Playing With The Devil 7
Eliz sudah mengenal Dika mungkin sepanjang hidupnya. Tatkala mereka masih berstatus sebagai balita, Eliz yakin ia sudah mengenal Dika. Pun sebaliknya. Terlebih lagi karena perkenalan antara keduanya bukanlah jenis perkenalan biasa. Alih-alih terkurung dalam hubungan erat yang disebabkan oleh orang tua mereka. Nyaris bisa dikatakan Eliz dan Dika memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Dari kecil hingga pada akhirnya keluarga Dika harus pindah.
Selama hubungan itu berlangsung, Eliz menyadari kedua keluarga mereka memang saling mengasihi satu sama lain. Layaknya Dika yang amat diterima oleh keluarganya, pun begitu pula dengan Eliz yang mendapatk sambutan serupa oleh keluarga Dika. Orang tua Dika jelas amat menyayangi cewek itu. Bak anak sendiri.
Maka dari itu rasanya tidak heran bila mereka sering mengunjungi satu sama lain. Bahkan Eliz pun tidak segan mendatangi Herni dan Lukman di Yogyakarta. Walau tentunya ia melakukan itu setelah memastikan Dika tidak ada di rumah.
Eliz menyayangi Herni dan Lukman seperti orang tuanya sendiri. Tapi, tidak dengan Dika. Karena sebisa mungkin cewek itu akan menghindarinya. Agar ia selalu bisa mendoktrin alam bawah sadarnya. Bahwa ia tidak pernah bertemu lagi dengan Dika setelah sepuluh tahun yang lalu. Yang mana ... itu tentu saja adalah pembohongan pada diri sendiri.
Hanya saja pembelaan Eliz adalah membohongi diri sendiri itu lebih mulia ketimbang dirinya harus menerima kenyataan di mana ia masih bertemu dengan Dika di beberapa kesempatan. Lantaran pertemuan-pertemuan itu pasti akan menyelipkan kekesalan di hati Eliz. Ia tidak ingin stres. Dan ia tidak ingin Dika mengacaukan kembali kehidupannya. Selama ini ia sudah berusaha untuk menata semuanya agar kembali rapi seperti sedia kala.
Bila ada yang bertanya-tanya mengapa Eliz berusaha teramat keras untuk menghindari Dika, maka jawabannya hanya satu. Bahwa cewek itu sudah tidak bisa mentolerir lagi sikap jahil Dika.
Oke. Awalnya Eliz juga sama seperti Rahmi, Subagja, dan Noel. Eliz benar-benar menerima Dika. Terlepas dari sikap orang tuanya yang amat menyayangi Dika hingga memojokkan cewek itu pada keraguan sebenarnya siapa sih anak kandung mereka, Eliz menerimanya. Eliz pun lumayan menyenangi kehadirannya. Karena Dika memiliki pembawaan yang supel dan ceria. Ia suka bercanda dan tertawa. Bisa dikatakan sebagai pemeriah suasana.
Namun, semua itu berakhir. Tepat ketika mereka menginjakkan kaki di bangku kelas 1 SMA. Tepat beberapa hari sebelum Dika dan keluarganya pergi, semuanya berakhir. Di mana Eliz, Dika bukan lagi teman yang menyenangkan. Alih-alih sebaliknya. Dika telah menjelma menjadi cowok yang menyebalkan. Dika sudah mempermainkannya melebihi batas yang ia berikan. Dika sudah bertindak keterlaluan.
Hingga sekarang, ketika Eliz berpikir bahwa usia yang bertambah akan memberikan dampak yang berbeda pada Dika, maka ia harus menelan kekecewaannya. Nyatanya Dika tidak berubah. Setidaknya di hadapan Eliz, cowok itu masih sama seperti dulu. Menyebalkan!
"A-apa?"
