12

*

*

Selamat membaca

*

*

"SILAKAN." Alfa mengulurkan tangan ke arah pintu sambil berdiri miring, dan Ghina ikut memosisikan diri miring lalu jalan dengan canggung. Tempat itu cukup luas untuk dua orang berposisi normal, bukan tempat sempit seperti di samping kedai kopi. Entah untuk apa, keduanya kompak melakukan itu.

Alfa terus menatapnya, dan Ghina makin waspada.

Pintu nyaris terbuka, dan Alfa sudah membelakangi Ghina dan naik satu pijakan. Namun, Ghina melakukan ketololan yang dia sesali setelahnya.

"Eh? Kenapa naik ke situ?" Sudah telanjur, jadi Ghina memasang wajah galak ketika Alfa berbalik dengan kening mengerut.

"Kenapa?"

"Seharusnya saya yang tanya kenapa?" Ghina menjauh sedikit dari pintu lalu menunjuk tangga menuju lantai tiga itu. "Lantai itu nggak bisa dimasuki sembarang orang, karyawan saja cuma tertentu yang bisa naik. Eh. Tunggu deh..." Dia melipat tangan di depan dada, mengobservasi apa yang sedang dia hadapi. Untuk apa Alfa datang ke kantornya? "Ini bukan rumah sakit, bukan apartemen, bukan juga tempat jual kopi. Dan jarak 3 tempat itu jauh dari sini, terus kenapa Dokter ada di sini? Apa—"

Kalimat Ghina menggantung ketika terdengar derap langkah yang lebih keras dan cepat, tidak sempat melanjutkan atau memperhatikan reaksi Alfa, pemilik langkah lain itu muncul di ujung tangga. Dua pria. Satu bersetelan resmi, yang lain bergaya santai seperti Alfa. Seperti Alfa tadi, dua orang itu juga terkejut melihat Ghina.

Tidak memikirkan apa pun, Ghina segera menunduk. "Selamat siang, Pak Alby." Ketika Ghina mengangkat kepala, Alby sedang memandang Alfa—terlihat ragu. Sementara pria yang baru dia lihat melesakkan kedua tangan ke saku jaket bomber polos navy, sangat serius mengamatinya seolah dia ini fosil langka yang tidak sengaja ditemukan. Kening mengerut, memiringkan kepala, beberapa kali berdecak.

"Ab..." Alby tiba-tiba bersuara.

Dan si pria berkulit lebih putih itu langsung mengeluarkan dan menggoyangkan ponsel. "Pita telepon, nanti gue susul kalian ke atas." Kemudian, pria itu menuruni tangga sangat cepat seolah dikejar maling.

Dengan ekspresi dingin, Alby menghilangkan rasa penasaran Ghina pada pria yang turun barusan. "Selamat siang juga, Ibu Ghina. Ada hal yang penting di tangga darurat ini?" Alby mengangkat satu tangan dan melihat arloji. "Setahu saya, ini bukan jam istirahat. Dan ini bukan pantry, yang menyediakan kebutuhan buat mengembalikan kesegaran kerja."

"Saya ... baru dari lantai satu. Sengaja naik tangga biar sehat, terus nggak sengaja ketemu tamu ini. Mau naik ke lantai tiga, saya tahan. Kata Pak Gun, lantai itu bukan buat sembarang orang. Karyawan, apa lagi tamu," sahut Ghina dengan suara tegang, makin merasa bodoh dengan bualan baru naik. Tatapan tenang Alfa, makin membuatnya gugup.

Alby mengangguk maklum. "Karena kamu karyawan baru, wajar kalau kamu nggak kenal dia. Alfarezi Bagaskara, sepupu saya, salah satu pemegang saham di perusahaan ini."

Suhu tubuh Ghina meningkat drastis, nyaris berteriak, tapi berhasil dia tahan. Pemegang saham? Sepupu? Alby Bagaskara---Alfarezi Bagaskara? Pantas saja sifat-sifat menyebalkan dan mengitimidasi dua pria itu mirip.

Alfa kembali menuruni tangga, menghampirinya. Anehnya, Ghina menunggu Alfa mengakui bahwa mereka sudah kenal—bahkan sering bertemu. Namun, pria itu justru mengulurkan tangan dan bersikap seolah mereka ini orang asing. Tunggu! Mereka memang orang asing, kenapa harus dipermasalahkan.

Ghina merain tangan Alfa, merasakan jabatan kukuh pria itu. "Salam kenal, Ibu Ghina."

Dan Ghina harus memaksa wajahnya tetap netral. Menjejalkan banyak pikiran positif di otaknya, seperti lebih baik bersikap tidak kenal, daripada omongan menyebalkan lain muncul.  Lagipula, dia dan Alfa tidak kenal-kenal banget. Hanya kebetulan satu apartemen dan ini.

Ghina mengangguk percaya diri, lalu tersenyum sopan. "Salam kenal juga, Pak Alfarezi. Saya Ghina, arsitek baru di sini. Semoga untuk ke depannya hasil kerja saya bisa memuaskan Bapak."

Dari sudut matanya, Ghina melihat Alby menaikkan satu alis dan mencebik, lalu tersadar dia masih memegang tangan Alfa. Tergesa dia menarik tangan dan sikunya menabrak tembok sangat keras. Sebelum dia mampu merasakan nyeri, pria itu lebih dulu meraih dan membawa tangannya menuju bibir, detik selanjutnya tiupan lembut menyapa kulit sikunya.

