Chapter 7

"Aku membutuhkan bantuanmu."

Touma menaikkan sebelah alisnya. Di wajahnya tercetak senyum mencurigakan.

"Apapun untuk sahabat lama."

.
.
.
.
.

The Winter War

By

Lucian_Lucy_

.
.
.
.
.

Untuk seorang yang tidak pernah keluar dari sangkar emas, kesempatan untuk melihat dunia luar adalah surga.

Tenn menghabiskan waktu siangnya dengan berjalan-jalan sepanjang dermaga. Banyak orang hilir mudik di sekelilingnya. Mereka semua terlihat asing, berbeda satu sama lain. Namun menarik di matanya. Berbagai macam warna rambut ada di dermaga. Dari yang hitam sampai perak. Dari yang bermata sipit sampai bulat sempurna. Dari yang berkulit pucat sampai hitam.

Udara pelabuhan memang tidak sesegar desa. Sepanjang perjalanan, aroma familiar yang dijumpai hidungnya adalah aroma keringat dan apek.

Pelabuhan ternyata adalah tempat yang hidup. Lebih dari pasar Albania. Namun kebanyakan dari mereka sama. Sama-sama bersuara berisik dan berbahasa kasar. Mungkin inilah hidup orang pesisir pantai. Menantang laut untuk menunjang hidup.

"Tenn?" Pria itu memanggilnya. Gaku mendekati Tenn. Menyerahkan sebuah surat pengantar dan tiket.

Tenn memandang tiket dengan gamang. Sedikit konyol mengingat dirinya baru saja kabur dari maut dan sekarang malah sedang menjemput bahaya. Seminggu yang lalu ia masih memikirkan stok tumbuhan yang akan dijualnya, sekarang ia harus memikirkan cara agar bisa menyeberang laut tanpa mabuk.

"Kapal kita segera datang, kita harus bergegas."

Gaku membawanya menuju sebuah kapal berukuran sedang. Mereka telah mengantre, ikut ambil bagian dalam barisan mengular. Gaku masih dengan topi fendoranya. Menatap sekelilingnya dengan waspada. Sementara Tenn berada di belakangnya. Mengambil jarak aman.

Seorang pria kekar menghadang di jembatan penyeberangan. Pria itu akan memeriksa setiap surat keterangan penumpang. Saat Tenn dan Gaku menyerahkan surat pengantar buatan Touma, pria itu mengangkat sebelah alis. Ia memandang dua sejoli dengan pandangan tertarik.

Tidak ada pemeriksaan barang-barang, tidak ada penggeledahan. Gaku dan Riku dapat masuk ke kapal dengan selamat.

Tenn sempat melirik ke belakang. Pria botak itu hanya tersenyum singkat.

"Yang Mulia, sebenarnya siapa Touma-san?"

Gaku membawanya ke kabin atas. Mereka berdiri di sepanjang dek. Merasakan aroma laut yang menguar disekeliling.

"Inumaru adalah penguasa pelabuhan. Bisa dibilang, dia adalah pengawas yang bekerja langsung dibawah perintahku."

Tenn diam mendengarkan. Semuanya tampak masuk akal. Pantas saja mereka berdua telihat akrab saat bertemu.

"Dan Tenn, jangan panggil aku Yang Mulia. Kita tidak tahu siapa yang ada di kapal ini. Mungkin tampak seperti kapal yang hanya membawa pedagang, tapi siapa tahu ada mata-mata di sini."

"Lalu harus ku panggil apa?" Tenn melirik. "Yaotome-san?"

"Kau ingin kepala kita digantung oleh musuh?"

"Lalu?"

"Panggil aku sayang," Tenn tersedak ludahnya. "Tapi aku yakin kau tidak akan mau."

"Panggil saja namaku." Imbuh Gaku tenang. "Panggil aku Gaku."

Pemuda bersurai baby pink itu memalingkan wajahnya, "Itu terdengar aneh." Tolak Tenn. "Kalau begitu ku panggil kau dengan 'kau' saja."

"Kenapa? Malu?" Goda Gaku. Ia merapatkan jarak. Tenn yang masih berpikir tidak sadar dengan tindakannya. Bahkan ketika bahu mereka sudah saling bersentuhan.

"Memangnya kau ikhlas dipanggil dengan nama kecilmu oleh orang biasa sepertiku?"

