Chapter 2
Written by : Block_Psych01 dan the_pen_of_happiness
Pikiran Minerva melayang bagai burung yang berkelana. Imaji-imaji acak berkelebat dalam benaknya tanpa urutan yang jelas. Keping-keping puzzle memorinya perlahan mulai utuh kembali. Ia masih ingat kejadian pada waktu makan malam kemarin. Anjing siberian husky yang tiba-tiba menghilang setelah ia mengalihkan pandangan untuk menyendok makanannya. Mengingat peristiwa itu menyebabkan suatu gelombang ketakutan yang tak tergambarkan melanda Minerva.
Minerva sudah mencoba berulang kali melupakan peristiwa tersebut. Namun, ia tetap tidak bisa. Ingatan-ingatan itu terus meluncur seperti longsoran salju.
“Hei, Silvanus!” seru salah satu teman Minerva. Temannya yang satu ini memang sangat aktif. "Ayo, cepatlah! Kau tidak mau terlambat, 'kan?"
Suara itu menarik kembali kesadaran Minerva ke dunia nyata. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, mengembalikan fokus pikiran.
Minerva kembali mencari kotak kesayangannya. Tidak lengkap bila ia pergi ke perkemahan tanpa benda tersebut. Kotak itu adalah salah satu pemberian Bunda Eistave yang berharga.
"Bersabarlah! Aku sedang berusaha mencari kotak kesayanganku." Minerva mengerucutkan bibirnya kesal ketika tidak berhasil menemukan barang yang dicarinya. Ia sudah mulai lelah. "Valia, apa kau tahu di mana kotak makanku? Semalam aku meletakkannya di meja."
Valia mengernyitkan dahi. “Bukankah kau meletakkannya di dalam laci meja di sebelah kasurmu? Coba kau cek saja.”
Minerva segera membuka lacinya. Seketika ia menepuk dahinya. Ia lupa jika meletakkannya di sana. Segera ia bergegas mengambil kotak itu dan keluar dari kamar bersama Valia.
Mereka berlari sekuat tenaga. Tidak peduli dengan peraturan panti yang melarangnya untuk berlarian di dalam ruangan. Napas memburu dan kaki mulai sedikit keram. Minerva berpikir mereka adalah anak yang paling akhir datang di ruang makan. Iris hijaunya melihat anak-anak yang sudah banyak mengantre untuk mengambil makanan. Mereka pun juga segera ikut mengambil antrean, berdiri di barisan paling belakang.
Setelah mengambil makanan, Valia mengedarkan pandangannya. Semua bangku sudah diduduki. Tidak ada tempat lagi buat mereka duduk untuk menyantap hidangan yang telah diambil.
“Kita mau duduk di mana, Silvanus? Semuanya sudah penuh.” Valia masih mengedarkan pandangannya. Ia berusaha mencari tempat duduk yang masih kosong.
Iris hijau Minerva sedikit melebar, melihat Bunda Eistave yang melambaikan tangan ke arahnya. Seakan-akan ia ingin Minerva duduk bersamanya. Senyuman lebar tercetak di bibir. Guratan-guratan halus di wajah terlihat semakin jelas. Meski tanda-tanda penuaan tidak bisa dihindari, Bunda Eistave masih terlihat menawan dan anggun.
Minerva menarik lengan baju Valia. Ia menyeretnya menuju meja makan yang ditempati Bunda Eistave. Indra pendengaran ditulikan ketika sumpah-serapah terlontar dari mulut Valia.
“Baru kali ini aku melihat kalian datang terakhir. Apa ada sesuatu yang menghambat kalian?” Bunda Eistave bertanya dengan senyuman. Senyum terindah bagi Minerva dan anak panti.
“Umm … Silvanus tadi mencari kotak makannya. Bunda tahu, ia lupa jika meletakkan benda itu di dalam laci di sebelah kasurnya.”
Pipi Minerva seketika memerah seperti kepiting rebus, merasa malu. Perbincangan kecil pun akhirnya terjadi disertai canda dan tawa. Hal inilah yang selalu membuat harinya lebih berwarna. Meski masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikirannya, terutama mengenai anjing siberian husky yang ia lihat semalam.
Suara denting sendok kembali terdengar ketika keheningan merayap di udara. Mereka melanjutkan makan dalam keheningan. Tidak ada topik yang bisa diangkat untuk dijadikan bahan pembicaraan sampai makanan itu habis.
“Semuanya sudah siap, 'kan?” tanya Bunda Eistave sambil meletakkan piring di rak. "Tidak ada yang ketinggalan?"
"Tidak. Aku sudah mengecek kembali barang- barang di tas." Valia menjawab penuh keyakinan. Ia adalah satu-satunya orang yang paling bersemangat dengan adanya kegiatan perkemahan dari pihak sekolah.
"Bagaimana denganmu, Minerva?"
Minerva menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman.
"Baiklah. Sekarang, kalian boleh pergi. Kalian tidak mau terlambat, 'kan?" kata Bunda Eistave lembut. "Kalian tenang saja. Aku yang akan membereskan ruang makan ini."
"Terima kasih, Bunda," kata mereka serempak seperti paduan suara.
