UNDER FIREWORK

Nikaido YamatoxOC

Warning : Setting ga jelas, banyak kalimat tak baku, bahkan tak sesuai EYD, bahasa campur, kasar, dan tak enak dibaca dan lain-lain.


Happy reading




Seorang gadis tengah termenung, mengamati sebuah poster dengan background kembang api yang menempel di mading kampusnya.

“Yoru-senpai!” seru seorang gadis berambut coklat.

Merasa dipanggil, gadis pemilik helaian light lilac itu menoleh, ”Ada apa, Kana?” tanya Yoru pada gadis berambut coklat tadi.

“Berniat pergi ke konser tahun baru, senpai?” tanya Kana setelah mengamati poster yang dilihat Yoru.

“Pengen sih, tapi bulan ini kantongku kering banget,” keluhnya sambil membuka dompet. Terlihat 2 keping pecahan 100¥ tersenyum mengejek disana.

Calm down senpai, aku punya solusinya, nih!” Kana menyodorkan selembar tiket dengan corak sama persis dengan poster yang dia lihat tadi.

“Ka-Kana…makasih, kamu dapet dari mana ini? Huwaa~” diterimanya tiket itu dengan gemetar dan mata berbinar. Kana seperti melihat filter bling-bling di netra violet senpai-nya.

“Ada deh, udah ya, senpai. Jaa ne~. Jangan lupa dandan yang cantik!” teriak Kana sambil berlari menuju gedung fakultasnya.

Tak lama setelah Kana pergi, seorang pemuda berlari mendekati Yoru yang sedang menyusuri lorong. Helaian rambut hijau lumutnya bergoyang tertiup angin.

“Yoru, tunggu!” seru si pemuda.

“Nggak! Gue gak punya duit!” sahutnya sambil terus berjalan tanpa melihat siapa yang memanggil.

“Astaga… Heh! Ini gue, Yamato, tega bener lu, dipikir gue tukang palak? Sini lu cebol!” serunya sambil menarik tangan Yoru.

“Woy woy, kalem cuy! Sakit, tangan gue makin gak berdaging nanti! Lagian sejak kapan lu jualan Palak-nya The Conjuring?”

Yamato menepuk dahinya pelan, pening dengan pemikiran absurd gadis yang diam-diam dia taksir.

“Aduh, serah lu deh, cebol. Oh iya, lu udah dapet tiketnya belom?” tanya Yamato mengalihkan pembicaraan.

“Tiket apa? Kereta? Udah kok!”

“Tiket buat nonton konser, cebol! Katanya lu pengen banget nonton live konser idol sekali aja seumur hidup. Lagian, buat apa gue nanyain tiket kereta? Gue bukan petugas loket tiket kereta api.”

“Oh, udah. Tadi ada yang ngasih, kenapa? Lu mau juga? Eh lupa, lu kan… Nyehehehhehe,” kekehnya lantas memamerkan  selembar tiket yang baru saja dia terima, lupa dengan fakta bahwa pemuda di depannya adalah salah satu member idol yang menjadi pengisi acara konser malam nanti.

“Oh udah dapet ternyata,” gumamnya.

Ya baguslah,walau gue jadi ngga bisa ngajak langsung. Maa, yang penting dia senang, Yamato membatin.

“Ya udah, ayo masuk aja, bentar lagi dosen sialan itu dateng. Lu udah makan kan?” lanjutnya kembali menarik-ah tidak,kali ini dia menggandeng tangan gadis itu.

“Udah dong, tapi piringnya ngga habis, bukan kuda lumping soalnya.”

“Pfft. Bagus, pinter ntar gue kasih hadiah,”kekehnya sambil menepuk-nepuk kepala Yoru yang berjalan di sampingnya.

“Diem, Mat! Gue bukan bocah!” gerutu Yoru menggembungkan pipinya, sebal.

Gemas, Yamato mencubit pipi tembem Yoru. Gadis itu berjinjit, berniat membalas, tapi apa daya, karena perbedaan tinggi badan mereka cukup jauh, dia hanya sanggup menyentuh ujung dagu Yamato.

“Pffft. Lu lagi ngapain sih, cebol?” kekehnya menyadari niat Yoru.

Siapapun yang melihat posisi mereka saat ini pasti akan salah paham.

