Chapter 5
Ia tidak pernah menyangka akan datang ke tempat ini, bahkan dalam bunga tidur sekalipun. Tenn sering memimpikan istana. Kerap melihat Gaku berkeliaran di tempat ini. Tapi sebatas pengamat, itu pun bukan atas kehendaknya. Semua murni karena ketidak sengajaan.
Berjalan-jalan di istana, ternyata tidak buruk. Suasana cenderung sepi. Jarang ada pelayan yang berlalu-lalang sepanjang pengamatan.
Apalagi cuaca sore ini sedang bersahabat. Langit cerah, dengan gumpalan awan putih yang menutup sinar matahari. Semilir angin yang menerpar wajah, menambah kesan syahdu
Seharusnya hari ini, jadi hari yang sempurna. Terlepas dari status Tenn yang jadi tahanan tak sengsara--secara fisik, jangan tanya soal mental--dari Gaku.
Sekali lagi ku bilang, seharusnya.
Selama hampir satu jam mengelilingi istana, Tenn merasakan eksistensi lain yang mengikuti.
Jengah, ia berbalik badan. Sang pengutit otomatis bersembunyi di balik tembok. Mungkin dia tidak sadar, tapi Tenn dapat melihat surai crimson yang terlanjur menyembul.
Hebat sekali.
Baru saja ia diikuti iblis kecil.
"Apa kau masih akan bersembunyi di sana?"
Sosok itu berjalan menuju pemuda bersurai baby pink. Menampakkan diri di hadapan Tenn secara terang-terangan. Tidak dengan langkah yang terendam atau sembunyi-sembunyi lagi.
Sosok itu berdiri dengan gagah. Tubuh kecilnya mendongak menatap Tenn. Sorot matanya mirip Yaotome Gaku--dengar warna yang berbeda--, penuh kekuasaan dan meremehkan yang kentara.
Yaotome Erin muncul di hadapannya.
Seseorang yang kata Takanashi Tsumugi dan para pelayan adalah tiruan sempurna Yaotome Gaku--sekali lagi, dengan warna crimson dan bukan silver--.
Yaotome Erin mendongak, menatap Tenn dengan tatapan mengintimidasi. Tak lupa gaya angkuh menantang dunia.
"Jadi kau yang namanya, Nanase Tenn?"
Detik itu juga, Tenn tahu kalau ia akan terjebak di antara dua Yaotome.
'Sial,' batinnya
.
.
.
.
.
The Winter War
By
Lucian_Lucy_
.
.
.
.
.
Tenn memperhatikan sosok mini di hadapannya. Rambut merah dengan iris senada, satu set jas lengkap dengan celana selutut menutupi kulit putih.
Kalau diibaratakan, Yaotome Erin itu seperti anak singa. Ia mampu menunjukkan aura mengerikan walau masih anak-anak.
Anak itu berdiri angkuh, dengan kedua tangan tertekuk di depan dada.
"Ya."
Yaotome Junior berjalan mendekat, menatap Tenn lekat. Mengobservasi dari ujung sepatu sampai rambut. Anak itu diam sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala.
"Tidak buruk," gumamnya.
"Mengapa Anda mengikuti saya, wahai Pangeran Yaotome?" Tanya Tenn.
"Erin." Koreksi Pangeran mini.
"Yaotome Junior."
"Ck, kan sudah ku bilang, panggil aku Erin! Lagipula siapa yang mengikutimu? Aku sedang jalan-jalan."
"Jalan-jalan di rute yang sama dengan saya selama hampir satu jam." Simpul Tenn, geli melihat telinga Yaotome Junior memerah. "Kita pasti memiliki pemikiran yang sama."
Wajah Erin bersemu merah, salah tingkah karena kebohongannya terungkap. Tapi dengan cepat ia bisa menguasai diri. Ia berkacang pinggang.
"Siapa kau dan apa hak mu melarangku, untuk jalan-jalan di istanaku?"
"Siapakah hamba yang hanya rakyat jelata ini? Tentu saja saya tidak punya hak, bahkan untuk mengomentari perilaku Yang Mulia Yaotome Junior." Jawab Tenn kalem.
Erin terlihat keki mendengarnya. Tujuh tahun ia bernapas di dunia, baru kali ini ada yang berani membalas perkataannya.
"Ku dengar kau bisa meramah, huh?" Bahkan nada bicaranya juga mirip Yaotome senior.
"Ya."
Erin memimpin jalan, Tenn mengikuti. Pangeran muda berjalan menuju bagian lain istana. Erin membawanya menuju jalan berbatu. Di sekelilingnya terdapat pepohonan peneduh yang menaungi.