"Kenapa tidak?" Gaku tersenyum tampan. "Karena orangnya kau, maka tidak masalah."

Tenn hanya tidak tahu, Gaku berharap akan dipanggil dengan namanya sendiri oleh Tenn. Bukan nama warisan sang ayah, tapi dirinya sendiri. Ia ingin dipandang sebagai Gaku. Bukan Gaku anak Sousuke. Bukan Gaku sang Raja.

Hanya Gaku.

Individu yang hidup untuk dirinya sendiri. Bebas menentukan apa yang ia suka. Seseorang yang bekerja untuk kebahagiaannya sendiri.

"G-G-Ga-Gak-Gagak!" Hening. Gaku terlihat tidak tahu harus berekspresi apa. "Ah! Aku tidak bisa!" Akhirnya si merah muda berdecak kecewa, "Lidahku keseleo."

"Gaku...." Ucap Gaku dengan perlahan. "Panggil namaku dengan perlahan. Jika masih belum terbiasa tidak masalah, aku tidak akan menghukum mu hanya karena tidak bisa memanggil namaku."

"Gaku..." Tenn meniru. Perutnya tergelitik saat mendengar suaranya sendiri. "Gaku..." Gumamnya pada diri sendiri sekali lagi.

"Coba ulang."

"Gaku."

"Sekali lagi."

"Gaku!"

"Lagi."

"Ga--Hei! Kau ingin aku memanggil mu berapa kali?!"

Gaku tertawa. "Berkali-kali kalau perlu." Sampai Tenn lupa pada orang lain kecuali diriku.

.
.
.
.
.

Seorang pemuda jakun bersurai baby blue dan sisa prajuritnya yang berjumlah dua orang memasuki istana. Seragamnya yang terciprat darah tak dihiraukan. Prioritas utamannya adalah menemui seseorang.

Tamaki mengetuk pintu ruang kerja Yuki dengan tergesa. Saat dibuka Yuki terkejut ketika melihat keadaan Tamaki.

"Apa yang terjadi? Kenapa seluruh tubuhmu berlumuran darah? Kenapa kau tidak berada di dapur menyiapkan kudapan untuk Pangeran Erin?"

Yang ditanya menjawab malas, "Maaf, Gakkun tadi menyuruhku untuk membantunya mengalihkan perhatian, dia pergi menemui Yama-san."

Yuki memijit pelipisnya, "Hah, sudah ku duga."

"Apa perlu ku susul?"

"Tidak perlu. Pasukan pengintai ada bersamanya." Yuki mengambil jam sakunya. "Aku yakin dia sudah sampai di Girgaris."

"Sebenarnya, apa yang kalian rencanakan? Mengapa Gakkun mendadak sangat gegabah?"

Jangan sebut Yotsuba Tamaki yang mendapat kepercayaan sebagai salah satu tangan kanan kepercayaan Raja Venesia orang bebal. Ia mendapatkan kepercayaan Gaku bukan hanya karena ahli dibidang dapur, tapi kemampuannya dibidang medan tempur patut diacungi jempol.

Hanya saja kepolosan dan sikap kekanakannya itu terkadang membuatnya terlihat seperti orang bebal.

Sang sekretaris hanya bisa terdiam, karena tidak mungkin ia mengatakan bahwa semua ini karena Tenn. Identitas Tenn harus tetap dirahasiakan dari semua orang. Gaku bahkan sudah memperingatkan para staffnya. Melanggar janji sama dengan potong kepala.

Meski tetap saja ada kebocoran kecil. Pangeran Erin contohnya. Anak itu dengan sengaja menguping pembicaraan mereka. Gaku masih diam saja, mungkin berpura-pura tidak tahu atau mungkin ikatan darah diantara mereka membuat keduanya tak perlu membuat janji secara lisan.

Untuk melindungi Tenn dengan segala cara.

Namun tindakan berani Gaku yang sekarang kelewat nekat dan bukan seperti dirinya yang biasa. Gaku selalu memikirkan sesuatu dengan matang-matang. Ia selalu memilih strategi yang efektif dengan resiko kecil kegagalan. Bukannya seperti sekarang.

Memiliki Tenn sama dengan memiliki buku panduan. Sesuatu hal yang tidak dimiliki pihak musuh. Namun tetap saja tindakan ini terlalu berbahaya. Sekalipun Tenn bisa melihat masa depan, segala kemungkinan dapat terjadi. Termasuk kematian Gaku.

