[04]

"Ada kabar?" tanya Darrell ketika melihat Kaia berjalan ke arahnya.

Kaia berdiri di samping Darrell dan mengikuti posisi pemuda itu sembari menjawab, "nggak."

Keduanya ada di depan kelas, di balkon yang memiliki pemandangan lapangan sekolah di bawah. Waktu istirahat yang sudah dimulai membuat murid-murid lalu lalang di belakang mereka sambil berceloteh, beberapa terdengar mengkhawatirkan nilai ujian mereka hari ini. Darrell dan Kaia saling diam di posisi masing-masing, menatap ke bawah melihat pertandingan futsal.

"Tumben lo nggak sama anak-anak cewek di kelas," komentar Darrell. Kaia bisa melihatnya memindahkan tatapan lurus ke depan, entah melihat apa.

Kaia sama-sama menatap kosong ke depan. Ia menghela nafas dan berkata canggung, "mereka jadi ... ngejauhin gue setelah kita kerja sama."

"Sori," kata Darrell dengan nada penuh penyesalan. Kaia bisa merasakan tatapan pemuda itu di atas kepalanya selama sesaat, kemudian hilang begitu saja.

Tersenyum kecil sebagai reaksi spontan, Kaia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga kemudian buru-buru menjawab, "nggak. Nggak apa-apa, kok." Kaia menghela nafas. "Sebenarnya gue juga nggak begitu cocok sama mereka."

"Kenapa?"

Agak berat menjawab ini, namun Kaia tetap bersuara, "yah, mungkin karena mereka kebanyakan gosip melulu?" Itu sebuah pertanyaan di balik pernyataan. Karena memang hal itulah yang sebenarnya terjadi. Sekali lagi Kaia menghela nafas, "bukannya gue sok suci nggak pernah ngegosip, tapi pertemanan kayak gitu nggak sehat. Bisa-bisa mereka ngomongin gue di belakang setelah gue curhat mati-matian."

Darrell mendengus dan berkata dengan nada mengejek, "kayak ... sekarang ini?" Spontan Kaia ingin menoleh, namun suara Darrell kembali terdengar, "jangan noleh, nanti ketahuan."

Kaia mengangguk perlahan, jantungnya berdegup kencang dalam beberapa tahap ketika mendengar bahwa namanya akan jadi bahan gosip anak-anak perempuan di kelas.

"Suara mereka kenceng, kok. Pasti kedengeran sampai sini. Pura-pura ngobrol aja sama gue," ujar Darrell dalam suara rendah nan kecil. Kaia mengangguk dan memutuskan menjadi pencuri dengar.

"... tiba-tiba aja temenan sama Darrell. Padahal dulu ikut kita ngomongin dia." Kaia mengenali suara ini, dan benar-benar tidak menyangka jika sekarang dia yang menjadi bahan pembicaraan.

"Siapa tahu dia lagi PDKT," sahut yang lain. Suara yang juga dikenali Kaia, selain kesal gadis itu juga malu setelah dikatai demikian.

"Idih. Kalau gue nggak mau, ya, sama model cowok kayak gitu."

"Nggak apa-apa, sih, kalau lo nggak mau. Buat gue aja. Toh dia anak orang kaya. Mukanya ganteng juga menurut gue." Spontan Kaia mendongak ke atas dan melihat rona merah di wajah Darrell. Tebakannya, itu bukan ekspresi malu.

"Oh, mungkin uang itu juga yang diincer Kaia. Satu kelas juga tahu dia murid nggak mampu."

Jahat banget, pikir Kaia sedih. Padahal sampai tiga hari yang lalu, mereka masih mengobrol bersama dengan riang gembira sambil pergi ke kantin dan mengomentari pertanyaan ujian.

Suara tawa mereka terdengar begitu sinis di telinga Kaia.

"Sori," ucap Kaia ketika menyadari bahwa Darrell pasti tahu jika satu sekolah menjadikannya bahan gosip, bahkan Kaia sekalipun. Bagaimana perasaan Darrell ketika tahu salah satu orang yang membicarakannya di belakang malah berdiri di sebelahnya sambil mencuri dengar obrolan orang lain? Kaia merasa hancur karena rasa malu dan bersalah.

"Nggak apa-apa. Toh gue udah nggak bermasalah kayak dulu lagi," balas Darrell. Suaranya terdengar tenang dan terkendali seperti biasa, namun Kaia bisa melihat tangan pemuda itu terkepal erat dengan buku-buku jari memutih saking kuatnya mengepal.

Tapi gosipnya masih nyebar di mana-mana, balas Kaia dalam hati. Ia melihat rona merah lagi di wajah Darrell, sangat jelas memperlihatkan kemarahannya. Namun suara pemuda itu masih setenang biasanya, "kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya dulu gue nggak sebermasalah itu." Cara Darrell mengubah pembicaraan terdengar sangat mulus, sampai Kaia hampir tidak sadar. "Yah, namanya juga gosip."

Mendadak Kaia kembali mengingat semua gosip yang pernah ia dengar tentang Darrell dan juga anak-anak lain. Ia jadi merasa topik ini sangat suram dan membuat kesal, jadi Kaia kembali menghela nafas dan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, "lo nggak belajar?"

