「🍮」- PROLOG
Hari ini yang cerah bagi seorang gadis cantik berambut coklat dengan panjang sebahu yang diikat dengan rapi dan mata berwarna hijau yang berumur 18 tahun itu.
Namanya (Name), gadis yang hidup sebatang kara sejak ia berumur 13 tahun. Sudah 5 tahun lamanya ia hidup mandiri, tanpa saudara yang mengulurkan tangan untuk membantunya.
(Name) segera keluar dari rumahnya lalu berjalan menuju sekolahnya, karena sekarang hari ia ujian sekolah, penentuan kelulusannya.
Sudah lama (Name) ingin menjadi seorang dokter hewan, mengasuh hewan hewan yang hidup sendirian di alam bebas dan ingin membangun panti asuhan dengan uang yang ia kumpulkan.
Ia cukup kasihan dengan hewan yang ditelantarkan begitu saja, begitu pula dengan anak kecil. Cukup sering (Name) melihat anak kecil yang hidup sebatang kara, duduk dipinggir jalan. Tak tau siapa orangtuanya, tak tau yang akan mengajarinya disaat yang seharusnya anak itu sudah belajar di sekolah dengan teman seumurannya.
(Name) cukup berempati, tetapi ia tak bisa melakukan apapun selain belajar untuk menggapai hal yang ia inginkan.
Walaupun cukup mustahil, dengan hidupnya yang sebatang kara dan tabungan yang kira-kira hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokoknya dan bibinya yang terus menerus merendahkannya.
(Name) menghela napas, ditengah keramaian kota, dimana banyak orang berangkat kerja dan sekolah—diantar oleh orangtua mereka, ada pula yang duduk di tepi trotoar dengan kaleng bekas didepan mereka.
Ia ingat saat sang ayah tiba-tiba menghilang, bersamaan dengan istri tercinta. Saat itu juga pamannya menghampirinya dengan mengatakan hal yang tidak masuk akal.
(Name) berjalan di atas trotoar dengan senyum ramah yang selalu ada di wajahnya, menyapa teman seangkatan yang ia kenali.
"(Name) pasti sudah belajar ya? harus banget ya, hari pertama pelajaran fisika? sial banget!!" ucap Aksara, teman akrab (Name).
"Ujian ini ujian terakhir kita loh, Sa. Habis ini kita kan kuliah," jawab (Name) berdiri dipinggir trotoar bersama Aksara disampingnya, mereka ingin menyebrangi jalan.
"Bener juga sih.."
(Name) melihat sepupunya, Petra, diseberang ingin menyebrang jalan padahal ada mobil yang melaju kencang, ingin mengnerobos lampu merah.
Brakk
Entah apa yang terjadi, (Name) reflek mendorong tubuh Petra dan menggantikan dirinya untuk ditabrak. Rasa sakit dan pusing segera menguasai tubuhnya. Tubuhnya terpental hingga membuat kepalanya bocor dan salah satu matanya terluka yang disebabkan oleh batu runcing dipinggir jalan.
"(N-Name)?..." gumam Petra.
"(NAME)!!" Aksara berteriak, ia menghampiri tubuh sahabatnya.
"(Name) jangan mati dulu anjir, sia sia lu belajar fisika cok!! Jangan mati entar gua traktir mie ayam suer." (Name) tersenyum lemas, bisa-bisanya sahabatnya berkata seperti itu disaat (Name) sedang sekarat.
Perasaan bersalah mulai mengerogoti hati laki-laki itu yang baru saja melihat tubuh kakak sepupunya yang terpental karena tertabrak oleh mobil—yang seharusnya dirinya.
Saat kecil, lebih tepatnya saat dirinya di tinggal oleh ayahnya. Petra mengira (Name) tau dimana ayahnya berada dan tidak ingin memberitahukannya.
Saat Petra ingin berkunjung ke rumah (Name) untuk mengajaknya bermain, ia melihat ayahnya meninggalkan (Name) yang kebigungan.
Dan itulah yang membuat Petra membenci (Name).
Nasi sudah menjadi bubur, tubuh kakak sepupunya yang sudah lemas tak bernyawa itu sedang dikerumuni oleh warga sekitar.
Entah pergi kemana pelakunya. Orang itu sedang dikejar warga.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top