nas's notes: hiii semua akhirnya aku update lagi dan sekarang sudah achieve 65k views! terima kasih untuk teman-teman yang senantiasa mampir dan vomments, yaa!
jangan lupa vomments. yang kemarin belum sempat vomments di part sebelumnya juga boleh banget baca lagi dan meninggalkan vomments. untuk apresiasi juga karena aku menyempatkan update saat jadwalku yang padat-padatnya. boleh juga untuk memaki karena life after oct 20th beneran berat sekali.
yang suka baca offline, jangan lupa nyalakan dulu paket datanya, terus vote dan matikan lagi.
terimakasih banyak dan selamat membaca!
.
.
.
Jakarta, Indonesia
Mid-July 2026
"Aku akan ke Jerman di akhir bulan bersama Sura."
Ucapan Giandra barusan membuyarkan lamunan Nicholas. Mereka berdua saling merebahkan tubuh di atas ranjang milik Giandra. Iris kecokelatan milik Giandra tampak berkaca-kaca dan ia tak melanjutkan ucapannya.
Kamar Giandra tampak hangat dengan seluruh lampu kamar yang sudah dimatikan, kecuali lampu tidur dengan cahaya redup berwarna kuning. Suhu kamar yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya, tampak membuat mereka berdekatan. Nicholas membiarkan Giandra memakai selimut yang lebih hangat dan tebal, sementara ia mengenakan selimut yang tidak terlalu tebal.
"Grandpapa sudah menceritakan kasusku pada temannya di Munich dan beliau berkenan untuk membantuku. Tampaknya akan cepat jika memungkinkan. Aku ... aku takut jika operasinya tidak berhasil ... sebenarnya wajar, 'kan, jika aku ... merasa takut?" Giandra melanjutkan ucapannya dengan perasaan berdebar sembari berusaha menahan diri agar tidak menangis secara tiba-tiba.
"Tidak apa-apa. Khawatir itu wajar, kok. Beri ruang sedikit untuk berharap, ya. Aku saja ingin kamu lekas sembuh." Nicholas membalas ucapan Giandra dan ia berusaha untuk mengendalikan ekspresi wajahnya. Sama seperti Giandra, Nicholas juga takut dirinya akan menangis. "Sekarang, ayah lebih sering bertanya 'kapan kamu akan operasi' padaku atau mengatakan 'tolong jaga Giandra karena anak itu begitu percaya padamu' saat aku menghubunginya."
"Apa karena Kak Hanneli?"
"Tidak, Sayangku," ucap Nicholas yang kemudian malah menjeda ucapannya saat Giandra menyebutkan nama kakak perempuan Nicholas, "ayah menganggapmu seperti putrinya. Sebelum Hanneli, ayah sudah kehilangan orang tuanya dan orang tuamu—untuk Hiram, ayah masih menyesal karena tidak bertindak lebih ekstra."
"Ayah dan bunda sudah menjadi sahabat yang sangaaaaat baik untuk dad dan mom. Aku senang mereka bertemu lebih dahulu. Bahkan aku tahu kalau ayah kerap pergi ke Karawang, tanpa supir, untuk ke petak pemakaman orang tuaku. sehingga aku pernah mendengar selentingan di internet kalau ayah, saat masih menjadi menlu, kerap ke makam orang tuaku di waktu luang untuk minum kopi dan makan scones."
Cerita dari Giandra tentang ayahnya Nicholas tentu saja membuat lelaki itu tertawa dengan lepas, namun tetap dengan suara pelan."Actually, he did."
"He did? Kukira hanya aku saja." Giandra menanggapi sembari menginggat bahwa ia ke pemakaman orang tuanya dengan membawa es kopi, terkadang dengan cemilan juga, mengingat suasana di pemakaman orang tuanya tampak menyenangkan. "Kalau aku meninggal, kakak jangan sering-sering ke kuburanku."
Nicholas tak dapat memberikan ekspresi dan ia hanya memandangi Giandra dengan dalam. "Setelah kamu mengatakan soal meninggal meninggal itu, seketika aku mengkhawatirkanmu. Aku harus ikut ke Munich."
"Jangan," pinta Giandra dengan nada pelan, "tolong jangan. Tunggu saja kabar dariku. Ada Sura juga yang akan menemaniku."
"Makanya jangan ngomong meninggal meninggal—aku enggak suka. Aku sedih."
"Enggak, enggak." Giandra merespon sembari menatap Nicholas. Ia tampak berinisiatif mengusap air mata yang mulai membanjiri bagian mata lelaki itu dengan jemarinya. "Maaf yaa Sayangku."
Mereka berdua pun tak melanjutkan ucapan mereka yang mulai berbelok ke bahasan soal kematian. Sorot pandangnya tampak memandangi kening Giandra, lalu jemarinya langsung mengusap kening dan bagian depan rambut Giandra dengan perlahan. Pikirannya Nicholas seolah tahu bahwa Giandra tak ingin merepotkan atau membebaninya.