Berusaha untuk menguasai dirinya, Eliz menarik udara dalam-dalam. Di bawah pencahayaan terbatas lampu darurat, matanya mengerjap-ngerjap. Syok.
"K-kamu ngomong apa, Dik?"
Di hadapan Eliz, Dika tampak diam. Hanya memerhatikan Eliz yang tampak salah tingkah. Tangannya yang gemetaran naik perlahan ke sisi kepalanya. Memberikan tepukan samar di telinga kanannya.
"K-kayaknya telinga aku kemasukan air deh. Ha ha ha."
Eliz berusaha untuk tertawa. Tapi, sungguh menyedihkan. Suaranya lebih mirip suara kambing tercekik ketimbang suara tawa.
"K-kayaknya aku salah dengar deh."
Wajah Dika tampak berubah. Tak terlihat gurat bercanda di sana. Alih-alih keseriusan.
"No! Kamu nggak salah denger, Liz," ujar Dika dengan suara parau. "Kamu milih dare dan aku ngasih tantangan itu."
Sepertinya sekarang Eliz tidak bisa bernapas lagi. Ia benar-benar membeku.
"Kiss me," ulang Dika. "Cium aku."
Bumi sepertinya berhenti berotasi. Hujan pun berhenti mengguyur. Begitu pula dengan waktu yang berhenti berputar.
Eliz butuh waktu untuk bisa meraba bahwa saat itu dirinya masih hidup. Alih-alih sudah mati dengan jantung yang copot!
"K-kamu ngusilin aku lagi, Dik?"
Dika menggeleng. "Nggak sama sekali. Aku cuma ngasih tantangan sesuai dengan permainan ini."
Angin berembus melewati ventalasi. Yang dengan ajaibnya terasa membelai wajah Eliz hingga membuat tubuh cewek itu meremang.
"Kenapa?" desak Dika. "Kamu takut cium aku?"
Eliz meneguk ludah. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang. "I-itu---"
"Aku bersih, by the way."
Ucapan Dika yang memotong perkataan membuat Eliz sontak memejamkan mata. Ia menarik napas panjang. Ia butuh oksigen sebanyak-banyaknya. Karena kalau tidak, Eliz pikir ia akan megap-megap saat ini.
"Dik ...."
Setelah melewati perjuangannya, Eliz berhasil juga mengucapkan nama itu dengan perlahan. Walau tentunya dengan getar-getar yang mengiringinya.
"Permainan ini nggak bisa seekstrim ini."
Tentu saja. Seumur hidup Eliz tidak pernah berpikir bahwa bermain truth or dare akan berakhir pada tantangan ciuman. Yang benar saja!
Gila kan? Masa aku harus cium Dika cuma gara-gara permainan ini sih?
Tidak. Eliz tentu saja tidak akan melakukannya.
"Kenapa?"
Itu adalah pertanyaan yang menurut Eliz tidak perlu dijawab. Bahkan seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi, nyatanya Dika benar-benar serius dengan hal tersebut. Setidaknya di mata Eliz yang melihat. Bagaimana Dika yang bersedekap dengan tatapan lurus padanya tanpa kedip. Oh, Tuhan! Eliz merasa jantungnya bagai ditabuh tanpa henti di dalam sana.
"I-itu ...."
Seringai timbul di wajah Dika tatkala ia melihat Eliz yang mendadak menderita gagap parah. Cewek itu jelas sekali tampak kesulitan untuk bicara, bahkan bernapas. Dan memang itulah yang Eliz rasakan. Seumur hidup, bahkan ketika tes wawancara satu lawan lima yang dulu ia jalani, ia tidak sepanik ini. Situasi kali ini jelas adalah satu satu keadaan di mana kewarasan akal sehatnya menjadi hal yang dipertaruhkan.
Hingga pada detik selanjutnya, ketika Eliz merasa dirinya makin tak berdaya. Dengan keringat dingin yang mulai memenuhi tekuknya, ia mendengar suara tawa.
