Chapter 4

Anthony POV

"Hey, Tony..!" David mengikuti langkahku dan menabrak punggungku yang mendadak berhenti, "hey! Kalau mau berhenti tidak bisakah kau memberikan aba-aba?"

Aku terdiam dan enggan mengatakan apapun. Shit! Lagi-lagi aku melakukannya. Mengasarinya dan membuatnya takut bahkan aku hampir saja kehilangan kontrol. Dengan kesal aku menjambak rambut dengan frustrasi. "Dave, what the hell I've done??!"

"well,kau baru saja meninju tembok disebelah gadis itu, menciumnya dengan kasar dan membuatnya takut. Setidaknya itulah yang aku lihat" jelas David acuh sambil mengendikkan bahunya

"Ya Tuhan.. seharusnya kau memukulku, Dave! Bukannya menarikku pergi"

"kalau kau pikir aku bisa mengalahkanmu dalam pertengkaran, maka kau gila!"

Aku dan David sama-sama tahu bahwa dalam pertengkaran atau perkelahian tidak ada satupun orang yang mungkin mengalahkanku. Tapi setidaknya temannya itu memukul wajahnya hingga babak belur daripada aku harus menerima kenyataan bahwa Noelle menatapku dengan tatapan takut. Oh God, apa yang sudah aku lakukan.

Ini benar-benar bukan aku yang biasanya. Hanya karena Noelle berbicara dengan pria lain, emosiku langsung meninggi. Demi Tuhan Noelle hanya berbicara bukannya bercinta dengan pria itu!

Ini semua karena pria brengsek bernama Louis Hamilton! Kalau saja pria itu tidak pernah mendekati Noelle mungkin ini semua tidak akan terjadi. "..Sialan, ini semua karena Hamilton!"

"Louis Hamilton? Demi Tuhan, Tony. Pria brengsek itu hanya membantu Noelle mengangkut barang, bukannya mengajak gadis malang itu bercinta! Tidak bisakah kau bicara dengan akal sehatmu walau hanay sebentar?" David menepuk tangannya yang masih dalam posisi menjambak rambutnya sendiri. "hentikan itu, kau tidak akan bertambah tampan dengan membuat kepalamu botak"

"Ini sama sekali tidak lucu, Dave" Aku menatap David dengan kesal

"indeed. Apa kau lihat aku sedang tertawa man?" jawabnya acuh dan menatapku dengan tatapan serius.

Okay, aku akui David memang tidak tertawa. Tapi setidaknya ia tidak perlu mengatakan hal yang tidak perlu seperti itu.

"..Apa yang harus aku lakukan sekarang, Dave?"

David mengendikkan bahunya lagi dan menatapku dengan tatapan bingung seakan berkata 'apa kau perlu bertanya padaku mengenai itu?'. "tentu saja minta maaf. Memangnya apa lagi?"

"Bagaimana kalau Noelle tidak mau lagi bicara denganku?"

"Dia pasti memaafkanmu, Dude.. Cobalah dulu.."

Aku menatap tanganku yang memerah akibat tindakan bodoh yang aku lakukan tadi, "..bagaimana kalau dia membenciku, Dave?"

Dengan kesal David mendorong bahuku dan membuatku menatapnya, "For God sake, Tony. Para gadis memang selalu bersikap seperti itu. Bingung dan tidak menentu. Kau yang lebih tahu mengenai itu. Dan sekarang kau bertanya bagaimana kalau dia tidak mau bicara denganku? Please don't act an innocent like that, dude!" David berkacak pinggang dan melanjutkan ucapan kesalnya, "dan kau bertanya bagaimana kalau Noelle membencimu? Dia memang sudah membencimu kalau boleh aku ingatkan. Mana ada gadis yang dengan sukarela kau paksa? Don't be stupid!"

"..You don't need to make me remember about that.."

"oh, I must! Sekali-sekali otakmu perlu dijernihkan supaya akal sehatmu kembali!" kemudian David menarik tanganku ke ruang kesehatan dan mengobati tanganku yang sedikit mengeluarkan darah, "jangan melakukan hal bodoh ini lagi. Kau hanya akan menambah luka yang tidak keren"

David benar, ini memang hanya menambah luka yang sangat tidak keren. Dan lagi bayangan akan ketakutan yang terpancar dari mata Noelle membuatnya menjadi sangat tidak keren. Bagaimana bisa ia melakukan itu didepan Noelle?

Aku menghela nafas panjang dan mengakui kalau rasa cemburu itu sama sekali tidak nyaman. Dan aku akan dengan senang hati memberikan uang yang besar untuk orang yang bisa mengajariku bagaimana cara menghindar dari perasaan ini!

"...I hate this, Dave"

"oh come on, you just jealously! Jangan membesar-besarkan masalah"

Aku memutar bola mataku dengan kesal, "aku tahu apa namanya itu. Jangan mengucapkan dengan keras didepanku, Sialan"

Rasa sakit dipunggung tanganku tidak ada artinya dibanding saat aku menyadari bahwa perbuatanku sudah menyakiti Noelle. Aku mendesah keras, "..Oh God..What I've done..."

