NINE

Written by Sheliu.

Sorot mata yang tajam dan dingin setiap kali menyapukan pandangan ke sekitarnya, sehingga membuat orang-orang yang tidak sengaja bertatap muka padanya, langsung menundukkan kepalanya.

Setiap kehadirannya membuat orang lain harus bergeser untuk memberikan jalan secara spontan, tanpa perlu melihat sosoknya.

Sebuah metal platinum card yang tidak sembarang orang bisa memilikinya, kartu yang terbuat dari besi platinum yang tipis dan berkilat. Kartu itu tidak hanya digunakan untuk membayar saja, itu bisa digunakan untuk melewati berbagai akses pemeriksaan, dan juga akses masuk ke berbagai tempat penting.

Interaksi yang dilakukan kepada setiap orang pun diperhatikannya dengan seksama. Bahkan dengan seorang kasir muda yang terlihat begitu menghormatinya.

Ada yang salah dengan Darren, pikir Patricia. Tidak. Bukan salah. Melainkan ada banyak hal yang terlihat selama dia berada disini, di negara ini! Jika selama ini, Darren bersikap biasa saja dan berbaur dengan para rekan sekerjanya, kali ini tidak. Entah kenapa Patricia merasa Darren bersikap berbeda di tempat ini.

Darren tampak seperti penguasa, dia memiliki sebuah kendali yang tidak bisa diabaikan atau membuat orang berkutik sedikitpun. Pria itu seakan tidak pernah peduli dengan siapa dirinya berhadapan dan akan melakukan penegasan jika orang itu bersalah.

Patricia bahkan sengaja membeli ponsel termahal yang sama sekali tidak diperlukannya, dia hanya membutuhkan ponsel biasa saja untuk melakukan komunikasi. Tapi ide membeli ponsel mahal itu muncul ketika Patricia mengunci kamarnya setelah bertengkar dengan Darren kemarin.

Persis seperti dugaan Patricia, bahwa Darren mampu membayar ponsel senilai delapan juta dolar! Heck! Patricia bahkan tahu berapa besar gaji yang diberikan oleh para petinggi Eagle Eye kepada para orang kepercayaannya. Bahkan pendapatan para petinggi saja, jika dikumpulkan dari Eagle Eye tidak mencapai lima juta dolar per bulannya. Tapi Darren? Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu?

Patricia merasa bodoh kenapa tidak pernah menanyakan Darren kepada Petra? Dia yakin kakaknya tidak akan sembarangan menerima orang untuk bekerja dengannya, bisa jadi Petra sudah tahu siapa Darren sebenarnya. Dan kini giliran dia yang harus mencari tahu siapa Darren sekarang.

Dengan menjalani peran sebagai wanita penggoda, Patricia berusaha untuk membuat Darren berbicara. Setidaknya usaha seperti ini selalu berhasil dilakukan Patricia setiap kali dia menginginkan informasi yang dibutuhkannya. Meski kali ini, pria yang dihadapinya termasuk sulit. Karena bukannya pria itu yang terbuai, malahan Patricia yang selalu terbuai oleh sentuhan dan ciuman pria itu.

"Take off your clothes, Petal." ucap Darren dengan nada perintah ketika pria itu sudah duduk di sofa tunggal dalam kamar itu.

Mereka sudah kembali ke rumah tanpa berbelanja bahan makanan. Darren bahkan mengebut dengan kecepatan maksimal agar bisa mencapai rumah ini secepatnya.

Patricia berdiri tepat di hadapan Darren dengan jarak beberapa meter darinya. Dia menyibakkan rambut panjangnya yang bergelombang dengan sengaja, karena dia tahu setiap gerakan yang dilakukannya, sudah pasti diperhatikan oleh Darren.

"Bagaimana kalau kita bermain, baby? Aku tidak mau terlalu seperti jalang yang begitu mudah membuka pakaianku." ucap Patricia sambil menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi sedikit nakal.

