8. Table Talk

nas's notes: hiii guys! sebelum weekend berakhir, akhirnya aku bisa update part 8.
kalau kalian ingin kirim pesan atau pertanyaan anonim di tellonym, tentu saja bisa lewat link di bio atau wall wp. kalian juga bisa interaksi di twitter/ig kayak kasih review atau kirim sg. cari uname aku @ gemeinschweft juga bisa, kok. boleh juga search # aurinkari-nya di X untuk mencari konten seputar giandra dan nicholas ini :D
semoga ceritaku ada yang baca dan juga aku bisa menyelesaikan cerita ini secara cepat, tunas, dan baik. Aaaminn Ya Allah.
Terima kasih sudah berkunjung dan happy reading yaa! <333
✮⋆˙
Raka Purnomo:
Hi, Akbar.
Apa saya bisa mendapatkan nomor sepupumu?
Akbar Pradana:
Giandra?
Raka Purnomo:
Ya.
Akbar Pradana:
Tentu.
0821XXXXXXXX.
Raka Purnomo:
Oke.
Giandra masih tinggal di Permata Hijau dan masih bekerja di Forest Green?
Akbar Pradana:
Ya, Pak.
Raka Purnomo:
Got it.
Terima kasih, Akbar.
Minggu ini kamu pergi main golf?
Akbar Pradana:
No worries!
Akan aku kabari, Pak.
Raka Purnomo:
Siap, Akbar.
Raka mengakhiri pesannya dengan Akbar Pradana dan menutup kembali layar ponsel. Kini, ia melihat keberadaan sekretarisnya, Tio, yang sudah ia nantikan. Tio adalah wanita berusia akhir 20-an yang selalu berpenampilan rapi dan menggunakan riasan yang didominasi warna pink.
"Apa kamu sudah bawa buku-bukunya Giandra Euphrasia?"
Sekretaris itu langsung menaruh beberapa novel tebal dengan sampul hard cover dan menjejerkannya agar Raka dapat melihat semuanya secara keseluruhan. "Saya berikan cetakan asli Amerika Serikat punya saya. Pertama ada A Grain of Salt, karya debutnya, setelah itu ada Somebody, The Favourite, dan The Portfolio."
Saat Raka membuka salah satu buku yang berjudul A Grain of Salt, ia menghela napas. Raka memang bisa Bahasa Inggris dan ia dikenal sebagai salah satu pejabat yang cakap berbahasa asing—selain Presiden dan Menteri Luar Negeri. Masalahnya adalah Raka sedang tidak ingin memacu otaknya dengan membaca buku Bahasa Inggris.
Tujuan Raka adalah untuk menarik perhatian Giandra, bukan untuk memperkaya wawasan literasinya.
Lelaki itu langsung menampilkan ekspresi yang tidak menaruh minat untuk membaca beberapa halaman pertama. Bukan karena tulisan Giandra tidak menarik, tetapi Raka memang malas.
Tanpa sengaja, Raka langsung membuka buku fiksi milik Tio secara kasar. "Saya lagi malas baca yang Bahasa Inggris. Kemarin saya habis telepon sama Minister of Culture-nya Brazil dan kepala saya ngebul. Energi saya terkuras kalau harus baca yang Bahasa Inggris lagi. Kamu tidak punya yang versi Bahasa Indonesianya?"
Tio terkejut dalam hati saat mendengar perkataan Raka. Terutama saat ia harus melihat cara lelaki itu memperlakukan buku-buku yang ia beli sendiri. Saya membeli semua buku ini dengan gaji saya selama mengekori bapak dan saya berekspektasi bapak bisa membaca semuanya dalam Bahasa Inggris—Bapak, 'kan, lulusan National University of Singapore dan Yale University. Wanita muda itu hanya membatin pasrah.
"Saya hanya memiliki cetakan Bahasa Inggris. Kalau Bapak mau baca cetakan Bahasa Indonesianya, saya belikan atau carikan di Perpustakaan Nasional. Bapak mau e-book atau cetak fisik?" Tio berujar dengan beberapa tawaran untuk Raka.
Mengabaikan tawaran dari Tio, Raka memilih untuk melihat bagian Acknowledgments. Saat Raka berhasil menemukan halaman yang dimaksud, ia langsung membenarkan letak kacamatanya. Lelaki itu langsung menaruh perhatian saat mengenali salah satu nama yang menarik perhatiannya.
Acknowledgments
Thank you and kudos to my editor, Nicholas Wiradikarta.
Lelaki itu hanya memberikan ekspresi datar. Ia bisa menyimpulkan bahwa Giandra dan Nicholas memiliki kedekatan sebagai teman dan secara profesional—penulis dan penyuntingnya.
"Jadi Nicholas Wiradikarta ini editor-nya?" Raka berujar sembari membiarkan halaman tersebut terbuka. Kemudian ia menaruh buku itu tepat di atas meja kerjanya.
"Ya, Pak. Nicholas sudah menjadi penyunting Giandra sejak buku pertamanya," jawab Tio dengan perasaan hati-hati.
