-s e p t。
Aq lagi suka bengad apdet FF ini
.
.
.
「 ✦ ᴛ ʀ ᴀ ᴘ ᴘ ᴇ ᴅ。 」
.
.
.
Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Sinar mentari mengetuk malu-malu kelopak mata pria mungil di balik selimut. Minhyun bergerak pelan seraya mengerang. Satu malam berlalu setelah perdebatan dengan Hyunbin, dan Minhyun benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap satu jam sekali ia akan terbangun, merasa waspada kalau saja Hyunbin mendadak masuk dan membunuhnya.
Well, untungnya tidak.
Atau mungkin belum?
Minhyun segera duduk, merubah posisi tubuhnya, membiarkan kedua kakinya menggantung di tepian kasur. Pandangannya kosong, menerawang apa yang mungkin terjadi kedepannya. Satu isak kecil lolos dari bocah sepuluh tahun itu, merasa prihatin dengan dirinya sendiri. Air mata bergerak turun, melintasi pipinya dengan cepat. Tanpa disadari, satu bagian pada selimut di pangkuannya mulai basah oleh air mata.
Dihapus air matanya tergesa. Tidak, jika ia menangis maka ia lemah, dan Minhyun tidak ingin Hyunbin melihat sisi lemah dari dirinya atau ia akan ditindas hingga mati. Berusaha menguatkan dirinya sendiri, Minhyun bergerak turun dari kasur secara perlahan dan berjalan menuju kamar mandi. Nyeri terasa menjalar di kakinya, merambat cepat menuju kepala yang berdentam.
Minhyun terjatuh beberapa kali, lebih tepatnya, setiap dua langkah sekali. Tubuhnya tampak belum terbiasa dengan situasi hey-kita-harus-mandiri-atau-mati. Lebam ungu muda mulai tercetak di lututnya yang ia alihfungsikan sebagai penyangga setiap kali ia terjatuh. Masa bodoh dengan suara berdebum ketika tubuhnya terjatuh yang mungkin dapat mengganggu tidur tuannya. Lebih baik melihat sosok pemarah Hyunbin dibandingkan dengan sosok ramah penuh kepalsuan yang selama ini Minhyun temui.
Maniknya menatap isi kamar mandi nanar. Segalanya diatur dalam letak yang tak mungkin dapat digapai bocah berusia sepuluh tahun dan salah satu kaki yang cacat sementara seperti Minhyun saat ini. Ingin ia berteriak, meminta Guanlin yang masih peduli dengan dirinya di rumah ini untuk membantu ia setidaknya meraih sabun cair di dalam rak kaca yang menggantung. Ah, tapi ia tak ingin merepotkan pria baik itu, sebab mungkin saja Guanlin akan menjadi sasaran amukan Hyunbin.
"Ah, lihat."
Minhyun tersentak. Ia menoleh tanpa peringatan, dan kembali terjatuh di lantai kamar mandi yang terasa lebih keras karena hilangnya keseimbangan. Erangan kesakitan meluncur, mengabaikan sejenak sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri dengan santainya di pintu kamar mandi. Pria itu nampak segar, bukan seperti seseorang yang terbangun karena bunyi berdebum setiap kali Minhyun terjatuh.
"Kau membutuhkan sabun?," Hyunbin, sang pemilik rumah, meraih salah satu botol sabun cair. Telapaknya menimang botol itu, seakan mempermaikan Minhyun dan rasa sabar yang dimiliki anak berusia sepuluh tahun itu.
"Aku tidak meminta bantuanmu, tuan."
Alis Hyunbin bergerak naik, menukik membentuk garis seni apik di wajahnya. "Oh, bahkan kau masih memanggilku tuan? Tidak perlu repot, kau boleh memanggilku dengan cara apapun."
Botol sabun bergerak cepat melintas ruang, menabrak pelipis Minhyun dengan keras hingga kepala bocah itu terhempas ke sisi lain. Tubuh mungil itu terdorong dan terbaring di lantai kamar mandi. Minhyun menggigit bibirnya kuat, menahan teriak kesakitan yang dapat menunjukkan bagian lemah dari dirinya hingga wajahnya memerah. Ia telah bersumpah tidak akan menunjukkan rasa lemah dan takutnya pada Hyunbin.
