Chapter 2

Tenn memeluk dirinya sendiri, pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Gaku bilang dia sedang tertarik pada seorang wanita berambut merah muda. Berapa banyak orang yang memiliki rambut berwarna merah muda seperti kelopak bunga sakura yang baru mekar di kerajaan Venesia? Jawabannya hanya satu, minus ibunya yang sudah meninggal.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan kalau Gaku tertarik padanya. Sekujur tubuh Tenn merinding saat memikirkannya. Yaotome Gaku terkenal dengan kemampuannya memikat hati para wanita. Terbukti dari jumlah selir dan wanita simpanannya. Dan kejadian ibu-ibu barusan, sudah sangat dapat menyakinkan kalau Gaku adalah lady killer.

Selain seorang penakluk wanita, dia juga orang yang keras kepala. Prinsipnya adalah mendapatkan semua yang diinginkan. Bahkan semua kata yang terucap dari mulutnya dianggap kebenaran, sementara orang lain adalah makhluk tercela yang serba salah. Tenn berdecak sebal ketika Gaku selalu membawa-bawa soal prinsipnya itu. Bukankah dia juga seorang manusia biasa? Bagaimana bisa pria ubanan itu begitu percaya diri mengaku kalau dirinya tidak pernah salah? Tenn bahkan terkadang berpikir, pasti kepalanya Gaku sering terbentur dulu sewaktu ia masih balita.

Tenn merapatkan jubahnya. Setelah berjalan melewati air terjun--sebenarnya jika kau melewati air terjun, ada sebuah gua yang menuju dunia luar. Itulah jalan rahasia yang selalu digunakan Tenn untuk kabur dari Gaku--setelah sesi meramal yang menyebalkan, ia terpaksa melewati jalan yang gelap dan lembab untuk sampai ke ujung gua. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa lewat jalan yang sama saat ke lokasi air terjun. Gaku bisa tahu dimana posisi rumahnya, dan demi menjaga rahasia turun temurun, keberadaannya sebagai manusia biasa harus tetap dirahasiakan.

Yaotome Gaku tidak mengenal Nanase Tenn. Yang diketahui Yang Mulia Yaotome hanya mengenalnya sebagai seorang peramal tua yang bisa melihat masa depan, dan bukan seorang remaja laki-laki bernama Nanase Tenn. Selama kerajaan masih berselisih, Tenn harus bertahan memiliki kehidupan ganda. Sebagai dirinya sendiri, seorang remaja yang masih dalam tahap bertumbuh. Dan seorang peramal tua kesayangan kerajaan Venesia.

Angin musim panas berhembus, membuat gigi bergemeletuk karena kedinginan. Jubahnya basah kuyup, begitu pula dengan bajunya. Melewati celah diantara air terjun itu bukanlah perkara yang mudah, pernah sekali Tenn terpeleset dan hampir hanyut. Untunglah Gaku yang saat itu masih berada di sana tidak menyadari keberadaannya.

Sebentar lagi festival....

Tenn menyibak tudungnya. Ia menatap awan yang berarak diatasnya. Kulitnya yang pucat terkena pancaran sinar matahari, membuatnya terlihat hampir transparan.

Perasaanku tidak enak, apa yang mungkin akan terjadi?

Tenn kembali melangkah melewati hutan, melalui jalur yang berbeda tentu saja. Jalur yang dilewatinya ini banyak ditumbuhi pohon liar yang sedang berbuah seperti apel. Bukan hanya itu saja, sepanjang jalan terdapat pohon peneduh dan bunga liar yang tumbuh disekeliling jalan setapak. Jalan yang indah, tapi hanya sedikit orang yang tahu.

Semoga firasatku salah.

.
.
.
.
.

The Winter War

By

Lucian_Lucy_

.
.
.
.

Kayu bakar kembali dimasukkan ke dalam tungku pembakaran. Gaku masih termenung menatap kobaran api yang melahap kayu.

"Aku melihat mu."