“Mau nabok lu! Tapi ga nyampe, badan lu ketinggian sih. Dahlah pergi aja deh gue,” keluh si gadis meninggalkan Yamato yang menatap kepergiannya dalam diam dengan rona tipis di pipinya.

Lantunan lagu milik IDOLiSH7 bergema bersama sorakan seluruh penggemar yang larut dalam euphoria.

Aku menatap panggung megah di hadapanku, menelisik raut wajah sang idola yang tetap bersinar bak pelangi di malam hari, meski tubuh mereka bermandikan peluh. Wajar saja, menari dan bernyanyi selama berjam-jam itu kan melelahkan. Tapi melihat mereka masih tersenyum, membuatku salut dan ingin terus mendukung mereka.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan getar ponsel yang sedari tadi kugenggam. Melihat nama yang muncul di layar membuatku mendiamkan benda itu hingga getarannya berhenti. Tak lama kemudian muncul notifikasi pesan masuk dari si pemanggil.

Lu pergi kemana sih? Cepet balik, gue butuh duit.

“Ck, dikira gue mesin ATM berjalan. Dasar tua bangka ga tau diri,” decak sebal lolos dari bibir mungilnya, kemudian memasukkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan tadi.

Lagu telah berakhir sejak Yoru mengomel tak jelas karena pesan yang dia terima. Di atas panggung, netra hijau gelap milik Yamato beredar mencari keberadaan sesosok gadis bersurai light lilac. Tak lama, dia tersenyum samar tatkala menemukan Yoru yang berada di deretan terdepan kursi VIP.

Minna-san! Konbanwa! Tak terasa ya, kita sudah tiba di penghujung acara,” ujar Mitsuki, pemuda bersurai jingga  menyapa penggemar, membuat fokus Yamato pecah.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk datang melihat kami!” seru Riku ceria.

“Sampai ketemu lain ka--”

“Yotsuba-san acara masih belum selesai, bukan begitu, nii-san?” ujar pemuda bersurai navy pada Mitsuki, memotong ucapan Tamaki, member termuda sekaligus teman sekelasnya.

“Oh itu benar, terimakasih sudah mengingatkanku  Iori,” sahut Mitsuki menepuk pundak adik yang lebih tinggi darinya.

“Ouh—surprise desu ka?” timpal Nagi, satu-satunya member yang berasal dari luar negeri.

“Sepertinya ini acara yang paling ditunggu oleh para penggemar kita sejak tadi,” ucap Sogo. Pemuda kalem bersurai perak itu kemudian tersenyum, membuat para penonton berteriak histeris.

“Oy oy, ssstt tenanglah, jangan terlalu bersemangat begitu,” sela Yamato berusaha menghentikan teriakan fans Sogo dengan mengedipkan sebelah matanya sambil menaruh telunjuknya di depan bibir. Bukannya tenang, mereka malah makin menggila.

Ossan, kau sama sekali gak membantu. Minna-san, abaikan ossan satu itu, mari fokus ke acara yang kalian tunggu-tunggu. Staff-san tolong keluarkan kotak undiannya!” seruan  Mitsuki menghentika teriakan penonton yang sedang menggila, suara bising teriakan fangirling hilang, sebagai gantinya, suasana hening menyelimuti panggung.

“Ano,  Mitsuki-san sistem pegundiannya seperti apa?” tanya Sogo mewakili pertanyaan para penonton.

“Jadi, di dalam kotak ini sudah terdapat kertas bertuliskan nomor yang tertera di tiket. Jika angka yang disebukan sama dengan nomor yang tertera di tiket, pemilik tiket dipersilakan naik ke panggung.”

“Lalu? Kalo dia udah di panggung mau ngapain, dikasih puding?” pertanyaan dari pemuda bersurai baby blue itu-Tamaki, membuat penonton sweatdrop berjamaah.

“Hidupmu itu gak bisa jauh-jauh dari  puding ya, Yotsuba-san.”

Nee, Mitsuki, apa orang yang beruntung itu akan bersenang-senang bersama kita sampai besok?” pertanyaan sang Center IDOLiSH7 itu membuat penonton shock, travelling kemana-mana.

“Riku, maksudmu bersenang-senang itu tampil bersama kita di panggung, bukan? Seperti menyanyikan salah satu lagu kita?” tanya Yamato pada center merahnya itu, berusaha meluruskan pikiran beloknya dan para penggemar.

