ELEVEN
Written by Sheliu
Patricia terus mengumpat dalam hati sambil memakai pakaiannya dan perlengkapan dirinya. Jika dilihat dari arah luar tadi, ada sekitar tiga unit mobil traktor yang datang kesini. Itu berarti rumah ini akan dihancurkan. Shit! Apa dosa yang sudah dilakukan dirinya sampai harus mengalami kesialan yang datang bertubi-tubi? Selama dirinya menjalani perjalanan untuk melakukan pekerjaannya, dia tidak pernah diintai atau dikejar oleh oranglain. Bahkan dirinya memakai identitas palsu yang tidak diketahui oleh siapapun tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Dia memakai bootsnya dan menyelipkan beberapa alat penting yang dimilikinya di saku jaketnya, saku celananya dan sisi bootsnya. Koper bawaannya terpaksa harus ditinggalkannya karena tidak memungkinkan untuk dibawanya.
"Apa kau sudah siap? Dalam jarak..."
"Tutup mulutmu!" desis Patricia tajam sambil melotot galak kearah Darren. "Sudah menjadi kesialanku ketika kau mendampingiku kesini sejak hari pertama!"
Darren terdiam dan tidak menanggapi ocehan Patricia. Persis seperti apa yang diinginkan Patricia. Jika Patricia marah, dia ingin orang di sekelilingnya diam saja atau dia akan menjadi lebih berang dari sebelumnya.
Dia baru saja hendak melangkah untuk memberi pelajaran pada manusia-manusia brengsek yang akan segera tiba di halaman rumah itu, tapi tangannya sudah keburu dicekal oleh Darren.

Patricia mengerutkan alisnya ketika lemari yang memiliki enam pintu itu dibuka oleh Darren. Tampak dua pintu tengah dari lemari itu kosong, dan ketika Darren menekan sisi samping lemari itu, bagian dalam lemari itu terbuka dan memberikan sebuah jalan panjang yang terlihat gelap dari posisinya berdiri saat ini.
Darren menoleh kearahnya dan mengarahkan tangan kearah lemari, "Ladies first."
Patricia menghela nafasnya dengan ekspresi masam. Dia mengambil sebuah kartu yang dia selipkan di saku jaketnya tadi, lalu menaruhnya begitu saja diatas ranjang. Darren memperhatikan kartu yang ditaruh Patricia sekilas, lalu kembali menatap kearah Patricia.
Tanpa berkata apapun, Patricia berjalan mendahului Darren untuk menyelinap masuk ke dalam lemari yang tampak sempit, namun begitu dia sudah bisa menginjakkan kaki ke dalam lorong jalan panjang itu, dia yakin kalau dirinya sedang berada di dalam sebuah terowongan besar.
Darren menyusulnya dan segera menutup pintu lemari itu. Ketika Darren sudah ikut masuk ke dalam lorong itu, spontan lampu-lampu mulai menyala dan memberikan penerangan yang cukup terang untuk memberikan jalan kepada mereka.

"Bisa kau jelaskan padaku siapa dirimu sebenarnya, brengsek? Kesabaranku sudah menipis sekarang!" desis Patricia sambil melangkah kasar menyusuri lorong itu.
"Bisakah kau aktifkan kartu yang kau taruh di ranjang tadi? Karena mereka sudah mulai menggeledah rumah itu dan akan menuju ke kamar," ujar Darren sambil menatap ponselnya untuk mengawasi pergerakan yang ada di belakang mereka.
Patricia mendengus dan segera mengambil portable dari saku celananya. "Aku bahkan tidak membawa ponsel baru senilai delapan juta dolar itu."
Patricia mengetik kode sandi untuk mengaktifasi kartu yang sengaja dia taruh sembarangan di atas ranjang tadi. Itu adalah kartu yang terbuat dari abu yang sudah tercampur dengan racun yang mematikan. Abu itu ditekan dalam suhu tertinggi untuk membuat lempengan tipis menyerupai kartu, dan dilapisi plastik khusus untuk menjaga kualitas racun di dalamnya.