Suara peramal itu kembali terngiang dikepalanya. Jenis suara yang berat dan rendah juga dalam. Seolah dirinya sudah hidup satu abad dan mengalami pahit manis kehidupan.

"Kau bertemu Nicholas, lalu aku melihat kapal datang dan pergi dari arah kerajaan Sicilia. Lonceng gereja, pesta, dan surat."

"Nicholas, kapal, lonceng gereja, pesta dan surat?" Gaku melirik ke arah perkamen di sampingnya, ia mengambil perkamen tersebut. Dibacanya daftar para tamu kerajaan yang akan hadir. Semua nama yang tertulis di dalam perkamen, adalah anggota kerajaan. Mereka yang mewarisi darah aristokrat dalam pembuluh darahnya.

Namun tidak ada orang yang benar-benar diinginkannya dalam daftar itu.

Benaknya kembali mengingat gadis merah muda itu lagi. Senyum miring Gaku kembali terbit saat mengingat gadis itu. Mulai dari rambutnya, matanya, kulitnya yang pucat dan, oh... jangan lupakan bibirnya yang ranum. Sang Raja menyandarkan kepalanya dikursi. Hatinya menghangat tiap kali mengingat gadis itu. Gadis dengan tatapan berani yang berhasil menarik perhatiannya. Membuat Gaku terus bertanya-tanya, siapakah dirinya?

Gadis itu harus dihukum karena membuat Sang Raja menderita karena penasaran.  Dia harus dihukum karena kejahatannya. Jelas sekali, dia adalah orang pertama yang telah melakukan kejahatan terbesar dalam kehidupan Yaotome Gaku.

Gadis itu telah mencuri hatinya.

Gaku menyeringai lebar, hukuman apa yang kira-kira cocok untuk gadis manis itu?

.
.
.
.
.

Mido Torao adalah panglima terkuat yang dihormati seluruh kerajaan Venesia. Selain kekuatannya di medan perang yang tentu tidak perlu dipertanyakan lagi, Torao juga merupakan sahabat dekat Gaku. Dia sangat tahu seluk-beluk baik-buruk Sang Raja. Mulai dari bekas luka dipunggung, sampai bekas bisul dibokong Sang Raja. Torao hafal dengan baik. Sebaik dia menghafal ukuran dada nee-san cantik yang sering digodanya.

Dan saat Sang Raja ubanan menyuruhnya untuk menyelidiki seorang gadis, Torao hanya bisa berdoa dalam hati, semoga sang gadis dapat selamat dari Raja iblis ubanan yang tengah mengincarnya.

"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang," ujarnya. Gaku duduk di dekat perapian, memunggungi tamunya. Torao yang berdiri dibelakangnya mengernyit. Gaku memang terkenal workaholic, sudah sampai di villa indah Albania pun masih membawa soal pekerjaan.

"Tunggu, Yaotome-sama. Bukankah anda berkata ingin berlibur?"

"Tentu saja. Aku yang berlibur, kau yang bekerja."

"O-oh, tentu saja." Torao menahan keinginannya untuk mencakar wajah si ubanan.

"Cari tahu tentang seorang gadis untukku."

"Gadis?" Ulang Torao ragu. Apa Gaku baru saja berkata 'gadis'? Manusia yang memiliki buah dada dan sejenis dengan nee-san cantik yang selalu menunggunya?

"Iya, seorang gadis. Kau tidak salah tangkap. Kulitnya putih pucat, warna rambut dan matanya merah muda, sedikit lebih pendek dariku dan rambutnya pendek."

"Anda baru sehari tiba disini, dan sekarang anda ingin mencari pelacur Yang Mulia?"

Torao dapat merasakan lirikan tajam Gaku. Ia menelan ludah kasar. "M-maafkan hamba Yang Mulia... B-bukan maksud hamba menyinggung perasaan anda. Hanya saja rasanya baru kemarin anda tiba.... Untuk mencari wanita, hamba rasa itu terlalu.... Emhh..."