“Ah, iya seperti itu!”serunya ceria, tak menyadari ucapannya tadi bisa menimbulkan salah paham.

“Ouh—aku juga ingin melewati malam tahun baru bersama kalian di luar stage, ladies~. Tapi, sayangnya hanya satu orang yang beruntung.”

“Siapa ya, kira-kira orang yang beruntung itu? Saa~ Yamato-san silakan tarik undiannya.”

“Lah, kok gue?”

“Kau kan abang~,” sahut para member IDOLiSH7 kompak.

Menghela napas, Yamato menuruti perintah Mitsuki, diambilnya salah satu kertas undian itu, kemudian membukanya.

“Selamat kepada pemilik nomor 222,” katanya berulang-ulang dengan ogah-ogahan. Berujung dengan punggungnya yang digeplak Mitsuki.

Yoru mematung kala mendengar angka yang disebut Yamato sama dengan nomor yang tertera di tiketnya. Dia mengerjapkan matanya, siapa tahu salah lihat, dan berakhir dengan mencubit pipinya.

“Ini nyata,” gumamnya setengah sadar. Setelah membisikkan sesuatu  pada Kana yang duduk di sebelahnya, dia pun beranjak darisana menuju panggung.

Good luck, senpai!” seru Kana menyemangati Yoru, membuat seluruh penonton mengedarkan pandangan, mencari sosok pemilik nomor tiket 222.

“Itu dia!” seru salah seorang penonton, menyadari keberadaan Yoru yang tengah berjalan menuju panggung, sosoknya yang dengan tenang mendekati panggung itu tak luput dari rekaman juru kamera, membuat penonton berteriak histeris ketika melihat sosoknya terpampang di layar panggung.

“Aaaaaaaaaa gue iri!”

“Emaaakk muka tetehnya bening banget!”

“Lain kali pasti gue yang ada disana!”

“Ku ucapkan selamat meski iri.”

Begitulah kira-kira teriakan frustasi para penonton.

Mitsuki menyikut Yamato yang tengah mematung, tak percaya dengan penglihatannya. Gadis itu, Yoru yang dikenalnya, terlihat sangat cantik malam ini.

Helaian rambut panjang light lilac yang biasanya diikat bak ekor kuda itu, kini diikat setengah, tubuh mungil gadis itu terlihat anggun dalam dress selutut berwarna hijau pastel dibalut cardigan putih yang panjangnya mencapai sikut, membuat Yamato terpana. Hingga tanpa sadar, membuatnya mendekati ujung panggung, menunggu kedatangan Yoru dengan berlutut ala ksatria, membuat para penonton lagi-lagi berteriak histeris, merasa iri campur gemas.

Ha’ik minna-san, mari kita saksikan Yamato-san dalam mode pangeran-able,” ujar Mitsuki. Semua member IDOLiSH7 menikmati kelakuan leader mereka dan dengan iseng mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel masing-masing.

Malu dan gugup, itulah yang sebenarnya Yoru rasakan ketika tiba di depan Yamato.

Konbanwa, Hime-sama, Nikaido Yamato desu,” ujarnya mengambil tangan Yoru lalu menciumnya. Ia pun bangkit, menatap dalam netra violet gadis di depannya kemudian berbisik,”onii-san to wonderful na yoru wo sugosou ne.”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaa!”

“Oy oy, tenanglah. Ada apa dengan  kalian? Onii-san hanya memberinya fanservice seperti biasa. Jadi, siapa namamu, nona?” tanya Yamato terpaksa berpura-pura tak mengenali Yoru demi kelancaran acara juga keamanan gadis itu, setidaknya untuk saat ini.

Konbanwa, minna-san. Haruno Yoru desu, yoroshiku onegaishimasu,” balas Yoru tersenyum, memaklumi Yamato yang pura-pura tak mengenalinya.

Nee, Haruno-san bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Aa—jujur saja aku masih tak percaya, aku bahkan mengira tadi aku melayang sampai sini.”

Astaga dia itu. Batin Yamato.

“Jika kaki Haruno-san benar-benar melayang, Yotsuba-san pasti sudah lari terbirit-birit sejak tadi.”

“Hey, Iori ucapanmu itu sedikit keterlaluan.”

“Lu bikin gue keliatan penakut banget, Yorin.”

