Playing With The Devil 5
Aroma wangi rempah-rempah menguar ke udara. Beriringan dengan bunyi kuah yang menggelegak di dalam panci. Dan tentu saja, beberapa potongan sayuran di sana tampak bergerak lembut mengikuti iramanya. Terlihat begitu padu dan menggoda selera. Seolah tengah memberikan undangan agar segera disantap dalam waktu dekat.
Eliz sedikit menunduk. Menghirup lebih dalam aroma itu. Hingga matanya terpejam karenanya.
Ugh!
Mencium aroma senikmat itu saja bisa membuat perut Eliz keroncongan seketika. Perutnya seolah memberontak. Meminta untuk diisi secepatnya. Terutama karena Eliz sendiri melewatkan makan siang tadi.
"Ehm ... baunya enak banget, Liz."
Suara berat itu membuat Eliz seketika tersentak. Refleks, ia membuka mata dan berpaling. Hanya untuk mendapati ada wajah Dika di sebelahnya. Dalam posisi menunduk pula. Dan dalam tujuan menghirup aroma sop pula.
Dika menoleh. Membuat mata cewek itu seketika melotot besar.
"Aku jadi tambah lapar, Liz."
Eliz tersadar. Langsung mendorong Dika. "Apaan sih? Jangan deket-deket."
Dika tersurut beberapa langkah ke belakang. "Sensi amat sih," cibirnya. "Aku kan nggak bau."
"Yang bilang kamu nggak bau siapa?" sengit Eliz seketika. "Kamu kan belum mandi sore."
"Kamu juga!" balas Dika. Lalu, matanya membesar. "Dan kamu bahkan belum cuci muka sebelum masak."
Ups.
Eliz mengerjap. Bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati.
Aku udah cuci muka belum ya?
Ehm ... mungkin memang belum kali ya? Wajah Eliz memanas.
"Kayak yang penting banget cuci muka sebelum masakin kamu makan."
Eliz berusaha untuk tidak merasa malu. Tapi, gesturnya menunjukkan hal yang sebaliknya. Lihat saja. Ia bahkan tanpa sadar masih mengerjap-ngerjap dalam upaya menghindari tatapan Dika.
"Lagipula ... untuk apa aku mesti merhatiin tata krama sama kamu?" tanyanya membela diri. "Abis ini juga aku mau mandi."
Eliz memadamkan kompor. Ia beranjak menyiapkan sohun yang sebelumnya telah ia rendam ke dalam mangkok. Menyiramnya dengan sop. Dan tak lupa menaburi bawang goreng di atasnya.
Eliz menaruh sop yang siap untuk disantap itu di atas meja. Tepat di depan Dika yang sudah duduk dengan segera. Ia menyambutnya dan melihat pada Eliz seraya bertanya.
"Kamu nggak ikut makan juga?"
Eliz menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya ia lapar. Hanya saja...
Makan berdua dengan Dika?
Eliz mendengkus.
Tunggu dulu sampai dunia kiamat. Atau paling tidak tunggu sampai Perang Dunia Ketiga pecah.
"Males ah."
Dika sudah mengantisipasi jawaban itu. Maka ketika dilihatnya Eliz akan beranjak, tangannya melepas sejenak sendok di mangkok. Ia menyambar tangan Eliz. Mencekalnya. Menyingkirkan kemungkinan bagi cewek itu untuk pergi dari sana.
"Temenin aku makan, Liz. Ya kali aku makan sendirian?"
Eliz berusaha melepaskan tangannya. Rasa kesal setitik mulai timbul di benaknya. Lantaran ia menyadari bahwa belum ada dua belas jam ia bertemu dengan Dika, tapi cowok itu sudah dua kali memegang tangannya sekuat ini.
"Makan sendiri ah. Lagian udah gede juga. Manja banget makan masih mau ditemenin."
"Nggak ada hubungannya antara udah gede, manja, dan makan sendirian," kilah Dika. "Cuma kayak yang ngenes aja. Kalau kita bisa makan berdua, kenapa harus makan sendirian?"