Anyir dirasa cecap Minhyun. Tetes darah mulai bergerak turun dari celah bibir dan membentuk kubangan kecil di lantai kamar mandi. Hening tercipta sebagai jeda yang cukup lama. Senyum tersungging di bibir Hyunbin, mengejek Minhyun yang terus menunduk menatap genangan darahnya sendiri akibat gigitan yang terlalu kuat.
"Cukup ingat konsekuensi yang harus kau tanggung."
Hyunbin berbalik dan melangkah, meninggalkan Minhyun yang mencengkram surainya, menahan rasa berdentam kuat di kepalanya. Kubah kecil menyakitkan sudah mencuat di kepala Minhyun, mengumpulkan seluruh rasa pening pada satu titik di kepalanya. Sebelum Hyunbin benar-benar pergi meninggalkan Minhyun, ia sempat menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Aku kemari untuk menawarkan sarapan, kalau saja kau membutuhkannya."
.
.
.
* . · . ♥️ ˚ 🖤 . · . *
.
.
.
Manik Minhyun bergetar, mengalirkan amarah yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Nafasnya memendek, diburu dengan rasa sakit hati dan nyaris meledak. Diliriknya sosok lain di sudut ruang yang menunduk dalam, sementara sang pemilik rumah duduk dengan tenang dan menyantap sarapannya. Guanlin sebagai pihak yang tak dapat berbuat banyak, hanya dapat berdiri di ujung ruang makan dan mengalihkan pandangnya, berusaha tak menatap Minhyun atau jika tidak rasa bersalah bersarang kian besar di rongga dadanya.
Minhyun melempar peralatan makan di lantai, membiarkan makanan yang ditujukan untuk dirinya terhambur dan mengotori ruang makan. Bunyi kaca pecah terdengar memekakkan telinga dan menambah ketegangan. Hyunbin yang semula hanya diam, kini menoleh dan menatap bocah itu penuh keheranan.
"Kau tidak mau makan?"
Minhyun mengarahkan telunjuknya tepat menuding pada sosok Hyunbin. Tubuh itu tampak bergetar atas rasa geramnya. "Kau- kau menganggapku anjing, bahkan memperlakukanku seperti anjing."
"Well, yes you are, right?"
"K-kau memintaku untuk duduk diantara dua lutut dan tanganku, kemudian menyantap makananku di lantai?"
"Apa kau tidak suka dengan piring?," Hyunbin mengusap dagunya, berpura-pura memikirkan pemecahan masalah yang terjadi. "Kau lebih suka dengan mangkuk anjing sungguhan?"
Minhyun tak dapat menahan ledakan yang membuncah dan melubangi kantung kesabaran dalam dirinya. Ia melangkah menghampiri Hyunbin secepat yang ia mampu, mengesampingkan sejenak rasa terbakar dan perih yang menggerogoti kakinya. Ketika ia telah berdiri berhadapan dengan Hyunbin, tak satu detik pun ia sia-siakan untuk tidak menunjukkan rasa memberontaknya. Telapak mungilnya menyambar cepat gelas Hyunbin berisi cairan berwarna orange, kemudian menghempaskan isinya pada kemeja putih Hyunbin. Aroma sitrus menyeruak, menambah ketegangan disana.
Alis Hyunbin tertaut menjadi satu. Kepalanya sudah menunduk, memperhatikan pakaian kerjanya yang sudah tak berbentuk lagi. Cetak orange dan bulir jeruk menghias disana. Wajah Hyunbin mulai memerah, merambat hingga daun telinganya, menunjukkan emosi yang turut membuncah dalam dirinya.
Hyunbin segera berdiri, menyentak kursinya hingga terjatuh ke belakang. Tangannya menyambar pergelangan tangan Minhyun dan melangkah cepat. Tubuh Minhyun yang sepenuhnya tak dapat mengimbangi, berakhir terseret seperti layangan putus di belakangnya.