Tangan Nicholas pun tampak mengusap air matanya sendiri dengan cepat. "Tidak apa-apa. Anggap saja aku tidak dengar kata-katamu barusan ... soal tadi. Pokoknya, saat kamu sudah selesai operasi, aku akan hadir di samping tempat tidur dan membawamu pulang ke Jakarta bersamaku. Aku akan merawatmu." Nicholas mengucapkan kalimatnya dengan perlahan sembari tetap mengusap rambut Giandra. "Kita akan menikah."
Mendengar Nicholas menanggapi kata-katanya, Giandra menganggukkan kepala dengan perlahan dan tampak menurut. "Iyaa, kamu akan menikah denganku. Akhirnya ada checklist aku yang terwujud."
"Kutebak, menikah?"
Giandra terkekeh. "Menikah dengan laki-laki dewasa, bertubuh tinggi, dengan iris hijau kebiruan, penyabar, suka anak-anak, berkepribadian hangat dan baik hati. Aku benar-benar menulisnya di buku catatanku."
Saat mendengar Giandra menyebutkan poin dari checklist yang dimaksud, Nicholas tertawa pelan dan mencium pipi Giandra dengan lembut. "Terdengar seperti aku. Sudah jelas kamu menginginkan aku sejak awal."
"Aku begitu menginginkanmu. Maaf terdengar seperti penggemar."
"Gi, kamu tahu, aku juga menulis harapanku. Notion-ku penuh dengan apa yang akan aku lakukan jika aku menikah denganmu. Bahkan aku menceritakan ke onkel aunty-ku kalau aku ingin menikah dengan penulis yang aku sunting bukunya, sahabat kecil adikku, putri dari sahabat ayahku, dan perempuan kesayanganku yang harus aku nikahi." Nicholas bercerita dengan perasaan senang. "Sekarang siapa yang terdengar seperti penggemar."
Mereka berdua saling tertawa pelan dan, sekarang, Giandra tersenyum sembari mengusap pipi pria yang akan tidur bersamanya.
"Kakak, cium aku lagi!" pinta Giandra.
"Mintanya lebih lembut lagi, ya, Sayangku," ucap Nicholas sembari mencoba untuk memancing Giandra, "pakai panggilan sayangmu, ya. Aku, 'kan, sudah jadi milikmu."
Jantung Giandra jauh lebih berdebar dan matanya memandangi iris hijau kebiruan milik Nicholas. Tak sadar, wanita muda itu membasahi bibirnya sendiri. "Liebling, aku boleh minta cium ... lagi?" pinta Giandra sembari menunggu respon dari lelaki yang berada di hadapannya.
"Boleh, yaaa, Liefje. Aku akan menciummu lebiiiiihhhh banyak!" balas Nicholas dengan senang dan lelaki itu langsung mencium Giandra di seluruh wajahnya—pipi, kening, hingga bibir.
"Terima kasih, Sayangku," balas Giandra di tengah-tengah ciuman mereka.
"Aku yang terima kasih!" Nicholas merespon sembari mengecup kembali bibir calon istrinya. Pikiran lelaki itu tampak teringat dengan pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh Giandra dan dijadikan sebagai prioritas setelah menjadi pengangguran. "Perempuan pintarku, bagaimana progress ceritamu?"
Saat Nicholas menanyakan perkembangan dari cerita yang ditulisnya saat mereka berciuman, wanita muda itu langsung menjeda ciuman mereka. Pikirannya tampak berusaha mengingat sisa draft yang harus ia kerjakan. "Dua part lagi ... kurasa."
"Please book the hotel for tomorrow, Liefje. Pick the hotel you like and I'll leave my debit card with you," Nicholas yang kemudian melanjutkan ciumannya bersama Giandra, "I will let you finish your work by yourself."
"Kak Nicky come too!"
Lelaki itu berinisiatif untuk menaikkan selimut tebal yang dipakai oleh Giandra lalu mendekapnya erat. "Aku akan menyusul setelah aku balik business trip dari Bandung. Aku akan datang saat kamu sedang tidur dan melakukan pekerjaanku."
"Tentu saja kamu akan melakukannya." Giandra berujar dan mengusap pipi Nicholas dengan lembut. "I love you, Baby."
"I love you, My Dear."
Senyuman lelaki itu tampak jauh lebih hangat dan ia mencoba untuk mematikan lampu yang berada di nakas samping Giandra. Kemudian, lelaki itu kembali mendekap Giandra dengan perlahan. Wanita muda itu mencoba untuk tidur dalam pelukan Nicholas. Tangan lelaki itu mengusap punggung Giandra dengan perlahan untuk menguatkannya. Pikirannya berusaha untuk mencari cara untuk menguatkan Giandra.
"Kamu bisa, Sayang. Setelah kamu operasi, aku berjanji untuk membawamu ke Karlsruhe. Hanya dua jam setengah perjalanan dari Munich." Nicholas melanjutkan ucapannya dengan perlahan di tengah-tengah keheningan.