Dan Yuki masih belum siap untuk kehilangan seseorang yang sudah ia anggap sebagai adik. Seluruh rakyat Venesia tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

"Tenanglah, Gaku-kun bersama pasukan terbaik yang pernah dimiliki Kerajaan Venesia. Selain itu, ia memiliki sesuatu yang tidak di miliki musuh."

Tamaki menatapnya bingung. "Sesuatu yang tidak di miliki musuh?"

Sang sekretaris mengangguk. "Aku harus membicarakan ini dengan Perdana Menteri Takanashi Otoharu. Beliau yang akan menggantikan untuk sementara waktu posisi Gaku-kun, dan Tamaki-kun tolong kau siapkan kudapan sore untuk Pangeran Erin sebelum anak itu berubah jadi iblis kecil." Kata Yuki di akhir dengan penuh arti.

"Ha'i~"

.
.
.
.
.

Girgaris adalah sebuah pulau yang terletak di antara kerajaan Venesia dan Pulau Silchar. Selain dijadikan wilayah netral, Girgaris juga merupakan sebuah pelabuhan dagang. Banyak pedagang yang datang dan pergi di Girgaris.

Dengan statusnya yang netral, Girgaris bisa menjadi tempat yang paling berbahaya. Pulau Girgaris tidak diikat aturan oleh kedua kerajaan. Wilayah ini dikuasai oleh seorang Gubernur Jenderal setempat. Wilayah ini juga memiliki polisi tersendiri. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang hilir mudik menjaga pelabuhan dari tindakan anarksi pihak manapun, baik dari Venesia maupun Sicilia.

Namun tentu tidak menutup kemungkinan akan ada pembunuhan di tempat ini. Girgaris merupakan tempat bertemunya orang-orang dari Venesia dan Sicilia. Satu-satunya tempat dimana mereka bisa berkomunikasi tanpa berseteru.

Gaku langsung menarik tangan teman seperjalanannya begitu kapal tertambat di pelabuhan. Menggenggang protektif seolah ia bisa hilang kalau saja Gaku melonggarkan penjagaan. Tenn kali ini tidak protes. Dirinya sadar sudah berada di wilayah asing.

Bukan wilayah teman maupun musuh. Ini wilayah netral. Gaku sudah tidak punya kuasa di tempat ini, bahkan untuk seorang Raja seperti Gaku, ia tetap harus tunduk pada segala aturan.

Mereka berdua kembali diperiksa oleh pria kekar lain. Wajah pria itu garang, ada bekas luka melintang di pipinya. Gaku menyerahkan kartu identitas palsu mereka berdua beserta surat keterangan dari Touma.

Seperti yang diharapkan, mereka berhasil lolos tanpa pemeriksaan. Surat sakti kembali dikantongi. Mereka kembali menyusuri pelabuhan.

Mereka kemudian berhenti sejekan di sebuah kafe. Mengistirahatkan badan setelah dua jam berada di atas laut. Gaku memesan makan siang. Tenn yang lapar tidak menolak. Ia memang sedang tidak ingin protes. Dia tidak ingin menarik perhatian orang-orang.

"Apakah tempat Nikaido Yamato ini jauh?"

Sendok diletakkan. Gaku memajukan wajah, Tenn refleks mundur. Namun Gaku berbicara dengan nada pelan dan menyeringai saat Tenn baru saja salah paham dengan niatnya.

"Berpikir aku akan mencium mu?"

"Memangnya tidak?" Tenn menantang.

"Tenn tidak sabaran, ya? Kesabaran itu selalu membuat santapan tambah nikmat, lho. Tapi kalau Tenn mau sekarang, dengan senang hati aku akan melanjutkan." Gaku tersenyum tampan.

"Lanjutkan saja yang tadi--maksutku pembicaraannya, bu-bukan soal ciuman."

Sang Raja melihat rona merah di pipi pemuda itu, sangat gemas ingin menggigit pipinya. "Tempat yang akan kita tuju sudah tidak terlalu jauh. Tapi, rumahnya sedikit sulit ditemukan."

Seorang pelayang menginterupsi. Ia meletakkan sandwich dan sup di atas meja. Segelas teh menyusul untuk Gaku, dan susu kocok untuk Tenn. Pelayan itu tersenyum cantik ke arah Gaku, ditambah ia menyibakkan rambut indahnya dengan gemulai. Saat melirik ke Tenn ia hanya tersenyum tipis, tipikal senyum profesional.

