48. Identification

nas's notes: hiii akhirnya cerita ini sudah masuk 70k views! terima kasih banyak untuk teman-teman readers yang sudah menyempatkan diri untuk baca cerita iniii! (yay)

jangan lupa untuk vomments dan feel free untuk mempromosikan cerita ini ke base. kalau kalian suka baca cerita ini secara offline, boleh nyalakan kuota dulu untuk vote dan habis itu matikan lagi.

ku sering nimbrung di reply base, jadi kalo kalian mau follow twitter aku juga boleh! ketik link tellonym aku untuk kirim pesan anonim juga boleh bangettt!! 🥹☝🏻

terima kasih banyak dan selamat membacaaa!!

✮⋆˙

Jakarta, Indonesia
Mid-July 2026

Akhirnya Raka Purnomo bisa masuk kembali ke dalam kediaman mewah yang berada di kawasan Permata Hijau. Ia melihat seisi rumah mewah yang sebenarnya memiliki tak banyak perubahan, namun terlihat jauh lebih bersih. Raka berasumsi bahwa Giandra mengecat ulang tembok rumah agar lebih hidup. Sudah lama Raka memimpikan dirinya tinggal di kediaman ini. Awalnya ia ingin tinggal bersama orang tua kandungnya. Akan tetapi, setelah tahu orang tuanya kandungnya tidak memiliki harapan, maka Raka memutuskan untuk merubah keinginannya dan memprioritaskan rumah itu hanya untuk diri sendiri dan keturunannya.

Jika Raka memiliki kediaman mewah di Jakarta (yang memenuhi standarnya dan keluarga), maka Raka bisa dipandang sebagai orang besar yang dapat diperhitungkan. Mungkin saja, kredit sosialnya di mata masyarakat, bahkan keluarga kaya lama Indonesia, meningkat dan lebih diperhitungkan.

"Ada apa?"

Giandra bertanya saat dirinya sedang duduk di sofa ruang tamu. Baru saja Mbak Yaya menaruh segelas air mineral dingin dan tuan rumah mempersilahkan Raka untuk minum. Nilam duduk di kursi otoman dan Raka duduk di sofa yang lebih panjang.

"Aku kesulitan untuk menghubungimu, Gi. Inilah alasan kenapa aku berinisiatif untuk datang langsung ...."

"To the point saja, Raka. Aku harus pergi," potong Giandra dengan cepat dan terpikir untuk mengarang soal kepergiannya itu.

Raka pun terlihat sedang memikirkan apa yang ia sajikan terlebih dahulu dalam pembicaraannya dengan Giandra. Ia terlihat menghela nafas dengan raut wajah yang mencoba menampilkan kekhawatirannya. "Aku beritahu kamu, Giandra, bahwa pembunuh orang tuamu adalah Ibu Negara dan beliau juga ingin membunuhmu hanya untuk mendapatkan rumahmu."

Bukannya terkejut, Giandra pun terlihat biasa saja. "Tidak kaget."

"Maaf?"

"Aku sudah tahu."

Respon Giandra benar-benar di luar dugaannya membuat Raka tak dapat memberikan respon yang lebih meyakinkan. Jika Giandra tidak tahu (dan tidak ada Nilam), ia bisa memprovokasi Ibu Negara. "Ya, aku berinisiatif memberi tahu kamu secara langsung. Aku harap kamu lebih berhati-hati lagi saat bersama Ibu Negara. Terakhir kali kamu hampir diracun sama dia dan berusaha membuat keonaran di rumah. Aku langsung mengambil minuman yang sudah disiapkan oleh Ibu Negara dan ia menyenggolku karena kesal."

Sepertinya yang aku dengar dari obrolan ibu dengan Raka di rumah bukan ini, deh. Nilam membatin saat ia menyadari Raka yang mulai melebih-lebihkan kejadian.

