[16]
Kaia tersenyum pahit, Aurora tidak terlihat akan menerima penolakan. Terlihat dari caranya berkata: terima kasih atas kerja samanya. Sesungguhnya, Kaia bahkan tidak sadar jika kedua polisi itu menguping pembicaraannya dengan Darrell selama ini. Jantung gadis itu berdegup begitu kencang, mengingat jika dua polisi ini akan melakukan apa saja untuk mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi di sekolahnya.
Ia menoleh pada Darrell di sampingnya, dan melihat bahwa Aurora dan Arya memang memaksa. Dan Darrell bahkan tidak menunjukkan ekspresi penolakan sama sekali. Tampaknya ia sedang mencoba mengikuti arah permainan ini.
Kaia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia mengintip sekilas isi kertas yang diberikan Aurora, dan dari pandangan singkatnya itu ia tidak menemukan nama Darrell. Apakah polisi telah menghapus namanya dari daftar orang yang dicurigai? Tetapi kenapa demikian? Mereka menginterogasi Darrell pertama kali karena ia adalah teman dekat Rendra. Apakah karena kasus Rendra sudah menemukan titik penyelesaian—yang, meskipun aneh—maka mereka mengabaikan nama Darrell? Apa para polisi tidak mengetahui jika dulunya Darrell, Rendra, Ansel, Kevin, dan Aldo dulunya teman satu geng?
Kaia mengenyahkan segala pertanyaan di kepalanya dan memaksakan seulas senyum. Ia merasa tidak sopan jika memakan baksonya di depan Aurora dan Arya, kendati mereka berdualah yang membelikan. Maka dari itu, ia sebetulnya sedang menunggu Darrell angkat bicara. Namun Darrell yang biasanya tidak tahu malu mendadak bungkam.
"Ansel bagaimana?" tanya Darrell akhirnya. Setelah diam beberapa lama, justru itu yang dia tanyakan. Dasar bego, pikir Kaia.
"Kasusnya masih kami periksa. Tetapi keluarganya sudah tidak mau ada penyelidikan lagi," jelas Arya. "Mungkin keluarganya akan menyuap kepolisian untuk membebaskan Ansel."
"Kenapa bertanya? Kenalanmu?" tanya Aurora.
Kaia bertanya-tanya apakah dengan ini Darrell akan masuk daftar tersangka lagi karena bertanya demikian. Namun karena merasa kasihan jika Darrell diinterogasi lagi, Kaia langsung menjawab, "biasalah, anak ini suka kepo masalah orang lain."
Darrell menyikut Kaia, namun meskipun wajahnya menunjukkan penolakan, ia tidak berkata apa pun. Kaia tersenyum puas. "Ngomong-ngomong kalian habis ini mau kemana?" tanyanya, berbasa-basi sambil mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Masih mau ke laboratorium forensik, kami mau mengecek apakah barang bukti yang ditemukan di TKP cocok dengan mayat dan pelaku," jawab Arya. Kayaknya mereka nggak begitu khawatir kami menyebarkan apa yang mereka omongin, pikir Kaia. Kenapa gitu? Kenapa mereka nggak kasih peringatan apa pun?
"Kaia kemarin menang nggak, lombanya?" tanya Aurora ramah. Mendadak ia mengikuti arus perubahan topik yang dimulai Kaia.
"Juara dua, sih," balas Kaia dengan wajah malu, namun sejatinya ia bisa mendengar kesombongan dalam suaranya sendiri.
Aurora tersenyum dan bertepuk tangan, "itu udah bagus!" Wanita itu bertingkah tidak bisa ditebak ketika ia merogoh tas pinggangnya dan mengambil ponsel. Ia menaruhnya di atas meja dan Kaia langsung berasumsi jika mereka akan merekam suara. "Setelah SMA kamu mau kemana?"
"Eh, masih belum tahu. Saya cuma mau ngumpulin berbagai penghargaan aja, biar gampang cari relasi dan kesempatan kuliah," jawab Kaia canggung. Ia sebetulnya enggan menjelaskan masalah ini di depan Darrell.
"Oh, kalau Darrell kemana?"
Pemuda di sampingnya agak kaget karena ditanya, ia menjawab gugup, "mau kuliah dulu."
"Kalian nggak minat jadi polisi?" tanya Arya. Nah, sekarang Kaia tidak bisa lagi menebak kemana arah pembicaraan mereka sebetulnya. Atau sebetulnya ... mereka bermaksud untuk mengobrol santai?
"Nggak," jawab Kaia dan Darrell hampir bersamaan.