Dia akui kalau dirinya memiliki bakat menggoda, apalagi wajahnya yang mendukung dirinya untuk menghancurkan pertahanan pria manapun agar jatuh kepada pesonanya. Kesan sensual yang dimilikinya, juga ekspresi nakal yang sering dimainkannya, membuatnya mendapat julukan bitchy bitch dari Nayla dan Joana. Dia cukup berbangga diri dengan kemampuannya itu. Setidaknya dia mendapatkan keuntungan dalam memuaskan dirinya tanpa harus menyentuh diri sendiri.

Darren mengangkat alisnya sambil menyeringai senang mendengar ucapannya. Patricia tahu kalau Darren menyukai setiap kali dia mencoba menggodanya. Dia juga yakin kalau Darren mengetahui rencananya, hanya saja Patricia ingin melihat siapa yang mampu bertahan lebih lama. Itu saja.

"Permainan apa yang kau inginkan, Petal?" tanya Darren senang.

"Satu pakaian, satu pertanyaan." jawab Patricia langsung. "Aku memakai jaket kulit, turtleneck sweater, skinny pants, boots, bra, dan celana dalamku."

"Jadi ada enam pertanyaan?" balas Darren sambil terkekeh geli.

"Jika kau ingin aku menyentuhmu, maka kau harus memohon padaku." sahut Patricia dengan mata berkilat senang ketika ekspresi Darren berubah menjadi dingin.

See? Pria itu memiliki ego yang sangat tinggi. Sama sekali tidak ada rasa tunduk atau hormat kepada orang lain selain dirinya sendiri. Dia terlihat tersinggung dengan ucapan Patricia barusan.

"Kau tidak diperkenankan untuk memerintahku. Lagipula, kita tahu jelas siapa yang sering memohon untuk dipuaskan disini." tukas Darren dengan nada sinis.

Aura dingin yang terpancar dari Darren membuat Patricia menyukai pemandangan itu. Apalagi cara duduknya seolah pria itu memiliki adikuasa yang tidak terbantahkan. Darren tampak begitu tegap dan gagah, terlihat seperti duduk di kursi kebesarannya, kaki panjangnya disilangkan, dan ekspresinya yang angkuh terlihat penuh otoritas.

Demi apapun, Patricia menginginkan dirinya dihukum oleh Darren saat ini jika dia telah melakukan kesalahan kepada pria itu. Hal itu membuatnya bergairah dan menginginkan Darren lebih dari apapun sekarang.

Patricia mulai melepas jaket kulitnya dengan perlahan sambil mengawasi ekspresi Darren yang masih dingin. Sorot matanya menghunus tajam seolah ingin menerobos masuk ke dalam tatapan Patricia saat ini.

"Kenapa kau terlihat marah padaku? Bukankah hal yang wajar jika kita saling memohon untuk dipuaskan?" tanya Patricia santai.

"Aku tidak marah. Hanya tidak menyukai selera humormu yang sama sekali tidak lucu." jawab Darren datar.

"Barusan aku tidak bercanda, tapi kenapa kau begitu serius menanggapinya?" tanya Patricia lagi.

"Kau tidak diperkenankan untuk bertanya kembali, Petal. Kecuali jika kau mau melepas lagi pakaianmu itu." balas Darren sambil menyeringai sinis.

Dasar bajingan licik, rutuk Patricia dalam hati.

"Aku tidak mau kalau kau masih cemberut padaku. Kau menakutkan." sahut Patricia dengan nada merajuk sambil meremas pelan payudaranya dari balik sweaternya.

Gotcha! Darren terlihat menahan napasnya ketika Patricia memberi sedikit pertunjukan untuknya. Matanya mendelik tajam kearah tangan Patricia yang masih membelai di lekuk payudaranya sendiri.

"Don't dare to touch it, Petal. That's mine!" ucap Darren dengan suara mengetat.

"Why? Ini adalah tubuhku sendiri dan aku berhak melakukan apapun." balas Patricia dengan alis terangkat menantang.

Darren melihatnya dengan ekspresi murka. Patricia malah memekik dalam hatinya karena bisa membuat pria itu semakin naik pitam. Dia senang dengan kesan otoriter yang terlihat dari pria itu.