"Jadi kamu repot-repot memaksaku untuk pergi denganmu di Singapura hingga datang ke rumahku hanya untuk mengatakan ini?" tanya Giandra sembari mengungkit kejadian tempo hari di Singapura.

"Ada lagi," bantah Raka sembari berpikir. Mengingat apa yang sudah ia rencanakan sejak ia pergi dari kediamannya.

"Astaga, apa lagi?" Giandra merespons dengan perasaan jengkel dan melirik sebentar ke arah Nilam.

"Tolong batalkan pernikahanmu dengan Nicholas dan—"

"Tidak," potong Giandra dengan perasaan kesal.

"Aku tahu kamu akan memberikan jawaban seperti itu, tapi aku belum selesai." Raka membalas sembari menahan Giandra dari penolakan lainnya. "Menikahlah denganku, Giandra."

"Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, sehingga kamu tidak perlu bekerja lagi—entah kerja kantoran, menjadi penulis, atau balik menjadi atlet, dan hanya fokus untuk menjadi pendampingku saja." Raka melanjutkan kalimatnya dan menyodorkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin.

Nilam menatap cincin tersebut sembari memaki Raka dalam batinnya. Si Najis. Aku pun tak bernafsu melihat cincinnya, akan tetapi, selera Raka tidak jatuh seperti ini—siapa yang memilih cincin murahan ini?

Giandra melirik sekilas cincin tersebut, kemudian ia langsung menarik wajahnya. "Ini penghinaan."

"Apa maksudmu?" ujar Raka bingung.

"Pertama, aku sudah bertunangan. Kamu tahu, 'kan, ajakanmu itu juga menghina Nicholas. Kedua, lihatlah cincin menyedihkan itu. Aku tidak mau. Kamu juga menghina my dad karena my dad memberikan aku perhiasan dari Graff sejak kecil."

"Bukan rahasia umum, tetapi The Soerjapranatas had a great taste and unbeatable jewelry collections. Begitu juga dengan Keluarga Hadiwiryono. Koleksi perhiasan Mama Frida sangatlah mengerikan." Nilam menambahkan dengan raut wajah prihatin dan provokasi pada siap perkataannya.

"Ok, but, lihatlah cincin dari calon suamimu. Dia saja tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu, wanita yang akan menjadi istrinya, dan kamu masih mau sama dia?"

Giandra melirik sejenak kearah cincin pertunangan yang diberikan oleh Nicholas di acara pertunangan mereka. Cincin dari Harry Winston yang dibeli saat Nicholas melakukan perjalanan dinas ke Inggris. Desain serta potongan berliannya benar-benar sesuai seleranya. "You insulted Harry Winston."

"Sangat mengecewakan bahwa kamu memberikan cincin murahan disaat Nicholas memberikan Harry Winston untuk melamarnya. Padahal selera keluargamu tak tertandingi, bahkan tantemu menyukai Harry Winston." Nilam lagi-lagi menambahkan dengan menyebutkan salah satu tante Raka, putri mantan presiden terlama, yang saat ini sudah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat.

Pelacur ini seharusnya diam. Raka membatin sembari menunjukkan senyumnya yang agak terpaksa. "Aku akan kembali dan melamarmu sekali lagi."

Wanita muda itu hanya menatap Raka dengan penuh keprihatinan. "Raka. Kurasa kamu tidak mengerti."

"Apa? Aku melamarmu karena aku menyukaimu, aku cinta sama kamu, dan ingin melindungi dari orang jahat—bahkan orang jahat yang ada di keluargamu sendiri." Raka memberikan pembelaan. Sayangnya, Giandra terlihat mengabaikan ucapan Raka.

"Kamu pasti mengira bahwa aku menerima Nicholas karena uangnya atau Nicholas yang melamarku karena uangku. Tentu tidak, Raka. Kita tidak melihat semua materi itu. Nicholas sudah lama menjadi penyunting untuk tulisanku dan dia selalu ada di semua momen penting sembari merayakan semua hal yang aku capai. Aku harap kamu mengerti dan berhenti melakukan hal seperti ini."