Jika kartu itu sudah diaktifkan, maka perlahan kartu itu akan retak dan plastik khusus yang melapisi kartu itu akan membakarkan diri sehingga lempengan itu akan menguraikan abu yang sudah terkandung racun di dalamnya, menyebarkan asap yang mematikan bagi siapapun yang menghirupnya.
"Apakah dengan satu kartu itu bisa menghabisi semua orang yang datang disana?" tanya Darren sambil menyeringai puas dengan tatapan yang masih belum beralih dari ponselnya.
"Kartu itu mengandung racun mematikan seberat 100 gram. Dengan hanya 50 miligram saja atau setara dengan setetes air hujan, manusia akan tewas mengenaskan dalam waktu singkat. Silahkan hitung sendiri bagaimana racun itu bekerja, apalagi dalam waktu lima menit setelah aktivasi, asap itu akan menyebar sejauh puluhan meter." jawab Patricia sambil terus melangkah dan mengabaikan suara rintihan yang teredam di belakangnya.
"Apakah kartu itu dibuat untuk ditaruh di atas podium atau di tengah-tengah stadium?" tanya Darren dengan tekjub.
Patricia hanya mengangkat bahunya dengan acuh dan kini menghentikan langkahnya untuk menghadap kearah Darren. "Bisa kau beritahu siapa dirimu sebenarnya?"
Darren memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Apa yang sudah kau temui tentangku?"
"Jangan bertanya balik, Darren!" ancam Patricia dengan mata menyipit tajam.
"Beritahu aku apa yang kau dapatkan, selebihnya aku akan memberitahumu." balas Darren sambil merangkul bahu Patricia untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Lorong itu begitu panjang dan seakan tiada akhir, karena Patricia tidak bisa melihat sampai ke ujung sana, sebab ketika mereka melangkah, maka lampu-lampu itu baru menyala. Dan jika mereka sudah melalui jalan itu, maka hanya kegelapan yang ada di belakangnya. Jika Patricia tidak salah dalam menghitung, lampu itu hanya bertahan selama sepuluh detik untuk menyala ketika mereka melewati sensor yang terpasang di sepanjang terowongan itu.
"Kau tahu jelas kalau aku kesini untuk mencari informasi tentang sebuah kerajaan yang tersembunyi. Nama kerajaan itu adalah Almauric," ujar Patricia sambil melirik tajam kearah Darren untuk melihat responnya.
Pria itu mengangguk paham dan masih menatap kearah depan tanpa bergeming untuk menoleh kearahnya.
"Lalu?" tanya Darren kemudian.
"Dan raja yang memerintah kerajaan itu adalah seorang Konstantinus," jawab Patricia dengan hati-hati.
Darren masih terdiam dan tidak memberikan respon yang berarti, seolah apa yang disampaikan Patricia tidak mengejutkannya. Dia terdiam saja seolah memberikan waktu Patricia untuk melanjutkan analisisnya.
"Aku merasa kau ada sangkut pautnya dengan kerajaan yang kucari. Terbukti dari apa yang terlihat selama kau berada disini. Bagaimana semua orang menatap kearahmu, memberikan hormat dalam sorot mata mereka yang mendalam saat melihatmu, dan menjaga sikap ketika berhadapan denganmu. Kau bahkan terlihat penuh wibawa dan seakan memegang kendali atas semua yang terjadi." ujar Patricia dengan lugas.
"Jadi maksudmu aku adalah..."
"Kau bilang kalau ayahmu bernama Brice William Konstantinus!" sela Patricia cepat.
Darren menghentikan langkahnya untuk menoleh kearah Patricia. "Apa kau berpikir kalau ayahku adalah raja di kerajaan sialan itu, Petal?"
Patricia langsung mengangguk dengan cepat.
Darren mendengus sambil kembali merangkul bahu Patricia untuk melanjutkan langkahnya. "Apakah seorang diplomat harus banyak berasumsi yang tidak perlu seperti ini?"
"Aku hanya ingin mencari tahu kenapa kalian bersembunyi dari dunia selama ini? Kalian memiliki kekayaan alam yang bisa mendatangkan devisa negara dan bisa menjalin kerja sama internasional. Apalagi kudengar kalau sekeliling kerajaanmu itu..."