"Bukankah pernah kubilang kalau kau adalah milikku dan aku berhak memegang kendali atas dirimu, termasuk tubuhmu?" sahut Darren dengan sengit.

"Kurasa itu adalah pertanyaan, jadi jika kau ingin aku menjawab, lepas pakaianmu!" tukas Patricia sambil tersenyum manis.

Darren menggeram dan melakukan apa yang diinginkan Patricia. Dia melepas jaket kulitnya dan membuangnya sembarangan di lantai dengan kasar. Patricia menyeringai senang dan mengangkat bahunya dengan santai.

"Atas dasar apa kau merasa berhak atas diriku? Jangan lupa kalau aku adalah atasanmu dan kau adalah bawahanku, baby." ujar Patricia kemudian.

"Lepas pakaianmu. Itu sudah termasuk pertanyaan." balas Darren lugas.

Untuk mengulur waktu dan memancing kemarahan Darren, Patricia memilih untuk melepas sepatu bootsnya dan dia tersenyum ketika bisa mendengar geraman dari Darren.

"Jawabanmu, baby." Patricia sengaja mengingatkan karena Darren terlihat masih menatap dengan sorot mata tajam.

"Kau sudah menjadi milikku sejak dulu, Petal. Kita sudah saling mencintai dan kau menyerahkan dirimu sendiri padaku. Aku memang hanya seorang bawahan dan itu pada kakakmu saja. Jika kau merasa dirimu adalah atasanku, mungkin itu adalah saat aku bekerja di bawahmu. Kebetulan, bagian bawahmu sangat sensitif sehingga aku harus memberi perhatian lebih lewat jilatan dan hisapanku." jawab Darren enteng sambil menyeringai puas melihat Patricia yang kini menahan napasnya.

Damn! Ucapan Darren barusan malah membuat kewanitaannya berdenyut nyeri karena bayangan akan Darren yang bekerja untuk memberinya kepuasan itu langsung terekam ulang di kepalanya sekarang.

"Itu sudah masa lalu dan jangan membahas lagi. Kau yang memutuskan hubungan itu dan meninggalkanku begitu saja." balas Patricia dengan tatapan menerawang.

"Aku sudah bilang bahwa aku memiliki alasan kenapa memutuskan hubungan itu, Petal! Aku ingin kau aman." sahut Darren dengan nada tinggi.

"Beritahu aku apa alasanmu dan kenapa kau memutuskan hubungan itu? Aku kesal karena sedari dulu kau tidak pernah memberitahukannya kepadaku!" seru Patricia dengan sinis.

Alis Darren terangkat setengah. "Itu adalah pertanyaan, jadi kau harus melepas pakaianmu."

Patricia mengerjap dan menatap Darren dengan semua kemarahannya. Pria itu masih memberikan ekspresi dinginnya, sama sekali tidak mengindahkan ucapannya.

Patricia menggertakkan giginya sambil melepas semua pakaiannya dengan ekspresi menegang. Dia berusaha keras untuk tidak emosional karena rasa sedih yang menghantam keras dalam hatinya. Pria itu bisa seenaknya memutuskannya secara sepihak dan bisa semudah itu mengatakan bahwa Patricia adalah miliknya.

"Petal..."

Gerakan Patricia yang hendak melepas celana dalamnya sebagai pakaian terakhir yang menempel di tubuhnya terhenti, karena Darren sudah menangkup kedua bahunya dan sudah berdiri menjulang di hadapannya.

"Hey, kenapa kau menangis?" tanya Darren lembut sambil mengusap air mata Patricia.

Patricia menepis tangan Darren dan berusaha untuk menahan  diri agar tidak menangis, namun justru dirinya terisak begitu saja ketika Darren memeluknya erat.

"Ssshhh... jangan menangis lagi. Please. Aku tidak ingin kau tiba-tiba sedih seperti ini." ucap Darren sambil menahan Patricia yang berusaha memberontak.

"Pakai aku sampai kau puas. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau sekarang, anggap aku adalah jalang yang ingin kau hancurkan. Setelah kau puas, tinggalkan aku dan pergi dari hidupku! Aku tidak mau melihatmu lagi!" desis Patricia sambil terisak dan terus memberontak dari kungkungan tubuh besar Darren.

