[09]
"Kenapa?"
"Gua sibuk."
Darrell berdecak. Ia memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangan kesal. Ia tak bisa memikirkan hal lain kecuali Kaia sedang berbohong.
Memangnya apa lagi?
Hari Senin setelah upacara bendera, Darrell baru bisa bertemu Kaia. Seperti biasa, Darrell terlambat—bukan hal yang baru—dan dia bahkan tidak berusaha untuk menghilangkan kebiasaan itu.
Pagi ini, mendadak Darrell tidak mau sekolah dan hampir berdiam diri di kamar seharian penuh kalau ia tidak ingat untuk bertanya pada Kaia. "Jadi menurut lo gimana?" tanyanya.
Kaia mengambil ponsel di tangan Darrell, kemudian menatap layar ponsel sambil melihat-lihat situs yang ditunjukkan pemuda itu tadi. Wajahnya tampak serius, Darrell jadi penasaran akan hal yang dipikirkan Kaia. "Mungkin ini yang bikin barang-barang kita hilang," jawab Kaia.
"Udah gua duga," gumam Darrell dengan suara kecil.
"Terus ini mau lo apain?" Kaia menyerahkan kembali ponsel Darrell.
Entahlah, jawab Darrell dalam hati. Terus terang dia tidak punya gambaran selanjutnya setelah jawaban Kaia. Pemuda itu menghela nafas dan menjawab seadanya, "gua nggak tahu, tapi mungkin bakal coba-coba."
"Oh, ya?"
"Iya." Entahlah, suara Darrell bahkan terdengar tidak yakin.
~•••~
Tidak ada yang paling Darrell benci selain hukuman di sekolah. Kali ini dia dihukum lagi, dan tempatnya bukan lagi di perpustakaan. Ia disuruh membersihkan Laboratorium Kimia—tetapi untung saja tempat ini luar biasa sepi dan tidak terlalu kotor. Sambil membersihkan jendela dan kaca-kaca ventilasi dengan kanebo, Darrell bisa mendengar suara langkah kaki orang-orang, dan tentu saja beberapa hal lain.
Sebagai gambaran, di belakang Laboratorium Kimia ada satu set toilet lama dan ruang ganti yang tidak terpakai—meskipun terkadang dipakai kalau tidak mau mengantre di kamar mandi biasa. Biasanya bagian belakang itu digunakan anak-anak SMA yang ingin 'berpacaran' atau melakukan kegiatan terlarang di sekolah semacam merokok atau minum minuman keras. Dulu, Darrell pernah mendengar gosip kalau beberapa tahun lalu ada kakak-kakak kelas mereka yang pernah sakaw berat dan beberapa obatnya masih tersembunyi di sekitar sana. Tetapi entahlah kebenarannya. Meskipun demikian, jika hal itu betulan terjadi sekalipun Darrell tidak akan terheran-heran.
Suara-suara langkah kaki sudah biasa, tapi Darrell mulai panik ketika mendengar suara halus perempuan dan becek di belakangnya. Ih, gila, beneran ada yang kayak gini? Darrell berdecak, ia tidak berpikir kalau ada orang yang berani melakukannya di sekolah.
Buru-buru pemuda itu membereskan alat-alat kebersihan dan pergi dari sana.
Kalau bukan setan, berarti manusia, pikir Darrell.
Ia merinding memikirkan ada hantu di belakang Laboratorium Kimia, jadi sesegera mungkin kaki Darrell membawanya pergi dari kawasan belakang sekolah itu.
"Udah puas dihukum?" sambut Kaia ketika Darrell berjalan masuk kelas dan duduk di kursinya sendiri.
Yeah, kali ini Darrell dihukum karena dua tugasnya belum juga selesai. "Nggak juga," balas Darrell sok tenang.
"Artinya belum puas? Lanjutin aja terus, lo emang suka bersih-bersih," sindir gadis itu. Di depannya ada buku teks pelajaran Bahasa Inggris yang jauh dari bab yang seharusnya mereka pelajari. Darrell tahu jika Kaia anak pintar, tetapi itu tetap agak terlalu jauh.
"Terserah." Darrell tidak ingin mengganggu Kaia, tetapi ia sangat ingin bercerita tentang setan di belakang Laboratorium Kimia tadi. Dia harus segera bercerita atau dia tidak akan puas nantinya. "Hei, menurut lo di belakang Laboratorium Kimia ada setannya nggak, sih?" tanya Darrell.
"Mungkin," jawab Kaia tanpa menoleh dari bukunya. "Kenapa? Tadi lo lihat sesuatu?"
"Enggak juga. Tadi ada suara cewek sama becek-becek gitu, ih ... serem, deh." Darrell merinding dan ketakutan, tapi dia tidak berani menunjukkannya secara langsung.