"Itu bukan kerajaanku, okay? Berhenti mengatakan seperti itu. Aku tidak suka!" tegur Darren dengan rahang mengetat.
Deg! Patricia mengerjap tidak mengerti kenapa Darren bisa terlihat begitu marah saat Patricia mengatakan hal itu. Sudah jelas sekali kalau Darren adalah anak raja dan apa yang disampaikan Patricia sama sekali tidak dibantah olehnya.
"Lalu kalau bukan, kau itu siapa?" tanya Patricia kemudian.
"Apakah itu penting bagimu? Apakah sangat penting untuk mengetahui status sosialku?" tanya Darren dengan ekspresi tidak senang.
"Kenapa kau membawa-bawa status sosial disini?" tanya Patricia bingung.
"Bukankah kau memang selalu membawa status sosial jika berhadapan denganku? Aku yang hanya bawahanmu dan tidak pantas bersanding denganmu!"
Patricia mendengus sambil melanjutkan langkahnya dengan hentakan kasar. "Aku sudah yakin kalau kau akan mencari alasan untuk tidak menjelaskan padaku. Kau selalu mencari masalah denganku dan membalikkan semua ucapanku!"
"Itu kenyataan!"
Patricia berbalik dan melotot galak kearah Darren, "Kau tahu jelas kalau aku melakukan itu hanya untuk menolak dirimu! Kalau aku memang mementingkan kedudukan sosial, aku tidak akan jatuh cinta pada berandal sepertimu sejak aku masih remaja!"
"Aku juga jatuh cinta padamu," balas Darren langsung.
"Bullshit! Aarrrggghhh... aku akan pergi dari sini setelah keluar dari terowongan bodoh ini! Aku muak denganmu dan aku tidak mau mengenalmu setelah dari sini. Aku tidak jadi berkencan denganmu dan aku akan menerima lamaran Jared!" decak Patricia kesal sambil melanjutkan langkahnya dengan gusar.
Darren langsung mencengkeram lengannya dan menarik Patricia dalam dekapannya. Pria itu menatap Patricia dengan sorot mata penuh amarah dan hembusan nafas kasar yang menerpa wajah Patricia sekarang.
"Aku sudah bilang kalau kau adalah milikku. Jika kau memang ingin menerima lamaran bajingan itu, maka aku akan membunuhnya terlebih dahulu." ucap Darren dengan penuh penekanan.
Patricia mendorong bahu Darren dengan kasar. "Kau sudah membuatku kesal!"
Darren kembali menarik patricia, Kali ini dengan menggenggam tangannya dan melanjutkan langkahnya dengan tergesa. Dia membawa Patricia untuk menuju ke sisi terowongan yang ada di sebelah kanan, lalu menekan kata sandi pada sebuah pintu besi yang ada disitu.
"Apa kau yakin kalau mereka tidak akan mengikuti kita sampai kesini?" tanya Patricia ketika Darren sudah menutup pintu besi itu.
"Tidak ada yang bisa mendekati kita sampai kesini." jawab Darren sambil menggenggam tangan Patricia dan memimpin langkah mereka untuk memasuki sebuah pintu besi lainnya disitu.
Terdapat beberapa pintu besi yang harus dilalui, dan setiap kali membuka pintu besi itu, Darren harus memasukkan kata sandi yang berbeda-beda. Apakah sepenting itu pengamanan yang harus dilakukan Darren untuk dirinya sendiri? Apalagi terowongan rahasia dengan ruang rahasia yang ada disini, terdapat pada desa kecil yang tampak begitu sepi dan lengang.
Patricia memasuki sebuah area lobby yang tampak begitu lengang. Disitu ada beberapa orang yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka dalam balutan resmi. Mereka membungkuk hormat ketika sudah bisa melihat Darren tiba.
"Apa yang terjadi diluar sana sampai mereka bisa mengejarku ke rumah itu?" bentak Darren langsung dengan suara yang menggelegar.