Eliz tetap tidak akan menuruti perkataan Dika.
"Nggak mau. Makan sendiri aja sih. Kamu ini repot banget. Udah minta dimasakin, eh ... udah dimasakin malah minta ditemenin. Sebangsa antek-antek kompeni ya, Bun? Dikasih sejengkal minta sedepa."
Dika menarik napas dengan dramatis. Pun mengembuskannya kembali dengan tak kalah dramatis pula. Ia menatap Eliz.
"Kamu belum makan dari siang loh, Liz," ujar Dika dengan suara yang merendah. "Emangnya kamu nggak lapar? Ntar kalau kamu sakit magh gimana?"
Yang dikatakan Dika memang benar. Dirinya lapar. Bahkan kalau ingin sedikit hiperbola, maka bisa dipastikan saat ini Eliz sedang kelaparan seperti ingin mati saja. Tapi, di depan Dika, harga diri tetap yang paling utama.
Eliz tidak akan makan satu meja dengan Dika. Ia lebih memilih untuk menahan laparnya sejenak ketimbang---
"Kruuuk!"
Tatapan mata Dika yang semula tertahan pada mata Eliz sontak berpindah. Turun ke bawah. Tepatnya pada perut Eliz. Begitu pula dengan Eliz. Cewek itu turut menunduk. Melihat dengan geram pada perutnya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama. Yang terang-terangan membuat ia malu di depan Dika.
"Tuh kan! Apa juga aku bilangin," ujar Dika seraya mengangkat kembali wajahnya. "Kamu laper loh. Jadi ... ya mending makan aja sekarang. Bareng aku. Kalau ntar-ntar sopnya juga udah nggak enak lagi."
Malu-maluin banget sih! Ini perut kenapa bunyi di waktu yang nggak tepat banget?
Rasanya sih Eliz ingin sekali berlari dari sana. Demi menyelamatkan mukanya. Tapi, ia tau. Itu adalah tindakan yang bisa membuat ia semakin malu.
"Oke."
Eliz membuang napas kasar. Mengangkat tangannya yang masih dipegang oleh Dika.
"Aku makan aku makan. Jadi lepasin tangan aku."
Senyum merekah di wajah Dika. Serta merta ia melepaskan tangan cewek itu.
Tak butuh waktu lama bagi Eliz menyiapkan semangkok sop untuk dirinya sendiri. Dengan ekstra taburan bawang goreng, ia kemudian duduk tepat di hadapan Dika. Melayangkan lirikan sengit dan satu kalimat sindiran.
"Nih! Aku temenin kamu makan."
Meraih sendok dan garpunya, Dika mengangguk sekali. "Tuh kan enak kalau kita makan berdua kayak gini."
"Enak apaan," gerutu Eliz. "Mau makan berdua atau sendirian, rasa sopnya juga masih tetap enak kok."
Dika membuktikan kebenaran perkataan Eliz. Dalam satu suapan kuah pertama yang ia cicipi. Merasakan aneka rempah dan kesegaran yang lantas langsung menjajah indra perasanya. Menghadirkan sensasi lezat yang menarik desahannya untuk meluncur begitu saja.
"Aaah!"
Wajah Eliz terangkat. Melihat bagaimana mimik Dika yang semringah. Terlihat begitu senang.
"Ya Tuhan. Ini enak banget."
Entah bagaimana hubungannya dengan Dika, tapi ucapan yang terkesan jujur dan polos itu membuat Eliz mau tak mau merasa terbang juga. Ia mendehem. Berusaha mengusir keinginan untuk tersenyum.
Dika melihat pada Eliz. "Sumpah, Liz. Aku bukannya cari muka atau gimana. Tapi, ini enak banget."
Seolah ingin membuktikan perkataannya, Dika langsung menikmati suapan pertamanya yang sesungguhnya. Penuh akan potongan kentang dan wortel. Yang disusul oleh bakso dan ayamnya pula. Dan ditutup oleh helaian sohun yang ia seruput tanpa jeda dalam satu kali tarikan napas panjang.
"Aaah!"