Darren tersentak dan melepaskan pelukan sambil menatap Patricia dengan berang. "Harus berapa kali aku tidak menganggapmu seperti jalang! Aku bilang kau adalah milikku dan itu berarti kau segalanya bagiku!"

"Bullshit! Yang kau pikirkan hanya seks, seks, dan seks jika denganku!" teriak Patricia berang dengan airmata yang mengalir deras. "Aku membencimu tapi aku tidak mampu untuk menolakmu. Aku benar-benar wanita yang begitu rendah dan murahan jika berhadapan denganmu!"

"Itu karena kau masih mencintaiku, Petal!"

"Hentikan panggilan menjijikkan itu! Aku tidak suka!"

"Aku tidak peduli. Itu adalah panggilan terindah untukmu dan aku menyukainya. Sebuah bunga tidak akan indah tanpa kelopaknya, dan kau adalah kelopak indah itu untuk menyempurnakan kekacauan dalam hidupku." ujar Darren pelan.

Tangis Patricia terhenti dan dia menatap Darren dengan heran. Pria itu berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil bathrobe dan menutupi tubuh Patricia dengan cepat.

"Maafkan aku jika apa yang kuinginkan membuatmu merasa seperti jalang, tapi kau membuatku tidak mampu menahan diri. Kau seperti candu bagiku dan membuatku over dosis sejak kita kembali melakukannya di hotel bandara waktu itu." tambah Darren sambil membungkuk untuk menyamakan posisi kepala mereka.

Ekspresi wajah Darren melembut dan sorot matanya penuh kasih di dalamnya. Emosi yang ditunjukkan pria itu begitu cepat berubah jika bersamanya, padahal yang dia tahu adalah pria itu tampak begitu tenang dan stabil jika bekerja dalam Eagle Eye.

"Kalau begitu bisakah kau memberitahuku alasanmu yang memutuskan hubungan kita waktu itu?" tanya Patricia serak.

"Aku pernah mengatakan alasanku padamu kemarin. Jika kau bersamaku, maka kau tidak aman. Akan ada banyak yang mengincarmu dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi." jawab Darren lembut.

"Kenapa? Siapa yang akan mengincarku?" tanya Patricia lagi.

Darren menegakkan tubuhnya dan duduk kembali di sofa tunggal dengan Patricia yang duduk diatas pangkuannya. Dia memandang wajah Patricia dengan penuh arti.

"Sebenarnya aku dalam pelarian ketika bertemu denganmu kala itu. Bukan pelarian juga. Aku diusir. Tapi bukan diusir juga. Aku disuruh memilih dan aku memilih untuk keluar dari rumah ayahku." jawab Darren yang terlihat kebingungan sendiri dengan perkataannya.

"Kau... masih memiliki orangtua?" tanya Patricia kaget.

Darren mengangguk sebagai jawaban.

"Kukira kau itu orang yang sudah tidak memiliki keluarga seperti Brant atau Russell." gumam Patricia pelan.

"Russell masih memiliki keluarga, hanya saja tidak terlalu dekat. Kau pasti sudah sangat mengenal Luke karena dia berasal dari keluarga yang sudah menjadi kepercayaan ayahmu sejak dulu. Hanya Brant yang memang sebatang kara tapi... sekarang dia sudah menikah." ujar Darren dengan mimik wajah geli ketika menyebut kalimat terakhirnya.

"Ah, sih bajingan tua itu menikah dengan wanita yang menjadi anak asuhnya itu. Aku tidak sempat menghadirinya dan tidak berminat mengucapkan selamat padanya. Menurutku, percintaannya kurang manusiawi." balas Patricia sambil meringis.

"Bukankah itu sangat manis? Aku senang melihat dirinya tampak bahagia dengan anak muda itu." ujar Darren senang.

"Mungkin aku merasa agak aneh dengan percintaan yang berselisih belasan tahun, dimana mereka lebih pantas seperti ayah dan anak saja." timpal Patricia.

