[07]

Darrell memikirkan Rendra. Tentu saja, kapan dia tidak memikirkan pemuda itu? Sepenuhnya, kekhawatiran Darrell sama sekali tidak berdasar. Namun tetap saja ia tak bisa berhenti melamun dan memulai topik Rendra lagi di kepalanya, sembari membuang waktu di kelas yang membosankan.

"Lo udah ngunjungin Rendra?" tanya suara Kaia.

Darrell tidak sadar gadis itu duduk di depannya, membalik kursi milik anak yang duduk di sana. Lamunannya berhenti, dan menghela nafas sembari bingung kenapa waktu istirahatnya berkurang begitu banyak hanya untuk dihabiskan dengan melamun. "Udah," jawab Darrell setengah hati.

"Gimana?"

"Dia tambah gila ... kayaknya." Darrell kembali menghela nafas panjang. Dia tidak merasakan emosi apa pun seperti biasanya, tapi saat ini sudah parah. Dia benar-benar tak merasakan apa pun.

"Hm, padahal gua punya berita bagus, lho," kata Kaia dengan nada seperti bintang iklan di televisi yang ingin mempromosikan barang dagangan mereka. Darrell berwajah datar, sedatar-datarnya yang bisa ia buat, namun Kaia masih menatapnya seperti tadi. "Coba tebak?" lanjut Kaia.

Darrell lagi-lagi menghembuskan nafas panjang dan berkata asal tanpa terpikir, "nilai ulangan harian matematika kemaren bagus?"

"Yah, itu juga bener. Tapi ini jauh lebih bagus." Kaia setengah berdiri dan bertumpu di meja Darrell, sementara pemuda itu berpikir, astaga ... apalagi ini? "Gua udah nemuin pulpen gue."

Darrell kaget. Sangat kaget. Bagaimana bisa sebuah keajaiban terjadi? Yah, pasti bisa terjadi, pikir Darrell. Tetapi menurut Darrell nasib baik tampaknya sedang tersenyum pada Kaia dan membuatnya begitu beruntung menemukan benda berharga miliknya. "Jadi lo nggak mau bantuin hua nyariin pulpen lagi?" tanya Darrell—sepenuhnya menuduh, bukan bertanya baik-baik.

"Gua bukan orang kayak gitu, ya." Kaia tampak sedikit tersinggung, tapi Darrell tidak peduli. Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau, dan seluruh dunia masih tersenyum padanya.

"Bagus, deh, kalau gitu," balas Darrell tanpa minat. Ia kembali merenungkan sikapnya tadi pada Kaia dan jadi menyesal, menyadari bahwa kelakuan seenak jidat itulah yang membuat dunia cemberut padanya.

"Lo lupa, ya?"

"Apaan?" tanya Darrell setengah sadar, setengah melamun.

"Janji lo."

"Emang gua pernah janji sesuatu?"

"Nggak usah pura-pura lupa. Gua mau nagih janji itu."

Darrell jadi kelabakan, dan mengutuk bibirnya yang berkata tanpa berpikir waktu itu. Kalau begitu ... saatnya jurus mengalihkan pembicaraan, kata Darrell dalam hati. "Pulpen lo ketemu di mana?" tanya Darrell setengah panik. Ia mencoba tenang, namun kakinya yang tak berhenti bergerak-gerak sama sekali tidak membantu.

"Deket kamar mandi lantai dua gedung ini," jawab Kaia, terlihat terdistraksi. Darrell ingin mengelus dada karena telah bebas dari lubang jarum.

Ia segera berdiri dan berkata, "mungkin punya gua nggak jauh-jauh dari sana." Ia bisa melihat air muka Kaia berubah masam dan kesal. Rambutnya yang dikuncir satu di samping kepalanya bergerak ke depan dan ke belakang ketika gadis itu merajuk. Mengabaikan Kaia, Darrell berjalan sembari melanjutkan, "gua mau ke sana dulu, ya."

"Boleh aja. Tapi gua nggak bakal lupa sama hal ini."

Darrell benci berurusan dengan ingatan perempuan, apalagi siswi berprestasi seperti Kaia. Sekarang gadis bergaya sporty itu menandai janji Darrell dalam jadwalnya seumur hidup sampai ia menepatinya.

Kaia jelek, bego, bangsat, pikir Darrell, melontarkan segala macam sumpah serapah untuk Kaia. Namun yang membuat janji adalah dia, dan dia juga tahu kalau dia yang salah. Tanpa sadar kaki Darrell yang melangkah penuh emosi—berbanding terbalik dengan sebelumnya—sudah sampai di tempat yang ia tuju, namun sejauh mata memandang, tidak ada kilauan khas pulpen perak miliknya. Ia menggerutu lagi dan berbalik sambil berusaha menghindari Kaia selama beberapa waktu. Lagi-lagi ia menghantam tanah dengan langkah kemarahan.

