❬ 28 ❭ Rewind Memory
Suatu pagi di negara Jepang, bagian Tokyo. Aku sedang mengetik sebuah novel yang akan diterbitkan pada bulan April 2019. Membutuhkan daya imajinasi kuat untuk membuat sebuah cerita, ketelitian menulis kata, dan susunan kalimat. Kepalaku terasa pusing sehingga memutuskan untuk istirahat melalui minum kopi dan membaca buku diary yang sudah lama disimpan di lemari. Kubuka buku itu dan membacanya sambil mengingat masa lalu.
Namaku Yume, aku adalah gadis yang suka menulis cerita. Setiap cerita yang kutulis adalah hasil imajinasi ditambah kisah nyata. Aku akan menceritakan masa laluku yang tidak bisa dilupakan melalui tulisan diary.
Saat berumur 15 tahun, aku sedang menulis sebuah cerita di buku tulis. Saat itu aku duduk di kelas 2-3 di SMP Tokyo yang dimana sekolah itu sekolah biasa. Dengan kerja kerasku, aku akan meraih mimpi menjadi seorang penulis terkenal. Tiba-tiba seorang teman tidak sengaja mengkagetkanku hingga menulis S tidak rapi, aku menatap teman dengan kesal. "Sakura, aku sudah bilang berkali-kali jangan kagetkan aku disaat jam sibuk! Masih saja keras kepala,"
"Maaf Yume, habisnya kamu terlihat serius menulis cerita. Jadi aku kagetkan kamu," kata Sakura menjulurkan lidahnya. Aku memghela nafas berat, lalu melanjutkan menulis sambil rasa sebal. Sakura selalu begitu kepadaku, setiap jam sibuk selalu saja diganggu dengan cara mengkagetkan yang membuat jantung hampir lepas. Tapi untungnya Sakura adalah teman baik sekaligus asistenku. Dia selalu mengoreksi alur cerita bila buatan ceritaku sudah selesai. Terkadang, dia selalu menambahkan cerita agar lebih cantik dan rumit.
"Yume, kamu tahu tidak? Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru," kata Sakura duduk di sampingku sambil meletakkan kedua tangan di meja.
"Iyakah?"
"Iya, siswa itu berasal dari Shibuya lo. Kalau siswa itu laki-laki pasti keren dan ganteng kayak artis korea, kalau siswa itu perempuan pasti cantik dan elegan. Kyaa," kata Sakura mengkhayal tidak jelas.
Aku geleng-geleng kepala karena sudah pasrah dengan temanku ini, kalau ada teman baru pasti diajak kenalan setelah itu ajak jalan-jalan dan terakhir mengajak ke rumahnya. Hah, aku ingin punya sifat begitu seperti Sakura.
Bel berbunyi menandakan masuk, semua siswa kelas 2-3 segera duduk di tempat masing-masing. Begitu juga dengan Sakura. Pak Ren, guru Bahasa Jepang datang ke kelasku dan menempati meja guru.
"Selamat pagi semuanya, hari ini kita kedatangan siswa baru."
Mendengar kata 'siswa baru' semua kelas mulai ramai. Aku ingin tahu siapa siswa baru itu, Pak Ren meminta siswa itu masuk ke kelas. Siswa baru masuk, semua di kelas melihat sambil mulut terbuka lebar dengan senyumannya.
Siswa itu berambut hitam bersih, memakai seragam rapi, dan senyumannya mengembang menghiasi wajahnya.
"Selamat pagi semuanya, namaku Subaru. Senang bertemu dengan kalian," katanya dengan sopan. Pak Ren menyuruh siswa itu duduk di belakang dan dia langsung berjalan ke tempatnya. Posisi dia tepat di depanku, aku rasa ingin mendekati dia dan berbicara tentangnya lebih lanjut.
♥♥♥
Saat jam makan siang, aku melanjutkan kembali menulis cerita sambil makan bekal. Ini memang kebiasaanku, tetapi aku harus berhati-hati karena takut setetes makanan jatuh mengenai bukuku hingga muncul noda makanan. Tiba-tiba ada seorang mengomentari ceritaku yang tengah dibuat,
"Ceritanya bagus tapi banyak kata-kata yang salah."
Aku tersontak kaget saat mengunyah makanan sehingga makanan masuk ke dalam kerongkongan dengan cepat. Aku segera mengambil botol dari tas, membuka tutup botol dan meminumnya dengan cepat. Lega sudah, lalu aku menatap orang itu dengan sebal. "Subaru, tolong jangan kagetkan aku disaat aku tengah sibuk."
"Maaf, oh ya aku belum kenalan denganmu. Namamu siapa?" kata Subaru memasang senyumannya.
"Namaku Yume," jawabku membalas senyuman lelaki itu. Setelah perkenalan, aku mulai mendekati dan berbicara dengannya tentang kehidupan saat tinggal di Shibuya saat pulang sekolah, Subaru adalah anak yang pandai dalam semua mata pelajaran.
Dia selalu mendapatkan nilai seratus sehingga satu kelas kagum kepadanya. Dia juga lelaki atlit, semua jenis olahraga sudah kuasai. Aku ingin seperti dia, bisa segalanya. Tetapi ada satu yang membuatku khawatir yaitu hidungnya sering mengeluarkan darah saat selesai kegiatan di sekolah. Aku bertanya kepadanya tetapi Subaru menjawab tidak apa-apa dengan senyumannya. Sebenarnya apa yang yang terjadi dengannya, tanda tanya besar muncul di kepalaku.
Saat pulang sekolah, aku berjalan bersama Sakura dan Subaru sambil berbicara tentang ceritaku yang sudah selesai ditulis. Tiba-tiba Subaru memegang tanganku sehingga langkahku berhenti dengan subaru sekali, begitu juga dengan Sakura. Subaru mengangkat bicara, "Yume. Maukah kamu jadi pacar aku?"