Eliz bisa melihat bagaimana pipi Dika menggembung penuh. Cowok itu mengunyah dengan penuh irama. Seperti tidak ingin melewatkan tiap rasa yang tersaji di sana.
"Ih, norak. Cuma makan sop aja sampe segitunya."
Dika tidak peduli ledekan Eliz kali ini. Ia tidak membalasnya. Alih-alih terus melanjutkan suapan demi suapannya. Dengan desahan demi desahan yang tak luput menyertainya.
"Astaga. Kamu mungkin nganggap aku lebay, tapi aku nggak bohong, Liz. Ini enak banget."
Eliz menikmati suapan selanjutnya. Memutuskan untuk melihat wortel di mangkoknya saja ketimbang melihat wajah puas Dika. Rasanya ... ehm. Sedikit membuat ia salah tingkah.
"Ehm ... bohong atau nggak, ya itu cuma kamu yang tau sih," ujar Eliz pada akhirnya. Dalam gestur acuh tak acuh. "Lagian kamu emang harus bohongin aku. Biar aku masih mau masakin kamu."
Desahan nikmat Dika menghilang. Tergantikan oleh batuk sekilas yang membuat cowok itu buru-buru meraih gelas minumnya. Sungguh ia tidak menyangka Eliz akan mengatakan itu.
"Astaga, Liz. Lagi di meja makan aja aku masih diketusin. Sensi banget sih. Padahal loh ya. Seharian ini aku nggak ada ngapa-ngapain kamu loh."
Eliz tau itu. Tapi, mau bagaimana ya ngomongnya? Kalau orang sudah keburu jengkel dan kesal, rasa-rasanya sulit untuk menghilangkan perasaan itu dari benaknya.
Eh, tapi tunggu dulu. Sepertinya ada sesuatu di perkataan Dika yang berhasil membuat Eliz mendelik seketika. Dengan garpu yang terancung ke arah cowok itu.
"Jangan mikir buat ngapa-ngapain aku, Dik!"
Dika tertawa. Tapi, ia menggeleng. "Tenang tenang. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu," ujarnya. "Aku ini bukannya antek kompeni. Yang udah dibaikin malah balik nikam dari belakang."
"Kayak yang aku bakal percaya aja."
"Kalau gitu ... mungkin ada baiknya buat kamu nyoba percaya sama aku."
"Ngimpi."
"Hahahahaha."
Tawa Dika membuat Eliz manyun. Pun ketika ia memutuskan untuk melanjutkan makannya demi selesai secepat mungkin, cemberut di wajahnya tidak menghilang.
"Liz."
Eliz tidak mengangkat wajahnya dari mangkok sop di hadapannya. Tapi, setidaknya ia masih merespon. Walau hanya melalui satu deheman samar nan singkat.
"Ehm?"
Di hadapan Eliz, Dika tampak menaruh sejenak sendok dan garpunya. Ia memandang Eliz yang masih bermuka bantal. Tidak membuat ia merasa jijik atau semacamnya. Alih-alih sebaliknya. Dika tersenyum.
"Seenggaknya kamu bisa nyoba untuk percaya aku mulai malam ini. Kalau aku tuh bukan pembohong."
Kunyahan Eliz berhenti. Ia lantas melihat pada Dika. Dalam tatapan menyipit dan dahi mengerut.
"Maksud kamu?"
"Ehm ... aku mungkin emang suka jahilin kamu," ujar Dika seraya menarik napas dalam-dalam. "Tapi, aku sama sekali bukan pembohong."
Eliz diam. Dengan potongan kentang yang terjeda untuk ia kunyah.
"Termasuk yang satu ini."
Dika menunduk. Melihat pada mangkok sopnya yang ternyata sudah kosong bersih tanpa ada sisa lagi.
"Sop masakan kamu beneran enak."
Kentang dalam mulut Eliz sontak meluncur. Beruntung sayur itu sudah tidak utuh lagi. Setidaknya Eliz beruntung karena tidak tersedak.
"Dan aku pasti senang banget kalau tiap hari bisa makan masakan kamu, Liz."
