02
Revisi
LaFerarri Aperta berwarna gelap, sudah terparkir cantik di depan pintu gerbang rumah mewah milik Elmira. Dari arah pintu kemudi, turun seorang laki-laki dengan penampilan casual, tak terlihat berlebihan. Justru terlihat begitu menawan.

Kir-kira seperti ini penampilannya 😂
Fabian mencebikkan bibirnya, saat melihat Dirga, laki-laki yang akan dikencani sahabatnya. Ada rasa tak rela, tapi apa daya? Hanya mampu menatap, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Elmira berjalan mendekati Dirga, yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Dirinya tersenyum menawan. Senyum yang bahkan tak pernah ditunjukkannya pada Fabian.
'Sebahagia inikah hati lo El?' gumam Fabian, dengan mata sayu menatap penuh duka.
"Terima kasih, kamu mau terima undanganku malam ini." Dirga memulai obrolan mereka. Matanya tetap fokus melihat ke depan.
"Ya, kembali kasih." Elmira hanya tersenyum sesaat.
"Kamu terlihat sangat anggun, malam ini." Dirga melirik Elmira sesaat, ketika lampu lalu lintas berubah warna merah.
"Terima kasih." jujur Elmira begitu senang. Tapi, sulit buatnya untuk mendeskripsikannya.
Elmira Pov
Apa gue mimpi, malam ini? Bisa jalan bareng sama cowok famous di Jakarta. Begitu banyak wanita, yang rela melakukan apapun, agar bisa berjalan dengannya. Tapi gue, justru Dirga yang datang. Lalu meminta untuk bisa jalan bersama.
~^°^~
Author Pov
Dengan tubuh tegapnya, Dirga membukakan pintu mobil. Mempersilahkan Elmira, agar turun di depan sebuah hotel bintang lima, di daerah Jakarta Pusat. Wajah tamp²annya mampu mengunci tatapan setiap pengunjung yang berpapasan dengan mereka. Mata manik birunya, mampu menyihir para wanita, yang menatap mereka. Seakan mereka berkata, ' Wanita sepertinya tak pantas berada di samping Dirga'. Wajah tampan khas Solo, Jerman, yang terukir dalam setiap lekuk wajahnya, benar-benar membuatnya terlihat sempurna.
Keduanya duduk berhadapan, di ruangan yang temaram. Di kelilingi lampu redup, membuat suasana romantis semakin terasa.
"Selamat malam, Mr dan Mrs. Malam ini kami memiliki menu spesial," seorang pelayan yang mengenakan toxedo terlihat rapi. Mempersilahkan dua pelayan lainnya membawa satu meja bundar, dan di letakkan tepat di hadapan mereka.
Pelayan yang ternyata bernama Willy itu, menuangkan sedikit sampanye di gelas Dirga.
Dirga mencicipi sampanye, dengan terlebih dahulu di hirupnya aroma pekat, lalu diputar, mengikuti putaran arah jam. Lalu mencicipinya satu teguk. Mata indahnya terpejam, seakan begitu menikmati kelezatan minuman anggur tersebut.
Kepalanya mengangguk ke arah Willy, dan tersenyum. Seraya menyodorkan gelasnya agar kembali di isi. Sedangkan Elmira, dengan sopan menolak minuman beralkohol tersebut.
Walau sampanye tergolong tak terlalu memabukkan. Namun tetap saja, Elmira sangat menghindarinya.
"Selamat menikmati makan malam Mr dan Mrs!" Willy membungkukkan sedikit tubuhnya, dan mengatupkan tangan kanannya di depan dada.
Setelah mereka mengangguk, dan berterima kasih. Ketiga pelayan tersebut pergi meninggalkan Elmira dan Dirga.
Tubuh Elmira masih terlihat kaku, karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya.
"El, apa kamu tak suka sama makanannya?" kalimat pertama yang keluar dari bibir Dirga, setelah keduanya sampai di restoran.
"Suka kok, hanya saja aku tak terbiasa berada di restoran bintang lima seperti ini." sebelah alis Dirga terangkat. Seakan berujar 'bukankah kamu keturunan bangsawan? Mana mungkin tak pernah berada di tempat mewah seperti ini?'
"Ya, santai saja. Kita hanya berdua." Dirga tersenyum manis.