"Udah, lagian ini hari terakhir UTS," jawab Darrell setengah hati. Baik suara mau pun matanya menerawang pada sesuatu yang tidak bisa Kaia jelaskan. Gadis itu menegakkan punggung dan mencoba memikirkan topik pembicaraan lain.

"Lo tahu kondisi Rendra sekarang?" tanya Kaia. Ia menatap anak-anak yang sedang bermain futsal di bawah, ditambah dengan penonton dadakan mereka dan satu gol baru yang menjebol gawang. Dari atas, Kaia bisa mendengar suara sorakan dan tendangan bola.

"Tiga hari yang lalu gue jenguk dia di kantor polisi, tapi mungkin sekarang dia udah dipindah ke lapas," jawab Darrell. Kaia bisa merasakan sedih dalam suara Darrell, namun ia tidak bisa begitu saja mengabaikan fakta ini.

Kaia menggeleng, memutuskan untuk mengatakan hal yang ia ketahui sembari menatap Darrell lurus-lurus dengan harapan akan berbalik padanya, "lo nggak tahu? Rendra masuk rumah sakit jiwa."

"Hah?" Darrell menatap Kaia penuh kekagetan. Gadis itu bisa melihat mata Darrell dipenuhi pertanyaan dan kekagetan yang belum sembuh.

"Serius lo nggak tahu?" Kaia bermaksud bercanda dengan tidak mengindahkan apa yang ia lihat di mata Darrell, namun segera menyesali perbuatan itu. Membuang muka, Kaia menjawab, "kemarin katanya ada orang yang bilang kalau dia lihat Rendra makan organ Lintang. Dia lapor polisi ... dan meski ucapannya nggak bisa dibuktikan, Rendra tetep masuk rumah sakit jiwa."

"Kenapa? Kok bisa?" tuntut Darrell. Hilang sudah ketenangan dalam suaranya.

"Gue nggak begitu tahu," hindar Kaia. Ia mundur beberapa senti dari Darrell yang saking penasarannya sampai membuat gadis itu terintimidasi. "Tapi kayaknya Rendra udah gila, Rel."

Darrell terdiam sesaat dan kembali menatap lapangan di bawah mereka, namun kemudian bertanya dengan suara lebih tenang. "Lo tahu dari mana?"

Melihat ketenangan Darrell yang tiba-tiba, Kaia malah kaget, namun langsung menanggapi dengan candaan, "ada, deh." Senyum Kaia mengembang, namun matanya menangkap sekilas buku-buku jari Darrell yang memutih.

"Gue mungkin harus nanya ke dua polisi itu. Gosip nggak masuk fakta dalam hitungan gue," ujar Darrell. Mendengarnya berkata demikian membuat Kaia sedikit tersinggung, namun memutuskan bahwa dia layak menerimanya.

~•••~

"Nggak usah sedih gitu, mungkin mereka bakal dateng besok," kata Kaia dengan maksud menghibur Darrell yang cemberut di depannya.

Ekspresi wajah pemuda itu terlihat keras dan lebih mengarah pada kemarahan, kendati Kaia menyebut Darrell sedang sedih. Darrell diam saja. Tidak berkomentar apa pun mengenai apa pun. Entah tidak peduli atau apa, Darrell hanya diam dan tidak bersuara sama sekali. Pemuda itu bermaksud untuk mencari dua polisi yang kemarin mereka temui, namun ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang pergi ke sekolah mereka hari ini.

"Nah, mau coba main catur sama gua?" tanya Kaia sambil mengambil papan catur di dekat tempat duduk mereka. Ia bisa merasakan lalu lalang murid-murid dalam diam, mengingat ini adalah perpustakaan.

Mengabaikan Kaia, Darrell malah berkomentar tanpa melihat Kaia, "gue masih nggak percaya kalau Rendra gila dan ngelakuin hal kayak gitu. Maksudnya ... dia masih ngobrol santai sama gue sebelum kejadian, mana mungkin dia tahu-tahu gila gitu aja?" Menjabarkan teorinya dalam suara kecil, Darrell masih mampu menarik perhatian anak-anak di perpustakaan. Kaia mengisyaratkan agar pemuda itu mengecilkan lagi suaranya, tetapi Darrell tidak terlihat peduli. "Pasti ada yang salah dari kasus ini." Meski terlihat begitu, ternyata Darrell tetap melakukan hal yang diisyaratkan Kaia.

"Lo bener," balas Kaia sambil menyatukan jemarinya sebagai tumpuan dagu. "Tapi kalau lo udah divonis gila, nggak ada yang bisa lo lakuin. Mau menerima atau membantah sama aja, lo bakal tetep dikira gila sama orang-orang."

Kali ini Darrell menoleh pada Kaia dengan ekspresi sengsara, "terus gimana, dong?"

"Singkatnya, kita nggak bisa berbuat apa-apa," jawab Kaia sambil mengedikkan bahunya. Kedua tangannya menggelar papan catur dan menyusun buah-buahnya.