Tenn menggigit pinggir gelasnya. Ia hanya bisa berkedip saat melihat Gaku tersenyum ke arah pelayan.

"Apa?" Gaku bertanya.

"Tidak." Ia menunduk menatap sandwich tunanya dan menggigit dengan ganas. Di kepalanya Tenn membayangkan yang digigitnya bukan roti lembut dengan isi daging tuna dan saus serta selada segar, tapi Gaku yang berlumur darah menggantikan saus tomat.

Mereka berdua makan dengan diam. Tenn tidak ingin mengganggu Gaku. Begitu pula Gaku, ia membiarkan pemuda delapan belas tahun itu melihat keadaan Girgaris.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan tiga puluh menit kemudian. Gaku masih berjalan di depan. Masih menggenggam tangan Tenn. Topi pedoranya masih belum dilepas sedari tadi.

Gaku membawanya menuju sebuah jalan setapak. Tidak lama kemudian ia berbelok menuju sebuah gang sempit. Bau busuk memenuhi tempat itu. Dinding-dinding yang tampak kokoh membuat Tenn harus berjalan di tengah, jaga-jaga siapa tahu pakaiannya mengenai tembok meski hanya semili atau sedetik saja. Siapa tahu apa yang pernah terjadi di tembok itu. Bisa jadi sudah dikencingi orang.

Mereka masuk semakin dalam. Semakin dalam semakin gelap. Tenn bahkan sudah tidak ingat berapa kali mereka berbelok, saking banyaknya mereka melewati gang sempit.

"Kau sepertinya hafal dengan baik jalan di sini."

"Sudah beberapa kali aku ke sini."

"Meski kau seorang putra mahkota?"

Di depan sana Gaku menjawab kalem, "Ayahku bukan tipe orang yang akan memberikan tahta hanya karena aku anak pertama atau sekalipun tunggal. Aku punya banyak musuh. Baik dulu maupun sekarang. Di dalam kerajaan ataupun di luar."

Mereka berhenti saat menemukan sebuah toko usang. Toko itu berdiri di tengah lapangan. Di samping kanan dan kiri toko di tumbuhi pohon maple.

Nikaido Secondhand shop.

Nama itu ditulis di sebuah plang kayu yang sudah miring, dengan cat putih yang sudah memudar dan mulai luntur. Suasana toko itu benar-benar suram.

Saat pintunya terbuka, bel yang dipasang di pintu berbunyi. Suaranya tidak terdengar ceria seperti ketika Tenn membuka pintu Izumi's Barker. Tapi lebih terdengar mengerikan karena suara bel itu teredam oleh bunyi derak engsel pintu tua.

Sama seperti tampilan luar, interior Nikaido Secondhand shop juga tidak kalah suram. Penerangan di dalam hanya mengandalkan jendela tinggi di depan toko. Seorang pria berambul hijau menanti di meja konter, alisnya terangkat sebelah.

"Sepertinya aku mendapatkan seorang tamu." Pria itu menyeringai. Tidak berselang lama kemudian pria itu terdiam, sepertinya ia cukup terkejut ketika melihat ada seseorang yang mengikuti Gaku.

"Hee~ ada angin apa sampai kau datang kemari?"

"Aku perlu informasi."

"Begitu," Yamato melirik seseorang yang mengikuti lawan bicaranya. Pemuda bersurai baby pink itu sedang melihat koleksi barang-barangnya. Pemuda cantik dengan raut wajah sedatar aspal jalan yang kini menuju sebuah rak di sudut ruangan. Tangannya yang mungil diangkat, menyentuh tulang dahi tengkorak. Sekedar mengecek asli atau bukan.

"Kau tertarik?" Tenn terlonjak. Dengan cepat ia menarik tangannya. Ia berbalik dan menemukan Yamato sedang menatap penuh minat.

"Tidak, biasa saja." Tenn memalingkan wajah.

"Jadi?" Desak Gaku.

Yamato memutar bola matanya, "Informasi macam apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin tahu kejadian sebulan terakhir di Pelabuhan Silchar dan Pelabuhan Girgaris. Kegiatan Silchar terbaru dan soal Nicholas, beritahu semuanya."