"Apa kau bisa meramalku?"
"Kalau Anda berkenan."
"Pernah meramal ayahku?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Ayahmu tidak mau diramal."
"Bukankah ia datang padamu untuk mengetahui masa depan?"
"Itu sedikit berbeda," jelas Tenn, "Aku dapat mengetahui hal krusial lewat mimpi. Seperti kematian, kelahiran, bencana alam, dan terkadang potongan kejadian secara acak. Namun, aku juga bisa melihat masa depan satu atau dua jam ke depan. Bahkan beberapa hari atau minggu ke depan dari seseorang."
"Dan ayahmu hanya ingin tahu tentang kerajaan." Setelah ia mengatakan itu, Tenn baru sadar. Lemarin Gaku baru saja bertanya tentang wanita berambut merah muda lembut, yang orangnya adalah Tenn sendiri.
"Jadi, kau bisa melihat masa depan seseorang secara personal? Tidak melulu soal kerajaan dan tetek bengeknya?"
"Tidak."
Pangeran kecil berhenti. "Bagaimana caranya?"
"Aku tinggal menatapmu."
"Semudah itu?"
Tenn mengangguk, "Tapi itu baru bisa terjadi kalau kau bersedia membuka diri padaku."
"Aku tidak mengerti."
Tenn berlutut, menatap netra merah.
"Intinya, kau harus santai. Anggap saja kalau aku bukan ancaman, dan kau harus benar-benar iklas untuk diramal."
"Oke, aku mengerti." Erin mengangguk dan balas memandang, anak itu seperti tenggelam dalam kedua bola matanya. Hal pertama yang Erin rasakan adalah kehampaan. Tenn tidak memancarkan emosi apapun. Erin seperti melihat mata boneka--datar, monoton, namun berkilau.
"Apa kau sedang belajar tadi?"
"Dari mana kau tahu?"
"Sebentar lagi tutormu akan datang membawa cambuk rotan." Ucap Tenn, tak selang lama terdengar suara menggelegar dari arah istana.
"PANGERAN ERINNN!!!"
Yaotome Junior panik, ia menyeret Tenn untuk bersembunyi di balik semak-semak.
Di sana, berdiri seorang wanita(?) berambut merah muda terang. Bulu matanya lentik, rambutnya panjang dan bergelombang indah. Iris matanya menatap waspada sekeliling. Di tangannya ada cambuk yang terbuat dari rotan. Wanita itu berjalan ke jalan setapak, mengumpat dengan langkah menghentak.
"Dasar Pangeran menyebalkan! Kalau saja aku bukan kenalan ayahnya, sudah ku pecat dia jadi muridku!"
Erin tampak santai. Seolah sudah berulang kali melewati situasi serupa. Yang dintip tampak tidak sadar, kalau mangsanya sedang duduk santai beberapa meter di belakangnya.
Mereka berdua keluar dari semak-semak setelah si tutor pergi. Erin menghela napas, sangat lega.
"Kau bolos pelajaran."
"Dan aku bisa lolos dengan selamat tanpa tamparan rotan di bokong. Terima kasih banyak, Tenn!"
Tenn mengeryit. Anak-bapak sama-sama seenaknya sendiri. Mereka dengan mudah memanggil nama kecilnya seolah sudah mengenal Tenn sejak masih mengeyut ASI.
"Lagipula aku tidak suka diajar oleh waria itu! Terlalu cerewet!"
"Waria?" Tenn memastikan.
"Anesagi Kaoru." Erin mendengus tidak suka, "Dia laki-laki tapi bulu matanya panjang dan lentik, belum lagi rambut panjang dan fashion yang selalu dikenakannya, selalu membuat ku ingin mencolok mata sendiri saat melihatnya."
Pernyataan itu sedikit menohok hati Tenn. Bulu matanya panjang, tapi berani sumpah, ia jantan. Tidak melambai ceria macam Anesagi Kaoru.
Erin meraih tangan Tenn. Jemari yang kecil menyelusup di celah jarinya. Dengan sedikit tarikan, Tenn kembali mengekor Erin.
"Aku mau dibawa kemana lagi?"
"Tur singkat."
De javu.
Pepatah 'darah lebih kental dari air' memang benar ternyata.
Erin mendadak berhenti. Anak itu menatap ke depan dengan wajah tak suka. Beberapa meter di depan, mereka melihat dua penampakan manusia.