"Aku tidak berniat untuk menjadikannya pasangan satu malam, Rajamu ini adalah pria terhormat yang sedang tertarik dengan seorang gadis. Aku bisa saja menyambanginya secara langsung, tapi aku sama sekali tidak tahu apapun tentangnya."

"Baiklah, saya akan mencari tahu." Torao undur diri, namun suara dingin Gaku kembali terdengar.

"Ingat, ini permintaan pribadi. Jangan libatkan pasukanmu."

"Baiklah," Torao menutup pintu kamar. Doanya masih sama. Semoga gadis itu bisa selamat dari cengkraman kokoh Sang Raja iblis bernama Yaotome Gaku.

.
.
.
.
.

Mido Torao adalah panglima terkuat yang dihormati seluruh kerajaan Venesia. Selain kekuatannya di medan perang yang tentu tidak perlu dipertanyakan lagi, Torao juga merupakan sahabat dekat Gaku. Kini ia sedang menghela napas dengan putus asa. Bersandar pada dinding bata rumah bordil. Memperhatikan setiap orang yang melewati tempat maksiat paling terkenal di desa Albania ini.

Jangan salahkan Torao dan otak mesumnya, karena permintaan si Raja ubanan itu langsung mengirim sinyal yang salah ke otak. Cari gadis = tempat dimana banyak gadis berkumpul = ingat kepribadian Sang Raja = Raja ubanan punya kepribadian brengsek dan playboy = wanita yang sesuai dengan Raja = pelacur = tempat pelacur? Rumah bordil.

Torao sudah berkeliling ke seluruh rumah bordil di desa Albania, namun hasil kerja kerasnya berbuah gelengan dari pemilik rumah bordil. Sudah ia hubungi tiap mucikari yang dikenal, dan hasilnya juga masih tetap sama.

Tidak ada yang tahu tentang gadis pujaan hati Gaku.

Setelah merenung sejenak, Torao kini bisa mengambil kesimpulan yang tepat. Gadis itu pasti tipe yang baik-baik. Kasihan dia, harus jadi korban berikutnya Sang Raja. Kemudian ia memutuskan untuk berkeliling desa. Tujuan pertamanya adalah pasar. Tempat yang sempurna untuk melakukan pengintaian.

Pasar Albania adalah tempat yang ramai. Meskipun jam sudah menunjukan tengah hari, pasar masih tampak dipenuhi orang-orang. Para pedagang masih berteriak dengan semangat dibalik tenda, sementara para pejalan kaki masih memenuhi jalan berbatu. Toko-toko yang terletak apik di kanan-kiri jalan semakin menambah pesona desa kecil ini.

Mata Torao terus mengawasi. Mulai dari perempuan bergincu merah menyala, anak kecil dengan ingus diwajah, nenek tua yang sedang menjajakan dagangan, sampai pemuda tanggung yang sedang merokok. Semuanya tak luput dari perhatian Torao.

Baru maju selangkah, Torao merasakan bahunya tertabrak dari belakang. Saat menoleh ke belakang, yang bisa di dengan hanya suara permintaan maaf, namun tidak ada tanda-tanda ada orang yang berdiri disana. Saat berbalik ia harus menahan keterkejutannya, karena seseorang sudah berdiri dihadapannya. Wajahnya menunduk, sosoknya terus melirik ke belakang punggung Torao. Karena penasaran, ia ikut menoleh ke belakang. Tapi ia tidak menemukan apapun, hanya ada para pedagang yang sedang sibuk dengan dunianya.

"Kau kenapa?" Tanya Torao heran. Sosok yang terus menunduk itu kini mendongak, memperlihatkan iris matanya yang berwarna mawar lembut. Kulitnya yang putih pucat terkena sinar mata hari, membuatnya tampak transparan disaat yang bersamaan. Rambutnya yang berwarna seperti kelopak bunga sakura pertama yang baru mekar tertiup angin, mengirim efek dramatis pada Torao. Kini Sang Panglima terkuat kerajaan Venesia berdiri kaku saat melihatnya.