"Soal itu...." Tenn kembali berjalan-jalan. Kini ia menatap ke kursi goyang di sebelah pintu. Tidak lama kemudian kaki dibawa melangkah kembali, kali ini ia berhadapan dengan jam besar. "Kudengar ada seorang pria pirang dengan tato sulur berkeliaran di pelabuhan beberapa hari yang lalu."

"Lalu?"

"Lalu?" Yamato mengulang. Tenn terlihat menyusuri deretan guci antik. Ia meraba mannequin tanpa kepala, kemudian mengangkat sebuah Marionette dan memainkan talinya. "Kalau kau ingin tahu, kau harus membayar."

Gaku menggebrak meja konter. Atensi Yamato dan Tenn teralih sepenuhnya. Tenn memiringkan kepala, seolah membuat ekspresi bertanya.

"Kau ingin bayaran?" Gaku mengeluarkan sekantong emas dari saku. Di dorongnya emas itu tapi Yamato hanya menatap skeptis pada sekantong emas di atas meja yang mungkin berisi lebih dari 20 keping emas.

"Tidak cukup?" Gaku kembali mengeluarkan kantong emas lain. Namun Yamato kembali mendorong kantong emas itu.

"Aku lebih suka dia." Yamato menunjuk Tenn. Sang objek yang ditunjuk sedang melihat papan oujia.

Seketika, aura yang berada disekitar Gaku menggelap dan digantikan dengan aura pembunuh. "Dia. Tidak. Dijual."

"Begitu?" Yamato menopang dagu, "Sayang sekali."

"Dia terlalu berharga untuk dijual hanya demi informasimu."

"Dan dia terlalu berharga untuk dimadu dan terlibat bahaya bersama mu." Balas Yamato telak.

Tenn ikut bergabung dengan keduanya. "Yang Mu--maksudku Gaku, apa sudah selesai? Apa yang kalian bicarakan?"

"Ah, bukan apa-apa." Yamato tersenyum lebar. "Siapa namamu? Ah, apa kau mau permen?" Yamato memberikan sebungkus permen, Tenn menatap dan menerima permen tersebut dengan penuh rasa curiga.

"Nama saya Nanase Tenn."

Pemilik toko mengulang nama itu dalam hati. Terdengar sangat pas saat diucap. Seolah namanya adalah lirik dalam lagu musim semi.

Gaku baru saja akan memperingatkan ketika permen itu sudah ada di dalam mulut Tenn.

"Muntahkan Tenn! Permen itu bisa jadi beracun--"

"Mana mungkin aku memberikan racun pada malaikat polos ini." Gaku menatap tajam, ia menarik Tenn agar berada di sampingnya.

"Kalau afrodisiak itu beda cerita."

Gaku masih menatap tajam. Aura disekelilingnya semakin memberat. "Sebaiknya kau jaga mulutmu."

Pria bersurai hijau itu menutup mulutnya, "Ups, maaf." Ia tersenyum culas. "Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya?"

"Aku suka karena permen ini rasa vanila. Saat digigit keluar susu, mulutku jadi terasa penuh." Tenn menjawab polos. Gaku dan Yamato hanya bisa menatap diam. Bagaimana mungkin Tenn bisa mengatakan hal yang ambigu dengan begitu polosnya?

"Kau ingin lagi? Aku punya permen lolipop. Ukurannya besar, kau pasti puas. Di dalamnya juga ada susu kental putih kesukaan mu. Apa kau mau?"

"Tidak!" Gaku menyela. "Kau bisa makan punyaku saja. Punyaku lebih besar dan mantap."

Kedua pria itu saling berpandangan sengit. Tenn hanya bisa menatap keduanya dengan lelah. Ia merasa pembicaraan yang baru saja mereka lakukan agak melenceng dari jalur yang sebenarnya.

"Eum.... Ku rasa, aku sudah cukup makan permen saja. Jadi apa urusan kalian sudah selesai?"

Gaku menghela napas. Ia melepas cincin bermata ruby ditangannya. Setengah dibanting saat Gaku menyerahkan cincin mahalnya.

Yamato mengamankan dua kantong emas dan sebuah cincin ke balik sakunya. "Seharunya kau lakukan dari tadi."

"Lakukan saja tugasmu."

"Baiklah," ia melirik Tenn lagi. "Harus dari mana kita mulai?"

.
.
.
.
.

TBC






Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top