Raka mengangguk dengan perlahan. Seketika ia menaruh perhatian terhadap hubungan Giandra dan Nicholas. Terutama Nicholas, lelaki yang terlihat mapan dan cakap, berhasil menarik atensi Raka saat datang ke pernikahan adik dari Alya Jusuf. "Sebenarnya Nicholas ini sudah ada pacar atau belum, ya?"
"Kenapa Bapak bertanya soal statusnya Nicholas?" Tio itu membalikkan pertanyaan dan menatapnya bingung.
Raka langsung membalas pandangan Tio dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Akan tetapi, memang pertanyaan tersebut murni kesalahan Raka dan mulutnya yang asal ucap. Dari kacamatanya, ia melirik kembali ke arah buku-buku cetakan Bahasa Inggris yang sudah dibawakan oleh sekretaris. Mengingat jadwalnya yang padat dan buku Giandra yang tebal, Raka sudah telanjur malas jika harus meluangkan waktu dan membuka semua lembaran buku. Meskipun penulisnya adalah wanita yang menarik perhatiannya.
"Abaikan saja," ucap lelaki berusia 40-an itu dan ia terpikir sebuah cara untuk menarik perhatiannya Giandra. "Tolong kamu baca lagi buku-bukunya Giandra dan buat ulasan singkat. Saya tunggu sampai hari Kamis—sebelum saya bertemu Menlu Singapura di Jumat malam."
"Siap, Pak." Tio itu langsung mengambil semua buku miliknya dan berjalan mendekati pintu untuk keluar dari ruangan.
Akan tetapi, Sebelum wanita itu mencapai pintu ruangan kerja Raka untuk keluar, Raka memiliki ide untuk menghubungi Nicholas. "Tolong cari nomor teleponnya Nicholas Wiradikarta, ya. Kemarin saya bertemu di pernikahan adiknya Alya Jusuf. Namun, saya tidak sempat meminta nomor teleponnya," perintah Raka.
Mendengar perintah Raka, Tio hanya menghela napas. "Siap, Pak."
Setelah keluar dari ruangan Wakil Menteri, Tio hanya mengernyitkan keningnya. Pikirannya mulai bekerja dengan perasaan kesal. Wanita itu sangat menyukai karyanya Giandra Euphrasia dan, dengan senang hati, ingin meminjamkan koleksi Bahasa Inggrisnya kepada Raka. Sesuai dugaan, Raka mengerjainya dan memberikan tugas membuat ulasan.
SUMPAH ANEH BANGET. ENGGAK SALAH, NIH, PAK RAKA MEMINTA AKU UNTUK MENULIS REVIEW BUKU-BUKU YANG BAHKAN DIA TIDAK TERTARIK UNTUK MEMBACANYA?! Tio membatin. Ia merogoh saku celana seragamnya dan mengambil ponsel. Saat membuka ponsel pintarnya, ia teringat seniornya di Fakultas Hukum yang bekerja di Kementerian Luar Negeri. Senior itu juga mengenal Nicholas—Thanks to media sosial dan cerita-cerita saat Tio dan seniornya bertemu.
Seketika, terdapat secercah harapan dari kepalanya yang penuh dengan rasa jengkel itu.
✮⋆˙
"Kak Nicky, aku mau nikah, deh."
Hampir saja Nicholas tersedak saat mendengar ucapan Giandra. Lelaki itu tahu kalau Giandra adalah seorang taurus yang kerap ceplas ceplos, tetapi untuk bagian ini, Nicholas tidak menduga kalau perkataan itulah yang keluar dengan sengaja.
Sesuai permintaan Giandra, mereka memutuskan untuk makan malam di restoran sushi yang berada di Pondok Indah Mall. Tidak ada perayaan atau hari spesial, hanya saja kali ini Giandra ingin makan salmon sashimi, chuka idako, aburi salmon roll, hingga wakame salad—yang menurut Nicholas, terdengar seperti kombinasi menu yang sehat dan implusif.
"Siapa yang mau nikah sama toddler kayak kamu?" tanya Nicholas sembari menaikkan alisnya. Tangannya langsung mengambil teh dingin dengan gemetar. Sudah pasti Giandra sedang asal bicara, lagipula memangnya dia mau nikah sama aku? Nicholas membatin dengan perasaan cemas.
Memangnya kamu tidak mau nikah sama aku, Kak? Kini giliran Giandra yang membatin sembari melirik ke arah Nicholas. Pandangannya berpindah menuju sepiring salmon sashimi dan kembali menyantap irisan daging salmon yang sudah menjadi piring keduanya. "Belum tahu. Aku baru saja menghubungi penjahit untuk menjahit kebaya pengantinku," ucap Giandra dengan nada santai.
Lelaki itu hanya tersenyum. Iris hijau kebiruannya tampak memandangi Giandra. Ia sudah tahu kalau Giandra kerap menyiapkan rencananya sendiri. Meskipun dari lubuk hatinya yang terdalam, Nicholas ingin mencuri start dan meminta Giandra untuk menikah dengannya.
"Sudah kuduga kamu akan melakukannya lebih dahulu. Saat aku business trip di London bulan lalu, aku sudah membeli cincin untuk melamar serta jas untuk pernikahanku nanti." Nicholas menanggapi dengan perasaan tidak mau kalah.