Mendadak Torao tahu, definisi malaikat yang sebenarnya.

Bola mata mawar lembut itu menatapnya dengan datar. Mengingatkan Torao pada ekspresi menggemaskan kucing yang manja. "Maafkan aku," ucapnya pelan. "Aku tidak sengaja menabrak mu."

Torao mengangguk. "Kau tidak apa-apa? Kenapa kau berlari seperti itu? Dimana kedua orang tua mu?"

"Maaf, tuan. Aku sudah 18 tahun, dan cukup dewasa tanpa ditemani orang tua." Ucapnya dengan nada kesal.

"Yakin, bukannya kau baru masuk sekolah menengah?"

"Tidak tuan." Balasnya sengit. Ia bersiap pergi kalau saja Torao tidak memanggilnya lagi.

"Nona! Kau melupakan keranjang mu!"

"Aku ini LAKI-LAKI!" Tanpa aba-aba, sang malaikat baby pink berbalik, dia menatap dengan jengkel sebelum kembali ke tujuan awalnya. Torao berlari mengejarnya, dan dengan mudah dapat menyejajarkan langkahnya dengan (katanya) pemuda yang sedikit ambigu.

"Tapi kau tidak terlihat seperti seorang laki-laki."

"Aku ini laki-laki tulen, tuan. Aku punya 'itu' dan dadaku rata."

Torao mengamati 'laki-laki' di sampingnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

Menggunakan sepatu boot selutut yang bisa dikenakan perempuan, cek.
Benar-benar kebiasaan anak gadis.

Badan ramping dan mungil cek.
Tidak ada yang tidak akan tertipu.

Kulit pucat, cek.
Para perempuan pun akan iri dengan kulitnya yang sangat halus dan seputih susu.

Wajah cantik dengan bibir ranum, cek.
Dia benar-benar penipu sejati.

"Maafkan aku nona, tapi aku benar-benar tidak percaya."

Sang nona menghela napas. Ia menarik tangan Torao yang berada di dagu. Torao merasakan kain katun menyentuh kulitnya saat nona itu melekatkan tangan sang panglima perang di dadanya.

Hmmm..... Benar-benar datar. Tidak ada terjal-terjalnya.

Mido Torao adalah panglima terkuat yang dihormati seluruh kerajaan Venesia. Dan kini ia harus mengheningkan cipta diam-diam. Bagaimanapun juga, Sang Raja ubanan itu telah tertipu dengan epiknya. Torao harus menyiapkan kalimat terbaiknya, untuk mengatakan pada Sang Raja, bahwa malaikat baby pink yang berdiri di sampingnya adalah seorang laki-laki dan bukan gadis.

Kira-kira, bagaimana reaksi Gaku nanti, ya?

.
.
.
.
.

Seminggu sebelum festival semakin membuat pasar lebih ramai dari yang biasanya. Para pedagang mulai menjajakan berbagai macam lampion dan lilin berwarna merah sepanjang jalan. Suasana ramai dan suara gelak tawa pedagang musiman yang kebanjiran rezeki terdengar dengan jelas ditelinga Tenn.

Tenn kembali lagi ke pasar. Ini memang belum seminggu semenjak kunjungan terakhirnya. Tapi firasatnya mengatakan untuk berada di tempat ini. Menanti entah apa, menunggu ilham yang tak diketahui.

Ia menelusuri seisi pasar. Berharap menemukan sesuatu, petunjuk apapun. Tapi berada dikeramaian seperti ini tak bisa membuat Tenn menemukan apa yang ia cari. Ia harus pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Menara pengawas.

Menara pengawas terletak di ujung pusar. Hulu dari desa Albania. Di samping menara tersebut, terdapat sebuah gedung teater tua yang akan menampilkan drama yang sama setiap kali festival sedang berlangsung. Selain itu, ada juga lapangan luas yang biasa digunakan untuk mengumpulkan orang-orang.