"Ada apa di Karlsruhe? Bukankah omi-mu berasal dari Frankfurt?" tanya Giandra tanpa mendongakkan kepalanya dan suaranya mulai mengecil.
"Bunda mengajakku ke sana saat aku kecil ... Well, Sayangku, aku akan melanjutkan ceritaku setelah kamu selesai mengerjakan draft dan operasi." Nicholas berkata dengan lembut sembari melanjutkan usapan tangannya pada kening dan kepala Giandra.
"Kalau kamu berhasil jadi anak yang baik, aku akan menciummu saat tidur," lanjut Nicholas dengan nada perlahan dan tampaknya ia sudah menantikan respon Giandra.
Sayangnya, tak ada respon apapun selama beberapa menit dari Giandra. Nicholas langsung menoleh kepada Giandra yang sudah tertidur pulas. Tangan lelaki itu langsung mendekap tubuh Giandra yang tertutup oleh selimut dan mencium keningnya dengan lembut. "Nighty-night, My Baby."
.
.
.
Nilam Pradana-Sudjatmiko tampak berinisiatf untuk mengunjungi Giandra, namun ia melirik dengan cuiga sebuah sedan mewah yang terparkir di dekat kediaman Giandra. Kejanggalan yang ia sadari ialah mobil tersebut merupakan mobil dinas Wakil Menteri. Dengan cepat, Nilam langsung mengambil ponsel untuk memotret keberadaan mobil tersebut dan langsung masuk ke kediaman mewah di tengah kota.
Setelah Mba Yaya menyajikan teh hangat dan beberapa potong marble cake. Dua sepupu itu tampak berbincang untuk membahas banyak hal. Sudah lama mereka tak mengobrol lama, karena jika bertemu, mereka hanya menyapa. Apalagi Giandra yang jarang datang ke acara ayahnya Nilam.
"Maaf aku jarang mengunjungimu atau bicara denganmu, Giandra," ucap Nilam sembari memotong marble cake dengan garpu kue dan memakannya perlahan.
"Aku mengerti, Nilam. Kamu memiliki kesibukanmu sendiri."
Mereka berdua saling berpandang dengan penuh pertanyaan. Giandra yang baru selesai menuangkan teh hangat pun langsung teringat untuk menambahkan ucapannya.
"Perceraianmu." Giandra menambahkan.
Nilam tampak tersadar. Perceraiannya menjadi pembicaraan publik. Baik Nilam atau Dion (Dion Sudjatmiko dari keluarga pengusaha Solo), memang tak ada masalah finansial atau perselingkuhan yang menjadi pemicu perceraian kebanyakan orang. "Ah, ya! Perceraianku belum selesai, Giandra."
Giandra tampak tak enak dan mengubah raut wajah sebelum meminum tehnya. "Oh."
"Banyak proses yang harus aku lewati untuk berpisah dengan Dion, namun aku ke rumahmu bukan untuk membagikan progress perceraianku." Nilam merespon dengan memberikan sedikit update soal perceraiannya yang menjadi perbincangan saat orang melihat kehadirannya di publik. "Kudengar kamu dipecat, jadi apa yang kamu lakukan setelah ini?"
"Menarik bahwa berita pemecatanku masih seksi untuk dibahas," balas Giandra sembari tertawa kecil. Ia sadar bahwa dirinya masih menjadi pembahasan.
"Don't be so sarcastic. It's unfair."
TOK TOK!
Telinga Giandra dan Nilam tampak mendengar suara ketukan pintu. Suara ketukan tersebut terdengar keras dan kasar—seperti dipukul dengan kepalan tangan. Mba Yaya langsung menghampiri Giandra.
"Non Gi, Pak Raka ada di depan pintu. Haruskan aku mempersilahkan dia untuk masuk atau mengatakan kalau Nona akan pergi dengan Non Nilam?"
Mba Yaya datang untuk meminta konfirmasi dari pemilik rumah. Giandra tampak memberikan ekspresi wajah yang tak yakin, namun Nilam mencoba untuk meyakinkan Giandra.
"Aku temani kamu—asal jangan suruh aku ke belakang," respon Giandra dengan perasaan yakin.
Mendengar Nilam, Giandra tampak yakin bahwa Raka akan menggedor paksa pintu depan rumah mewahnya jika orang itu tak dipersilahkan untuk masuk. Wanita muda itu langsung menoleh Asisten Rumah Tangganya. "Terima dia dan sajikan air putih di ruang tamu."
TBC
Published on October 22, 2024
nas's notes: terima kasih sudah mampir!
akhirnya masuk part 47, jadi bolehkah aku minta 40 vote dan 10 comment untuk part ini dan beberapa part yang belum sebelum aku update part selanjutnya? boleh ajak teman kalian untuk baca cerita ini. terima kasih banyakk!!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top