Di luar dingin, sup yang terlalu pekat perlu sedikit rasa hangat dan segar di waktu yang sama. Tolong ambilkan.”
Dagunya menunjuk ke arah rak berisi botol-botol rempah. Aku mengikuti, tapi tidak langsung mengambil. Sesuatu menahan tanganku—hantu itu sedang menggelengkan kepalanya. Tanganku menggantung di udara, jari-jariku sedikit melengkung, ragu untuk melanjutkan.
Gadis yang melanggar—
Lidahku menekan langit-langit. Rahangku ikut mengeras, menahan sesuatu yang ingin keluar. Aku belum mencicipi kuah sup tersebut, tapi rasa gurih dan hangat yang konsisten itu menekanku.
… tidak akan bisa menggunakan kedua kakinya.
Lututku lemas.
“Dia tidak suka jahe,” bisikku, tapi tidak terlalu pelan karena pria itu sempat melirik ke arahku.
Tapi Joe tidak berhenti, dia terap menambahkannya—tanpa menungguku. Seolah apa yang dia suka tidak lagi penting dan aku juga tidak perlu mengingatnya.
Gerakan Joe tanpa keraguan seperti ia telah memutuskan, dan aromanya … aroma pada sup itu—berubah.
Kuku telunjukku mulai menekan ibu jari, menekan rasa sakit yang tidak seharusnya menyebar di bawah kulitku. Tekanan itu semakin dalam hingga kulitku memucat. Aku … ingin menghantamkan lutut ini di atas lantai yang keras, merapatkan kedua telapak tanganku di depan dada, dan menunggu hingga dia—
“Sup akan tetap menjadi sup,” ucap Joe setelah mencicipi kuah itu lagi. Sendoknya berhenti di udara sejenak sebelum diturunkan perlahan.
Aku tidak menjawab. Sisa-sisa uap panas masih tersisa di ruangan ini, seolah tidak ingin pergi meski dapur Joe memiliki cooker hood. Keberadaannya mulai mengaburkan pandanganku. Mataku berkedip lebih lambat, saat tertahan di antara dua fokus.
“Sedikit jahe tidak akan menghapus rasa orisinalnya.”
Bukan tentang rasa. Aku merasakan diriku menggeleng, tapi aku tidak yakin. Mataku tertuju pada asap yang seolah bergerak mendekatiku, membentuk bayangannya—cara dia tersenyum asimetris, setiap kali sosok itu memintaku mencicipi masakannya.
“Sekarang sudah jauh lebih baik dan ringan.”
Suara Joe kembali tenggelam oleh suara di kepalaku. Uap itu menyentuh kulitku. Memeluk erat, sambil terus berbisik agar aku—
Look at me.
Aku tersentak. Joe meraih pergelangan tanganku yang entah sejak kapan menyentuh panci panas itu. Jarak antara kulitku dan panas itu hanya sesaat, tapi sengatannya seperti cubitan keras yang sering diberikan Zayn untuk—menandaiku.
“What the hell are you doing, Ammy?” Dia tidak meninggikan suara, tapi otot-otot wajahnya mengeras.
Tangannya menarikku untuk menjauh, terlalu kuat, dan aku tersandung oleh kaki sendiri. Punggung bawahku menghantam tepi meja makan, gelas mug milik Joe jatuh hingga beberapa pecahannya mengenai punggung kakiku, bersama basah yang masih di atas kata hangat.
Bau darah menyambut, aku melirik ke bawah, pinggiran kakiku terkoyak, tanpa sadar menginjak pecahan yang terbesar.
Joe tidak tahu. Dia hanya menatapku dengan keterkejutan yang terasa menghakimi. Jarinya langsung bergeser ke pergelangan tanganku, meniup, sebelum bibir itu terbuka dan jariku yang memerah terjebak di dalam kehangatan mulut Joe.
Zayn. Dia akan datang. Dia … tidak pernah suka miliknya disentuh orang lain, tapi aku juga menolak menjauh.
“I don't—” Ucapanku terputus, cengkeraman Joe di pergelangan tanganku menguat. Tidak cukup mengambil alih saat tubuh mulai menyebarkan sensasi panas di pinggiran kakiku yang luka.
Zayn—dia tidak ada, tapi cara kami membersihkan darah ini menyengat seluruh saraf bersama mulut Joe di jariku.
“No, Ammy.” Genggamannya Joe menguat satu tingkat—cukup untuk menghentikan gerak, tidak cukup menghentikan respon yang salah tempat.
“Dia mungkin pernah mengajarimu cara membuat sup ini,” kata Joe yang kudengar sebagai kesalahan karena telah terbuka padanya malam itu. “Memetakan rasanya agar kau terbiasa dengan apa yang dia sukai.”
“Joe, kau—”
“Tapi itu tidak berarti hidupmu berhenti di sana.” Tanganku gemetar di tengah kekuatannya, memutih saat ambang batas kesabaran pria itu mulai menghambat aliran darahku. “Kau bisa rusak jika terus tinggal di dalamnya, Ammy.”
Bekas luka yang diciptakan oleh Zayn berdenyut di bawah kekuatan Joe. Menyatu dengan nadiku, memaksaku untuk memilih satu yang arahnya dipaksa menjadi pilihan absolut. Ujung jariku bergerak sedikit, seperti ingin membalas genggaman itu atau melepaskannya.
Mataku panas. Tenggorokanku tercekik oleh rantai yang tidak pernah ada. Dahiku sedikit berkerut, menahan sesuatu yang tidak bisa keluar.
Aku … rusak.
Joe tidak tahu.
Aku sudah rusak, bahkan jauh sebelum Zayn datang.
Bukan Zayn.
Dia ….
Suami.
Suamiku.
Tanganku mengepal kuat, mencari jawaban sejak kapan aku mulai mengakuinya.
***
Kamu bisa follow instagram/tiktok jessicalush.author untuk mendapatkan info tentang cerita2ku
Aku juga terbuka untuk pertanyaan, diskusi, review/kesan kalian melalui DM selama mengikuti TTQB & UWS.
Terakhir, terima kasih dan dengan cinta, Jess.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top