LIMA
Ratna tidak mengerti alasan Bayu merasa kesal padanya. Lelaki itu mendiamkannya sejak terakhir kali menegurnya di dapur. Bayu bahkan memasang tampang ditekuk sepanjang sesi makan siang. Konyol sekali. Jika Bayu merasa kesal pada seseorang, maka seharusnya Zoya yang dicemberuti. Bukankah gadis itu yang mangkir dari tugas?
Ratna menumpuk piring bekas makan siang dan hendak membawanya ke belakang, tetapi Bayu berseru cukup keras. "Bisa nggak kamu nggak usah ngurusin house chores macam ini? Kita bikin kelompok piket supaya semua orang merasakan beban yang sama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul."
Tak ingin membantah, Ratna mengalah. Nanda lalu mengambil tumpukan piring di hadapan Ratna. "Zoya, kamu tadi nggak masak, kan? Sekarang ke belakang, cuci piring!" perintahnya tegas.
"Oke," jawab Zoya enteng, meski bibirnya mencebik.
Ratna memperhatikan Bayu pergi ke ruang tamu, lalu matanya bertemu pandang dengan Ardi. Pemuda pendiam itu hanya berkata singkat dalam bahasa Jawa, "Bojomu nesu." (suamimu marah)
Kadang kala teman-teman KKN-nya meledek Ratna dan Bayu sebagai pasangan. Penyebabnya mereka terlalu sering bekerja bersama. Saat Ratna menelurkan proker untuk siswa TK, Bayu ternyata juga sudah menarget Taman Kanak-kanak sebagai sasaran programnya. Ratna didapuk untuk mengajar bahasa Inggris di SD, Bayu pun diminta mengajarkan jarimatika di sekolah yang sama. Alhasil, mereka terlalu sering bersama. Belum lagi mereka berada di kelompok piket yang sama. Meski begitu, Ratna cuek saja diledek sebagai 'istri' Bayu. Toh, dia tidak punya perasaan istimewa untuk lelaki itu.
Ratna mengambil buku Mahabarata dari kamar lalu menuju ruang tamu. Dia punya misi menjinakkan partner yang sedang ngambek.
Di ruang tamu tampak Bayu dan Indra sedang sibuk dengan gadget masing-masing. Indra memangku laptop dan telinganya disumpal earphones. Pasti sedang menonton serial misteri hasil mengunduh dari situs film bajakan. Sedangkan Bayu menunduk serius menatap ponsel pintar yang dipegang dengan dua tangan. Ngapain lagi kalau bukan main Mobile Legend. Penobatan Mobile Legend sebagai e-sport justru digunakan sebagai dalih oleh para lelaki untuk berlama-lama memainkan game tersebut.
Ratna mengenyakkan tubuh di kursi sebelah Bayu, tetapi kawannya masih bergeming. Menoleh ke arah Ratna pun tidak. Gadis itu menghela napas. Udara sangat panas. Kipas angin tidak cukup untuk mengusir gerah dan lengket akibat keringat. Ratna mencepol rambut lalu membuka daun jendela lebar-lebar. Pekarangan yang teduh oleh rimbunnya pohon nangka mengalirkan semilir angin ke dalam ruangan.
Strategi Ratna berhasil. Terdengar suara dengkusan disertai decakan lidah dari pria di sebelahnya. Dengan santai Ratna memandang Bayu dan mengangkat alis. Menantang lelaki itu mengutarakan kekesalan.
Bayu bertubuh tegap dan cukup atletis. Saat duduk seperti ini pun, posturnya yang tinggi tetap kentara. Untuk ukuran laki-laki, mata Bayu sangat ekspresif. Biasanya kedua netra itu berkilat jahil dan jenaka. Namun, sekarang bola matanya berkilat tajam, tanda bahwa Bayu sungguh-sungguh kesal. Bibir pemuda itu yang bergaris tegas membentuk garis lurus. Tak ada gurat senyuman.
"Silau. Nggak kelihatan," sungutnya.
Ratna tahu Bayu mengacu pada layar ponsel yang kalah dengan cahaya dari jendela. Namun, Ratna tak ambil peduli. "Jangan nge-game terus. Cari kegiatan lain, gih," nasihatnya, seolah-olah Bayu ini anak kecil berumur lima tahun.
Bayu meletakkan ponsel di meja lalu dengan santainya mengambil buku Mahabarata dari pangkuan Ratna.
"Bayu!" tegur Ratna.
"Katanya aku disuruh cari kegiatan lain, ya ini kegiatannya. Baca buku."
Bayu memperhatikan desain sampul yang berupa pola abstrak dengan dominasi warna biru. Itu bukan buku baru, sampulnya sudah agak lusuh. Bayu menimbang buku di telapak tangannya. Berat juga. Dibukanya halaman terakhir.
"519 halaman?" seru Bayu tak percaya. "Tebal banget, tulisannya kecil-kecil pula."
"Nggak sanggup kan baca buku setebal itu? Anak matematika baca kalkulator aja," sindir Ratna seraya berusaha merebut buku dari tangan Bayu.
"Eits, bentar dulu," kelit Bayu. "Aku ingin tahu apa bagusnya buku ini. Kenapa kamu betah banget baca ini?"
Bayu membuka buku di tempat Ratna menyisipkan pembatas buku. Bukan dari daun pisang. Ratna sudah membuat pembatas buku baru dari kertas manila yang ditempeli gambar hewan-hewan kartun dari kertas asturo warna-warni. Ratna membuat banyak pembatas buku sebagai hadiah bagi siswa SD yang belajar bahasa Inggris dengannya.