Aurora dan Arya tersenyum miring, tatapan mereka terlihat sok tahu mengenai hubungan Kaia dan Darrell.
~•••~
"Ansel telepon gue kemaren," kata Darrell setelah menggerakkan pion putihnya di atas papan catur.
"Terus?" tanya Kaia. Ia sedang fokus memikirkan strategi terbaik untuk mengalahkan Darrell, dan kini ia dengan percaya diri mengeluarkan ratu hitam untuk mengancam kuda Darrell.
Darrell menghela nafas, "katanya dia bakal bebas sebentar lagi. Tapi nggak bakal ada di Indonesia lagi."
Kaia berhenti berpikir sejenak, tangannya yang hendak menggerakkan benteng untuk memakan kuda Darrell terhenti sejenak. "Apa? Jadi dia beneran nyuap polisi buat ngeluarin dia dari penjara?" tanyanya tidak percaya. Yah, meskipun dia sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat, namun ternyata prosesnya lebih cepat dari yang ia bayangkan.
"Apalagi?" Darrell menatap Kaia ragu dan canggung, sangat tahu jika Ansel dan keluarganya salah. "Gue nggak komentar apa-apa. Terus Ansel cerita kalau dia berhasil bikin temen-temen gua yang lain mau kumpul dan dengerin teori gue."
Kaia menurunkan tangannya dari benteng dan menatap Darrell sangat serius dan berkomentar, "kekuatan uang itu emang gede banget, ya." Ia tidak menunggu komentar Darrell ketika melanjutkan, "tapi seenggaknya hidup Ansel berakhir di Indonesia sekarang."
"Dari sudut pandang pelaku, kayaknya ini udah keuntungan banget. Dia ngusir Ansel hampir selamanya dari Indonesia dengan ngehancurin namanya," kata Darrell. Pemuda itu melirik papan catur sekilas kemudian berkata lagi, "menurut lo apa pelakunya masih di sekolah? Gua nggak ngerasa ngerugiin siapa-siapa karena nyontek semester lalu. Tapi kenapa gua dan temen-temen lama gue diincer?"
Tanpa sadar, Kaia menggertakkan giginya sembari mengepalkan tangan kuat-kuat. "Mana gue tahu. Mungkin dari pihak penjual contekan lo kali." Kaia bahkan merasa suaranya sedikit berbeda dari biasanya.
"Wah, lo bener juga," komentar Darrell sambil mengangguk.
Tangan Kaia sedikit gemetar ketika ia menggerakkan benteng yang tadi terhenti untuk memakan kuda putih. "Yah, gimana kalau lo cari tahu dulu sebelum berasumsi macem-macem? Setelah tahu pelakunya, lo bisa ngumpulin bukti dan semacamnya."
"Nggak kebalik, tuh? Bukannya cari bukti buat nemuin pelakunya?" tanya Darrell.
"Terserah lo aja, sih." Kaia menatap Darrell tanpa ragu, mengawasi pandangan mata yang terlihat curiga itu.
Darrell menatapnya tajam, kemudian mengabaikan segala pengamatannya dan mengatakan hal yang di luar perkiraan Kaia. "Lo mau nemenin gua ngobrol sama temen-temen lama gue?" tanyanya.
Kaia terhenyak ke kursinya, terkejut dengan pertanyaan Darrell. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab, "nggak, deh. Gua nggak mau ikut urusan anak-anak cowok."
Darrell terdiam, kemudian menunduk dan memilih untuk menggerakkan bidak ratunya.
"Kenapa? Lo takut sendirian?"
Pemuda itu menghela nafas lelah, "sebenernya gua agak takut ... dan waspada. Aldo itu bukan anak orang sembarangan."
"Emangnya dia anak siapa? Lo takut amat."
"Bapaknya punya bisnis sampingan pasar gelap yang jualan banyak benda-benda mahal, tapi di sana harganya jauh lebih murah," jelas Darrell dengan wajah khawatir. "Gua takut dia bakal bawa orang-orangnya buat bikin gue tertekan."
"Hm, gue tahu apa itu pasar gelap, kok," kata Kaia. "Dan lo tenang aja. Emangnya dulu kalian ada masalah apa? Sampai lo takut sama Aldo dan preman-premannya?"
Darrell menatap Kaia ragu, namun suara pemuda itu sudah terdengar, "sebenernya Aldo itu marah besar gara-gara gua dan Kevin ketahuan. Dia yang nyalahin kita semua, dan dia paling marah sama gua. Seumur-umur kayaknya bakalan dia inget, tuh."