"Hahahahaha."
Eliz membeku. Termangu melihat Dika yang mendadak saja terpingkal seraya memeluk perutnya.
"Hahahahaha. Kamu ketakutan banget, Liz!" seru Dika terbahak. "Ampun deh! Muka kamu kayak orang yang mau dieksekusi mati aja!"
Rasa-rasanya darah Eliz berhenti mengalir. Tubuhnya mendingin. Dan itu persis seperti tanda-tanda orang yang sudah kehilangan nyawa.
"K-kamu ..." Eliz menarik napas dalam-dalam. Rasa panas mendadak timbul di dadanya. "... ngerjain aku lagi, Dik?"
"Hahahahaha."
Tidak menjawab pertanyaan itu, Dika justru tampak makin pecah tawanya. Hingga ia tanpa sadar berulang kali memukul lantai. Eliz benar-benar tidak bisa bicara lagi.
"Hahahahaha."
Tawa Dika menyulut panas di dada Eliz. Yang awalnya hanya setitik berubah seketika menjadi kobaran api. Emosinya sekarang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Astaga, Tuhan. Emang salah banget kalau aku ngira Dika bakal berubah. Dika emang nggak bakal berenti ngusilin aku, ngejahilin aku, atau pun ngangguin aku. Bahkan sampe umur udah setua ini dia tetap nggak melewatkan sedikit pun kesempatan untuk ngerjain aku?
Karena bila Dika mengerjainya dulu mungkin Eliz bisa mencoba untuk bersabar. Itu karena mereka yang masih belum dewasa. Tapi, sekarang?
"Hahahahaha. Harusnya tadi itu aku diam-diam rekam kamu deh."
Dika mengatakan itu dengan susah payah. Di antara tawa yang masih meledak dan rasa geli yang melanda perutnya. Hingga ia tak kuasa. Memilih untuk berbaring di atas karpet. Nyaris bergulingan. Seraya memukul-mukul karpet berulang kali.
"Tapi, gimana coba aku mau ngerekam kamu? Orang hp aku lagi low. Eh, padam listrik lagi. Hahahahaha. Padahal yang tadi itu kesempatan langka banget."
Bagi Dika itu jelas adalah salah satu kesempatan terbaik yang sayang sekali harus ia sia-siakan begitu saja. Di lain waktu, bisa dijamin. Kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali.
"Wajah kamu tadi itu ...," lirih Dika kembali berusaha meredam tawanya, tapi gagal. "... so natural, Liz."
Eliz tidak akan meragukan perkataan Dika. Tanpa melihat cemin, ia pun yakin bagaimana persisnya bentuk wajahnya tadi. Benar-benar ketakutan dan merasa seperti dunia akan kiamat. Tapi, bagaimana bisa?
Akhirnya Eliz mempertanyakan itu. Oke, Dika mungkin memang tidak bisa lepas dari sifat jahilnya. Tapi, mengapa harus menjahilinya dengan hal sekrusial itu?
Ciuman? Hah! Yang bener aja, Dik.
Kali ini Eliz sungguh merasa tidak terima. Rasa malu, marah, dan kesal sudah bersatu padu membentuk emosi yang tak mampu ia tahan. Ia sudah terdesak ke tepi jurang batas kesabaran.
Karena ketika pada akhirnya Eliz berhasil menghirup udara dalam-dalam, cewek itu seperti mendapatkan kembali kekuatannya. Oksigen sukses membuat darah bersih mengalir kembali ke otaknya. Membuat pikirannya sedikit lebih terang.
Sampe kapan pun Dika nggak bakal berubah. Dia bakal tetap ngerjain aku di setiap ada kesempatan. Dan sekarang aku nggak mau lagi jadi cewek yang pasrah.
Eliz merapikan rambutnya yang tergerai setengah lembab. Pun lantas memperbaiki sedikit piyama lengan pendek yang ia kenakan. Lantas ia berkata dengan suara yang terdengar tenang dan terkendali.