“Ouh—Yamato, akhirnya kau bisa melakukan fanservice dengan benar desu.”

Maa, cukup semuanya. Pokoknya selamat ya, Haruno-san. Sebagai pemenang, Haruno-san akan tampil bersama kami untuk menutup acara dan merayakan tahun baru dengan pergi ke kuil esok hari,” jelas Mitsuki.

“Terimakasih semuanya, aku senang banget,” ujar Yoru sambil mengusap air mata, terharu.

“Ah, hampir saja lupa. Nee, Mitsuki-san bukannya sebagai pemenang, Haruno-san juga berkesempatan ikut casting untuk drama terbaru kita?” imbuh Sogo mengkonfirmasi tambahan informasi yang baru saja dia terima.

“Eh? Casting drama?”

“Itu benar Sogo, dan Haruno-san kau bisa hubungi manager kami, jika tertarik. Siapa tahu, Haruno-san akan jadi salah satu talent di agensi kami di masa depan.”

“Oh, baiklah. Lalu untuk acara besok, apa aku harus menginap?”

“Ya, tapi tenang saja, manager kami sudah mengurus keperluan untuk anda nanti.”

“Terima kasih atas pengertiannya, manager-san!”

Setelah pembahasan itu, mereka pun menutup acara dengan lagu PARTY TIME TOGETHER bersama Yoru. Semua penonton dan member IDOLiSH7 merasa terhibur dengan keberadaan Yoru disana. Bahkan diam-diam ada juga penonton yang mengagumi gadis bermarga Haruno itu.

“Ck, dasar anak tak tau diuntung!” seorang pria paruh baya dengan surai hitam legam berdecak memandangi ponsel di tangannya. Tak lama kemudian dia melewati sebuah toko yang sedang menayangkan konser akhir tahun. Saat itu, layar menampilkan sesosok gadis yang dia kenal. Matanya melotot, bagaimana mungkin anak itu bisa berada disana? Darimana dia punya uang. Begitulah pikir si bapak.

“Wah, kali ini dia harus diberi pelajaran.”

Dia pun pergi ke tempat konser diadakan, menunggu dengan sabar agar biasa sepuasnya mendamprat si anak yang menurutnya sudah kurang ajar.

Tak lama Yoru keluar bersama Kana, para idol serta managernya-Takanashi Tsumugi dan Oogami Banri. Yoru sedang mengobrol santai dengan mereka ketika tiba-tiba dirinya ditarik paksa, membuat semua orang yang ada disana terkejut.

“Heh! Dasar anak tak tau diri! Lu punya uang darimana hah?! Gaya kali lu nonton konser, sementara orang tua lu  ini susah cari duit?” maki si bapak  sambil menyeret Yoru.

Mendengar suara makian yang sangat dikenalnya, Yoru tertawa hambar.

“Hahaha. Kau? Cari duit? Sejak kapan? Dari jaman emak gue masih ada pun, kerjaan lu cuma judi, sama ngutang sana-sini dan gue yang harus bayarin itu hutang. Kau sebut itu cari duit? Mikir lah dikit!” teriak Yoru emosi, sambil menahan tangis, dia balas memaki ayahnya.

Kana, Yamato Banri, dan Tsumugi yang sadar situasi menghubungi keamanan sambil memutar otak untuk menghentikan adu urat dadakan itu dengan kepala dingin.

“Permisi pak, maaf bukan saya ikut campur dan saya juga tidak bermaksud menguping, tapi, Yoru-senpai mendapatkan tiket konser dari saya,” jelas Kana berusaha menahan emosi, tak terima senpai kesayangannya diperlakukan seperti itu.

“Oh? Jadi lu punya teman yang kaya juga, hah?! Lu jago porotin anak orang juga rupanya, kenapa ga sekalian aja lu jual diri? Lumayan kan, cara cepet lunasin hutang gue, biar idup lu tenang.”

“Gue gak sehina dan sedangkal itu, dan gue bukan elu, mau gimanapun gue bersikap sama temen gue itu bukan urusan lu. Lu udah ga ada hak ngurusin gue sejak lu kabur dan  ninggalin hutang. Bagi gue, sejak itu lu udah mati!”