Eliz tertegun. Perkataan Dika yang diselipi senyum di wajahnya itu membuat dirinya membeku. Bahkan tanpa sadar napasnya tertahan di dada.
Mata Eliz menatap Dika. Mendapati dengan pasti bagaimana sorot itu terarah lurus padanya. Menghadirkan satu hal asing yang membuat ia meneguk ludah. Lalu Eliz berkata.
"Enak aja! Masakin kamu ini aja aku sebenarnya ogah. Apalagi masakin kamu tiap hari?!"
Dika mengerjap. "Eh?"
"Emangnya kamu mau bayar aku berapa kalau aku masakin kamu tiap hari?" tanya Eliz lagi dengan sewot. "Ck. Karena untuk kamu tau aja. Kalau aku jadi koki kamu, otomatis aku mau bayaran gede."
Tuntas mengatakan itu, Eliz bangkit. Memutuskan untuk tidak benar-benar menghabiskan makan malamnya. Sepertinya tadi ia mengambil sop melebihi porsi biasanya.
Eliz berlalu dari meja makan. Meninggalkan Dika yang tampak salah tingkah dengan tangan terangkat.
"L-Liz," panggil Dika terbata. "M-maksud aku bukan gitu. Tapi ...."
Dika tidak meneruskan perkataannya. Lantaran Eliz yang benar-benar sudah meninggalkan dirinya di meja makan. Dengan wajah yang tampak letih, ia geleng-geleng kepala.
*
Maybe we got lost in translation, maybe I asked for too much,
And maybe this thing was a masterpiece 'til you tore it all up.
Running scared, I was there, I remember it all too well.
Hey, you call me up again just to break me like a promise.
So casually cruel in the name of being honest.
I'm a crumpled up piece of paper lying here
'Cause I remember it all, all, all too well.
Eliz beranjak melepas kaos yang ia kenakan. Menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor di sudut kamar. Sedikit mengikuti tiap lirik yang mengalun, ia pun masuk ke dalam kamar mandi seraya bersenandung pelan. Antara benar-benar menikmati lantunan lagu itu atau sekadar mencoba merilekskan dirinya sendiri. Mengingat bahwa ia sedang berada dalam suasana hati yang tak terlalu bagus.
"Nyuruh aku masak tiap hari buat dia? Dih! Itu cowok otaknya ngalamin gangguan saraf atau gimana? Dikira dia aku tuh semacam koki yang bisa dibayar? Ckckckck."
Memutar keran air, Eliz segera berdiri di bawah pancuran. Membiarkan air hangat membasuh tubuhnya. Pelan-pelan membasahi kepalanya, mengalir di wajahnya, dan tak butuh waktu lama, Eliz yang polos pun lantas diselimuti oleh kehangatan itu.
Time won't fly, it's like I'm paralyzed by it
I'd like to be my old self again, but I'm still trying to find it
After plaid shirt days and nights when you made me your own
Now you mail back my things and I walk home alone
But you keep my old scarf from that very first week
'Cause it reminds you of innocence and it smells like me
You can't get rid of it, 'cause you remember it all too well, yeah
Tangan Eliz bergerak meraih botol shampoo. Menyadari itu, matanya membuka dan langsung mengecek isi botol itu.
Siapa tau aja Dika udah nukar isinya dengan kecap asin kan?
Namun, isinya tak berubah. Aroma melati di sana jelas bukan varian aroma baru dari merek kecap mana pun. Atau pun oli.
But you throw your head back laughing like a little kid
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
Eliz meniup-niup busa sabun berulang kali. Yang berhasil menimbulkan seulas senyum kecil di wajahnya. Sedikit ampuh untuk melupakan fakta bahwa saat ini, di rumah ini, ia hanya berdua saja bersama dengan Dika.
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again
Eliz sedikit memijat kulit kepalanya saat guyuran air kembali membasahi kepala. Mengurai rambutnya yang sedikit menggulung di beberapa tempat untuk selanjutnya ketika ia yakin tak ada lagi busa yang tersisa di seluruh tubuhnya, gadis itu memadamkan pancuran.