Keduanya hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. El seakan berada di tengah-tengah pengadilan, dan dirinya adalah terdakwa. Duduknya terlihat tak nyaman, sesekali ekor matanya mencuri pandang ke arah Dirga. Tapi yang di pandang sibuk menikmati hidangannya.
Setelah menikmati sajian penutup, Dirga mengajak El kesebuah tempat.
Wajah cantiknya tersorot bulan purnama. Terkesan begitu menawan, setiap orang yang memandang. Tubuh ramping, dengan rambut terurai panjang. Terlihat menari indah mengikuti hembusan angin pantai yang menerpa tubuhnya.
Kaki telanjang keduanya dibiarkan basah oleh air laut, yang terbawa ombak menerjang bibir pantai.
"Cantik!" Elmira mendongak memandang Dirga yang ternyata sedang tersenyum ke arahnya.
Wajah Elmira terasa panas, dengan derup jantung yang terasa begitu memompa. Seakan kelelahan setelah menaiki tingginya gunung Rinjani.
"El," Elmira kembali menatap Dirga, dengan keterkejutan yang tak bisa dia tutupi.
Di hadapannya Dirga sedang berjongkok, seperti seseorang yang akan melamar, dengan sebelah tangannya menggenggam sebuah kotak berwarna merah marun.
"El, maukah kamu menjadi kekasihku?" mata Elmira membulat sempurna. Kedua tangannya digunakannya untuk menutupi mulutnya yang terbuka. Jantungnya berdegup.
Ini kali pertama Elmira berada di posisi seperti ini.
"Ga ... ta-tapi apa maksud kamu?" pertanyaan yang justru terlontar dari bibir Elmira.
"Aku menyayangimu! Maukah kamu jadi kekasihku?" Dirga kembali mengulang ucapannya.
Elmira hanya sanggup mengangguk, dengan wajah tersenyum bahagia.
Dengan cepat Dirga membuka kotak merah yang berisi sebuah gelang putih dengan dua buah potongan hati sebagai kuncinya. Terlihat cantik, saat dipakaikan dipergelangan tangan Elmira.
"Terima kasih." wajah cantiknya terus dihiasi senyum tanpa redup.
"Always for you my dear!" Dirga membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan wajah keduanya.
Kini mata keduanya beradu tatap. Hembusan nafas Dirga, juga Elmira dapat mereka rasakan secara langsung. Dirga mulai mengecup kening Elmira, yang dibalas dengan tubuh El yang langsung menegang. Kecupannya merambat ke arah pipi, kecupan penuh kelembutan. Bibir lembutnya, kembali merambat ke arah ujung bibir Elmira. Namun belum sampai mengecup bibir merah Elmira, dengan cepat Elmira memalingkan wajahnya.
"Maaf Ga, aku tak bisa!" suara Elmira terdengar bergetar.
"Ya," ada rasa kecewa dari ucapan Dirga, yang berusaha ditutupinya.
"Sudahlah lebih baik kita kembali, sudah malam." Dirga menggenggam telapak tangan Elmira, dan menuntunnya pergi dari pantai.
Dirga telah berlalu pergi, menyisakan Elmira yang masih menatap bayangan mobil dengan penuh bahagia. Nyanyian kecil terus terdengar dari bibir tipis Elmira. Malam ini begitu membuatnya bahagia. Rasanya sudah begitu lama, dirinya tak merasakan rasa ini. Dengan senyum yang masih terukir di wajahnya, El melangkah menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
"Non, maaf ada paket." sebuah suara menghentikan Elmira dari bersenandung ria.
"Ya Bi, makasih!" El menerima sebuah kotak yang cukup besar, tak lupa tersenyum pada Imah, asisten rumahnya.
"Dari siapa ya? Aneh!" tangannya langsung membuka kotak tersebut, dengan rasa penasaran di kepalanya.
"Kyaaaaa ...." kotak itu langsung dilemparkan Elmira. Wajahnya terlihat pucat, kakinya terasa begitu lemas.
Bi Imah yang hampir masuk kamar, langsung berlari saat mendengar teriakan Elmira. Belum juga bertanya. Justru Bi Imah ikut berteriak.
Kyaaaa ....
Dan tubuhnya terjatuh di atas lantai.
Di revisi, semoga suka 😁😁
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top