Selama perdebatan berlangsung, Yamato, Banri, dan Tsumugi berunding, memutuskan untuk membiarkan member lain pulang ke dorm bersama Tsumugi agar keberadaan mereka tak terlalu menarik perhatian publik, sedangkan Yamato dan Banri membantu Yoru. Walau berat hati, Tsumugi akhirnya pamit bersama member IDOLiSH7.

“Udahlah, ayo Kana, kita pergi aja. Pusing kepala gue lama-lama diem disini.”
“Heh! Mau kemana lu, anak sial! Sini lu!” seru si bapak sambil menarik Yoru, membuat tubuh mungilnya limbung, hampir membentur aspal jika Kana dan Yamato tak sigap menahannya.

Yamato sudah tak tahan lagi, ingin rasanya dia merobek mulut kurang ajar tua bangka di depannya, tapi dia tak bisa sembarangan bertindak, terlalu banyak saksi mata.

“Maaf pak, sepertinya anda lebih baik segera pergi sebelum petugas keamanan yang dipanggil manager saya tiba disini,” ujar Yamato dingin.

“Hah?! Siapa elu, berani-beraninya ngusir gue?”

“Ah, baru kali ini Onii-san merasa senang karena ada yang tidak mengenali,” kekehnya geli.

“Banri-san, gue boleh ngapa-ngapain orang ini kan?” lanjutnya sambil menyeringai iblis.

“Astaga Yamato-kun, sadar nak! Jangan, kasian, dia udah tua. Lebih baik lempar dia ke dalam mobil lalu tenggelamkan di danau,” sahut pria berkuncir menanggapi pertanyaan Yamato.

“Permisi pak, kami mendapat laporan ada orang yang membuat kekacauan disini,” ujar seorang petugas berseragam keamanan menghampiri Banri.

“Ah, benar itu orangnya pak!” tunjuk Kana pada pria paruh baya itu, membenarkan ucapan si petugas.

“Terima kasih, kalau begitu, akan saya bawa orang ini ke pos untuk ditindak lebih lanjut, saya permisi.”

Tanpa ba-bi-bu, diseretnya si bapak yang masih saja memaki dan meracau tak jelas.

“Kau tak apa, Haruno-san?”

“Aku baik-baik saja, Oogami-san. Ah, boleh aku minta tolong? Tolong antarkan temanku pulang, maaf jadi merepotkanmu, dan terima kasih,” ujar Yoru menyerahkan Kana pada Banri.

“Tak apa sudah tugasku.”

“Terus senpai mau gimana?”

“Aku mau jalan-jalan sebentar sebelum ke penginapan.”

“Ya udah deh, aku pergi duluan, senpai.”

“Yamato-kun, sebaiknya kau temani Haruno-san,” putus Banri sebelum benar-benar pergi.

“Baik.”

Malam makin larut, namun jalanan masih ramai dengan manusia yang tengah menunggu parade kembang api. Yamato dan Yoru berjalan beriringan, berkeliling sebentar sebelum pulang menuju ke penginapan.

Sepanjang perjalanan, Yoru menengadahkan kepalanya ke langit, menekan pangkal hidungnya, mencegah air matanya jatuh. Ia tak bisa menumpahkan semua emosinya sekarang, terlebih di depan Yamato.

“Yoru, lu mau liat kembang api lebih jelas?” tanya Yamato memecah keheningan.

“Lu tau tempat yang baguskah? Boleh lah,” sahutnya mengiyakan.

“Oke, jangan teriak ya, kalo gak mau ketauan,” balasnya sambil menengok kesana-kemari sebelum menggendongnya ala pengantin, kemudian berlari melewati gang sempit, kaki jenjangnya dengan lincah melompati jalanan berlubang.

Yoru yang sudah lelah hati dan pikirannya tak banyak protes, ia memilih memejamkan matanya sejenak dan bersandar pada ceruk leher Yamato untuk menyamankan posisinya. Membuat pemuda berkacamata itu diam-diam tersenyum samar.

Tak lama kemudian, mereka tiba di atap sebuah gedung tak terpakai tak jauh dari lokasi penginapan.

“Nah sampai~,“ ujarnya sambil menurunkan Yoru, bersamaan dengan itu terdengar bunyi letupan kembang api dari berbagai arah diiringi dengan cahaya berbagai warna yang muncul setelahnya.

“Cantiknya,” gumam Yoru mengagumi pemandangan yang ada di depannya.

