prolog

Suara tembakan terdengar dari dalam gudang kecil di pinggiran kota New York. Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara tembakan diiringi dengan teriakan.

Raven mengernyitkan dahinya mendengar suara teriakan yang berasal dari pria yang terjatuh dihadapannya. Pria itu menekan luka tembakan di perutnya menggunakan tangan kanannya, tangan kirinya sibuk mencoba meraih sebuah pistol yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berbaring.

"Please don't hurt me," kata pria itu sambil menatap Raven dengan tatapan memohan. Ketakutan terlihat jelas di kedua matanya.

Raven hanya mendesah sambil menginjak pergelangan tangan kiri pria tersebut yang sudah hampir menggapai sebuah pistol. Teriakan kesakitan terdengar dari mulut pria itu.

"Where's the package ?" tanya Raven dengan nada mengancam. Suaranya dingin dan tajam.

Ketika sang pria tidak menjawab, Raven menginjak pergelangan tangan kiri pria itu lagi dengan lebih keras. Pria tersebut berteriak kesakitan. Raven kemudian menembak pria itu di siku tangan kanannya menggunakan pistol yang sedang ia genggam. Teriakan kesakitan memenuhi ruangan itu.

"Where's the package ?"

"I'll tell you where it is," kata pria itu sambil mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.. "Please just don't kill me."

"Where ?"

Ketika pria itu tidak menjawab pertanyaannya, Raven menempelkan pistolnya pada dahi pria itu. Pria itu menatap pistol yang tertempel pada dahinya dengan shock. Matanya menatap Raven dengan takut.

"The building between the 5th and 11th street !" teriak pria itu.

Sebuah senyuman terukir di bibir Raven.

"Thank you."

Raven menatap pria itu untuk terakhir kalinya sebelum menarik pelatuk pistolnya. Suara tembakan menggema di gudang kecil itu.

Raven berjalan menuju gedung yang dikatakan pria tadi. Gedung itu dulunya merupakan sebuah kantor perusahaan yang sudah tutup. Gedung itu kini sudah tua dan tidak terurus. Matanya mengawasi sekelilingnya, mencari tanda-tanda adanya ancaman. Tangan kanannya menggenggam pistolnya dengan erat. Ia berjalan dengan hati-hati di kegelapan malam hari kota New York. Pakaiannya yang serba hitam memudahkannya untuk bersembunyi di dalam kegelapan.

Raven mencoba membuka pintu di gedung itu. Pintu itu tidak terkunci dan langsung terbuka. Raven mendorong pintu itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia pun melangkah masuk dengan hati-hati. Setiap langkah yang diambilnya tidak menimbulkan suara.

Di dalam gedung itu gelap, tidak ada lampu yang menyinari ruangan itu. Raven mengeluarkan senter kecilnya dari dalam kantong jaketnya. Ia menyinari sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada orang di tempat itu sebelum memperhatikan tempat itu dengan lebih saksama. Tempat itu kosong kecuali sebuah meja panjang di tengah-tengah lantai itu dan lima kursi yang terdapat di belakang meja. Debu menutupi setiap sudut tempat itu. Terdapat sebuah kotak berwarna merah darah di atas meja.

Raven berjalan menuju meja tersebut ketika tiba-tiba lampu di gedung itu nyala semuanya. Raven dengan segera mengangkat pistolnya. Matanya menyapu seluruh tempat itu mencari orang yang menyalakan lampu tersebut. Ketika ia tidak dapat menemukan seorang pun, Raven mengarahkan pistolnya ke arah pintu. Matanya menatap pintu tersebut dengan waspada.

Pintu tersebut perlahan-lahan terbuka dan seorang pria berjalan masuk sambil bertepuk tangannya. Pria itu berumur sekitar akhir 20 tahunan, tinggi dan memiliki postur tubuh yang cukup kekar. Rambutnya yang berwarna coklat tua disisir rapi. Ia memakai setelan berwarna putih. Matanya yang berwarna biru gelap menatap Raven dengan tatapan senang.

"Well, well, look who finally decided to come here," kata pria itu dengan suaranya yang berat. Sebuah senyuman terukir di bibir pria itu.

Raven menatap pria itu tajam. Ia dengan segera menarik pelatuk pistolnya yang terarah pada jantung pria itu. Ketika peluru mengenai jantung pria itu, darah dengan segera bercucuran, menodai setelan putihnya. Tetapi pria itu tidak terjatuh, ia hanya menatap Raven dengan pandangan senang. Raven menatap pria itu dengan bingung. Pria itu tertawa melihat ekspresi Raven.

"Who are you ?" tanya Raven dengan suaranya yang dingin. Matanya menatap pria itu dengan tajam.

Pria itu hanya tersenyum menatap Raven.

"Oh honey, I'm your worst nightmare."

Mata pria itu tiba-tiba berubah warna menjadi warna merah. Pria itu membuka mulutnya. Raven menatap pria itu dengan shock ketika dua taring tajam keluar dari gusinya. Pria itu memberikan Raven sebuah senyum yang menyeramkan. Matanya menatap Raven dengan dingin dan kejam.

"The fun is just beginning."


Author's Note :

Hey everyone !

Ini adalah prolog dari cerita baru saya. Saya akan mencoba mengupdate cerita ini sesering mungkin. Tolong bersabar ya :)

Terima kasih kepada para pembaca sekalian !

- Jace

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top