~•••~

"Kenapa, sih, lo kayak suka dihukum gitu?" tanya Kaia. Nadanya terdengar akan mengomel panjang lebar.

"Nggak ada yang suka dihukum, Kaia." Darrell menjalankan kudanya tanpa melirik Kaia, namun ia bisa merasakan tatapan tajam gadis itu di depannya.

Lagi-lagi keduanya main catur—bagaimana pun juga, mereka tidak punya teman lain—dan tidak ada pilihan lawan yang menawarkan opsi lain.

Kaia berdecak, "terus ngapain lo dihukum bersihin perpustakaan lagi? Kayaknya ini udah tiga kali kita main catur di perpustakaan gara-gara lo dihukum di sini."

Darrell menelan terus kata-kata yang ingin ia lontarkan sekaligus ludahnya dalam artian sesungguhnya, kemudian membalas gerakan ratu Kaia dengan benteng. "Masa?" tanya Darrell dengan memasang wajah tidak peduli yang ia buat-buat. Sebetulnya ia marah lagi, karena omelan Kaia.

"Janji lo?" tagih Kaia.

"Aduh, gua nggak ada mood, nih," balas Darrell, mencoba membuat suaranya kedengaran serius, entah bagaimana hasilnya.

"Jangan ngeles lagi, lo," bentak Kaia dalam bisikan. Kedengaranmya Kaia sama sekali tidak berminat menanggapi ocehan Darrell yang lain.

"Lo mau cerita yang bener?" balas Darrell, sama membentak dalam bisikan. Matanya sedikit melotot ketika ia menggenggam erat-erat kuda yang tadi dimakan ratu Kaia, membuat telapak tangannya memutih saking kuatnya kepalan itu. "Gampang. Gua dan temen-temen beli contekan UAS semester satu di preman, ketahuan guru, dan akhirnya dihukum nggak naik kelas. Puas?"

Keduanya terdiam, tidak ada yang melanjutkan percakapan maupun permainan catur di antara mereka. Setelah beberapa saat, Kaia buka suara, "kok bisa cuma lo yang nggak naik kelas?"

"Karena ortu gue nggak mau nyogok sekolah kayak Rendra sama temen-temen gua yang lain," jawab Darrell getir. Ia ingin tersenyum, namun tidak bisa. Tangannya menggenggam bidak catur di tangannya kuat-kuat sampai bunyi krek terdengar.

Baik Darrell maupun Kaia terkejut mendengar bunyi itu. Perlahan, Darrell mengangkat tangannya dan membuka kepalan. Kemudian kuda putih yang patah menjadi dua terlihat, dan tangan Darrell yang merah serta berdarah karena goresan dalam dari kayu tajam. Tes. Suara itu membuat Kaia langsung sigap berdiri dan menarik Darrell keluar perpustakaan tanpa suara. Jalan di belakang mereka ditetesi darah dari tangan Darrell, dan pemuda itu bisa merasakan tatapan penasaran dari semua orang yang ia lewati. Kejadiannya sangat cepat sampai baik Darrell maupun Kaia belum sempat berkomentar apa pun.

~•••~

"Bangsat! Lo harusnya nyerang di sana!" teriak Darrell sambil menyenggol bahu Rendra dengan bahunya sendiri. Dari lima remaja yang ada di sana, sudah pasti sebuah smartphone yang menampilkan permainan daring ada di tangan mereka.

"Lo yang salah, Darrell Bego!" sahut Rendra.

Darrell mengeklik layar ponselnya dengan kekuatan maksimal karena emosi kepada teman-teman satu timnya. Ia mendengar Aldo berseru, "diem, Brengsek. Daripada marah-marahan, mending bantuin gua di atas sini!"

Di belakang sekolah, tepatnya di kamar mandi tidak terpakai—yang sebetulnya bukan bertanda laki-laki—mereka berlima sedang melakukan hal yang sudah umum di kalangan anak SMA, membolos. "Jangan teriak-teriak, Bego. Kita bisa ketahuan nanti!" seru Ansel.

Namun beberapa saat kemhdian mereka berteriak bersamaan dengan suara luar biasa keras. Tentu saja dikarenakan kekalahan. Apa lagi? Darrell mengeluh dan menyumpah-nyumpah dengam posisi tangan hampir melempar ponselnya.

"Kurang ajar, kita kalah gara-gara lo semua tahu," komentar Ansel marah. Ia membenarkan letak kacamatanya dan merogoh permen di dalam tas.