Ada seorang pria dengan kemeja putih yang dipadu vest hitam. Di sampingnya terdapat seorang pria lain yang memakau hakama merah muda dan putih--sedang bercengkrama. Tenn langsung mengenal pria dengan vest itu, dia Yaotome Senior. Yang di sampingnya, terasa sedikit familiar.
"Mayuzumi Miyu." Gumam Erin, namun masih bisa Tenn dengar.
Ah, Selir Miyu. Salah satu harem favorit Raja. Dan dia seorang pria. Iya, dia pria.
Mayuzumi Miyu, seorang pemuda yang biasa saja--menurut Tenn--dari segi fisik. Rambut berwarna cokelat muda, kulit putih--tidak seputih dirinya. Tinggi biasa saja--meskipun jelas Selir Miyu lebih tinggi darinya. Dan yang terakhir, mata layaknya ikan mati.
Oh, Tenn tidak sadar bahwa dirinya baru saja menggambarkan Selir kesayangan Raja dengan sedikit kasar. Mungkin, merendahkan.
Tapi bagi Tenn, Mayuzumi Miyu biasa saja. Bahkan kemolekan tubuh Takanashi Tsumugi jauh di atasnya.
"Sebaiknya kita pergi." Tutur Tenn. Melihat Gaku menempel dengan Selirnya membuat Tenn merasa tidak nyaman. Tentu saja, pikiranya, tindakan mencuri lihat bukanlah suatu hal terpuji.
Erin bergeming. Ia malah berlari menuju gazebo tempat Gaku dan Selir Miyu.
"Ayah!" Panggil Erin semangat. Genggaman di tangannya tidak berkurang intensitasnya, justru semakin menguat ketika mulai mendekat.
Gaku menoleh kemudian tersenyum samar. Berbeda lagi dengan Selir Miyu, wajahnya kelihatan tegang. Di wajahnya sudah tertulis 'Iblis kecil datang! Selamatkan diri kalian!'.
"Apa yang ayah lakukan di sini?" Erin duduk di pangkuan Gaku. "Kenapa harus berdua dengan si mata ikan mati ini?" Menunjuk Miyu. Yang dimaksud cuma bisa diam. Hafal betul dengan tingkah kurang ajar Yaotome Junior.
"Jangan berkata seperti itu, Erin. Dia ibumu juga."
"Hmph... aku tidak ingin punya ibu yang tidak cantik!"
Miyu merasa tertohok. Ia memang tidak cantik, bagaimanapun ia laki-laki. Kosakata cantik tentu saja jauh dari image laki-laki.
Yah, kecuali untuk pemuda berambut merah muda di hadapannya.
"Lalu siapa yang ingin kau jadikan ibu, hmm?" Tanya Gaku santai. Dua pemuda lain berwajah kaku. Miyu tersenyum nelangsa, Tenn ingin cepat-cepat angkat kaki.
Erin meletakkan telunjuk di dagu, membuat pose berpikir. "Hmmm..." Yaotome Senior menyeringai, melirik (calon) haremnya. Tenn tengah membuang muka, dengan wajah stoic.
"Hmm..." Erin masih berpikir. Gaku jadi gemas sendiri. Otaknya sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Erin, tapi menggoda seseorang di sini tidaklah buruk.
"Yang Mulia." Yuki muncul mengacau segalanya. Gaku menghela napas. Ia menepuk kepala Erin, sang anak segera menyingkir dari pangkuannya.
Gaku mengalihkan atensi pada Tenn, "Kau cocok sekali jadi pengasuh Erin, tidak berniat melamar jadi pengasuh jangka panjang, Tenn?"
Tenn bergidik. Amit-amit.
Erin cemberut. Apalagi ketika Gaku mencium dahi Miyu dengan mesra.
Panas.
Paviliun yang banyak dinaungi pohon itu mendadak memanas. Miyu merona, dipukulnya pundak sang suami dengan gemas. Tidak kentara, Gaku menoleh ke belakang. Memasag seringai tipis.
Tenn melihatnya.
Dahi Erin dicium ayah. Namun Pangeran cilik masih cemberut tak suka. Gaku mengacak rambut Erin, kemudian ia melangkah keluar paviliun.
.
.
.
.
.
Angin sore menerbangkan surai crimson. Yaotome Junior tengah terlelap di pangkuan Tenn. Dengan hati-hati, ia mengelus warna rambut yang dirindukan. Rambut merah itu terasa lembut. Aroma buah-buahan menguar dari badannya.
Kalau sedang tidur bergini, dia terlihat bak malaikat kecil. Wajah polos dan bentuk tubuh mini membikin setiap orang gemas. Namun jika bangun, setiap orang harus pasang tameng kesabaran extra.