“Selamat Tahun Baru, Yamato. Semoga segala urusan lu, segala harapan lu, bisa terwujud tahun ini, dan makasih udah bawa gue kesini. Seenggaknya, salah satu list gue tahun lalu buat nonton live konser udah terwujud tadi, meski ujungnya barusan gak enak sih,” kekehnya masih memandangi kembang api.

Yamato hanya menatap gadis di sampingnya dalam diam, menikmati pemandangan tiap lekuk wajah dan ekspresi Yoru.

Tak mendapat respon apapun dari lawan bicaranya, Yoru menoleh, terlihat Yamato tengah menatapnya dalam.

“Apa perasaanmu sudah lebih baik?” tanya Yamato tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari Yoru, memperpendek jarak di antara keduanya, membuat gadis itu salah tingkah.

“Ya, begitulah, dan apa-apaan ini, lu mau mojokkin gue?” protesnya menyadari Yamato yang makin merapatkannya ke tembok.

“Gue cuma mau mastiin kalo lu lagi ga nahan air mata,” ujarnya menangkup wajah Yoru, mengusap ujung kedua  matanya, lantas menciuminya penuh perasaan.

Yamato yang mendadak bersikap manis membuat Yoru merinding, dia tak menyangka akan mendapat perlakuan manis dari pemuda yang biasanya pecicilan.

“Lu tertarik ikutan casting buat drama?” tanya Yamato sambil mengusap lembut pipi Yoru.

“Lumayan, kenapa emangnya? Lu ga suka atau takut tersaingi?”

“Ngga, bukan itu, kalo ada adegan yang mengharuskan lu buat ciuman, lu berani? Lu kan belum pernah ciuman, lagian ya, gue pikir, lu tipe orang yang pengen ngerasain ciuman pertama dengan orang yang disuka, bener kan? Emang lu rela ciuman pertama lu diambil sama aki-aki gara-gara kerjaan?”

“Gak mau! Kalo gitu tinggal gue tolak aja kerjaannya.”

“Ngga semudah itu, Yoru,” lanjut Yamato mengusap bibir peach Yoru.

“Yah.. mau gimana lagi, pasrah aja deh keknya, tapi perasaan, itu ada triknya deh, lu tau?”

“Tau, lu mau gue ajarin?” seringai iblis tercetak di wajah Yamato yang memang mirip penjahat.

Ragu-ragu, Yoru menganggukkan kepalanya, Yoru pikir daripada ciuman pertamanya diambil aki-aki atau om-om pas shooting, mending dia pakai  skill yang dipelajarinya dari Yamato hari ini untuk menghindarinya.

Yamato yang masih menangkup kedua pipi chubby gadis itu menunduk, memiringkan kepalanya, lalu menempelkan ibu jarinya diantara bibirnya dan bibir gadis itu. Meski terhalang ibu jari, bibir mereka yang saling bersentuhan itu tak pelak membuat keduanya merona di bawah cahaya kembang api terakhir.

Tamat

Omake

Ini adalah percakapan singkat ketika Kana tiba di gedung fakultasnya.

“Chiba-sensei, Yuki-senpai, Mission complete desu!”

“Chiba-san ada bakat jadi Beh Comblang, ya Yuki-senpai,” seloroh Kana tak sopan pada dosennya yang ternyata adalah ayah kandung Yamato.

"Terimakasih nak, berkatmu, aku bisa membantunya mendekati gadis yang disukainya," ujar pria paruh baya yang dipanggil Chiba-sensei itu pada Kana.

"Sama-sama, udah lama saya gemas dengan mereka, sensei. Salahkan Yoru-senpai yang tak peka untuk hal seperti ini."

“Ah tak apa Kana, untuk beliau apapun akan dilakukan demi anak tercinta. Yah, walau anaknya malah agak kurang ajar sih,” sahut Yuki, pria jangkung pemilik rambut iklan shampoo, menimpali ucapan Kana.

Eyaaa…tamat juga, jujur aja, kalo ada kalimat yang dirasa kurang sreg, kasih tau aku di komen, biar aku perbaiki lagi ke depannya.

Maapkan diriku yang tak bisa memikirkan pair lain ya.

Akhir kata, semoga kalimat yang ku susun ga bikin kalian pusing.

Sekian dan terimakasih

Salam hangat

Devi

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: #idolish7