Eliz meraih handuk dan menutupi tubuhnya yang basah. Sedang handuk yang lebih kecil ia gunakan untuk membungkus rambut basahnya seadanya. Karena jelas sekali ujung-ujung rambutnya yang nakal mencuat dari balik handuk, tetap berusaha meneteskan sisa-sisa air keramas ke leher jenjangnya.
"Plip!"
Wajah Eliz mendadak kaku ketika mendadak saja kamar mandinya menjadi gelap gulita. Lampu padam di saat ia baru saja keluar dari bilik pancuran. Eliz menggeram rendah. Otaknya dengan cepat langsung pada satu kesimpulan.
Dika ngerjain aku lagi?
Pelan-pelan, Eliz membuka pintu kamar mandi. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan cowok itu, tapi tak ada. Kamarnya tampak hening dan sepi. Sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ada Dika di sana.
Sedikit mengernyit penuh antisipasi, Eliz pun melangkah keluar. Dari jendela yang masih terbuka, terlihat langit malam yang kelam. Cabang-cabang pohon tampak bergerak risih karena tiupan kencang angin malam. Lantas, setetes dua tetes air tampak masuk ke dalam kamar cewek itu.
Secepat mungkin Eliz menutup jendela. Dan dari sanalah ia melihat bahwa rumah tetangganya pun gelap.
Ehm, ternyata kali ini bukan salah satu keusilan Dika.
Listrik memang padam. Mungkin sedikit banyak berhubungan dengan cuaca malam itu yang mendadak berubah drastis. Dan oh! Eliz melupakan lagu Taylor Swift-nya yang ternyata sudah berhenti dari tadi. Harusnya sudah cukup untuk menyadarkannya bahwa saat ini memang listrik padam dan bukan karena Dika.
Tadi hp aku ada di mana ya?
Eliz meraba-raba kasurnya dan tak menemukan benda itu. Dan kalau mau diingat-ingat---
Apa seharian ini aku nggak mengisi nge-cas ya?
Bangun tidur tadi pagi Eliz langsung berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ingin ia ingat lagi apa saja detailnya. Yang pasti adalah ia benar-benar sibuk. Dan setelah itu ia harus bersiap untuk menyambut kedatangan Dika. Untuk kemudian ditutup oleh dirinya yang tidur siang hingga sore.
Eliz menganga. "Apa itu artinya aku seharian ini nggak ada megang hp?"
Sebenarnya Eliz sempat memegang ponselnya. Tadi ketika ia menghubungi Rahmi. Dan setelah itu ia tak yakin apa ponselnya masih dalam keadaan menyala atau tidak. Lantaran seharian ini tidak ia isi dayanya. Hingga mau tak mau, Eliz berakhir pada satu kesimpulan. Ponselnya sekarang pasti sudah dalam keadaan nonaktif.
"Nggak ah. Siapa tau masih nyala. Yang penting, aku cari dulu. Ehm ... di mana ya aku letakin hp aku?"
Eliz berusaha mencari-cari ponselnya. Tapi, keadaan yang gelap gulita membuat ia tak bisa berbuat banyak.
"Argh!"
Eliz menepuk dahinya. "Kok aku begok banget sih? Kan ada lampu emergency gitu di bawah."
Beranjak dari tempatnya berdiri, Eliz mengingat-ingat. Di mana pastinya lampu darurat itu berada.
"Di kamar Mama? Atau ... ehm. Kayaknya di buffet TV kali ya?"
Mengabaikan tetesan air yang masih mengalir dari rambut basahnya, Eliz meraih daun pintu. Menekannya sedikit dan menariknya. Tepat ketika pintu terbuka, jeritan sontak meluncur dari tenggorokan Eliz.
"Aaah!"
Jeritan Eliz bersambut. Oleh jeritan kaget Dika karena mendapati Eliz menjerit di depannya.
Tangan Eliz melayang refleks. Mendarat di lengan atas Dika. Berniat untuk memukul cowok itu dan yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih membuat Dika kesakitan, yang ada malah tangannya yang terasa sakit.