Patricia sampai melonjak kaget mendengar suara Darren yang menggelegar. Dia bahkan tidak percaya melihat aura mengerikan yang keluar dari sosok Darren yang dikenalinya cukup jenaka itu. Patricia pun melihat sepuluh orang itu menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Darren.
"Ada yang melihatmu di sebuah toko selular tadi pagi dan mengikutimu, Yang Mulia," ucap salah satu dari mereka.
Mata Patricia melebar ketika mendengar panggilan yang dilayangkan orang itu pada Darren. Spontan dia menoleh pada Darren yang masih mendengus kasar disitu. Yang mulia? Yang mulia? Such as... a king? A crown Prince? Shit!
"Bawa orang itu kesini dalam waktu sejam dari sekarang!" bentak Darren lagi dan orang itu langsung mengundurkan diri.
"Dan kau!" seru Darren sambil menunjuk seorang pria tua yang sepertinya seumuran dengan ayahnya. "Sampaikan salamku pada orang itu dan katakan kalau aku akan mengunjunginya. Bersama tunanganku!"
Heh? Patricia mengerjap bingung dan menatap Darren dengan tatapan tidak mengerti. What the heck is he talking about?! Pria itu membubarkan orang-orang itu dan kembali menarik tangannya untuk menaiki anak tangga.
"Sejak kapan aku menjadi tunanganmu dan kapan kau melamarku?" desis Patricia sambil kewalahan mengikuti langkah lebar Darren.
"Sejak kau menapaki kakimu di tanah terkutuk ini, Petal." jawab Darren sambil melirik singkat kearahnya dan membukakan pintu untuknya.
"Dimana kita berada sekarang?" tanya Patricia sambil memasuki sebuah ruangan layaknya penthouse yang memiliki ruang tengah, ruang makan, dapur, dan ada beberapa pintu yang terpampang disitu.

"Tempat pengasinganku," jawab Darren langsung.
Dia melepaskan jaket kulitnya dan duduk di sofa tunggal, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memantau kondisi terakhir.
"Sepertinya racunmu bekerja dengan sangat baik untuk membunuh semuanya tanpa sisa." ucap Darren sambil menyeringai sinis.
Patricia tidak menyahut. Dia menduduki sofa panjang sambil bersandar untuk melihat ke sekelilingnya. Sepertinya tempat tinggal itu dibangun di bawah tanah karena tidak ada jendela, lampu-lampu hias terpajang di langit-langit ruangan itu. Sangat tertutup. Dan suasananya tidak membuatnya nyaman. Seperti seorang yang sedang terpenjara dalam kastilnya sendiri.
Matanya masih memperhatikan setiap sudut ruangan itu dengan tatapan menilai, sama sekali tidak menyadari perhatian Darren yang kini menatap kearahnya. Pria itu hanya memberikan seulas senyum hambar melihat Patricia yang tampak begitu cermat dalam memperhatikan sekelilingnya.
"Namaku yang sebenarnya adalah Oscar Julian Aliansus Konstantinus," suara Darren membuat Patricia langsung menoleh kearahnya.
Pria itu tampak bersandar di sofa tunggal sambil menyilangkan kakinya. Tampak anggun dan terlihat dingin. Ada kesan yang berbeda saat Patricia melihat Darren sekarang. Angkuh, waspada, dan seakan memiliki otoritas yang begitu tinggi.
"Brice William Konstantinus, ayahku adalah seorang Duke tertinggi di tanah ini, dan dia adalah pemimpin militer di Almauric. Dia adalah seorang diktator yang membuat semua orang takut dan tunduk padanya." ucap Darren dengan rahang yang mengetat. "Dan aku sangat membencinya."
Patricia mengerutkan alisnya mendengar penjelasan Darren barusan. "Kupikir kau itu adalah..."
"Jika kau berpikir aku adalah putra mahkota, mungkin bisa jadi seperti itu." sela Darren dengan nada sinis. "Aku hanya merasa sial karena menjadi satu-satunya anak laki-laki dalam keturunan Konstantinus."
"Apa maksudmu?"
