Part 37

Memasuki ruangan, pandangan Dean menyebar ke setiap sisi dinding. Matanya menemukan beberapa tempat yang kini menjadi kosong. Dua orang sedang mengemas beberapa bingkai besar dengan kain putih gading. Hawa dingin dari penyejuk ruangan langsung menyerbu tubuh Dean, membuat tubuhnya semakin menggigil setelah meninggalkan jaket yang basah di tempat parkir. Langkah kaki Dean mendekati sebuah lukisan kecil yang baru saja selesai dipasang.

Dean menatap lukisan abstrak di depannya, mengamati setiap detil gradasi warna. Tangannya menyentuh permukaan lukisan, berusaha merasakan emosi pelukis saat mengerjakan karyanya. Nalurinya keluar begitu saja setiap kali melihat lukisan. Kebiasaannya setiap mengunjungi galeri, selalu mengamati setiap karya yang mencuri perhatiannya.

Anggukan hormat diberikan Dean saat seorang lelaki paruh baya keluar ruangan. Kaos oblong putih dilapisi kemeja biru tua dengan kancing terbuka dibagian atas memberikan kesan casual pemakainya. Blangkon hitam disematkan di kepala membuat penampilannya sangat mudah dikenali. Lelaki itu tersenyum menatap Dean, menautkan kedua alis mengingat sesuatu.

"Selamat sore Pak Sofyan," sapa Dean dengan ramah.

"Sore," Tatapan mata Sofyan beralih pada bordir kecil yang ditempel di dada kanan Dean. "Hmm...kita sepertinya pernah ketemu tapi di mana ya?"

"Kemarin waktu ada lomba lukis Muda Juara, Pak." Dean mengingatkan dengan antusias setelah beberapa detik Sofyan kesulitan memutar memorinya.

"Oh iya, kamu yang juara satu ya?" senyum lebar menghiasi wajah Sofyan.

"Iya, Bapak masih ingat?" Uluran tangan Dean disambut hangat oleh Sofyan.

"Lukisanmu membuat saya terkesan. Suatu saat kamu pasti jadi pelukis hebat." Garis bibir Sofyan semakin terbuka lebar.

"Terimakasih Pak," Dean menunduk takzim.

"Oh ya, ada perlu apa ke mari?" tanya Sofyan kemudian.

"Saya sering ke sini kok Pak. Saya banyak belajar dari lukisan Bapak. Tapi kebetulan hari ini mau beli beberapa cat." Dean melirik ke pojok depan ruangan.

"Oh ya? Tapi baru kali ini ya kita bisa ketemu." Bangga tempak menyelimuti wajah Sofyan.

"Maaf, Pak. Kenapa lukisannya banyak yang diturunin?" tunjuk Dean ke arah dua orang yang masih sibuk mengemas lukisan.

"Oh, saya mau ada pameran." Jawab Sofyan singkat.

"Di mana Pak?' Mata Dean penuh binar.

"Di gedung Widyatama," jelas Sofyan sambil mengulum senyum.

"Saya boleh datang?" tanya Dean penuh harap. Kedua tangannya mengatup di dada.

"Tentu saja boleh," Sofyan berhenti sejenak sebelum melanjutkan bicara. Jari telunjuknya mengusap hidung pelan seolah ada sesuatu yang mengganggu di sana.

Bagian tengah kedua alis Sofyan membentuk garis halus, berusaha mengingat sesuatu. Kepalanya mengangguk pelan menyetujui sesuatu yang ada dalam pikirkannya. Sementara Dean terus berusaha menenangkan hatinya yang berlompatan, tak sabar menunggu Sofyan meneruskan kalimatnya. Ujung jarinya mengetuk-ngetuk tepat pada jahitan celana abunya. Kaki Dean membuat gerakan-gerakan kecil penuh gelisah.

"Kamu ikut pameran ya, saya masih ada satu spot yang kosong. Kebetulan teman saya sedang padat jadwal pamerannya," ucapan Sofyan menyalakan lampu pijar di kepala Dean.

Dean mengangguk cepat, "Baik Pak. Tanggal berapa pamerannya Pak?"

"Masih satu bulan lagi, nggak ada salahnya kamu siapkan dari sekarang. Kamu boleh melihat-lihat lukisan saya yang belum dibungkus itu untuk menyesuaikan konsepnya." Telunjuk Sofyan mengarah ke sudut ruangan, terdapat dua orang laki-laki yang sedang sibuk membungkus lukisan berukuran besar.

"Baik Pak, terimakasih untuk kesempatannya." Dean mengulurkan seraya mengangguk sebelum berlalu menuju ke sudut ruangan. Dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Pak Sofyan. Matanya berselancar dari satu lukisan ke lukisan yang lain, melihat semua detilnya.

Seketika itu juga senyum yang mengembang di bibir Dean memudar, saat teringat kewajibannya yang harus segera memperbaiki nilai yang membakar rapornya. Keduanya tidak bisa dianggap sepele kalau Dean ingin mempunyai masa depan yang baik. Tapi mengerjakan keduanya dalam waktu yang bersamaan juga bukan hal yang mudah.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top