"Elo yang paling beban, tauk." Kevin mendorong Ansel dan hampir membuatnya tersedak permen, "Bangsat, lo. Udah dua kali kita kalah berturut-turut."

Semua orang ber-huu sambil mendorong Ansel dan mengata-ngatainya.

"Sebat?" tawar Rendra sambil mengeluarkan kotak rokok kecil buatan sendiri dari saku bajunya. Benda itu tidak bagus, dan kentara sekali hanya dibuat untuk menaruh rokok agar tidak ketahuan.

"Ayok, lah." Darrell mengambil rokok dari tangan Rendra tanpa izin dan menyalakan korek miliknya sendiri.

Dalam sekejap seluruh bangunan di sana berbau asap rokok yang sangat kental. Sambil menyipit, Darrell membuang abu rokok di samping tasnya dan kembali mengisap benda itu. Pemuda itu memainkan rambutnya dengan sok, kemudian memainkan ponselnya.

"Anjir, cewek mana lagi ini?" tanya Aldo begitu melihat layar ponsel Darrell.

"Udah nambah aja, perasaan kemaren foto profilnya laen," balas Ansel sambil bersiul.

"Bukan, Goblok. Kemaren kakak gua," balas Darrell sewot. "Ini bukan cewek lain, kok."

"Iyalah ... semua orang juga tahu lo nggak bisa move on dari Rara," sahut Kevin, kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.

Darrell jadi merona karenanya, namun ia berdeham untuk meninggalkan perasaan malu. "Lo semua pada jadi beli contekan sama preman-preman di deket Alun-alun, kan?" tanya Darrell sebagai pengganti topik pembicaraan.

Dengan mulus, semua orang menanggapi. Aldo dengan sigap menjawab, "jadi, lah. Ulangan tinggal dua hari lagi. Mana gua nggak belajar sama sekali lagi."

Rendra menoleh dari ponselnya dan melakukan tos bersama Aldo seraya berkata sambil tertawa, "haha, sama Bro."

"Awas aja kalau kalian semua nggak dateng ke tempat ketemuan pas ngambil bocoran soal. Gua ogah sama preman-preman itu sendirian."

"Elo, kan, anak Taekwondo. Santai aja. Kita nunggu di belakang."

Kevin mendorong Aldo dan membentak, "diem, lo." Sekali lagi pemuda itu mengisap rokok di tangannya yang semakin memendek.


"Udah jam berapa, nih? Lo nggak latihan piano?" tanya Rendra, membuyarkan Darrell yang sejak tadi bermain game lain di ponselnya.

"Telat satu dua menit nggak apa-apa, kali." Darrell tidak memalingkan wajahnya dari sinar biru layar ponselnya.

"Udah buruan pergi. Nanti nyokap lo ngehukum macem-macem baru tahu rasa," balas Aldo sambil menarik ponsel Darrell dari genggamannya, membuat pemuda itu berdecak kesal.

"Yah, mana rokok gue belum abis lagi. Bentaran dulu, elah."

"Santai, Bro. Buat gua aja," ucap Ansel sambil cengar-cengir.

"Iya. Daripada kena marah Maestro piano lu," lanjut Kevin.

"Maester, Bego." Darrell berdiri dan mencaplok kepala Kevin dengan buku partitur di dalam tasnya. "Mana gua belum hafal not-not terakhir lagi. Mampus, dah, bakal kena marah."

"Asik, artinya lo bisa pergi ke kafe, dong," kata Rendra tanpa ada hubungan yang jelas. Ia menepuk punggung Darrell ketika pemuda itu beranjak pergi dari tempat duduknya, masih membawa rokok di satu tangan dan tas punggung sekolah di tangan lain. "Nanti malem, jangan lupa."

"Iya, kalau gua nggak kena marah sama doi," balas Darrell dengan wajah cemberut, ia memaksudkan sang ibu pada teman-temannya.

.

.

.

"Kenapa, Rel? Muka lo udah kayak nahan berak aja," ucap Kaia. Gadis itu datang lagi ke UKS setelah istirahat kedua. Darrell kembali ke masa kini, dengan perban melilit pergelangan tangan kirinya. Karena luka itu, dokter UKS tidak membiarkan Darrell pergi ke kelas seharian ini—dengan alasan yang kurang masuk akal.

Darrell tentu berpikir Kaia kurang ajar. "Nggak napa-napa. Gua cuma laper aja."

"Sabar, habis ini pulang sekolah."

Tidak perlu diberitahu, tentu saja Darrell sudah tahu. Pemuda itu berdecak kesal ketika duduk di ranjang rumah sakit, memalingkan muka dari Kaia yang sedang memelototi buku teks pelajaran Fisika. []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top