Mendengar penolakan dari Giandra, secara tak langsung membuat Raka cukup tersinggung. Tampaknya ia berpikir bahwa menjadikan Giandra sebagai istrinya benar-benar tidak memungkinkan, namun ia terpikir untuk menghancurkan hubungan Giandra dengan Nicholas.

Bahkan menghancurkan hidup Giandra dan Nicholas. Tentu saja ia mulai terpikir untuk melakukannya dengan cara Ibu Negara.

"Baik. Aku akan pergi. Aku hanya mengutarakan niat baikku." Raka beranjak dari sofa yang diikuti oleh Giandra dan lelaki itu pura-pura tenang. "Terima kasih sudah menerimaku ... di rumahmu."

Secara sengaja, Raka menyenggol gelas yang berisi air putih hingga mengenai MacBook milik Giandra. Biar saja, biar tahu rasa karena kamu sudah menolak lamaranku. Raka membatin sembari tersenyum penuh kemenangan.

✮⋆˙

Giandra Euphrasia:
MacBook-ku mati.
Raka menyenggol air dan mengenai Macbook-ku.
Konteks: Raka sudah ada di depan pintu rumah seperti hantu saat aku sedang dikunjungi oleh Nilam.
Jadi aku belum bisa melanjutkan draft dan memesan hotel sesuai instruksimu.

Nicholas Wiradikarta:
Tunggu, Sayang. Aku akan ke rumahmu setelah pulang kerja.

Giandra Euphrasia:
Apa kakak bisa memperbaikinya? Aku membutuhkan MacBook-ku :((

Setengah jam kemudian, Nicholas datang ke rumah Giandra dengan membawa tas yang berisi MacBook milik Nicholas. Giandra pun hanya menatap Nicholas dengan ragu.

"Liefje, aku tidak bisa memperbaiki sendiri. Jadi kamu bisa memakai punyaku dan aku bisa membawa MacBook-mu ke reparasi."

Giandra hanya mengangguk dengan prihatin. Ia merasa ceroboh karena meninggalkan laptopnya di ruang tamu. MacBook keluaran tahun 2018 tersebut adalah kado pemberian dari orang tuanya saat ia baru masuk bangku perkuliahan. Laptopnya sudah bekerja keras untuk mengerjakan tugas perkuliahan, pekerjaan magang (Giandra tidak mau menggunakan laptop dari kantor yang menurutnya out of date itu), hingga mengerjakan draft untuk tulisannya yang menjadi sensasi internasional.

"Maaf aku jadi merepotkanmu." Giandra mengatakannya dengan lirih. Ia menerima tas laptop berwarna hitam tersebut.

"Jangan minta maaf," pinta Nicholas sembari memandangi mata milik Giandra, "aku sangat antusias saat kamu mengandalkanku."

Wanita muda itu terlihat mencoba untuk meraih tangan Nicholas dan mengenggamnya dengan erat. Matanya melirik untuk memastikan bahwa Mba Yaya sedang beristirahat di kamarnya. Tentu saja, Nilam sudah berpamitan sebelum Nicholas sampai.

"Ngomong-ngomong, Raka ke sini untuk memberi tahu fakta yang sebenarnya sudah aku ketahui sebelumnya. Serta mengatakan dua hal lainnya yang membuatku tersinggung: membatalkan rencana pernikahan denganmu dan melamarku."

Lelaki itu tentu saja terkejut dan terlihat lemas saat mendengarkan kabar buruk yang disampaikan oleh Giandra. "Aku tidak menyangka dia berani mengatakan hal yang sama padamu. Pertemuan terakhirku dengan dia ialah ia memintaku untuk membatalkan rencana pernikahanku denganmu dan mengatakan kalau aku tak akan mampu menafkahimu."