"Bukan anak-anak pacaran yang lagi ena-ena?" tanya Kaia frontal. Tepat seperti pemikiran awal Darrell.
Pemuda itu merasa sedikit terganggu, tetapi luar biasa lega karena Kaia tahu apa yang ia pikirkan. "Gue juga awalnya mikir gitu." Mendadak Darrell sedikit was-was membicarakan ini karena melihat tiba-tiba ada guru lewat. "Yah, kalau bukan setan berarti manusia," lanjutnya, menahan malu karena telah mencuri dengar hal yang tidak seharusnya ia dengar.
"Gua mau ikut lomba Bahasa Inggris lusa, surat dispen-nya gua kasih ke elo, ya."
Darrell agak kaget karena Kaia tiba-tiba ikut lomba, tetapi ia tetap menjawab, "ya." Sambil bertopang dagu di mejanya sendiri, menghabiskan sisa waktu istirahatnya dengan melamun.
Tanpa sadar, sudah hampir dua puluh menit sejak waktu istirahat usai. Dan sekarang gurunya belum datang. Darrell curiga jika sekarang waktunya jam kosong.
"Lo nggak lihat Pak Amin tadi?" tanya Kaia sambil meregangkan tubuhnya setelah menjawab soal-soal yang ada di buku.
"Nggak." Pelajaran kali ini seharusnya adalah Kimia, tetapi berhubung gurunya tidak ada, lebih baik Darrell tidur saja. Hitung-hitung sambil mengabaikan rasa gatal di tangannya akibat luka yang sedang menutup. Namun tepat ketika ia merebahkan kepalanya di meja kelas yang keras, langkah kaki cepat terdengar. Pemuda itu mendengus dingin, merasa dicurangi oleh gurunya sendiri. Namun ia tidak boleh terlalu sinis, sebab hanya guru Kimia saja yang bersikap biasa padanya.
"Selamat pagi semuanya," sapa guru itu.
Dengan malas-malasan Darrell bangun dari posisinya tadi dan mendengarkan apa yang akan disampaikan pria paruh baya itu. Mendadak firasatnya buruk.
"Pertama-tama mohon berduka cita untuk kematian Aralian Prameswari, mari kita doakan agar dia tenang di sana."
Bisik-bisik terdengar. Darrell gugup, dia tidak yakin ingin tahu kelanjutannya.
"Hari ini kakak kelas kalian, Ara, telah dibunuh di kamar mandi belakang. Polisi sudah dipanggil untuk mengatasi masalah ini, semoga kejadian sama tidak terulang lagi." Darrell berdecak. Ia tidak suka ada pembunuhan lagi di sekolah.
Kamar mandi belakang? Tanya Darrell bingung, jantungnya berdegup kencang tanpa bisa ia tahan. Sebutan kamar mandi lama dan ruang ganti di belakang Laboratorium Kimia itu disebut sebagai kamar mandi belakang oleh seisi sekolah. Dan Darrell semakin takut, dia tidak ingin terseret masalah lain lagi. Dengan gugup dan kaku, pemuda itu menundukkan kepalanya untuk menatap buku pelajaran, kemudian catatan guru di papan tulis secara bergantian.
~•••~
Mata Ara hilang. Rongga kosong di dalam sana tampak begitu mengerikan dalam posisinya yang sedang tiduran dil lantai kamar mandi belakang yang kusam. Darah mengalir di sekitarnya, mengotori seragam abu-abu gadis itu. Rambut hitam panjang yang seharusnya rapi seperti biasa itu kini acak-acakan dengan helaian yang terlepas di sana-sini. Mulut Ara terbuka lebar, terlihat seolah berteriak di akhir kematiannya yang menyakitkan. Kancing seragam putihnya terbuka, memperlihatkan rongga lain yang kosong. Tulang rusuk gadis itu kelihatan jelas, sebab organ yang dilindunginya sudah tidak ada lagi. Warna putihnya kontras dengan seragam putih yang sudah ternoda merah. Sebuah pergelangan tangan yang terlepas dilempar di dekat kepala Ara, sedangkan di bawah, pergelangan kakinya terikat dengan tali Pramuka, namun dililit dengan kuat. Sepatu Ara tidak dilepas, dan darah juga mengalir dari lutut kaki gadis itu. Tampaknya, urat tendonnya sudah dicabut paksa. Wajahnya mengerikan, tubuhnya dimutilasi, dan kakinya telah dibuat lumpuh.