"Kata siapa? Brant tidak setua itu dan Irina tidak terlalu kekanakan. Mereka saling menyeimbangkan dan begitu serasi. Sama seperti kita, bukan? Kau dan aku meski berselisih tujuh tahun, namun aku merasa senang kalau ternyata aku bisa menggaet gadis muda sepertimu." ujar Darren geli.

"Tapi kau tidak seperti pria yang sudah berumur matang." sahut Patricia jujur.

Darren menyeringai senang. "Tentu saja. Itu namanya rasa tertarik yang terjalin diantara kita. Segala perbedaan seakan hilang ketika kita bisa merasakan sesuatu yang sama. Yaitu cinta, Petal. Aku tahu kau masih memiliki perasaan padaku lewat seringnya kau menolakku dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan."

Semua yang diucapkan Darren adalah benar adanya. Patricia  memang kerap kali menolak keberadaan Darren dimanapun mereka berada dalam satu keadaan yang sama. Meski terkadang Darren terlihat akan mendekatinya, Patricia akan bergerak menjauh untuk menghindari adanya komunikasi.

"Aku terlalu kecewa dan merasa sakit hati atas keputusanmu secara sepihak yang tiba-tiba. Aku menolak untuk merasakannya lagi." ujar Patricia kemudian.

Darren termenung lalu menghelakan napasnya sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Patricia. "Maafkan aku, Petal. Aku yang bersalah dan tidak seharusnya aku menyakitimu tanpa alasan. Hanya saja waktu itu tidak bisa kujelaskan karena kau yang masih begitu muda."

Patricia menyisir rambut berantakan Darren dengan jari-jarinya, dia menyukai bagaimana pria itu bisa bersikap manis seperti sekarang ini.

"Bisakah kau jelaskan padaku apa alasannya dan kenapa aku bisa dalam bahaya jika bersamamu?" tanya Patricia lembut.

"Ayahku adalah seorang diktator yang tidak tahu diri. Dia menuntut ini itu padaku dan selalu menekanku dengan semua peraturannya, termasuk dengan siapa aku harus bersama." ujar Darren sambil menarik diri agar bisa menatap Patricia. "Aku dijodohkan dengan wanita yang tidak kusukai, dia memaksaku dan aku tidak mau. Lalu aku disuruh memilih untuk mengikuti kemauannya atau keluar dari rumahnya. Aku pun memilih pilihan kedua."

Patricia mengerjap dan kini membetulkan posisi untuk bisa menatap Darren dengan seksama. Rasa penasarannyaa menguar begitu saja ketika dia bisa tahu apa alasan Darren memutuskan hubungannya sekarang.

"Aku keluar dari rumah itu dan aku memilih untuk pindah kemanapun yang aku inginkan. Semua aksesku dibekukan dan aku tidak memiliki siapa-siapa untuk menolongku. Untungnya aku bertemu dengan kakakmu dan disitulah aku bergabung ke dalam Eagle Eye." lanjut Darren sambil menautkan rambut Patricia ke belakang telinga.

"Apakah setelah kau keluar dari rumah itu, ayahmu mengawasimu?" tanya Patricia dengan mata menyipit tajam.

Darren mengangguk dengan ekspresi kesal. "Tadinya kupikir dia benar-benar mengabaikanku dan aku bisa merasakan kebebasanku, tapi ternyata tidak. Dia mengirim beberapa orangnya untuk mengawasiku dan melihat apa yang kulakukan diluar sana. Termasuk dengan siapa aku bersama."

"Lalu?"

"Aku tidak menyangka kalau dia berniat untuk menghancurkan apa yang kumiliki, supaya aku bisa kembali padanya untuk mengiba. Tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi, karena itulah aku meminta Petra untuk membantuku. Berkat Petra, aku bisa melakukan pelatihan itu tanpa diketahui olehnya dan posisiku disembunyikan sehingga ayahku tidak bisa melacak keberadaanku."

"Jadi, itukah alasannya kenapa kau dan yang lainnya tiba-tiba menghilang? Lalu ketika kalian muncul, sudah ada perkembangan baru dalam Eagle Eye soal teknologi yang berkembang pesat?" tanya Patricia.