Dibandingkan langsung menimpali ucapan Nicholas, wajah Giandra menampilkan raut sedikit kesal. Bibir wanita itu bergetar sebelum merespons dengan nada jengkel. "Kok Kak Nicky sudah bikin persiapan sendiri?! Memangnya kakak sudah ada calonnya?"
Mata Nicholas memandangi ekspresi yang ditampilkan dari wajah Giandra. Ia tertawa lembut dan mengambil potongan aburi salmon roll untuk menambah isi perutnya. "Belum ada. Siapa tahu aku udah lamaran sebelum aku ulang tahun."
"Enggak boleh!" Giandra merespons dengan nada paraunya. "Aku juga mau ketemu calonku sebelum aku ulang tahun. Lihat saja, nanti aku mau minta Sura buat jodohin aku sama orang Jerman!"
Lelaki itu tertawa lembut saat mendengarkan perkataan Giandra dengan perasaan sabar.
"Terus crush kamu gimana?" Nicholas bertanya. Lelaki itu selalu ingat bahwa Giandra punya crush, namun adiknya, Sura, juga menceritakan kalau crush-nya ini tidak jelas dari segala aspek.
Bahkan Nicholas juga tahu dari Giandra kalau wanita itu menolak lamaran seorang Adipati Jawa dan pengacara kondang—yang langsung mengobrol untuk mengutarakan keinginan mereka untuk melamar Giandra. Meskipun yang ia dengar dari orang, Giandra menolak mereka sebelum kedua lelaki itu berkomunikasi dengan para kakek neneknya. Pada akhirnya, Nicholas mendengar rumor kalau Adipati Jawa itu sedang menjalin hubungan dengan anak pejabat.
"Dia ke laut aja. Selalu saja dia tidak peka. Padahal komunikasi ada terus ketemu juga rutin," balas Giandra sembari mengambil potongan salmon aburi roll-nya yang terakhir.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam dan menutup transaksi, Nicholas berencana untuk memutar pusat perbelanjaan yang letaknya dekat rumah keluarganya. Mendengar rencana itu, Giandra tak keberatan. Mereka berdua berjalan mengelilingi mal tersebut dan berbicara banyak hal.
Secara kebetulan, mereka melihat keramaian. Bukan sebuah antrian yang mengular keluar toko. Namun, para pengunjung dari segala umur terlihat sedang mengitari seseorang. Saat petugas keamanan memberikan jalan agar orang tersebut keluar dari kerumunan, seorang wanita langsung mengenali keberadaan Giandra dan menghentikan langkah kakinya.
"Giandra?"
"Oh, hai Bu Kanista."
Mereka berpapasan dengan Kanista Moestadja, Ibu Negara sekaligus istri kedua dari Andhika Pradana. Giandra hanya mengangguk dan benar-benar tidak menduga bahwa ia melihat Ibu Negara pergi ke pusat perbelanjaan. Pemandangan yang tidak biasa, karena publik tahu kalau Kanista ingin berkumpul sama teman-temannya di kediaman pribadi Pak Andhika.
Sejauh yang Giandra ketahui dari sepupunya, Rayan, Ibu Negara baru saja kembali dari jadwal berobat rutin di salah satu rumah sakit. Entah obat jenis apa yang diminum oleh Kanista, tetapi obat itu berhasil membuat wanita itu lebih terkontrol.
Setidaknya, itulah yang dilihat Giandra saat ini, karena biasanya Kanista kerap muncul dan menampilkan perlakukan yang tidak menyenangkan secara lisan dan fisik.
"Kamu kurusan." Kanista berujar saat pandangannya menilai tubuh Giandra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilan yang menurutnya terlalu polos dan memprihatinkan. "Sudah kuduga kamu memang tidak ada niatan untuk menikah sampai menolak pria yang melamarmu itu. Pantas saja kau selalu terlihat polosan dan sekarang jauh lebih jelek. Benar-benar memalukan keluargamu sendiri, ya?"
Giandra yang mendengarnya pun hanya menghela napas. Terdengar seperti orang yang tahu segalanya tentang dirinya dan keluarga. Nicholas melihat situasi antara Giandra dan Ibu Negara terasa canggung dan tidak nyaman. Ia berinisiatif untuk merangkul bahu Giandra lalu menariknya untuk menjauhi wanita tersebut.
"Better you watch your mouth, Mam. That's not wise for you to complain about other people. In public."
Kanista hanya menaikkan dahinya saat mendengar Nicholas mengatakan sesuatu padanya. Giandra menoleh pada Nicholas yang mengingatkan Ibu Negara.
"Apa yang baru saja kamu katakan, Nak?"
"Seharusnya Ibu dapat mengerti ucapanku—Seperti branding-mu. Ibu, 'kan, berpendidikan tinggi, bahkan dulu Ibu pernah bersekolah di Oxford. Benar, 'kan?" sindir Nicholas dengan halus dan kembali memandang Giandra untuk pergi bersamanya."Shall we go, My Dear?"
TBC
Published on July 21, 2024
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top