Tenn memutuskan untuk pergi ke menara. Siapa tahu dia bisa mendapatkan sedikit pencerahan dari masalah yang tengah dihadapinya.

Namun, terkadang takdir itu lucu.

Mungkin karena atmosfer festival yang sebentar lagi datang, pasar jadi lebih liar daripada yang kemarin. Saking liarnya, Tenn terjatuh lagi. Kali ini seseorang menabraknya dari belakang. Ia jatuh ke depan. Dengan lutut menghantam jalan berbatu.

"Maaf, aku tidak sengaja--eh? Bukannya tadi aku menabrak sesuatu?"

Tenn berdiri. Berbalik badan. Siap melontarkan kalimat terpedasnya.

"Tuan, kau--" Tenn tergugu. Lidahnya kelu. Matanya membesar.

Orang yang menabrak Tenn tersenyum. Bibirnya melengkung--menyeringai lebar. "Maaf, aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja?"

Detik berikutnya, Tenn angkat kaki dari tempat tanpa permisi sedikitpun.

Mengetahuinya, orang itu menarik pergelangan tangan Tenn. Menggenggamnya erat, menarik sampai kembali menghadapnya.

"Kau sungguh tak sopan nona, bukankah aku baru saja berbicara denganmu? Tidak seharusnya kau meninggalkan aku, bukan begitu?"

Helai rambut pirang sang lawan bicara tertiup angin pelan. Tinggi si pirang benar-benar timpang dengan Tenn. Nanase Tenn--jika disejejerkan dengan lawan bicaranya, terlihat seperti peri mungil polos yang akan dinodai.

"Lepaskan tanganku." Tenn menarik tangannya tapi tidak bisa. Si pirang malah menariknya, membawa tubuh Tenn mendekat. Leher jenjangnya kini melengkung, membuat Tenn bisa melihat sebuah tato berbentu sulur tercetak jelas.

"Kau cantik." Bisik si pirang pelan.

Dunia membeku sesaat. Tenn menahan napas. Wajah si pirang semakin mendekat, napasnya menari-nari diwajah Tenn. Sensai hangat yang membuat geli karena wajah mereka hanya berjarak 2 jengkal.

Dan kini semakin dekat karena si pirang mendekatkan wajahnya dengan dimiringkan. Seolah ingin mencium bibir sedap dihadapannya.

"Raja Yaotome menggelepar di jalan."

"Hah?"

"Raja Yaotome menggelepar di jalan!"

Pria pirang menoleh ke belakang. Tidak menemukan apapun. Hanya ada keramaian orang-orang di pasar. Saking fokusnya ia tidak melihat, ia terlambat menyadari seseorang dihadapannya sudah melepaskan diri.

"Oi! Tunggu!" Sang mangsa sudah lari terbirit-birit. Tabrak sana-sini, dan gumaman permintaan maaf terus terucap dari bibirnya. Tenn hanya menatap lurus ke depan, berharap si pria pirang tidak mengejarnya.

Disaat ia menoleh kebelakang, pria itu sudah tidak mengejarnya lagi. Tenn menghela napas dan kembali menghadap ke depan. Tapi, tubuhnya malah menabrak sesuatu. Ketika mendongak, ia hanya bisa melihat seorang pria gagah lain dihadapannya.

"Maafkan aku," Tenn menatap pria itu dengan datar. "Aku tidak sengaja menabrakmu lagi."

Seorang pria tinggi yang kemarin ditabraknya ternyata yang sudah menghalangi jalannya.

Hei! Harus berapa kali lagi Tenn merasa terintimidasi karena perbedaan tinggi badan?

"Kalau begitu nona--maksudku anak muda--"

Perkataan Torao harus terpotong oleh sebuah jeritan seorang wanita yang melengking tinggi. Ia menoleh, para warga telah membentuk lingkaran ditengah-tengah jalan. Torao menuju sumber keramaian.