"T-tuan, hari ini-"
BUGH
Satu pukulan mendarat di wajah Guanlin, menyentak yang lebih muda beberapa langkah ke belakang. Minhyun memekin, terkejut melihat darah menetes dari hidung Guanlin. Ia memberontak, berusaha menghentikan langkah Hyunbin yang nyaris memutus kakinya dan berniat untuk membantu Guanlin.
"Batalkan semua kegiatanku."
Hyunbin kembali berjalan tanpa mempedulikan Minhyun yang menarik tangannya berlawanan arah. Kekuatan bocah berusia sepuluh tahun dan pria 24 tahun tentu tidak akan sebanding. Minhyun kembali terseret, dipaksa untuk berjalan mengimbangi langkah lebar Hyunbin dan meniti tangga menuju lantai dua.
Air mata akhirnya menyeruak dari balik kelopak mata Minhyun. Wajahnya memerah dengan keringat yang mengalir turun, bukti bahwa Minhyun kesakitan. Isak pelan seakan tak dapat menahan Hyunbin untuk menghentikan langkahnya dan menoleh barang sejenak saja. Pria itu justru berbelok, masuk ke dalam kamar Minhyun, dan melempar tubuh Minhyun ketika keduanya telah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Minhyun sempat terseret di lantai, sebelum akhirnya berhenti ketika punggungnya menabrak dinding. Dingin dan lembab mulai menusuk tulang Minhyun, melemahkan tubuh yang tengah berusaha untuk duduk dan membalas tatapan Hyunbin.
Hyunbin dingin, terasa begitu jauh untuk digapai. "Meminta maaflah selagi aku masih berbaik hati dengamu," tuntut Hyunbin dengan suara bergetar, menahan amarahnya sendiri.
"Jangan harap-," Minhyun memutus kalimatnya. Berbagai benda berisi sabun cair, shampoo, dan alat mandi mulai melayang dan menabrak tubuhnya dengan keras. Beberapa bahkan kembali menghantam kepalanya.
"Then, enjoy."
Hyunbin berbalik, menutup pintu kamar mandi dengan satu bantingan. Suara kunci menjadi fakta bahwa Minhyun tengah dikurung. Lampu yang semula menjadi sumber penerangan, mendadak mati, menyisakan gelap yang menyesakkan nafas Minhyun.
Dingin, dingin sekali. Kamar mandi tentu menjadi tempat terlembab dari suatu rumah, dan sialnya Hyunbin mengurungnya di kamar mandi. Minhyun menekuk lututnya dan memeluknya, berusaha membagi kehangatan dengan dirinya sendiri. Ventilasi udara justru kian memperburuk keadaan, semilir angin semakin membuat tubuh kecil itu menggigil pelan.
Minhyun tak peduli. Ia takkan meminta maaf. Toh, Hyunbin tidak mungkin mengurungnya hingga Minhyun menurunkan egonya. Pria itu jelas akan merasa bosan karena sang anjing tidak berkeliaran di sekitarnya.
Bukan kah begitu?
.
.
.
* . · . ♥️ ˚ 🖤 . · . *
.
.
.
Minhyun terisak. Maniknya menatap bayang wajah yang terpantul di cermin kamar mandi. Pucat menjadi rona baru di wajah Minhyun, pun bibir yang bergetar dengan semburat biru tipis. Kedua kelopak matanya sudah membengkak karena tangis pelannya sejak beberapa jam lalu yang bahkan Minhyun tak dapat pastikan. Giginya bergemelutuk, tak kuasa menahan rasa dingin yang semakin menjadi-jadi.
Sinar rembulan merambat masuk, memberi tau pada Minhyun bawah malam telah bergulir. Alasan mengapa temperatur semakin tak bersahabat dengan tubuh mungilnya. Air hangat di dalam bath tub sudah meluap sejak beberapa saat lalu. Kepulan uap panas kian menipis, tak lagi memberi kehangatan.