Tak hanya Nicholas, Giandra juga terkejut. Hanya saja, Giandra dapat menyimpulkan dengan cepat kalau Raka adalah orang yang berusaha untuk memanipulasi dengan mengecilkan, bahkan, membuat lawannya merasa ragu. "Dia terlalu berlebihan. Seakan-akan ia memperoleh uang dengan cara yang baik. Jangan khawatir, karena dia sudah menghina tiga orang, jadi aku harus menolaknya."

Nicholas mendenyitkan dahi dengan bingung. "Tiga orang?"

Giandra menghela nafasnya dengan perasaan berat. "Aku, kamu, dan dad. Dad tidak suka putrinya dijadikan 'target' dan dad sudah memberikan aku perhiasan terbaik sejak aku kecil. Sudah berniat menjadikan aku istri kedua dengan berlian yang menyedihkan saja rasanya seperti penghinaan."

"Setelah ini, aku hanya bisa berharap bahwa ia tidak bertindak terlalu jauh," ujar Nicholas.

Karena tak mungkin mereka membicarakan Raka terus menerus, mereka pun berpikir untuk pindah ke ruang studio. Giandra langsung menaruh tas laptop di atas meja marmer. Ia mengeluarkan MacBook dan mencoba untuk membukanya. Ia melirik ke arah Nicholas.

"Password-nya apa?" tanya Giandra. Ia tidak melihat catatan apapun yang berisi kata sandi dan tertempel di MacBook tersebut.

"Cium tiga kali."

Tanpa konfrimasi terlebih dahulu, Giandra langsung berjinjit untuk mencium pipi Nicholas hingga meninggalkan bekas lipstik yang tertera pada pipi lelaki itu. Pipi Nicholas pun memerah dan ia tersenyum sembari mengigit sedikit bibirnya.

"Sayangku, maksudnya ... kata sandi laptopku ciumtigakali. Without space and lowercase." Nicholas merespon dengan perlahan.

"Umm, Sayang, kenapa kata sandimu seperti itu?" tanya Giandra yang menampilkan ekspresinya yang terlanjur malu. "Memangnya tidak ada yang meminjam laptopmu?"

Nicholas terkekeh lembut sembari mengenggam tangan Giandra dengan erat. "Ini laptop pribadiku. Hanya untuk menyunting tulisanmu, menonton, dan menyimpan ... pikiranku."

"Aku akan melihatnya."

"Silahkan saja. Jadi kamu bisa melanjutkan draft-mu, 'kan?" tanya Nicholas dengan perasaan yakin.

Mendengar Nicholas yang kembali membahas draft, Giandra mengangguk dengan perasaan pasti. "Ya, tentu. Untung saja aku simpan draft-ku ini di flash disk. Jadi aku bisa melanjutkannya."

"Good girl," puji lelaki itu sembari duduk di sofa, "Sayang sini."

Tangan Nicholas langsung menarik Giandra agar dapat duduk di atas pangkuannya. Tampaknya, ia tertarik saat melihat warna lipstik yang digunakan oleh Giandra yang terlihat cocok di kulit wanita muda itu. "Sebenarnya, warna lipstikmu bagus, Liefje. Aku suka. Coba cium lagi, tapi kali ini di bibirku."

Mendengar permintaan Nicholas, Giandra pun menelan air liurnya sendiri. "Ciumnya tiga kali juga?"

Lelaki itu tertawa lembut saat Giandra mengingatkannya dengan kata sandi yang tadi mereka bahas. Giandra pun tertawa pelan yang disusul oleh senyuman manis khasnya.

"You're so cute. Kamu bisa cium aku sebanyak dan selama yang kamu mau," balas Nicholas sembari mengusap lutut Giandra dengan perlahan, "please, My Love."

TBC

Published on October 27, 2024

nas's notes: maaf untuk keterlambatan updatenya. aku sibuk dan kondisiku drop banget belakangan ini. kalian sehat-sehat yaaa! :((

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top