"Brick Wallace Konstantinus, itu adalah kakak dari ayahku. Dia juga adalah ayah baptisku. Dialah raja di Almauric, yang memegang kendali atas tanah perjanjian ini. Sayangnya, dia tidak memiliki seorang anak laki-laki. Istrinya meninggal ketika melahirkan putri semata wayangnya, Estelle, yang adalah adik sepupuku." jawab Darren.
Patricia masih menunggu lanjutan Darren. Kerajaan Almauric yang dipimpin oleh duo kakak beradik Konstantinus, wow! Ini adalah berita baru yang didapatinya. Selama ini, informasi yang dia dapatkan hanyalah raja Konstantinus saja. Dia tidak mengira kalau akan mendapat informasi yang lebih lengkap dari mulut Darren. Shit!
"Sebenarnya tidak ada masalah diantara aku dengan keluargaku. Hanya saja ketika ayah baptisku sakit keras, disitu permasalahan terjadi. Ayah baptisku ingin aku yang melanjutkan kepemimpinannya, dengan ayahku yang masih menjabat sebagai Duke. Tentu saja aku tidak mau. Soal kerajaan biarkan saja diturunkan pada ayahku, tapi katanya Almauric membutuhkan sosok muda untuk menunjukkan diri pada dunia, meski kerajaan kami adalah kerajaan kecil." Ucap Darren sambil menghela nafas dengan berat.
"Kenapa ayahmu tidak mau melanjutkan tahta kakaknya saja? Toh dia lebih berpengalaman. Memangnya dia tidak tersinggung kalau sampai tahta itu turun padamu?" tanya Patricia heran.
Darren memberikan senyuman setengahnya yang sinis. "Dia beralasan kalau dirinya sudah tua dan tidak mau melanjutkan apa-apa lagi, selain menjaga pertahanan Almauric."
"Apa karena itu kau keluar dari negerimu sendiri lalu merantau ke negara lain?" tanya Patricia lagi.
"Tidak. Jika mereka masih memaksa soal kepemimpinan, mungkin aku akan belajar sedikit tentang bagaimana menjadi seorang raja. Tapi, syarat yang diajukan oleh ayah baptisku yang tidak bisa diterima olehku." jawab Darren sambil menggertakkan giginya.
Mata Patricia melebar kaget, seolah paham dengan ekspresi marah dari Darren sekarang. "Kau dijodohkan oleh... putrinya? Yang berarti kau dengan..."
"Yeah. Aku dijodohkan dengan Estelle. Heck! Bagaimana bisa mereka menjodohkanku dengan keluarga sendiri? Kami masih sedarah. Tentu saja aku tidak mau dan memilih untuk keluar dari tanah sialan ini." tukas Darren dingin.
Patricia mengusap keningnya dengan perasaan tidak nyaman sekarang. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan Darren sekarang. Darren yang keluar dari negerinya, orang-orang suruhan ayahnya yang mengawasinya, dan dirinya yang dicemaskannya jika ada yang tahu kalau mereka memiliki hubungan.
"Sebulan setelah aku merantau, aku mendapat kabar bahwa ayah baptisku meninggal. Tentu saja hal itu membuatku berduka. Aku yang keluar dari istana itu, menyembunyikan diri di rumah kecil yang kita tempati tadi." ujar Darren sambil membungkuk dan menaruh kedua sikunya diatas lutut kakinya. "Tapi keadaan itu semakin menyulitkanku karena ayahku mendesak untuk segera menikahi Estelle."
"Apakah Estelle mencintaimu?" tanya Patricia langsung. Damn!
Pertanyaan itu spontan keluar begitu saja dari mulutnya, membuat Darren mendongak untuk menatapnya sambil mengangkat alisnya setengah. Sebuah senyuman geli mengembang di wajahnya yang rupawan.
"Dia tergila-gila padaku, karena katanya aku seperti pangeran berkuda putih." jawab Darren santai.
Patricia mendengus tidak suka. Wanita yang bernama Estelle sudah pasti akan menjadi incarannya setelah ini. Lihat saja, batinnya teguh.