Halaman 157. Ada semacam sajak pada halaman tersebut. Bayu membacanya dan terbelalak.
"Kok bacaanmu kayak gini, Na? Ternyata ...." Lelaki itu berhenti sejenak sebab harus menahan serigaian geli. "Cewek bisa mesum juga, ya?"
"Apa sih?" sergah Ratna. Direbutnya buku dari tangan Bayu. Sekilas tatapannya menyapu isi buku dan mahfumlah Ratna dengan ejekan Bayu.
... Lirikan matanya yang lembut dan wajahnya yang bulat purnama
Sewaktu berjalan, payudaranya yang penuh Menyebarkan harum kayu cendana, melengkung indah,
Menyangga seuntai kalung emas,
Menggeletar ...
Tak ayal rona merah merambati pipi Ratna. Namun, sekarang bukan waktunya tersipu malu. Dia harus melakukan klarifikasi.
"Nggak ada yang salah dengan sajak ini. Ini kan cerita ketika Arjuna digoda oleh Dewi Urwasi dan sang dewi memang bertubuh molek. Ya wajar aja kalau digambarkan seperti ini."
Ratna menarik napas panjang. Di tangan pembaca yang berpikiran dangkal, bacaan dengan konten seksual hanya akan dicap sebagai teks cabul, meskipun pesan yang ingin disampaikan sama sekali tidak hubungan dengan aktivitas seksual itu sendiri.
"Untuk otak yang ngeres, dengar kata payudara aja pasti pikirannya udah ke mana-mana," imbuh Ratna.
"Kalau bagi cowok udah otomatis, sih. Iya nggak, Ndra?"
"Hah? Apa?" Indra yang dijawil Bayu terpaksa melepas earphone, dan kebingungan.
"Apa yang terlintas di otakmu kalau mendengar kata payudara?" tanya Bayu sekonyong-konyong.
"Nenen, montok, mulus," jawab Indra tanpa dipikir.
Bayu tergelak menang. "Tuh, kan."
Ratna merah padam, campuran amarah dan rasa malu.
"Haishhh. Cowok emang otak selangkangan semua, ya?" dumel Ratna frustrasi. Mengapa dia harus menyinggung tentang payudara? Seharusnya dia pura-pura bego saja tadi. Percakapan berbelok jauh dari arah yang Ratna kehendaki. "Menyesal aku ngomong tentang ini. Mahabarata terlalu agung untuk kalian baca. Kalian nggak mungkin bisa mencerna nilai spiritual dan moral dari cerita ini."
Merasa intelektualitasnya direndahkan Bayu pun tidak terima. "Memangnya apa nilai moral dari Mahabarata? Kebaikan akan menang melawan kejahatan? Ah, basi. Atau orang ganteng boleh beristri banyak?"
"Kamu boleh aja anggap itu basi, Bay. Tapi value itu yang memang harus ditanamkan pada diri semua orang. Supaya orang-orang nggak mau berhenti berbuat baik. Coba kamu pikir kalau buku-buku justru berisi pesan 'jangan terlalu baik pada orang lain, nanti rugi sendiri' pasti dunia ini akan dipenuhi dengan orang-orang egois yang mementingkan diri sendiri."
Bayu diam. Bagus. Obrolan mereka mulai menuju arah yang diinginkan Ratna. Gadis itu melanjutkan.
"Mahabarata mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam bertindak. Tindakan baik akan membuahkan kebaikan juga. Kejahatan akan mendapat ganjaran. Kalau Bapakku bilang, jangan pilih-pilih dalam berbuat baik. Bisa jadi bukan kita yang merasakan manfaatnya, hadiah atas perbuatan baik itu mungkin akan diterima oleh anak cucu kita kelak."
Bayu paham sekarang. Ratna tidak berkeberatan menggantikan Zoya memasak karena gadis itu beranggapan bahwa itu adalah budi baik, sesuai dengan ajaran orangtuanya. Bayu menghargai fakta itu. Namun tetap saja, menurut Bayu, tindakan Ratna hanya akan membuat Zoya bertambah manja dan ujung-ujungnya Ratna juga yang rugi. Tidak selamanya pihak yang ditolong itu tahu diri dan berterima kasih. Bukankah buaya justru menggigit kaki kerbau dan mencoba memangsanya, padahal kerbau sudah membantu buaya lepas dari tindihan batang kayu?
Ratna kembali bersuara. "Setiap perbuatan memiliki akibat. Bahkan, keputusan Arjuna menolak rayuan Urwasi juga menuai kutukan."
"Kutukan?"
"Arjuna dikutuk jadi banci."
"Banci?"
"Arjuna melewati satu tahun dari masa pengasingan dengan menyamar sebagai penari wanita. Itu kan banci namanya," terang Ratna.
Bayu mengerutkan kening. Dia tidak tahu bagian itu. Yang Bayu ketahui dari cerita Mahabarata hanyalah perang antara Pandawa dan Kurawa.
"Kamu sudah pernah baca Mahabarata sebelumnya?"
"Sudah. Aku baca Mahabarata pertama kali waktu aku SMP kelas tiga. Buku ini punya bapakku. Kemarin kupikir asyik juga membaca ulang Mahabarata."
Astaga, kelas tiga SMP sudah membaca buku berbobot seperti ini. Apalah Bayu yang hanya gemar membaca komik Dragon Ball dan One Piece saat SMP dulu.
Ah, Ratna ini... semakin hari semakin menarik saja.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top