"Dika ...."
Dika masih berada di sisa-sisa tawanya. Tapi, ia berpaling. Melihat pada Eliz seraya mengelap basa di matanya.
"Ya?"
Mengerjap sekali, ada seulas senyum yang menyungging di bibir Eliz. Senyum yang anehnya sontak berhasil membuat tawa Dika berhenti total. Bahkan lebih dari itu, Dika yang masih terbaring di atas karpet merasa ada yang berbeda dari cara Eliz menatap dirinya. Membuat ia dengan serta merta sedikit bangkit. Bertumpu pada dua siku.
"Kita nggak bisa lanjut main kalau aku nggak nyelesaiin tantangan dari kamu."
"Maksud kamu?"
Perkataan Eliz tentu saja membuat dahi Dika mengerut. Tidak bisa meraba maksudnya dan ia jadi bertanya-tanya.
"Maksud aku?" tanya Eliz seraya beringsut dari duduknya. Mendekati Dika. "Maksud aku ya ... tantangan harus dilakukan."
Mendengar hal itu, Dika sontak melotot. Karena ia bisa melihat dengan jelas bagaimana perkataan Eliz bukan hanya sekadar perkataan bisa. Cewek itu membuktikan bahwa apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.
Mengabaikan mata Dika yang membesar lantaran kaget, Eliz langsung beranjak. Mengikis jarak di antara mereka. Hanya untuk mencapai wajah Dika. Demi mendaratkan bibirnya di atas bibir Dika.
Tak ada lagi kata-kata yang terucap atau pun terdengar. Bahkan suara tarikan napas pun seolah menghilang. Semua tergantikan oleh keheningan yang membuat Eliz memejamkan matanya rapat-rapat sementara Dika membelalak besar.
Ya Tuhan! Aku pasti udah gila!
Karena mungkin memang itulah satu-satunya alasan paling logis mengapa Eliz sampai mengambil tindakan seekstrim itu. Mencium Dika? Astaga! Eliz masih waras kan?
Oh, tentu saja Eliz sudah kehilangan kewarasannya. Tepat ketika ia menyadari bahwa Dika tidak akan pernah berubah. Dan sekarang Eliz sudah muak. Ia bosan dikerjai terus menerus. Ia tidak ingin terlihat pasrah saja bila dijahili oleh Dika.
Kali ini, menepikan akal sehat dan rasa malu, Eliz pun mengambil tindakannya. Ia akan membuktikan pada Dika. Bahwa satu ciuman bukan hal yang mewah untuk mampu menindas dirinya. Alih-alih sebaliknya
Kamu pikir kamu bisa mengintimidasi aku dengan satu ciuman? Ngerasa bisa mempermainkan aku dengan hal itu? Ha ha ha ha. Nggak, Dik, nggak. Aku nggak bakal biarin kamu bisa jumawa kali ini.
Eliz sudah lelah dipermainkan. Selama ini cewek itu pikir kalau ia mengalah dan memilih menghindar maka semua akan selesai. Semua akan berhenti pelan-pelan karena ia mengira Dika akan berada di titik jenuh. Di mana ia kerap mengusili, tapi tidak digubris.
Nyatanya? Tidak.
Entah apa yang Dika pikirkan, tapi Eliz kemudian menyadari bahwa sikanya yang mengalah dan menghindar membuat Dika merasa semakin senang. Cowok itu seolah merasa hebat karena bisa terus tampak superior di hadapannya.
No no no!
Kalau dengan taktik mengalah dan menghindar tidak ampuh untuk mengusir Dika, maka kali ini Eliz akan mengubah strateginya.
Sekarang aku yang bakal nyerang dan ngebuat dia tau kalau aku sama sekali nggak takut sama dia! Aku nggak mau situasi kayak gini kejadian lagi. Dan karena sikap mengalah aku selama ini nggak dihargai, oke. Mulai sekarang aku bakal ngeladeni kamu, Dik!