Ugh! Itu tangan atau samsak tinju sih?
Eliz mendelik. Dengan wajah merah perpaduan antara rasa kesal, marah, dan kaget. Semua bercampur menjadi satu hingga ia membentak garang pada Dika.
"Kamu mau main hantu-hantuan atau apa sih?! Udah gede juga!"
"Eh?" longo Dika. "Yang main hantu-hantuan siapa?"
Jari telunjuk Eliz menuding hidung Dika. "Kamu!"
"Aku?"
Dika lantas menunduk sedikit. Melihat pada cahaya putih yang berpendar tepat di bawah wajahnya. Ia mengulum senyum.
"Aaah! Ini maksud kamu?" Dika cengar-cengir seraya menimang ponselnya yang bercahaya. "Kamu takut?"
"Takut? Hah! Nggak! Tapi, aku kaget!"
Dika tertawa. Kembali menempatkan ponsel itu di bawah wajahnya. Dengan mata melotot, ia memasang wajah tanpa ekspresi. Berkata dengan suara yang dibuat sedemikian rupa hingga terdengar horor.
"Aku bakal menghantui kamu seumur hidup, Liz. Hihihihihi."
Tawa Dika makin meledak. Sementara Eliz makin berang.
"Nggak lucu sama sekali."
"Hahahahaha. Emanglah. Buat kamu ini pasti nakutin banget. Iya kan?"
Eliz mendengkus kesal. Tapi, ia memutuskan untuk tidak lanjut meladeni Dika. Ia tau, cowok itu tidak akan berhenti. Maka mengabaikan adalah cara terampuh untuk menyelamatkan kewarasan dirinya.
"Udah deh! Serah kamu mau ngomong apa. Yang pasti ... minggir!"
Eliz mendorong tubuh Dika. Membuat cowok itu mau tak mau menyingkir dari pintu kamar Eliz.
"Aku mau lewat. Dan ..." Eliz melihat pada ponsel Dika. Ia membutuhkannya. "... ikut aku ke bawah."
Mata Dika membesar. Sekilas kebingungan melintas di wajahnya. "L-Liz."
Eliz sudah keburu beranjak. Membuat Dika mau tak mau menyusul langkah cewek itu. Kegelapan bisa membuat Eliz tersandung.
"K-kamu mau ke mana kayak gitu?"
Eliz menunggu sejenak hingga lampu ponsel Dika menerangi tangga. Ia turun. Sekilas terdengar decakan kesalnya.
"Mau nyari lampu emergency, Dik. Kamu nggak lihat ini padam lampu? Dan aku perlu senter di hp kamu. Ya kali ntar aku jatuh guling-guling di tangga."
Itu adalah kecelakaan yang tidak ingin Eliz rasakan. Membayangkannya saja sudah membuat ia ngilu. Apalagi kalau benar-benar kejadian. Ih! Pasti mengerikan.
"Ya ... ehm. T-tapi, apa nggak sebaiknya kamu nunggu di atas aja? B-biar aku deh yang nyari lampunya."
Kaki Eliz menjejak lantai bawah dengan selamat. Tak menghiraukan perkataan Dika, ia terus melangkah. Menuju ke ruang keluarga. Buffet televisi adalah tujuannya.
"Apaan sih?" gerutu Eliz. "Bilang aja kalau kamu mau nguasain lampu itu sendirian kan? Hahahahaha. No no no, Ferguso!"
Eliz membuka pintu buffet televisi. Sedikit menunduk untuk melihat ke dalam. Mencoba menemukan benda yang ia cari.
"Shit, Liz!"
Pintu buffet terbanting seketika.
"Kamu ngumpatin aku?!"
"B-bukan gitu, Liz. T-tapi---"
"Ah! Di mana sih Mama nyimpen itu lampu?"
Eliz bangkit. Menatap lemari pajangan di seberang ruangan. Dan ah! Tentu saja. Pasti di lemari itu. Di bagian bawah.