**

Author POV

Noelle mengelap matanya yang masih terasa lembab akibat airmata, namun memutuskan untuk mengetuk pintu sebelum membukanya, "permisi Sir Stanley. Saya membawakan dokumen yang anda minta"

"come in" Mr. Stanley menyuruh Noelle masuk dan duduk disampingnya, senyumannya berhenti saat melihat mata Noelle yang lembab, "..what's wrong with you?"

"N-nothing sir.." ucap Noelle cepat sambil menunduk. Namun Mr. Stanley menarikku duduk disebelahnya dan mengusap kepalanya dengan lembut

"ada apa? Ada yang bisa kulakukan untukmu?"

"Tidak ada Sir.. This just.."

Mr. Stanley memiringkan wajahnya sedikit dan menatap Noelle dengan tatapan lembut. Mungkin Mr. Stanley adalah pria yang paling keras yang pernah ditemuinya, tapi dia juga pria paling lembut yang pernah ditemui Noelle dan lagi, karena kebaikan Mr. Stanley-lah Noelle bisa melanjutkan kuliahnya dengan tenang, karena Mr. Stanley memberikan pekerjaan kepadanya.

Dan Noelle dapat merasakan bahwa pria separo baya ini juga mengetahui masalah yang tengah dihadapinya. Termasuk masalahnya dengan.. Anthony Maximillian.

"apa ini semua karena Maximillian?"

Noelle terkejut dan menatap Mr. Stanley dengan cepat,"H-how..how could you.."

"How could I know it? Dear, I know everything in this university. And I know about you with him.." Mr. Stanley mengatakannya dengan raut biasa namun tatapannya melembut, "..you falling in love with him?"

"N-no..!" sanggahku dengan cepat. "aku tidak mungkin.."

Mr. Stanley tersenyum dan menepuk punggung tangannya dengan lembut seakan sedang memberikan petuah kepada anaknya sendiri, "kau sudah seperti anakku sendiri Noelle dan seorang ayah sudah sepastinya tahu apa yang dirasakan oleh anaknya, dan kau anakku.. telah jatuh cinta padanya.."

"I'm not Sir.. aku tidak mungkin menyukai pria bar-bar dan tidak memiliki hati sepertinya!" sanggah Noelle cepat.

"apa kau yakin?"

"maksudnya?"

Mr. Stanley tersenyum penuh arti, "kau yakin kalau dia tidak punya hati?"

**

Noelle POV

I hate him. Really.. I can't explain how much I hate him.. but.. Dia juga yang telah menolongku, walaupun Anthony sering kali bersikap irrasional, tapi ia tidak pernah secara khusus menyakitiku..

Perasaan apa ini sebenarnya? Apa benar aku memiliki perasaan khusus kepada pria yang jelas-jelas sudah mengambil kehormatanku? Apa perasaan benci itu sebenarnya tidak nyata?

Aku berjalan keluar dari ruangan Mr. Stanley dengan benak penuh mengenai Anthony. Terlihat dikepalaku seakan-akan Anthony kecil berlari-lari dikepalaku. And I hate it. Masih dengan benak penuh dengan berbagai pemikiran aneh, aku melihat bayangan seseorang didepanku dan membuatku mengangkat wajahku yang tadinya tertunduk dalam

"..Tony.."panggilku pelan saat melihat pria itu berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang. Pemikiran awal, pria itu datang untuk melakukan hal yang kejam lagi. Pemikiran kedua pria itu datang untuk menjelek-jelekkanku. Pemikiran paling akhir..Tony datang untuk meminta maaf. Tapi apa itu mungkin?

Tapi pria itu berdiri dan kemudian berjalan kearahku. Kedua tangannya diulurkan dan menggenggam erat tanganku. Aku bahkan bisa melihat punggung tangannya yang terluka karena perbuatan bodohnya memukul tembok 1 jam yang lalu.

"..mau apa kau kesini? Aku sedang tidak ingin bertengkar.." ucapku dingin. Walaupun itu dilakukan dengan separuh hati.

Noelle, pria itu berhak mendapatkan sakit dipunggungnya bahkan kalau perlu ditangannya. Karena pria itu sendirilah yang memilih untuk terluka bukan? Kalau begitu kenapa sekarang kau bertingkah seakan-akan begitu khawatir dengan tangan dan luka sialannya itu?

Aku menarik nafas panjang dan melenggang pergi melewati Anthony yang sebenarnya masih menggenggam tangannya. "..Noelle..."

Aku terdiam. Menahan nafas hanya untuk menunggu kelanjutan ucapan pria itu. Namun Anthony tidak melanjutkan ucapannya. Aku menyentak tanganku yang bagai tersengat listrik dan berusaha berjalan kembali dan saat mendengar pria itu memanggil namaku lagi, kakiku seraya goyah dan tidak ingin beranjak dari tempat itu

Akhirnya aku membalikkan tubuh dengan marah, frustrasi karena pria itu tidak juga mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakannya. "apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Katakan dengan cepat! Kau bertingkah seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan Tony..!"

"I wanna apologize to you!" teriaknya cepat sebelum aku pergi

"apologize? Excuse me?"