Namun, sekarang Eliz tidak yakin. Apakah perubahan taktik ini adalah hal yang bagus? Atau justru sebaliknya?
Karena ketika Eliz merasakan permukaan lembut itu menempel di bibirnya, ia seperti baru tertampar oleh kenyataan.
Astaga, Liz! Kamu sadar nggak? Kamu itu nyium Dika!
Eliz yakin ia memang gila. Bisa saja ini adalah efek samping benturan yang kepalanya dapatkan ketika mencari lampu darurat tadi. Karena ia yakin, bila ia masih waras, tentunya ia tidak akan mengambil tindakan seekstrim itu.
Eliz menguatkan dirinya. Mengepalkan jari-jari tangannya yang bertumpu di atas karpet. Yang mengurung Dika. Yang merasa seperti tak ada lagi tenaga di sana. tubuhnya gemetar.
Berusaha tetap bernapas dengan mata terpejam, Eliz rasa-rasanya tidak akan sanggup melihat kembali dunia ini. Ia seperti berputar-putar dalam rasa yang membuat dirinya berkeringat dingin.
Eliz tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia memutuskan untuk mengakhiri ciuman itu. Dengan perlahan, menarik diri. Melepaskan bibirnya dari bibir Dika.
For God's sake, aku bahkan nggak berani membuka mata aku.
Tak tau lagi apa rasa tubuhnya kala itu, Eliz mendudukkan kembali bokongnya di karpet. Ia buru-buru menarik udara sebanyak yang ia bisa. Dan ketika ia membuka mata, wajah cewek itu sontak kaku mendapati Dika yang memandangnya tanpa ekspresi. Mata cowok itu melotot.
Ralat! Maksudnya masih melotot!
Berusaha untuk tidak terintimidasi oleh reaksi Dika, Eliz tersenyum. Tapi, sepertinya gagal. Lantaran bibirnya yang terasa kaku. Bahkan untuk sekedar bergerak sedikit saja rasanya benar-benar tidak bisa.
Mungkin terlihat memalukan. Jangankan berusaha untuk bicara, bahkan seuntai senyum pertanda bahwa ia mampu melakukan tantangan itu pun tak bisa ia pamerkan. Ia mati kutu.
Sudahlah!
Eliz akan menebalkan muka. Tidak ingin mengatakan apa-apa atau membahas apa pun. Alih-alih ia mengumpulkan kartu yang berserakan. Mungkin bila permainan berlanjut, semua rasa canggung yang menyergap dirinya akan menghilang.
Itu adalah pemikiran Eliz. Tapi, sepertinya bukan pemikiran Dika. Karena ketika dilihatnya Eliz yang mulai mengumpulkan kartu, Dika lantas benar-benar bangkit.
Tanpa aba-aba atau peringatan sama sekali, Dika menyambar tangan Eliz. Membuat kartu di tangannya kembali berhamburan ke berbagai arah. Eliz sontak berpaling. Hanya untuk mendapati mata tajam Dika menatapnya tanpa kedip.
"Aku bilang cium," lirih Dika dengan suara parau. "Bukan nempelin bibir."
Mata Eliz membesar.
"Not accepted, Liz."
Sedikit kelegaan yang baru saja merasuki Eliz langsung menghilang. Tergantikan oleh pekikan sirine peringatan yang memekakkan telinganya.
"M-maksud kamu?
Ketika pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, Eliz sontak menggigit bibirnya. Lantaran ia menyadari bagaimana suaranya yang terdengar amat memalukan.
Sial! Aku berusaha buat nyerang balik, tapi kenapa justru aku yang gemetaran kayak gini?
Tidak, tentu saja tidak. Bukan cuma tubuhnya gemetaran, alih-alih suara gagap dan napas sesak pun tak mampu Eliz singkirkan.