"Sumpah, omongan lo barusan itu sama sekali nggak guna," balas Darrell. Wajahnya berubah seperti biasa, tidak peduli. Selain itu, Kaia juga merasa jika Darrell kelihatan menyesal meminta nasihat padanya.

Mengabaikan balasan Darrell, Kaia masih menyusun buah catur di atas papan persegi itu. Ia bertanya tanpa melihat Darrell, "lo nggak ditanyain macem-macem soal Rendra pas diinterogasi?"

"Lo tahu gue diinterogasi?"

Itu nggak penting, jawab Kaia dalam hati. Melihat ekspresi Darrell, Kaia juga ragu jika tiga hari yang lalu pemuda itu benar-benar diinterogasi. Namun apa lagi yang terjadi di ruang guru saat itu? "Gimana kalau lo mulai cerita aja? Lo temen Rendra, kan?"

Darrell menggaruk kepalanya dan menjawab dengan canggung, "yah, kita temenan sejak masuk sekolah. Dia satu kelompok sama gue pas MOS, terus lanjut sampai sekarang."

"Bahkan setelah kejadian semester lalu? Pas lo nggak naik kelas?" tanya Kaia, menekankan pertanyaan pertama. Ia tidak ingin menyinggung Darrell yang pemarah dengan kalimat kedua, namun mulutnya tidak bisa berhenti begitu saja di pertanyaan pertama.

"Iya."

Nah, mumpung ada orangnya di sini, pikir Kaia sambil menyetujui ide gilanya sendiri, mengabaikan reaksi kemarahan singkat dari Darrell. "Semester lalu itu ada kejadian apa, sih?"

"Ih, ogah gue cerita," jawab Darrell dengan suara agak keras. Kaia bisa melihatnya mengernyit sembari menutup sebagian wajah yang terlihat merona. "Kapan-kapan aja. Itu ceritanya malu-maluin dan jadi salah satu kesalahan terburuk gue."

"Yaelah, cerita lo nanggung banget."

Mengabaikan protes Darrell, pemuda itu menggeleng. Namun sedetik kemudian Kaia melihat perubahan ekspresi di wajahnya, "emang gosipnya apa aja?"

Kaia tahu jika Darrell mengungkit obrolan mereka tadi pagi. Tanpa pikir panjang Kaia menjawab yang sebenarnya dengan satu tarikan nafas, "lo nggak naik kelas karena ketahuan sakaw di belakang sekolah. Temen-temen lo juga kena, tapi cuma lo yang nggak naik kelas karena orang tua lo nggak mau nyogok sekolah. Habis itu karena frustasi, lo ngehamilin anak orang."

"Buset, jauh amat," balas Darrell sambil menggeleng-geleng. Kaia juga tahu jika gosip itu barangkali tidak benar, namun tingkah Darrell sendiri yang membuat gosip seperti itu. "Terakhir kali gue pacaran aja kelas sembilan, gimana bisa ngehamilin anak orang?"

"Mana gue tahu? Lagian lo bilang itu cuma gosip." Kaia lupa merendahkan suaranya tadi, dan sekarang mereka berdua jadi tontonan di perpustakaan. Gadis itu berdeham dan tiba-tiba menjadi serius, "ini beneran lo udah lama nggak pacaran? Kenapa?"

"Hm, dulu gue mikir kalau punya temen lebih enak ketimbang punya pacar. Tapi sekarang ternyata sama aja," jawab Darrell dengan getir.

"Maksudnya?"

"Pacar Rendra dulu ninggalin dia, terus dia nangis-nangis kayak anak cupu. Terus pacar Aldo ngamuk-ngamuk di depan gue pas diputusin," jawab Darrell dengan mata menerawang. Kaia tahu jika itu pasti kenangan bahagia dari senyum tipis di wajah Darrell. "Pokoknya masih banyak lagi, deh. Intinya punya temen lebih enak ketimbang punya pacar. Tapi nyatanya semua temen-temen gue ninggalin gue pas lagi susah—kecuali Rendra."

Kalimat terakhir yang dikatakan dengan penuh kegetiran membuat Kaia ikut bersimpati pada Darrell. "Pas SMP ngapain aja?" tanya Kaia.

"Les piano? Gue sibuk ikut lomba dimana-mana." Meski terdengar seperti pertanyaan, Kaia tahu itu jawaban. Agaknya Darrell ragu dengan jawabannya. "Lo sendiri? Mantannya ada berapa?"

"Gue terlalu sibuk jadi tempat curhat temen-temen, sampe nggak punya waktu nyari pacar beneran," jawab Kaia sambil tertawa kecil. Kepalanya membayangkan Darrell yang sedang berlatih piano dan merasa jika itu lucu. Agak aneh jika melihat Darrell yang sekarang bermain piano. "Waktu lomba ... lo menang?"

"Ya iyalah. Gua, kan, hebat."

Kaia bisa melihat imajiner hidung panjang Darrell, lalu mendengus. "Jadi lo mau main catur sama gue nggak?"

"Gue nggak begitu bisa main catur, sih," jawab Darrell. Ia memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Kaia dan menatap papan catur yang ditata rapi itu dengan canggung.

"Nggak apa-apa. Nanti gue ajarin." []

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top