Darren mengangguk. "Kami mengikuti pelatihan militer dengan keras dan cukup ekstrim, tujuannya adalah agar kami bisa menjadi ahli dalam menggunakaan senjata, dan memiliki strategi perang dalam menghadapi lawan. Hal itu sangat diperlukan olehku untuk kedepannya, jika satu kali aku harus kembali berhadapan dengan ayahku."

"Apakah ayahmu sehebat itu?"

"Dia tidak sehebat itu, tapi dia memiliki orang-orang yang hebat dalam melakukan apa yang diperintahkannya." jawab Darren dengan nada pahit. "Karena itulah aku memutuskan hubungan kita agar aku bisa fokus melatih diri, sementara kau bisa menjalani keseharianmu tanpa adanya pengawasan dari pihak mereka, jika tahu kau adalah kekasihku selagi aku tidak ada."

"Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Jika kau menjelaskannya sedari awal, kita bisa mencari jalan keluar bersama tanpa harus menyakiti perasaanku." ucap Patricia ketus.

Dia bahkan menangisi kepergian Darren dan merindukannya selama beberapa bulan dalam kesendiriannya, karena tidak ada satupun yang tahu soal hubungan terlarangnya. Dia tidak ingin ayahnya tahu kalau dirinya menjalin hubungan dengan seorang pengawal. Dia kuatir jika ayah dan kakaknya akan melakukan sesuatu pada Darren jika mengetahui hubungan itu.

"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan hal ini kepada remaja labil sepertimu." balas Darren seadanya.

"Aku tidak labil."

"Yeah, kau bisa berkata seperti itu dalam posisi kau yang sudah dewasa seperti sekarang. Berbeda dengan beberapa tahun lalu dimana kau baru akan masuk kuliah."

Patricia terdiam karena apa yang dikatakan Darren lagi-lagi benar. Usia remaja memang membuat emosi labil dan tidak bisa berpikir panjang. Namun herannya, kenapa rasa cintanya kepada Darren tidak labil melainkan begitu stabil? Sial!

"Apakah kakakku tahu?" tanya Patricia kemudian.

Darren menatapnya dengan ekspresi melembut. "Dalam keadaan seperti itu, aku terpaksa mengatakan hal yang sebenarnya kepada ayah dan kakakmu."

"Maksudmu soal ayahmu yang mengawasimu?"

Darren menggeleng. "Soal hubungan kita."

Mata Patricia melebar kaget. "Apa kau gila? Kapan kau memberitahu mereka? Jika mereka tahu, kenapa mereka tidak menindak tegas diriku dan kenapa kau masih bisa masuk dalam organisasi mereka?

"Aku memberitahukan diriku kepada mereka dan menjelaskan permasalahannya. Aku tidak ingin sampai kau terluka, makanya aku meminta mereka untuk mengawasimu dengan ketat. Meski aku harus mengalami pukulan telak dari ayah dan kakakmu sampai aku tidak sadarkan diri selama beberapa hari."

Patricia spontan mengusap wajah Darren yang sedang menyeringai geli kearahnya. Kenapa pria itu bisa menjelaskan semua itu dengan naluri isengnya, seolah apa yang dia alami bukan masalah? Dan kenapa keluarganya yang sudah mengetahui hal itu, tapi tidak melakukan sesuatu, atau menegurnya sekalipun? Pantas saja, Petra sering mengejek dirinya dengan sindiran dan ayahnya pasti akan bersikap santai.

"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Patricia lagi.

"Mereka mulai melakukan sesuatu dan mengawasi pergerakan dari orang-orang suruhan ayahku. Sedangkan aku tetap menjalani pelatihan itu bersama dengan yang lainnya." jawab Darren kemudian.

"Apakah mungkin inilah alasan kenapa ayahku membawaku untuk mengikuti pelatihan secara tersembunyi di kampung halaman nenekku di Jepang? Lalu dia membentuk Orchid League sebagai pertahanan kami para wanita?" gumam Patricia sambil mencoba mengingat-ingat kejadian itu.