Wajahku memerah, mata melebar, dan jantung terasa berdetak kencang. Sakura menutup mulutnya dan kaget melihatku dan Subaru. Tanpa berpikir panjang aku menerima tawaran Subaru sebagainya pacarnya.
Hari-hariku penuh warna-warni, banyak kesenangan yang kualami. Mulai belajar bersama teman-temanku, pergi Harajuku bersama Subaru, dan sebagainya. Moment ini aku tulis di diaryku yang berwarna pink dengan hiasan bintang. Setelah menulis, kutempel foto di atasnya sebagai tanda bukti. Aku senang sekali berpacaran dengan Subaru. Dia lebih perhatian, selalu memberiku motivasi hidup, mengajak hal-hal positif dan sangat pengayang.
Setelah satu bulan berpacaran Subaru, aku pergi sekolah dengan riang sambil menyapa orang-orang sekitarnya. Sampai disana segera duduk di kursi sambil menunggu teman-teman, sekaligus Subaru. Tidak lama mereka datang hingga sekolah ramai, tetapi aku tidak melihat Subaru. Apa dia terlambat masuk sekolah atau tidak masuk karena alasan sakit, izin atau sebagainya. Tidak apa-apa, aku akan menunggunya sampai dia datang kepadaku dengan senyumannya.
♥♥♥
Sudah 3 Bulan dia tidak datang menghampiriku, aku merasa kesal kepadanya. Kenapa dia tidak datang, sudah menghubungi dia tetapi tidak diangkat. Rasanya ingin marah kepadanya tetapi harus sabar.
Bel berbunyi menandakan masuk kelas, pelajaran Bahasa Jepang dimulai. Sebelumnya Pak Ren menyampaikan berita buruk, "Selamat pagi semuanya. Hari ini bapak mendapatkan berita buruk, bahwa Subaru tidak masuk lama karena sakit kanker. Kita mendoakan dia supaya cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa."
Apa Subaru terkena kanker? Tidak mungkin, kenapa dia menyembunyikan ini kepadaku. Mulailah rasa sakitku dalam hati, yang moment bahagia bersama Subaru menghilang begitu saja. Akhirnya setelah pulang sekolah, aku mengurung diriku di dalam kamar selama beberapa hari.
Aku menangis terisak, betapa sakitnya sampai hancur begini. Orang tua, teman-teman dan semua mulai khawatir kepadaku mengenai kondisiku yang tidak terlalu baik. Saat aku mengurung diriku, Hp berbunyi nyaring sehingga memecahkan keheningan di dalam kamarku. Aku segera mengambil dan mengangkatnya, "Halo Sakura ada apa? Aku sudah bilang aku tidak mau.....eh apa dia sudah sadar?.....baiklah. bye Sakura,"
Aku segera bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Subaru. Sakura sudah memberitahu tempat Subaru dirawat, kuberlari cepat ke tempat tersebut. Sesampai disana, aku melihat Sakura duduk diluar. Kuberjalan menghampiri dia, gadis itu menoleh dan segera berdiri.
"Akhirnya kamu datang, cepat masuk. Subaru sudah tunggu kamu," katanya sambil mendorongku ke depan pintu rawat inap Subaru.
Kuketuk pintu itu dan pintu terbuka lebar, terlihat seorang wanita tua dengan bertubuh mungil dengan rambut hitam sama dengan rambut Subaru. Aku segera mengangkat bicara dengan sopan, "Maaf bisa bertemu Subaru tidak? Saya Yume, pacar Subaru."
"Oo jadi kamu pacarnya Subaru, silakan masuk." Aku segera masuk ke dalam dan berjalan menemui Subaru yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, dia memakai topi rajutan sebagai menutupi kepala yang botak, alat infus terpasang di tangan kiri, dan alat pernafasan dipasang pada hidungnya. Aku memegang tangan kanan lelaki itu sambil mengeluarkan air mata, "Hiks kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalau kamu sakit kanker hiks."
"Maafkan aku Yume, aku tidak kamu kecewa karena sakitku ini. Aku hanya ingin kamu bahagia, karena sebentar lagi ajal akan menjemputku." Suara Subaru pelan dan serak karena penyakit tersebut.
"Jangan berkata bodoh, kamu harus berjuang melawan penyakit ini Subaru. Aku ingin kau tetap hidup," kataku menangis lebih terisak. Tidak bisa menahan rasa sakit ini kepada pacarku, lelaki itu tersenyum tipis.
"Yume, kamu adalah bunga mimpiku yang ada di dalam hatiku. Aku akan selalu bersamamu selamanya, jadi jangan sedih. Tetap semangat untuk hidup, jangan menyerah." Mendengar kata-kata itu membuatku tersenyum kembali. Aku tidak akan bisa melupakan kata-kata Subaru dalam lubuk hatiku.
♥♥♥
5 Hari kemudian, Subaru pergi ke tempat yang tenang. Orang tuaku, teman-teman dan semuanya tidak bisa melupakan masa-masa hidup bersama dia. Aku melihat foto makam Subaru di dalam buku diaryku, dan tidak lupa aku menulis motivasi dia sebelum meninggal dunia. Kututup buku diary dan meletakkannya di atas meja, kukembali tempat kerjaku dan menyelesaikan ceritaku. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan dan dapat berputar dalam masa lalu, Rewind Memory.
♥♥♥
HAI BAGAIMANA CERITANYA? BAGUS? JELEK ATAU SEBAGAINYA
MAAF YA JIKA ADA SALAH KATA ATAU SEBAGAINYA
SEE ALL
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top