Anthony menjambak rambut pirang terangnya dengan frustrasi dan kemudian merentangkan kedua tangannya diudara, "aku ingin meminta maaf padamu Noelle, karena sudah bertingkah seperti bajingan brengsek!"

"maksudmu bajingan brengsek yang menyebalkan?"

"iya..! Aku memang bajingan brengsek yang menyebalkan! Maafkan aku Noelle..!"

Mau tidak mau bibirku hampir tersenyum karena perkataannya namun aku berusaha mengalihkan pandanganku, "..kalau kau memang bajingan brengsek yang menyebalkan, kau tidak perlu meminta maaf, itu tidak perlu"

"..kata-kata terakhir yang ingin kudengar darimu adalah yang itu, Elle..."

"kata-kata yang mana?"

Tony mendekatkan wajahnya padaku dan menyentuh wajahku dengan kedua tangannya yang besar, "maafkan aku karena sudah menjadi bajingan brengsek yang menyebalkan. Ini semua karena perasaan cemburu yang baru kali ini aku rasakan.."

"cemburu?"

"aku tahu ini aneh. Tapi rasanya aku memang cemburu..." Anthony menatap kedua mataku. AKu mencari kebohongan dimatanya yang indah, namun mustahil.. aku tidak bisa menemukannya.

Apakah Anthony benar-benar cemburu? Tapi kenapa dan dengan siapa? Kemudian aku mengingat kejadian tadi saat aku bersama dengan Louis Hamilton. "..kau..cemburu dengan Louis Hamilton?"

Anthony terdiam dan membuang mukanya.

Ini aneh, tapi aku memang melihatnya. Wajah Anthony memerah karena malu dengan semburat dikedua pipinya dan pria itu berusaha menutupi rasa malunya dengan sebelah tangannya. Mau tidak mau aku tersenyum lebar, "Ya Tuhan.. kau benar-benar cemburu dengan pria itu eh?Kau gila!"

"nah perkataan itu yang tidak masuk akal. Kenapa kau malah mengatai aku gila?"

Aku berkacak pinggang dan menatapnya dengan gemas, "tentu saja kau gila. Aku dan kau sama sekali tidak memiliki hubungan romantis apapun, jadi kenapa kau harus cemburu?"

Anthony menatapku dengan kilat marah dimata birunya, namun aku berusaha menutupi rasa takut itu dengan menekannya, "kau sama sekali tidak mengatakan perasaanmu atau apapun. Demi Tuhan, Tony, selama ini kau hanya memaksaku!"

"aku mencintaimu, sialan!" teriak Anthony dan membuatku terkejut. "aku mencintaimu dan kau bertingkah seakan-akan aku adalah bajingan brengsek. Aku memang memaksamu pertamanya, tapi kau sama sekali menjaga jarak dan tidak membiarkanku masuk! Karena itulah aku berlaku seperti itu"

"jadi semua ini adalah kesalahanku?"

"Oh Tuhan..! Aku tidak pernah menyalahkanmu, Elle"

Aku menahan senyum yang hampir tersungging, jadi selama ini pria ini selalu menginginkanku dan aku bahkan tidak menyadarinya? Kenapa aku malah mau tersenyum? Tentu saja karena ini sama sekali tidak pernah aku pikirkan. Pria tampan yang digila-gilai kaum wanita menyatakan bahwa ia menginginkanku.. Kalau aku tidak tersenyum berarti aku gila bukan?

"..jadi apa jawabanmu Elle?" Anthony melihat kearahku dengan takut-takut.

Demi Tuhan, pria ini memiliki tinggi 2x lipat dariku dengan bobot yang lebih berat dan dia bertingkah seakan-akan aku dapat melemparnya kapan saja? Aku tertawa lebar dan terkekeh geli. "kenapa kau tertawa?" Anthony mengernyitkan alisnya dengan bingung berusaha memutar otaknya

Aku tersenyum dan memegang tangannya, "kau adalah pria paling bodoh kau tahu?"

"..aku tahu.."

"dan kau juga pria yang paling tidak rasional, kau tahu itu?"

Anthony menunduk melihat kakinya, "..aku tahu.."

"..dan karena itu aku mencintaimu.."

"..aku ta—" Anthony menatapku dengan cepat dan mulutnya terngaga karena terkejut,"..are you serious? Kau tidak sedang bercanda bukan?"

Aku menggeleng pelan,"seharusnya aku membunuhmu karena kau sudah membuatku sedih sepanjang waktu, tapi lama kelamaan aku malah jatuh cinta kepadamu.." dan aku memukul pelan didada Anthony, "aku membencimu, kau bajingan kurang ajar yang sangat menyebalkan!"

Anthony menatap Noelle dengan tatapan tidak percaya. Lidahnya kelu dan membuatnya tidak bisa mengatakan sepatah kata apapun. Jantungnya berdetak kencang  saat menunggu Noelle menyelesaikan ucapannya...

Namun Noelle tidak melanjutkan ucapannya melainkan hanya tersenyum menggoda didepannya. Oh God, semoga saja ini tidak akan membuatku mati saat ini juga..

***


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top