Selama satu tahun, Patricia menjalani pelatihan itu dan dididik langsung oleh mantan yakuza wanita bernama Naomi. Patricia tidak hanya sendiri, dia menjalani pelatihan itu bersaman dengan Nayla, Joana, juga Ashley dan Alena. Ibunya pun memantau mereka dan memastikan kebutuhan mereka tercukupi selama pelatihan khusus itu berlangsung. Dan setelahnya, mereka berlatih di tempat yang berbeda selama beberapa tahun terakhir. Sampai akhirnya, Ashton mulai menggerakkan mereka untuk ikut andil dalam mengurus organisasi kriminal lainnya di berbagai tempat.

"Soal itu, aku tidak tahu. Mungkin saja bisa seperti itu agar kau memiliki kemampuan diri untuk menghadapi orang-orang jahat. Jujur saja, aku pun kaget ketika melihat dirimu waktu itu. Ketika kau yang masuk menerobos jendela di lantai tertinggi gedung, atau ketika kau menampakkan dirimu di depan kakakmu sendiri lewat outfit kerenmu itu." ujar Darren sambil memeluk pinggangnya dan mengecup pipinya.

"Kau bisa mengenaliku?" tanya Patricia takjub.

Darren mengangguk dan memiringkan wajahnya untuk melihatnya. "Aku dan Petra sebenarnya sudah bisa mengenalimu, hanya saja kami masih belum yakin dan ingin melihat siapa yang menjadi dalang dari semua hal konyol itu. Hidungmu, bibirmu, lekuk tubuhmu, dan sorot matamu yang berkilat inilah yang mengingatkanku pada dirimu ketika melihat sosok Rose Petal."

Patricia melingkari bahu Darren dengan kedua tangannya. "Kau menatap Rose Petal sampai sedetail itu? Apa mungkin kau juga menilai Nayla yang memakai outfit yang sama ketika menggantikan posisiku saat itu?"

Darren tertawa. "Tentu saja. Aku sudah yakin kalau ada dua sosok tapi Petra bersikeras itu hanya satu orang. Aku melihatmu terluka di bahu kala itu, tapi ketika kalian membawa Joana, aku tidak melihat ada bekas luka di bahu sosok yang sedang bergantungan diatas helikopter. Lagipula bentuk bokongnya berbeda."

"Hey! Kenapa kau sampai membawa-bawa bentuk bokong?" tegur Patricia kaget.

"Bokong Nayla cukup seksi namun tidak seperti milikmu. Tubuhnya indah, tapi posturnya terlalu mungil untukku. Yang jelas, Nayla masih perawan dan kau tidak." sahut Darren enteng.

"Kau bisa menilai wanita masih perawan atau tidak hanya dari bentuk bokongnya?" tanya Patricia tidak percaya.

"Bentuk bokongmu sebesar kepalan tanganku." jawab Darren sambil mengarahkan telapak tangannya yang besar kearahnya lalu tersenyum. "Naluriku bersuara dan memiliki sebuah keyakinan jika itu berhubungan dengan wanita yang kucintai. Salah satunya adalah lekuk tubuhmu. Bahkan aku tahu dimana letak tanda lahirmu dan aku yakin kau tidak akan menyadarinya karena kau tidak bisa melihatnya."

Patricia tertegun mendengar ucapan Darren soal wanita yang dicintainya. Apakah benar pria itu benar-benar mencintainya dan tidak sedang bergurau? Jika ya, Patricia tidak bisa berkata apapun lagi selain merasakan debar jantungnya yang mulai berdegup kencang.

"Pada intinya aku mulai merasa tenang atas apa yang sudah dilakukan ayahmu atas dirimu, Petal. Aku tidak merasa harus terlalu mencemaskanmu karena kau bisa menjaga dirimu sendiri, namun kau tetap harus kulindungi." tambah Darren dengan ekspresinya yang serius.

"Bisakah kau memberitahuku soal ayahmu? Kenapa dia terdengar begitu menyebalkan? Apakah aku boleh menusuknya dengan pisau beracunku?" tanya Patricia dengan alis berkerut.