Matanya membesar saat melihat seorang pria tewas dengan luka tusukan diperut.

"Apa kalian polisi?" Tanya Torao pada sekelompok pria berpakaian abu-abu. Seorang pria berbalik, terkejut saat menemukan salah seorang dari petinggi kerajaan Venesia sedang berada ditengah-tengah kekacauan.

"Ah, komandan!" Pria itu membungkuk. "Iya, kami polisi di desa ini."

"Apa yang terjadi? Kenapa pria itu bisa--" Torao ke arah pria malang dengan belati perak yang menancap di perut.

Sadis, siapa orang yang sudah melakukan semua ini? Pembunuhan di muka umum?

Dunia sudah gila!

"Kami masih menyelidiknya, komandan. Menurut para saksi, korban ditemukan tiba-tiba terjatuh dengan keadaan tertusuk."

Torao mengelus dagu mulus tanpa jenggotnya. Meski kulitnya putih-putih kecoklatan begini, dia orang yang suka menjaga kebersihan diri sendiri. Soal isi otak jangan ditanya, karena pada kenyataannya semua laki-laki itu mesum.

Kalau tidak mesum cuma ada dua kemungkinan, impoten atau aseksual.

Matanya berkilat kala melihat belati itu sekali lagi. Torao merangsek maju. Ia berjongkok untuk melihat belati itu dengan lebih jelas. Kemudian ia menggeram saat melihat ukiran di pangkal belati.

Evans

"Kapan persisnya dia ditusuk?"

"A-ah, itu sekita lima menit yang lalu?" Polisi itu menelan ludah gugup. Torao mengeluarkan aura intimidasi yang kuat, membuat siapapun menarik langkah mundur.

"Boleh ku ambil belatinya?"

Para polisi saling lirik. Mereka tersenyum kikuk. Sang pemimpin angkat suara, kapten para polisi itu memiliki warna rambut kecoklatan dengan postur tubuh yang tidak kalah dari Mido Torao. "Silahkan komandan."

Torao tersenyum singkat. Tipis, kejam, dengan mata dingin. Tanpa ragu ia mencabut belati itu dari pria tua yang tubuhnya mulai kaku. Para warga menjerit. Tidak ada yang menyalahkan. Mendapat tontonan sadis di siang bolong bukan agenda mereka.

"Aku serahkan padamu, Kapten Tsunashi Ryunosuke." Torao menepuk pundak Ryuu. Ia menelusup ke kerumunan di depan. Para warga dengan senang hati memberi akses.

Torao memicingkan matanya. Ia harus menemukan seseorang yang bertanggung jawab terhadap semua ini. Dengan belati yang meneteskan cairan kental berwarna merah pekat, ia berlari ke arah hutan.

Tidak mungkin salah, karena sejak tadi ia merasakan tatapan salah satu penonton.

Dia adalah seorang penyusup, dan instingnya mengatakan orang itu berbahaya.

.
.
.
.
.

Sehari setelah kasus penusukan seorang pria di muka umum. Para polisi masih belum menemukan si pelaku.

Keadaan desa Albania sedikit berubah. Ketegangan melanda seisi lembah. Semua orang jadi lebih waspada mengingat kejadian kemarin.

Meskipun begitu, semarak festival berhasil mengendurkan sedikit ketegangan akibat insiden tersebut.

Tenn menghela napas. Dirinya benar-benar ragu sekarang. Niat hati ingin bertemu Gaku, untuk menyampaikan sesuatu tentang mimpinya. Dan soal insiden kemarin, Tenn tahu dengan benar siapa pelakunya.

Apa perlu dia pergi ke Villa Albania? Huh! Tenn masih sayang nyawa. Ia tidak mau mati kalau belum melihat pulau Silchar bebas dari penjajah.