Tidak ada yang berani menengok ke kamar mandi belakang lagi. Semua murid takut. Kenapa? Padahal pembunuhnya sudah ditangkap, pikir Darrell. Ia menatap tempat yang diberi peringatan dari polisi itu. Mayat Ara sudah hilang, tetapi garis polisi masih belum hilang. Tidak heran semua orang takut. Sebetulnya ada berapa orang yang ingin membunuh di sekolah ini? Darrell buru-buru pergi dari sana sebelum dicurigai macam-macam lagi. Imajinasinya yang liar berpikir jika suara-suara aneh yang terdengar saat sedang membersihkan Laboratorium Kimia tadi berasal dari suara Ara dan pembunuhnya.
Kenapa? Tanya Darrell sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Biasanya ia tahan-tahan saja melihat darah, namun kali ini ia mual akan apa yang seharusnya bisa ia cegah. Namun Darrell pergi, meninggalkan Ara untuk dibunuh.
Kamar mandi laki-laki di dekat kelas Darrell sangat sepi, dan pemuda itu langsung muntah-muntah di sana. Dia mengenal gadis itu, dulu mereka pernah satu kelas. Ara adalah tipe gadis seperti Kaia, cerdas dan frontal, namun sifat mereka tidak sama. Kaia tidak terlihat menyombongkan kecerdasannya dan lebih ceria, sedangkan Ara sombong dan merasa paling superior—meskipun memang benar. Darrell tidak pernah menyukai gadis itu sebagai teman sekelas, tetapi bukan berarti ia mau melihatnya terbunuh seperti hewan di kamar mandi belakang.
Darrell menghela nafas, ia menatap bayangannya sendiri di cermin kecil yang ditaruh di depan wastafel. Jika di kamar mandi perempuan cerminnya besar dan wastafelnya banyak, di kamar mandi laki-laki hanya ada satu wastafel dan cermin kecil di depannya. Dan, ya, Darrell tahu karena dia pernah masuk ke sana.
Kepalanya kembali lagi ke memori pemandangan Ara yang sempat ia lihat saat istirahat kedua tadi, sebelum mayatnya dibawa ke petugas forensik.
Saat masih menjadi teman sekelas, kabarnya Ara pernah naksir Darrell. Tetapi tidak ada yang percaya, karena wajah gadis itu sangat galak dan tidak terlihat akan menyukai anak bermasalah seperti Darrell. Namun kabar burung seperti itu membuat seisi kelas semakin akrab, meski pada akhirnya mempermalukan diri mereka sendiri. Darrell mencuci mukanya cepat-cepat, kemudian berlari ke bawah.
Sekolah sudah sepi, menyisakan anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler atau santai-santai sepulang sekolah. Namun tidak ada yang berani mendekati kamar mandi belakang, atau bahkan area sekitar situ. Melihat adanya dua pembunuhan di sekolah, tampaknya beberapa kegiatan ekstra akan dibekukan untuk sementara waktu. Sebab melihat ekspresi wajah anak-anak yang bisa dilihat Darrell, sejauh ini mereka terlihat ketakutan.
Semua mata tertuju pada Darrell, seolah-olah mereka mencurigainya sebagai pelaku pembunuhan. Semua orang tahu akan pertemanan Darrell dan Rendra, tetapi tentu saja mereka tidak akan berpikir bahwa Darrell akan melakukan perbuatan yang sama ... kan? Tidak tenang, Darrell sama sekali tidak tenang. Reputasinya pernah hancur sekali, dan dia tidak ingin menghancurkan sesuatu yang sudah tidak berbentuk untuk kedua kalinya. Darrell tidak bisa menahan pikiran liar bahwa semua orang yang melihatnya sedang mencurigainya sebagai pembunuh Ara.
Bahkan semua keadaan sungguh cocok. Dia ada di TKP pada waktu kejadian, memiliki hubungan mantan teman sekelas dengan Ara, dan juga sahabat Rendra, selaku pelaku pembunuhan pertama. Darrell sangat berpotensi menjadi pembunuh Ara.
Tenang, Rel. Semua masalah cuma ada di pikiran lo. Ini semua nggak nyata. Ketakutan akan dituduh sebagai pembunuh membuat Darrell gemetaran sampai memasuki mobil jemputannya. Namun hal lain yang paling ia takuti adalah kenyataan bahwa dia bisa mencegah pembunuhan ini terjadi. Meski Ara bukan pribadi yang menyenangkan, melihatnya mati mengenaskan begitu membuat Darrell tidak enak. Dia bisa membuat Ara selamat dan mungkin menangkap pelaku pembunuhan yang lain, namun ia malah pergi. Bodoh. Darrell bodoh. Ia memegangi pelipisnya sambil melihat ke luar jendela, melamun sambil memikirkan pembunuhan ini. []
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top