Darren tertawa geli. "Dia memang menyebalkan dan kurasa dia tidak akan suka jika ada wanita muda yang berani menantangnya."

"Apakah ayahku mengenalnya? Jika kudengar dari ceritamu, sepertinya ayahmu adalah orang penting." celetuk Patricia ketus.

"Dia hanya orang biasa-biasa saja yang tidak memiliki kapasitas sebesar orang penting, namun sering berhalusinasi untuk menjadi orang besar. Biasalah." balas Darren sambil mengangkat bahunya dengan santai.

Alis Patricia berkerut bingung dan memperhatikan ekspresi Darren yang berubah menjadi masam. "Sepertinya hubungan dengan ayahmu tidak bagus yah?"

"Begitulah." jawab Darren langsung dan matanya kini menunduk kearah bagian dadanya.

Bathrope yang dikenakannya tidak cukup tertutup sehingga lekuk payudaranya sedikit mengintip dari celah yang tersingkap ke samping. Tatapan Darren tertuju kesitu dengan ekspresi yang menyiratkan gairah. Bahkan Patricia bisa merasakan ketegangan yang ada di bawah bokongnya karena dia masih duduk di atas pangkuan Darren.

Tanpa berkata apapun, Patricia menarik ikatan bathrope yang melilit tubuhnya dan membukanya, lalu melepasnya dari tubuhnya tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya dari wajah Darren yang terlihat heran.

"Petal, aku tidak mau kau berpikir kalau aku menganggapmu..."

"Aku sudah mengetahui alasanmu memutuskan hubungan kita dan mengerti bahwa kau masih mencintaiku. Bagaimana kalau kita melakukannya atas dasar cinta, dan bukan karena nafsu sesaat?" sela Patricia lembut.

Darren terdiam beberapa saat lalu tersenyum senang sambil melepas kaos yang dikenakannya dengan cepat. Dia terlihat begitu senang dan mengubah posisi Patricia dengan mengangkat kedua kaki jenjangnya untuk melingkari pinggangnya.

"Aku bahkan melakukan seks dengan penuh cinta dan kerinduan yang mendalam saat bersamamu." bisik Darren sambil mengecup bibirnya dengan lembut.

Patricia menarik nafasnya dengan terengah ketika Darren mulai mencium lekuk lehernya dan menyesap kulitnya dengan bernafsu. Kedua tangan Darren pun mulai meremas lembut bokongnya, lalu naik ke sisi tubuhnya dan membelai lembut payudaranya.

Sentuhan Darren sudah membuat Patricia terangsang dan gairahnya sudah timbul seakan menuntut untuk diluapkan. Namun masih ada hal yang membuat Patricia perlu menanyakan sesuatu sebelum melanjutkan aktifitasnya bersama Darren.

"Baby, siapa nama ayahmu?" tanya Patricia sambil mendesah pelan menerima gigitan lembut di telinganya.

Darren masih asik memberikan mengigit telinganya dan membelai payudaranya dengan gerakan yang berirama. "Brice William Konstantinus."

Patricia tidak sempat merespon apa-apa ketika mendengar nama itu, karena Darren sudah meraup bibirnya dan menciumnya dengan liar, sampai dirinya nyaris kehabisan nafas karena Darren mendekapnya begitu erat dan seakan tidak menginginkannya untuk berkutik.


🌷🌷🌷🌷🌷

Jadi tuh aku dipaksa babang untuk lanjutin part yang menurutnya agak ribet.

Sedangkan dia males nulis percakapan di part ini yang menurutnya nggak asik 😣

Demi bisa menulis lanjutan yang katanya mengasikkan di Sabtu nanti, babang suruh aku upload part ini.

Btw mau bilang aja :
Untuk kemarin yang menang giveaway kiriman paket, babang ada titip coklat buat valentinan...
Takut ada yang jomblo katanya 🤣

Jangan protes ke aku,
Protes sama dia yah.
Aku cuma numpang update part ini.

Nanti malam kita berjumpa
di lapak Shin yah 😘😘😘
Ada Ahjussi rempong yang muncul.







Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top