Minerva dan Valia mengambil tas ranselnya di kamar. Helaan napas terdengar begitu keras. Tas mereka tempak menggembung besar. Barang-barang keperluan untuk kemah sangat banyak, dan semuanya itu harus bisa masuk ke dalam satu tas. Minerva mendesah. Ia tak sanggup membayangkan betapa berat tas itu di pundaknya nanti. Dengan berat hati ia meletakkan tas itu di pundaknya dan melangkah keluar. Minerva mendengus kesal ketika beban yang dipikul pundaknya tidaklah ringan.
Gemerisik dedaunan mengolah simfoni bersama dentum sepatu sol yang menjejak tanah. Mereka berjalan beriringan menuju sekolah. Minerva sesekali tertawa mendengar perkataan Valia.
Bus-bus pariwisata berjejer rapi di halaman sekolah. Murid-murid sudah banyak berdatangan. Mereka berdiri di depan bus yang telah ditempeli nomor, begitu juga dengan Minerva. Ia yakin perjalanan kali ini akan terasa sangat membosankan. Apalagi, Valia tidak satu bus dengannya.
Seorang guru di sebelah tiang bendera membawa sebuah speaker. Lalu mengangkat speaker itu di depan mulutnya dan berbicara tentang peraturan dalam perkemahan. Suaranya terdengar begitu keras. Minerva yakin murid di barisan belakang pasti bisa mendengar suara itu.
Setelah pemberitahuan itu, para siswa memasuki bus. Minerva duduk di pinggir kaca, barisan keenam dari depan. Kepalanya bersandar di kaca. Bus melaju dengan kecepatan rata-rata.
...
“Akhirnya sampai juga.” Minerva meregangkan badannya.
Pohon-pohon menjulang tinggi. Dedaunan tumbuh di ranting pohon dengan rimbun. Seolah-olah menjadi atap bagi hutan ini.
“Pasang tenda kalian!”
Tiang-tiang penyangga terlihat rapi dengan balutan tas parasut yang sedikit terbuka. Beberapa manusia dikelompoknya berlarian bagaikan kancil berebut bambu panjang yang akan menentukan nasib tendanya. Minerva berdeham, seraya sesekali mengedarkan pandangan pada alat-alat tenda regunya. Namun, beberapa pasak yang seharusnya siap, tidak terlihat irisnya. Ia berkeliling mencari setiap inci dari area tenda regunya yang akan berdiri.
“Tugas yang bawa pasak siapa?” timpalnya.
Mereka menuding satu sama lain untuk menimpakan kesalahan. Mereka menuduh, mengatakan bahwa seseorang telah ceroboh. Minerva hanya terdiam mendengarkan. Sejujurnya, Minerva memiliki daftar tugas orang yang membawa, tetapi untuk mempersingkat masalah ia berucap daftar itu hilang.
Sang ketua dengan berat hati melangkahkan kakinya. Mendekati sang pembina yang dikenal akan kegalakkannya. Melapor akan yang baru saja ditimpa regunya, berharap belas kasih dari si manusia yang terkenal galak tersebut. Seribu sayang harus direlakan, mendengar ungkapan tidak pedulian dari pembina akan kasusnya. Mereka dipaksa berpikir apa jalan keluar yang harus dilewati.
“Pembina bilang dia tidak peduli.” Ketua melipat tangannya dan bersimpuh. “Siapa yang akan membuatnya?”
Lagi-lagi mereka saling melemparkan tatapan. Mereka tahu bahwa kegiatan ini melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi untuk kali ini tujuan sebenarnya dari kemah terlupakan. Minerva maju dari kerumunan, menawarkan dirinya membantu pembuatan pasak. Semua regu setuju.
Minerva dan ketua, Eriza, berlari kecil menuju hutan. Berharap bertemu beberapa kayu yang dapat dipahat berbentuk pasak untuk tendanya. Mereka mengitari beberapa pohon, hingga sorot mata Minerva tertuju pada beberapa pasak yang tercecer disana.
“Eriza, ini pasak siapa?”
Eriza menoleh, menatap pasak tak bertuan tergeletak dengan tenang. Ia menghampiri dan mengambil semuanya tanpa menyisakan satu pun.
“Kita ambil saja. Lagi pula, jika membuatnya akan memakan banyak waktu.”
Eriza segera berlari membawa pasak-pasak itu. Minerva tertinggal. Ia merasa ada sesuatu yang mengawasi dirinya. Saat ia menoleh, iris hijaunya melihat bayangan anjing berbentuk serigala berada di belakangnya.
Semua tenda telah berdiri dengan kokoh oleh perjuangan setiap regu masing-masing. Mereka semua terduduk di sebuah lapangan yang gelap, membentuk lingkaran dan bersiap menerima sesuatu.
“Ini kertas jadwal kalian. Jangan sampai hilang. Kakak tidak akan menjawab jika ada yang menanyakan urutan jadwal. Kakak tidak mau ada yang telat! Mengerti?” ancamnya.
Mereka semua menatap kertas itu dengan seksama, terdapat jadwal perkemahan lengkap dengan waktunya secara rinci. Sudah dipastikan kemah ini direncanakan rapi oleh sekolah. Penjelajahan, sebuah acara yang ditunggu-tunggu setelah api unggun, jatuh pada esok hari. Penjelajahan akan terjadi di siang hari, tentunya para murid perempuan sangat berterima kasih atas hal ini.
Namun, Minerva terdiam. Ia masih tidak bisa melupakan kejadian tadi. Berharap esok hari akan baik-baik saja.
To be continued
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top