Lemari pajangan itu sebenarnya cukup besar. Lemari yang biasanya menjadi tempat Rahmi menyimpan beberapa perkakas kesayangannya, entah piring atau pun cangkir-cangkir antik lainnya. Dan di bagian bawah, tertutup oleh pintu kayu yang kokoh, harusnya di sana Rahmi menyimpan lampu darurat tersebut.
Mengabaikan Dika yang tampak makin salah tingkah, Eliz beranjak. Tanpa lupa untuk menarik Dika bersamanya. Ia butuh senter.
Eliz jongkok dan membuka pintu itu. Mulai mencari. Dan di belakangnya, cahaya seadanya dari ponsel Dika tampak bergerak-gerak tidak fokus.
"Dik! Yang bener dong nyenterinnya. Ini kalau nggak ketemu kita bisa gelap-gelapan semalaman!"
"Oh, God!"
Eliz mengernyit mendengar suara Dika yang terdengar memberat. "Kamu kenapa sih? Resek banget jadi cowok," gerutunya pelan seraya memajukan tubuh. Sedikit memasuki lemari itu dan tangan cewek itu meraba-raba di dalamnya.
Astaga! Sebenarnya sedalam apa sih Mama nyimpan itu lampu? Namanya aja lampu emergency, kok malah disimpan segininya sih?
Sementara Eliz masih berusaha mencari keberadaan lampu darurat, Dika tampak menarik napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat memerah. Napasnya pun jadi kacau.
"Resek?" geram Dika. Ia mengusap wajahnya kasar. Tampak frustrasi. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk menyerah. "How could you, Liz. Menurut kamu gimana aku nggak resek kalau ada a half naked girl di depan mata aku?"
"What!?"
"Mana agak nungging gitu!" geram Dika lagi. "Menurut kamu gimana?"
"Dug!"
Perkataan tanpa tedeng aling-aling Dika sukses membuat Eliz terkesiap dan membenturkan kepalanya.
"Aduuuh!"
Eliz melenguh kesakitan. Satu tangannya mengusap kepala yang terbentur sisi pintu lemari. Akibat dirinya yang amat kaget dengan perkataan Dika, ia abaikan keselamatan dirinya. Yang penting, ia bisa melarikan diri secepat mungkin dari sana!
Ya Tuhan. Kok aku bisa sebegok ini sih?
Menggigit bibir bawahnya, Eliz berusaha menguatkan dirinya. Dengan sisa-sisa harga diri yang berceceran, ia keluar dari dalam lemari sialan itu.
Dika membantu Eliz. Wajahnya tampak mengernyit lantaran bunyi benturan kepala Eliz yang terdengar lumayan kuat. Ia bisa menebak. Pasti rasanya sakit sekali. Walau menurut Eliz sebaliknya. Rasa sakit benturan itu tidak sebesar dengan rasa malu yang ia rasakan sekarang.
Setengah telanjang? Nungging? Di depan Dika?
Mata Eliz memejam erat. Mulutnya terkunci rapat. Tangannya mengepal kuat.
"Kamu nggak apa-apa, Liz?" tanya Dika sambil mengusap kepala Eliz. Merabanya. Mencoba menemukan bila ada benjol di sana. "Ada yang sakit nggak? Ada yang luka?"
Harga diri aku yang terluka.
Ingin sekali rasanya Eliz menjeritkan hal itu. Tapi, ia mencoba untuk bertahan. Ia yakin, semua hal memalukan itu akan cepat berlalu.
"N-nggak ada yang luka," jawab Eliz gagap dengan napas yang terasa payah. Campuran antara malu dan marah. Marah pada dirinya sendiri.
Kok bisa-bisanya aku lupa fakta kalau aku belum pake baju dari tadi?
Ya Tuhan. Maka sepertinya wajar saja bila dari tadi Dika seolah-olah mempertanyakan Eliz yang nekat untuk mencari lampu darurat itu. Hal tersebut bukan karena Dika ingin menguasai lampu itu seperti tuduhan Eliz. Alih-alih sebaliknya. Karena Eliz yang belum berpakaian!
