Part 53

Jae menahan langkah Gia saat jaraknya sudah semakin dekat dengan area parkir. Dari jauh, Gia menangkap sosok wanita yang memiliki garis wajah mirip Dean. Wanita paruh baya ini sedang mengobrol dengan lelaki yang tadi sempat bertengkar dengannya. Hati Gia membuncah, ada sesuatu yang berusaha menariknya untuk mendekati Dean. Namun, segera diurungkan, setelah merasakan tangan Jae kembali menarik lengannya.

"Mau kemana?" cegah Jae.

"Hm ... enggak." Gia tergagap, berharap Jae tidak menangkap perubahan wajahnya.

"Ayo kuantar pulang." Jae langsung menarik Gia menuju motornya.

Gia lega akhirnya Jae mengantarnya pulang. Namun Gia masih belum tenang karena Jae belum menjelaskan apapun. Belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut Jae sejak keluar dari kantin, selain ajakannya untuk mengantar pulang. Sikap dingin Jae memunculkan banyak pertanyaan di kepala Gia.

Sebenarnya Jae terlibat masalah apa dengan Dean?

Sepanjang jalan, Jae lebih banyak diam. Bibirnya seperti direkatkan lem yang sangat kuat. Wajahnya bulatnya tampak gusar. Beberapa kali Jae membuka pesan singkat, membalasnya cepat dan segera memasukkan ponsel ke dalam saku. Seperti ada yang ditutupi hingga harus menutup ponsel dengan tubuhnya saat membuka pesan.

Jae sedang chatt dengan siapa? Apa yang dimaksud dengan Dean tadi? Apa sebenarnya yang sedang mereka tutupi?

Gia kesulitan menepis pertanyaan yang muncul begitu saja dalam pikirannya. Baginya menenangkan diri dan menemukan sesuatu yang salah disaat bersamaan itu tidaklah mudah. Dean seolah sedang berusaha menunjukkan sesuatu tapi tak satu pun bisa terbaca oleh Gia. Ucapan Disa kembali terngiang di telinga, beda antara benci dan cinta itu cuma setipis ari, kalau sampai sobek kamu harus menelan ego dan gengsi lebih dalam.

"Jae, maksud Dean tadi apa sih?" Gia tak berhasil membendung rasa penasarannya.

"Nggak usah dipikirin," untuk pertama kalinya Jae tidak mau menatap mata Gia membuatnya semakin penasaran.

"Ada yang kalian sembunyiakan dari aku?" Gia tak mau menyerah begitu saja.

"Nggak ada," suara Jae tiba-tiba berubah jadi ketus.

Terkejut dengan jawaban ketus Jae, membuat Gia semakin nekad. Aku akan mencari tahu dengan cara lain, batinnya. Dean yang selama ini tak peduli, mulai menunjukkan tidak suka pada Jae. Mungkin sebenarnya selama ini Dean memperhatikan dia sama Jae?

Pikiran Gia semakin kacau. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Disa. Hish! Jangan sampai deh! Gia mengetuk-ketuk helmnya sendiri.

"Kenapa sih kepala sendiri di pukul-pukul?" Jae melihatnya dari kaca spion.

"Hm ... ng ... nggak apa-apa." Gia tergagap.

"Kamu masih berantem setiap hari sama Dean?" Jae menatap ke arah spion berusaha menemukan ekspresi gadis yang sedang diboncengnya.

Gia pura-pura tak peduli, padahal sebenarnya setiap gerak Jae hari ini menjadi catatan penting baginya. Dia berniat akan mencari jawabannya sendiri. Selama ini Dean tak pernah komentar apapun yang berhubungan dengan Jae. Kemarahan Dean semakin membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang penting terjadi tanpa sepengetahuannya.

"Ralat, bukan setiap hari. Aku bertengkar setiap kali berhadapan sama dia." Gia melambatkan ucapannya untuk mengoreksi pertanyaan Jae. Sedangkan Jae yang duduk di depannya hanya menggeleng pelan.

Sudut mata Gia mencuri pandang ke spion untuk melihat reaksi Jae. Tak ada reaksi yang berlebihan kecuali bibir Jae yang mencebik, diikuti matanya yang melihat sembarangan ke sekelilingnya. Gia menjadikan ini sebagai catatan berikutnya.

Detik ini Gia bersyukur dengan kebiasaan anehnya. Dia selalu penasaran dengan isi kepala seseorang dengan memperhatikan ekspresi wajahnya. Setidaknya ini berhasil memberikan tanda ketika ada sesuatu yang tidak bisa diketahuinya secara verbal. Salah satunya pasti ekspresi wajah Jae Hendra Sanjaya, fix ... sikap Jae benar-benar telah berubah.

Jae bahkan tak peduli lagi saat Gia tak membalas pesannya. Syaraf otak Gia seperti ada yang menarik hingga membuatnya teringat dengan celetukan Disa, jangan-jangan Jae sudah punya cewek Gi. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top