"Kamu ini, ceroboh. Sakit?" tanya Alfa sambil terus meniup ujung siku dan mengusap lembut dengan ibu jari, yang merah sedikit pun tidak ada.

Lidah Ghina kelu, dia mengerjap beberapa kali dengan bibir terbuka sedikit. Beberapa kali pandangan mereka bertemu, tapi Alfa seperti ada di dimensi lain. Seolah mereka punya hubungan lebih dari sekadar oaring asing dengan banyak pertemuan kebetulan. Sampai dehaman Alby terdengar, Alfa berhenti meniup—melepaskan tangannya—lalu memunggungi Ghina begitu saja.

"Ayo naik, By," perintah Alfa, langsung menaiki beberapa anak tangga sekaligus, meninggalkan Ghina bersama keterkejutannya. Begitu pun Alby, menyusul Alfa, mengabaikan Ghina.

Ghina mengembuskan napas yang sedari tadi dia tahan. Mengerjap, menggeleng pelan, cepat-cepat memeluk diri sendiri yang merinding dengan kejadian beberapa detik tadi. "Kayaknya tempat ini angker, sampai si muka tembok bisa lembut." Jari-jari Ghina mendarat di titik perhatian Alfa tadi, mengusap ulang. Lagi, dia mengembuskan napas, kali ini lebih panjang.

Tidak mau dapat masalah, karena menghilang cukup lama, Ghina keluar dari area tangga darurat. Belum juga dia mencapai meja, sudah ada yang memanggil dan memberikan informasi horror, lebih horror dari kejadian Alfa mengusap tangannya.

'Ghina, ke mana aja? Lo dicariin Pak Steven tadi, katanya mau meeting sama klien. Sekarang doi di parkiran, nungguin lo di sana. Udah 10 menit.'

Kalimat protes; kok nggak ada yang cariin gue? Atau, kan tadi Dewi lihat gue ke tangga darurat, bisa cari ke sana. Ditelan bulat-bulat Ghina sampai tenggorokannya sakit. Dia mengambil tas, note books, lalu melesat turun lewat tangga darurat menuju parkiran. Bulat sudah keyakinannya bahwa dia ini musuh bersama di kantor ini, tidak ada yang menyukainya. Cuma karena alasan paling sampah sedunia. Sialan! Sialan!

Ghina berdiri di depan pintu masuk gedung berlantai tiga itu, memperhatikan jejeran mobil di parkiran, berharap ilmu cenayang tiba-tiba menguasai dirinya. Tidak berhasil. Dia tidak tahu mobil apa yang dipakai Steven, tidak pernah lihat. Jejeran mobil di depannya pun kosong. Lucunya, para satpam yang biasa gagah menjaga di depan pintu tidak kelihatan.

"Kayaknya gue kena sial! Jangan-jangan efek sentuhan si dokter aneh itu. Astaga, Ghina! Lo harus mandi kembang 7 rupa 7 hari."

Suara dehaman maskulin membuat Ghina berbalik. Orang yang dia cari sedang berdiri di belakangnnya, membawa tumbler Starbucks dengan satu tangan. "Ngapain kamu di depan sini, gerak-gerak nggak jelas kayak belatung nangka?"

Ghina menunduk, dengan susah puyah Ghina menahan teriakan atau membalas pertanyaan menyebalkan Steven. Pelan-pelan kepalanya terangkat, lengkap dengan senyum manis. "Katanya, Bapak nyari dan nunggu saya buat ketemu klien."

"Memang."

"Saya dikasih tahu Bapak nunggu di parkiran, jadi saya ... tadi ... nyariin mobil Bapak."

"Iya. Tapi, saya turun lagi. Ambil ini di ruangan."

"Oh. Oke. Jadi ketemu klien kan, Pak?"

"Kamu maunya nggak jadi?"

Ghina makin melebarkan senyum, lalu menggeleng. "Yuk berangkat, Pak. Nggak enak sama klien, kalau kita datang telat."

Steven mengulurkan kunci, memaksa dia menerima benda itu. "Ayo."

"Pak, ini saya yang nyetir?"

"Iya."

Kemudian, Steven melewatinya menuju mobil Honda New Civic hitam di depannya. Ghina memandangi punggung pria itu sampai Steven berdiri di samping pintu penumpang, memasang wajah angkuh dan memintanya untuk membuka pintu. Ghina mengerjap beberapa kali, tidak percaya Steven baru saja terang-terang menghinannya. Dasar berengsek!

Mungkin dikira Steven, dia ini perempuan beruntung tanpa kemampuan apa pun. Barangkali disangka Steven, dia berhasil menjadi arsitek dengan membuka kaki buat siapa saja yang mempermudah jalan karirnya.

Brengsek! Brengsek!

Mengentak lantai sekali lagi, lalu Ghina berlari cepat menuju mobil setelah klakson panjang terdengar.


*

*

*

*


Terima kasih sudah mau membaca

Jangan lupa vote dan comment yang buanyak!

Untuk informasi naskah-naskah aku, spoiler, visual, dll. Kalian bisa follow ig

Bagaskarafamily (Bakal ada part spesial sisi Alfa hari ini, kayak sebelumnya juga ada part spesial)

Flaradeviana

Alfabagaskara_

Ghinakamania88 (Khusus akun Ghina ini akan banyak share tentang arsitektur, dll.)


Love, Fla.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top