Minhyun menyandarkan tubuhnya pada daun pintu kamar mandi. Satu kali ia mencoba mengetuk dengan lemah, memanggil Hyunbin yang mungkin saja berada disana.
"T-tuan-hh, m-maaf- hiks."
Alunan tawa pelan terdengar. Tak butuh waktu lama untuk mendapati pintu kamar mandi terbuka perlahan, menggeser tubuh Minhyun dari posisinya semula. Kepala Hyunbin melongok, mempertemukan pandang dengan bocah sepuluh tahun yang sudah nyaris meledak karena tangisnya sendiri.
"Tidak sia-sia aku membatalkan seluruh kegiatanku hari ini hanya untuk mendisiplinkanmu."
Hyunbin menyentak lengan Minhyun, menarik tubuh lemah itu tanpa peduli dengan erangan kesakitan dan air mata yang menetes. Sekali lagi dalam hari ini, Hyunbin dengan mudahnya menghantamkan punggung Minhyun ke tepian kasur.
Yang lebih tua berjongkok, menarik dagu Minhyun, mempertemukan manik keduanya. Senyum miring terulas kian lebar pada wajah Hyunbin. Satu kecupan mendarat di bibir pecah-pecah Minhyun.
"Lihat, betapa lemahnya dirimu."
Minhyun meneguk salivanya susah payah. Tatapannya menyiratkan amarah yang tak kunjung padam. Telapaknya mencengkram lengan Hyunbin lemah dan gemetar.
"A-aku akan membunuhmu-"
"Dan aku menantikan itu," Hyunbin mengusap pipi Minhyun yang sangat dingin, berbanding dengan telapaknya yang terasa membara. "Aku tidak keberatan jika kau menjadi alasan kematianku. Kau tau kenapa?"
Minhyun menolak untuk menggeleng, namun Hyunbin memaksa kepalanya untuk bergerak. Gelengan penuh paksaan terpaksa Minhyun turuti. Seringai kecil mencuat, mengejek Minhyun.
"Karena hanya aku pula yang membawa kematian untukmu. Remember it, honey."
Kepala Minhyun terhempas ke samping ketika Hyunbin membuang dagunya paksa. Pria itu berdiri menjulang, menutupi cahaya lampu kamar Minhyun. Bayang gelap dari tubuh Hyunbin membungkus Minhyun yang gemetar dan menunduk.
"Kau tidak boleh mati sebelum aku mengizinkannya, sebab aku masih ingin bermain-main denganmu."
Telapak kaki Hyunbin diletakkan di paha Minhyun. Dengan sedikit tekanan, bocah sepuluh tahun itu menjerit kesakitan tanpa suara. Telapak tangannya mengibas, berusaha menyingkirkan Hyunbin dengan payah.
"Selamat datang di neraka, sayang."
"Kau gila-"
Hyunbin terbahak pada kalimat yang Minhyun lontarkan, seakan bocah itu baru saja membagikan hal yang begitu lucu dan belum pernah Hyunbin temui sebelumnya.
"Well, yes I am. Apakah kau perlu penegasan akan hal itu?," Hyunbin mengusap air di ujung matanya. Tawanya kian pelan dan berhenti, tanpa melunturkan senyum dingin pria itu.
Tubuh Minhyun bergidik, merasa semakin terancam dengan Hyunbin. "Aku sangat membencimu. Kau- biadab."
Minhyun menegakkan tubuhnya, berusaha untuk duduk secara sempurna. Rasa gentar sudah ia coba untuk tepis sejauh mungkin, meski tetap saja, gemetar merambati tubuhnya. Ia mendongak, mempertemukan pandangnya sekali lagi pada Hyunbin yang tampak tak acuh.
"Ayolah!," Hyunbin mengerang tak nyaman dengan penuh kepura-puraan. "Itukah kata terbaikmu untuk mendeskripsikan diriku?"