Tenn memijat pelipisnya. Rasa pusing kembali melanda. Ingin tidur, tapi kelopak mata tidak mau menutup. Kalau tidur ia hanya akan mendapat mimpi-mimpi itu lagi. Tenn ingin sehari saja, bebas dari mimpi tentang kematian orang terdekat.

Untuk sehari saja, Tenn berharap ia tidak melihat mimpi yang menyakitkan itu lagi.

"Kaa-san, apa yang harus ku lakukan?" Tenn menatap langit. Menatap ribuan bintang berkilau bak kertas hitam yang terlalu banyak diberi glitter oleh anak kecil saat membuat kartu ucapan ulang tahun untuk ibunya.

.
.
.
.
.

"Kau masih belum menemukan pelakunya?"

Torao menggeleng. "Maafkan kami, Yang Mulia. Para polisi dan detektif setempat sudah bekerja sama, tapi tampaknya para pelaku sudah melarikan diri keluar dari Venesia."

"Jadi pelakunya dari negeri seberang, huh?" Gaku mendengus. Peramal itu benar lagi. Nicholas mulai melakukan serangan. Sepertinya ia harus menarik pedangnya kembali. Akan ada pertumpahan darah di waktu dekat.

"Soal belati itu," Torao mendongak, menatap Sang Raja yang duduk nyaman di kursi empuk, sementara dirinya sedang bersimpuh dilantai yang dingin. "Belati itu memang dari kerajaan Sicilia. Kayu yang digunakan untuk membuat gagangnya hanya tumbuh di pulau Silchar."

Gaku sangat paham apa yang sedang terjadi sekarang.. Ia memberi isyarat lewat dehuman singkat tanda Torao boleh keluar dari ruangannya dan melanjutkan misi yang diberikanya.

Torao mengangguk, "Kalau begitu, saya permisi dulu." Ia keluar dan menutup pintu.

Gaku menghela napas lelah. Ia memandang belati yang berada ditanganya. Belati itu kini bersih, tidak ada noda darah seperti saat pertama kali ia membawanya. Gaku tidak tahu harus berekspresi apa saat Torao membawa belati berlumur darah, alih-alih gadis polos yang didamba.

Belum lagi soal kasus pembunuhan. Dunia seolah sedang berkonpirasi. Dunia seolah-olah tidak mau mempertemukan Gaku dengan si gadis tomboy. Tidak masalah, kalau dunia tidak mau mempertemukan mereka, maka Gaku sendiri yang akan berkunjung secara langsung ke hadapan sang gadis. Akan dicarinya sang gadis, meski ke dalam lubang semut sekalipun.

Dan soal belati, ada yang aneh dengan belati ini. Gagangnya terlalu longgar. Mana mungkin pembunuh dari negeri seberang--yang rela menyeberangi pulau, mengarungi segala rintangan dan hambatan--membawa senjata macam ini.

Gaku beranjak dari duduknya. Ia melilitkan kain pada sisi tajam belati. Kemudian ia menarik belati keluar dari gagang. Dalam sekali sentakan, ia berhasil melepas belati dari gagangnya.

Jangan remehkan kekuatan Gaku. Wajah boleh kalah sangar dari anak buah. Tapi dimana-mana, bapak buah selalu punya kuasa diatas anak buah. Dalam hal ini Gaku perkasa, bukan hanga soal tenaga, tapi juga soal itunya.

Seringa tampak dibibirnya saat melihat ada sebuah kertas yang mengelilingi rongga kosong belati.

Isinya singkat. Hanya tiga kata. Isinya bukan kata-kata I love you, bukan juga kata-kata You are handsome. Bukan! bukan!

Gaku menyeringai kejam. Matanya menajam, jenis padangan yang akan membuat siapapun berpikir kalau dirinya adalah seorang psikopat.

Kalau Nicholas dan para pengikut sialannya itu ingin bermain-main, maka Gaku akan memberikan permainan terbaiknya.

Karena isi dari kertas itu adalah.....

F*ck you, Yaotome!

.
.
.
.
.

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top