I-ini benar-benar memalukan!
Eliz terpekik kecil. Satu sentakan yang Dika lakukan membuat semua umpatan yang ada di benak cewek itu menghilang seketika. Tergantikan oleh keterkejutan nyata tatkala ia mendapati bagaimana tubuhnya yang mendarat dalam pelukan cowok itu. Dengan satu tangannya yang tertahan di dada Dika yang bidang. Hanya untuk membuat ia merasakan sesuatu. Debar yang mengguncang di balik kaus yang cowok itu kenakan.
Mata Dika memaku mata Eliz. Membuat cewek itu tak berkutik dalam rasa kaku yang membelenggunya. Ia hanya bisa diam. Bergeming. Layaknya tahanan yang siap untuk dieksekusi kapan saja.
"D-Dika ...."
Suara parau Eliz membuat Dika meneguk ludah. Jakunnya naik turun. Dan fokus matanya lantas berpindah. Eliz menyadarinya.
Pada satu detik, Dika melihat pada matanya. Untuk di detik kemudian, retina itu beralih pada titik yang lebih rendah di wajahnya. Tepatnya ... di bibir.
Eliz menahan napas. Berusaha untuk mencegah pikirannya berpetualang ke mana-mana, nyatanya sorot itu menyiratkan semuanya. Bagaimana mata Dika yang berulang kali berpindah-pindah dari mata dan bibirnya, memberikan sinyal tersendiri bagi Eliz.
Sekarang sepertinya Eliz membutuhkan lebih banyak oksigen. Paru-parunya sudah memberontak. Dadanya makin terasa sesak. Hingga tanpa sadar, bibir cewek itu membuka. Dengan kesan kering berusaha untuk membantu kebutuhan oksigen yang sepertinya gagal melewati hidungnya.
"I said kiss."
Dika memang sudah mengatakannya dari tadi dan Eliz yakin dirinya sudah mendengarnya pula.
"A-aku---"
"Aku bilang cium," lirih Dika lagi. "I show you what I mean."
Tuntas mengatakan itu, Dika lantas menundukkan wajahnya. Tak perlu ditanya, Eliz tau apa yang akan terjadi ke depannya. Ia menarik diri. Berusaha untuk menghindari hal tersebut. Tapi, gagal.
Satu tangan Dika yang bebas telah mengantisipasi semua kemungkinan yang bisa terjadi. Ia dengan sigap meraih tekuk Eliz. Menahannya. Lalu menariknya agar cewek itu mendekat padanya.
Sekarang tidak ada lagi yang bisa Eliz lakukan. Ia tak bisa mengelak. Dan tarikan Dika terasa amat kokoh untuk mampu ia tolak.
Maka pada saat itu, hanya memejamkan matalah yang bisa Eliz lakukan. Ketika pada akhirnya ia merasakan kedua belah bibir Dika telah menyentuh bibirnya. Dalam satu tekanan lembut yang anehnya tak mampu untuk ia tolak.
Napas Eliz seolah tersentak lepas untuk keluar dari paru-paru. Pun berikut dengan nyawanya yang seperti turut tersedot. Hingga tanpa sadar tangan cewek itu bergerak. Di atas dada bidang Dika, jari-jari itu meremas. Tindakan alamiah yang tak mampu ia cegah ketika mendapati ada yang menyusup di antara celah bibirnya.
Itu ... bibir Dika.
Yang dengan teramat lembut dan penuh irama mengecup bibir Eliz. Bergantian dalam tekanan yang memabukkan. Untuk kemudian ia melumat. Memagut dengan penuh perasaan. Menghadirkan kelembaban yang membuat Eliz merasa gemetar hingga ke ujung kaki.
Rasanya ... mendebarkan.
Jantung Eliz sontak bertalu-talu di dalam sana. Menimbulkan keriuhan yang amat memekakkan telinga. Keriuhan yang sama persis dengan apa yang tangannya rasakan.