"Sini."
Menarik lembut tangan Eliz, Dika membantu cewek itu untuk benar-benar keluar dari lemari pajangan. Dengan suara yang terdengar begitu simpatik dan seolah tidak memedulikan keadaan Eliz yang belum berpakaian.
"Kamu tunggu bentar deh. Biar aku yang nyari itu lampu."
Itu adalah pilihan yang paling tepat. Eliz tidak akan menolak kali ini. Alih-alih ia justru tampak patuh. Mengangguk. Sedikit beringsut. Berdiri dengan kaki gemetaran hanya untuk merasakan satu tarikan samar yang seperti berusaha menahan dirinya.
Eliz menunduk. Melotot. Dan jeritannya pecah.
"Aaah!"
Handuk putih yang menutupi tubuh polos Eliz lepas. Jatuh dan mendarat di atas lantai. Sontak membuat ia panik seketika.
Eliz langsung menghambur. Memeluk Dika. Kedua tangannya dengan cepat saling bertaut di punggung cowok itu. Berikut dengan wajahnya yang langsung menekan dada bidangnya. Demi melenyapkan jarak yang bisa membuat mata Dika melihat dengan jelas keadaan Eliz yang polos.
"Jangan buka mata, Dik. Please! For God's sake! Don't! Please!"
Eliz putus asa. Tidak sempat berpikir apa-apa. Dan hanya itu satu-satunya tindakan refleks yang bisa ia lakukan. Jangan sampai Dika melihat dirinya dalam keadaan yang amat memalukan seperti itu.
Dika membeku. Tidak mengatakan apa-apa. Ia bergeming. Tak bergerak sedikit pun. Hingga pada akhirnya, ia mengangguk di atas kepala Eliz.
Eliz menunggu beberapa detik. Ia mengangkat wajahnya. Melihat bagaimana Dika yang memejamkan mata. Wajahnya terlihat kaku. Dengan tampilan jakun yang naik turun dengan kesan gelisah.
Eliz tidak menyalahkan Dika. Ia jelas bisa menilai dengan objektif bahwa dirinya yang salah kali ini.
Setelah memastikan bahwa Dika melakukan apa yang ia katakan, Eliz perlahan melepaskan pelukannya. Dengan cepat menyambar handuknya. Tanpa lupa menatap geram pada kunci lemari yang mengait handuknya hingga benda itu terlepas dari tubuhnya.
Eliz tak mampu menahan umpatannya untuk berulang kali keluar ketika ia berhasil melilitkan handuk itu kembali di tubuhnya. Rasa malu sungguh membakar wajahnya. Dan kalau bisa, dijamin. Eliz pasti sudah mengharaj kunci lemari itu.
Ini sudah cukup, Tuhan. Nggak bisa lebih memalukan lagi.
Dan sebelum suasana berubah menjadi lebih membuat ia tak berdaya, Eliz merebut ponsel Dika dari tangan cowok itu. Ia tidak ingin lama-lama terjebak dalam situasi memalukan itu. Ia harus melarikan diri. Menyelamatkan harga dirinya yang masih tersisa.
"K-kamu cari lampunya," kata Eliz gagap. "Aku ke kamar."
Tanpa menunggu persetujuan Dika, Eliz langsung beranjak dari sana. Dalam langkah terburu-buru. Ia berlari. Demi pergi secepat mungkin.
Mata Dika mengerjap sekali. Dalam sisa-sisa cahaya yang tertinggal, ia berpaling. Melihat bagaimana Eliz yang berlari dengan begitu terburu-buru. Itu jelas berbahaya.
"Liz! Jangan lari-lari!" seru Dika. "Ntar kamu ja ..."
"Bruuuk!"
Peringatan Dika terlambat. Kaki Eliz sudah keburu silap. Membuat cewek itu terjatuh dengan begitu telak di lantai.
"Aaah!"
Dika memejamkan mata. Tidak tega melihat Eliz. Dengan sisa perkataannya yang tetap ia ucapkan walau dengan lirih.
"... tuh."
*
bersambung ....
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top