Miyu tersenyum, memandang Erin sendu. Tenn jadi merasa agak kasihan.
Ia sudah menyaksikan sendiri, bagaimana kejamnya Erin mempermainkan Miyu.
Bermula dari Erin yang sengaja menjatuhkan bola ke dalam kolam dekat paviliun. Angkuh, ia memerintah Miyu untuk mengambilnya, kalau bukan Miyu tidak terima.
Setelah berbasah-basah, Miyu berhasil mengambilnya. Tapi Erin dengan kurang ajarnya malah mengabaikan bola yang diambil Miyu.
Miyu kembali disiksa saat Erin menyuruhnya bernyanyi selama satu jam penuh tanpa istirahat.
Dengan wajahnya yang polos Erin berkata, "Ayah bilang, dia suka mendengar nyanyian si mata ikan ketika malam. Ya sudah, aku juga ingin mendengarnya bernyanyi."
Tenn melirik Miyu. Wajahnya sudah merah sampai leher. Tenn memijit kepala, Gaku sudah mengotori pikiran anaknya sendiri. Bapak macam apa dia?
Seharusnya Erin tahu jenis nyanyian Miyu macam apa. Dia tidak akan menyanyikan lagu anak-anak, seperti yang biasa sang Selir nyanyikan untuk si Pangeran.
Lagipula Tenn sudah cukup umur untuk tahu apa jenis nyanyian Miyu.
Tak sampai disitu, dengan sengaja Erin mencampur banyak gula pada minuman Miyu. Tenn meringis ketika melihat wajah Miyu yang kecut saat merasakan teh.
Kesimpulan yang dapat ditarik, Yaotome Erin itu iblis kecil. Dia senang menyiksa orang lain, terutama selir ayahnya.
Faktor : belum diketahui. Diduga cemburi dengan perhatian sang ayah pada haremnya.
Dampak : para pelayan menjerit. Para Selir memendang gondok. Para tutor menyumpah serapah. Gaku tertawa bahagia.
Solusi : 1. Kurung Erin di kandang macan (menurut salah satu pelayan wanita, sebut saja Mawar). 2. Hukum Erin dengan berat (menurut pengakuan salah satu tutor, si bulu mata lentik sedikit melambai--sebut saja Anesagi Kaoru). 3. Balas perlakuan Erin (menurut para Selir, minus Miyu yang tampaknya pasrah-pasrah saja menerima perlakuan Erin. Diduga Miyu merupakan salah satu spesies manusia jenis masokis).
Begitulah kesimpulan yang di dapat dari detektif Nanase Tenn.
"Kau suka dengan anak-anak?"
Tenn mengangguk. "Saya ingin jadi guru."
"Benarkah? Aku tidak menyangka." Miyu tersenyum lembut.
Dia berbeda. Mayuzumi Miyu--sekarang Yaotome Miyu--jelas berbeda dengan keempat Selir Gaku yang lain. Dia adalah pemuda yang ramah, baik, dan tulus. Berbeda dengan empat wanita gahar yang sempat ditemui Tenn tadi.
"Kau pantas jadi ibunya."
Tenn tersedak ludah. Bola matanya berputar, "Maksud Anda?"
"Jangan berbicara formal padaku." Miyu tertawa, menggaruk rambut yang tidak gatal. "Begini-begini, aku laki-laki."
"Kalau begitu Yaotome-san--"
"Miyu saja."
"Miyu-san," putus Tenn, "Aku tidak tertarik jadi pengasuhnya. Mungkin aku memang suka anak-anak, tapi dia--" menunjuk Erin, "--pengecualian."
"Sayang sekali." Miyu mengelus rambut Erin, "Yang Mulia sangat membutuhkan orang lain yang bisa menjinakkan Pangeran."
"Maksudmu aku bisa menjinakkannya?"
"Tentu saja, aku tidak pernah melihat Erin menggandeng tangan orang lain selain Yang Mulia." Wajah Miyu berubah sedih. Sadar kalau dirinya tidak bisa meluluhkan hati sang putra mahkota, malah jadi korban penganiayaan Pangeran.
"Ibu Pangeran meninggal saat usianya masih kecil. Belum lagi kesibukan ayahnya. Dia anak yang baik, hanya kurang perhatian saja."
Tenn menyimak. Teh krisan yang dihidangkan sudah dingin. Tiramisu yang ada di atas meja juga tidak tersentuh sedikit pun.
"Kenapa kau memilih jadi Selir? Padahal kau punya pilihan lain."