Oh, tentu saja. Di dada Dika yang saat ini ia remas, Eliz juga merasakannya. Bahwa Dika mengalami apa yang saat ini tengah melanda dirinya.
Itu adalah debar yang terdengar seperti sahut-menyahut di keremangan malam. Yang membuat Dika semakin menarik tekuk Eliz. Bersamaan dengan kepalanya yang kemudian meneleng. Demi memperdalam ciuman yang sedang ia labuhkan.
Eliz pikir bahwa saat itu ia mungkin sudah mati. Bagaimanapun juga itu adalah kemungkinan paling alamiah untuk keanehan yang saat ini tengah melanda dirinya. Di mana ia pelan-pelan menyadari. Bahwa ia hanyut. Dalam buaian bibir Dika yang melenakan dirinya dengan penuh irama.
Dika menciumnya dengan penuh perasaan. Dengan pergerakan yang terasa amat menggetarkan. Dalam nada-nada yang ia ciptakan sendiri, yang hanya diperuntukkan demi menikmati sepucuk bibir ranum itu.
Lumatan demi lumatan. Berganti dengan pagutan. Tidak henti-hentinya Dika mengecup bibir Eliz. Seperti dirinya yang ingin mencicipi semua rasa yang ada di sana. Hingga pada akhirnya suara-suara asing pun menyapa telinga Eliz. Suara aneh yang entah mengapa justru disukai oleh Eliz.
Eliz tidak akan bisa bertahan lagi. Ia pasti akan melayang di udara dan kemudian terhempas di tanah. Atau paling tidak, ia mungkin akan merenggang nyawa dalam keadaan kehabisan udara.
Hingga sejurus kemudian, ketika Eliz yakin dirinya benar-benar akan mati, Dika melepaskan bibirnya. Memberikan celah bagi keduanya untuk segera menghirup udara yang mereka butuhkan.
Napas Eliz kacau. Begitu pula dengan Dika. Keadaan mereka berdua benar-benar menyedihkan.
Keheningan sontak tercipta. Tidak ada yang bersuara di antara mereka. Hanya ada deru napas yang memburu seolah saling sahut menyahut. Dan lantas mata keduanya bertemu. Saling menatap dalam tuntutan pencarian.
C-ciuman ini?
Eliz menarik napas dengan pikiran yang kacau. Dalam pertanyaan-pertanyaan yang langsung menampakkan wujud.
Dengan posisi sedekat ini? Dengan aku yang ada di pangkuan Dika? Dengan keadaan setengah dipeluk sama dia?
Ya Tuhan. Eliz tidak pernah berpikir bahwa ada satu masa di dalam kehidupannya, ia akan terperangkap dalam skenario seperti ini.
"D-Dika ...."
Susah payah Eliz berusaha untuk menyebut nama cowok itu. Yang mana ia pun tidak tau untuk apa ia lakukan itu. Karena bagaimanapun juga, setelah satu kata itu ia ucapkan, Eliz bisa melihat satu kerjapan di mata Dika.
Cowok itu seperti tersadar oleh hipnotis yang menggadaikan akal sehatnya. Sesuatu yang membuat Eliz sempat menduga. Bahwa Dika akan melepaskannya sekarang juga. Tapi, ia kecele.
Karena ketika Dika mendapatkan kembali kesadarannya, hal yang ia lakukan selanjutnya bukanlah melepaskan Eliz. Alih-alih sebaliknya. Ia memutuskan untuk kembali tenggelam dalam hipnotis yang ia inginkan.
Lagi, Dika membungkam bibir Eliz dalam satu ciuman berikutnya. Satu ciuman yang menyadarkan Eliz. Bahwa dalam satu putaran kehidupan, akan ada masa di mana kata-kata menjadi hal yang tidak penting sama sekali.
*
bersambung ....
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top