Telapak Hyunbin mencekal lengan Minhyun, memaksa yang lebih muda untuk berdiri. Minhyun terhuyung, karena rasa pusing dan juga rasa menggigit yang sangat menyakitkan di kakinya. Hyunbin tetap mencengkram lengan Minhyun, menahan tubuh itu untuk tidak kembali merosot ke lantai.
Tubuh Hyunbin bergerak maju, mendekat pada perpotongan leher Minhyun. Bocah sepuluh tahun itu segera menahan bahu Hyunbin dan menjadikannya sebagai pegangan tanpa perintah. Nafas hangat menggelitik, mengundang rasa sesak kembali menghimpit dada Minhyun. Satu erangan aneh lolos dari celah bibir Minhyun.
"Aku adalah bajingan," lidah Hyunbin menari di sepanjang garis leher dingin Minhyun. Kecupan panas dan sedikit menggigit mendarat sekali, meninggalkan benang saliva di satu titik dengan rona merah.
Minhyun segera mendorong tubuh Hyunbin semampunya. Tubuh mungil itu kembali oleng dan terjatuh di kasur. Menyadari Hyunbin menatapnya dengan janggal, Minhyun segera merubah posisinya dan duduk di tepian.
Batin Minhyun berteriak marah. Nafasnya memburu, wajahnya kembali menampilkan rona merah di tubuh pucatnya. Ia tak pernah berharap untuk dilecehkan, dan ia tidak berharap sosok peleceh itu adalah Hyunbin. Hyunbin adalah definisi nyata dari menjatuhkan harga diri, membantingnya hingga pecah berhamburan di bawah kaki Minhyun.
"Beristirahatlah, anjing kecilku," Hyunbin mengusap surai Minhyun yang dibasahi keringat. Telapaknya bergerak turun menyusuri rahang mungil itu, kemudian mengusap pipinya. Hyunbin membungkuk dengan kilat, memberikan satu kecupan manis di pipi Minhyun.
"Kita akan bermain kembali besok."
Tepat ketika Hyunbin melangkah pergi, menutup pintu kamar Minhyun, raung amarah menggema hingga lantai satu. Minhyun melempar bantalnya sembarang arah, tak peduli dengan benda-benda mahal milik Hyunbin yang tersenggol dan berjatuhan. Suaranya kian serak, namun Minhyun tetap melanjutkan raungannya. Masa bodoh dengan Hyunbin atau Guanlin yang mungkin terganggu!
"Lihat saja-," Minhyun mengepalkan tinjunya. Telapaknya bergetar karena amarah. "Lihat, siapa yang akan menjadi malaikat maut."
.
.
.
. · . ✦ ⋆ ˚ ♥️ ⋆ ˚ ° ♡ • ˚ ⋆ 🖤 ˚ ⋆ ✦ . · .
To be continue
. · . ✦ ⋆ ˚ ♥️ ⋆ ˚ ° ♡ • ˚ ⋆ 🖤 ˚ ⋆ ✦ . · .
.
.
.
.
.
.
.
.
a/n: Mangpus, makin marahan makin ena kan ya hEHEHEHE♡
Aq mau berbagi pengetahuan. Jadi anu, wallpaper hp q kan kapel jinhongseok. Pada tau ga mereka?
Tau ga?
Nih, aq kasih tau eksklusif, siapa tau jadi ngebucinin mereka juga hEHEHEHEHE

GEMAY BENGAD GA SEEHHHH, YA GUSTI AQ MAU NANGEES LIAT WALLPAPER Q TIAP JAM HUHUHUHUㅠㅠ MANA HONGSEOK (yang kanan) DIKIT DIKIT NGOMONGIN TENTANG JINHO (kiri) MULUUUU.
Sampe kalau member ptg ditanya dua kata yang deskripsiin Hongseok, yang pertama Jinho hUHUHU AQ LEMAH SAMA YANG GINIAN ARGH
Anyway,
Welcome 2019! Semoga menjadi tahun yang lebih baik dari 2018. Apa yang buruk, menjadi baik, apa yang baik, tetap menjadi baik.
Best wishes for all of you♡
XOXO,
Jinny Seo [JY]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top