Kaia ingin tertawa, namun dengan sopan ia menahannya. "Santai aja lah, Bro. Kata lo itu diusulin sama Ansel, kan? Udah jelas kalo si Aldo nggak bakal berani macem-macem."
"Entahlah. Anselnya aja ada di luar negeri," komentar Darrell dengan pundak melemas. "Lo nggak akan pernah tahu cara apa yang berani dilakuin Aldo."
"Terus Kevin gimana?" tanya Kaia. Gadis itu menyadari sepenuhnya jika ia agak tidak sopan untuk langsung menyebut nama kakak kelasnya, namun ia merasa jika mereka bahkan tidak layak mendapat penghormatan panggilan.
Darrell berpikir sejenak, kemudian berkata, "dia itu kadang agak gila, dan setelah kita lost contact, gua udah nggak pernah ngurusin dia lagi."
"Temen-temen lo kayak gitu ... dan anehnya lo masih temenan sama mereka," komentar Kaia, terdengar begitu menghakimi. "Entah kayak apa lo waktu itu."
Darrell tertawa. "Itu adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup gue," ucapnya ringan. Matanya terlihat menerawang, mengingat segala memori yang terjadi. Kaia menatapnya agak kasihan, ketika Darrell masih terjebak di masa lalu.
"Jadi, kapan lo mau ngawasin anak-anak di daftar Bu Aurora?" tanya Kaia, langsung mengubah topik pembicaraan. "Waktu pulang sekolah tinggal lima jam lagi."
"Masih banyak waktu, terutama pas istirahat kedua," jawab Darrell santai, tanpa beban sama sekali. Ia menggerakkan ratu putihnya dan mencoba melakukan strategi skak mat andalannya.
Kaia jadi gemas melihat perilaku Darrell baik di dalam permainan catur mereka maupun kelakuan santainya. "Nggak sekarang aja?" tawar Kaia.
"Gua belum menang, nih," kata Darrell.
"Emangnya udah pasti menang? Mentang-mentang dapet yang putih," sindir Kaia.
"Yang jalan duluan selalu punya kesempatan menang lebih gede," balas Darrell sok. Namun setelah berkata demikian, ekspresi wajahnya berubah drastis. "Apa kita pernah bahas ini?"
"Nggak tahu. Gua nggak inget," jawab Kaia asal. Padahal gadis itu hanya ingin fokus mengalahkan Darrell dalam permainan ini.
"Orang itu jalan duluan. Dia punya kesempatan menang lebih gede," gumam Darrell tidak jelas. Kaia hampir tidak mendengar kelanjutan perkataan pemuda itu.
"Siapa, sih, orang itu?"
"Yang ngefitnah Rendra sama Ansel!" seru Darrell dengan suara agak keras, membuat pengunjung perpustakaan yang lain sampai menoleh ke arah mereka. Kaia memelototi Darrell namun tampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada kelanjutan kalimatnya. "Dia, orang itu, atau mereka ... mungkin gue nggak bisa selamat. Dia pasti udah tahu segalanya tentang gua...."
"Lo kenapa, sih?" tanya Kaia tidak mengerti. Darrell bergumam dengan arti yang sulit dipahami, namun jelas terlihat jika pemuda itu menyadari sesuatu.
Darrell menatap Kaia nanar, kemudian bertanya, "hari ini kita pulang jam berapa?"
"Eh, jam empat." Kaia sedang tidak mengerti apa pun yang akan dikatakan Darrell.
Pemuda itu menggaruk tengkuknya, kemudian buru-buru berkata, "gue harus cepet ketemu Aldo dan Kevin ... kalau nggak ... mungkin habis ini gua."
"Bentar, bentar. Lo ini ngomongin apaan, sih?"
"Kapan-kapan aja gue jelasin," kata Darrell. Ia berdiri dan meninggalkan Kaia sendirian di perpustakaan, bersama dengan sebuah permainan catur yang tidak selesai.
"Hei! Lo mau kemana, sih?" kata Kaia setengah berteriak, membuat satu perpustakaan melihat ke arahnya. Ia menundukkan kepala karena malu, namun pada akhirnya menghela nafas lelah. Uh, gue sendirian berarti, pikirnya. Dengan ponselnya, Kaia sudah memotret kertas yang dituliskan Aurora kemarin, bertuliskan nama-nama anak yang mereka curigai.
Di dalam sana tidak ada nama Darrell. Iya, lah. Mukanya aja bego banget, mana mungkin dinilai jadi tersangka, pikir Kaia kesal. Dengan lesu ia menggerakkan pion-pionnya sendiri untuk melakukan skak mat pada bidak putih Darrell. []
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top