"Entah..." Miyu menatap jauh ke depan. Ingatan kejadian beberapa tahun silam kembali merasuk.
"Yang ku ingat hanya, aku sangat depresi ketika menemukan keluargaku meninggal dalam ekspedisi kerajaan. Aku hanya punya ayah, ibuku meninggal saat aku masih kecil. Aku bingung harus melanjutkan hidupku, karena ya... aku sendirian, tidak punya sanak keluarga."
"Kemudian Yang Mulia datang. Awalnya aku menganggapnya aneh, maksudku aku ini pria, dan dia juga pria. Tapi malah melamarku."
Miyu tersenyum, "Mungkin waktu itu aku sedang gila, sampai-sampai aku mau jadi Selirnya yang keempat."
"Tapi dia memperlakukanku dengan sangat baik." Miyu menoleh, membuat Tenn heran dengan harem yang satu ini. Wajahnya kelihatan bahagia, alih-alih cemburu atau sedih menjadi harem Raja.
"Kau senang dimadu?" Tenn heran.
"Rasanya tidak seburuk itu, kau harus mencobanya." Miyu mengucapkannya dengan santai. Sesantai ia menawarkan Tenn untuk mencicipi tiramisu di meja.
"Entah kau masokis atau terlalu mencintainya." Bodoh.
"Awalnya ku pikir hanya akan dijadikan pemuas nafsu, tapi Yang Mulia tidak begitu. Dia lembut padaku, pada semua Selirnya maksudku." Miyu mengoreksi.
"Dia memperlakukan ku dengan penuh hormat. Tidak pernah memaksa untuk memenuhi kebutuhan badannya. Dia juga sering mengajakku mengobrol, seperti tadi."
Tenn masih tidak mengerti. Kalau dia jadi Miyu, ia tidak akan mau terkurung di sangkar emas ini. Katakanlah kehidupan seorang Selir adalah kehidupan yang bergelimang kemewahan. Tinggal tunjuk dan pelayan akan membawa apa yang kau minta.
Namun semewah apapun kehidupan seorang harem, mereka tidak akan bisa merasakan kebebasan. Mereka diikat aturan tak tertulis. Hidup mereka hanya ditunjukkan untuk satu orang saja.
Rasanya seperti hewan ternak saja.
Kau dipelihara dengan baik, kemudian suatu saat diambil untuk dijadikan korban.
"Bagiku kehidupan Selir masih terasa suram."
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Yang Mulia, tapi sebaiknya jangan terbawa masa lalumu."
Tenn mengernyit.
"Jangan buat apa yang terjadi di masa lalu membatasi kebahagiaanmu. Mungkin dia pernah menyakitimu, tapi siapa tahu, dia jugalah yang akan membahagiakan mu."
Tenn makin tidak mengerti maksud Miyu. Apa bersama Gaku membuatnya bahagia? Bagaimana mungkin ia bersama Gaku setelah mengucapkan keinginannya.
Kalau ia ingin Gaku menjauh, kemudian berkata sebaliknya, bukankah itu kontradiksi?
Tenn pria sejati, ia jantan. Dan pria sejati tidak akan menjilat ludahnya sendiri.
"Aku... tidak mengerti. Jadi maksudmu aku harus berada di sampingnya untuk bahagia?" Jujur, prospek bersama Gaku dalam jangka waktu tidak diketahui, tidak termaksud dalam rencana hidupnya.
Miyu menggenggam tangan Tenn. "Kau tidak harus mengerti sekarang, masih banyak waktu untuk itu."
Sekali lagi, Tenn tidak mengerti dengan seluruh isi istana ini. Semuanya tampak begitu mencintai Gaku. Meskipun dia kejam, menyebalkan, dan suka seenaknya sendiri.
Apa karena dia dianggap sempuran? Yang benar saja, Tenn percaya kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Tapi mungkin benar kata Miyu. Tenn masih muda, masih punya banyak waktu.
.
.
.
.
.
TBC
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Jreng~ Jreng~ Jreng~✨
Akhirnya Erin muncul✨
Ah karekter fav selain Vida✨
Pastinya ada yang bingung kenapa Riku ga ada tapi Erin ada. Soalnya Lucian pengen bikin suasana dendam si Tenn itu memang beralasan sama Gaku jadi kalo jadi author antagonis ga boleh setengah-setengah✨
Dan alasan Lucian menambah Erin karena ada komen dari seseorang yang meminta book Gakutenn ini bisa muncul tanpa One shoot✨
Waktu dipikir selama hampir 1 bulan, akhirnya kepikiran boleh juga tuh✨
Makanya Erin muncul✨
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top