"Pada akhirnya, aku tetap saja keluar dari negeri ini setelah mengikuti upacara pemakaman ayah baptisku. Rumah kecil tadi adalah tempat persembunyianku," lanjut Darren.
"Dan terowongan rahasia tadi? Tempat bawah tanah ini?" tanya Patricia.
"Aku membangunnya setelah mendapatkan pelatihan dari Eagle Eye. Kakakmu membantuku dan memastikan aku memiliki beberapa orang kepercayaan untuk membantuku membangun tempat pengasinganku, tanpa sepengetahuan ayahku. Orang-orang yang kau lihat tadi adalah pihak Eagle Eye yang berkedok menjadi penjaga di Almauric. Aku hanya ingin memantau keadaan selagi aku tidak ada, lagipula ini sudah seperti rumahku sendiri." Jawab Darren langsung.
"Inikah alasannya kau memutuskan hubungan denganku waktu itu?"
Darren mengangguk sambil menatapnya tajam. "Seperti yang pernah kubilang tadi, ayahku mengawasiku dan ingin melihat apa yang kulakukan. Dia berpikir kalau aku akan menyerah dan tidak bisa berdiri tanpa sosoknya. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi dan fokus untuk melatih diri, demi bisa menjadi setara dengannya."
"Dia adalah pemimpin militer di negeri ini," ujar Patricia mengingatkan.
Darren tersenyum meremehkan. "Tapi tidak secanggih dan sekuat apa yang kudapatkan dari pelatihan kakakmu di Eagle Eye. Mereka bahkan tidak akan menyangka bahwa di bawah tanah negeri ini, terdapat aku disini. Kasarnya adalah ayahku sibuk menyuruh orang mengawasiku padahal aku berada di dekatnya."
"Apakah karena dirimu yang tidak ada, maka kerajaan ini seakan tenggelam dari mata dunia?" tanya Patricia kemudian.
Darren menggeleng. "Ketika istri dari ayah baptisku meninggal, disitu raja berduka sampai tidak mau menerima siapapun untuk datang mengunjunginya. Dialah yang memerintahkan para anak buahnya untuk menutup pintu bagi siapa saja yang ingin menghiburnya, termasuk para pemimpin negara tetangga. Hingga akhirnya, negeri Almauric tercoret dari peta dunia."
"Apakah ada hubungannya dengan negara Finland ini?"
"Seperti yang tadi kubilang kalau tanah ini adalah tanah perjanjian, dimana pihak pemerintah Finland tidak boleh melewati surat perjanjian tentang batas wilayah kami, meski dalam peta dunia, negeri kami termasuk dalam daerah perbatasan negaranya."
Patricia mengangguk paham dan mencoba mengingatnya dalam otaknya. Terjawab sudah semua pertanyaannya soal kerajaan yang terhilang selama puluhan tahun itu.
"Kau tidak berniat untuk membuka diri pada dunia tentang Almauric?" tanya Patricia lagi.
"Untuk apa? Aku tidak berniat menjadi sorotan dunia, lagipula bukan aku yang menjadi raja di negeri ini. Aku yang menolak dijodohkan dan tidak mau menerima tahta itu." jawab Darren masam.
"Tapi perlakuan yang diberikan padamu dari warga lokal terlihat sangat menghormatimu," balas Patricia.
"Semua akan melakukan hal yang sama jika sedang berhadapan dengan anggota kerajaan."
"Lalu selama kau tidak ada, apakah ayahmu yang memimpin?"
"Tidak."
"Apakah wanita yang bernama Estelle itu?"
"Yeah."
"What?"
Darren kembali bersandar pada punggung sofa dan menatap Patricia dengan sorot matanya yang melembut. "Dia sudah tahu kalau aku datang kesini bersama seorang wanita, dan menyuruh orang untuk menyerang kita saat kita sudah mendarat waktu itu."
Damn! Patricia langsung berdecak dan tidak sabar untuk menusuk wanita itu dengan pisau beracunnya. Berani sekali dia melakukan cara licik untuk memperkenalkan dirinya seperti itu? Dasar pengecut!
"Pantas saja aku tidak merasa ada musuh disini dan aku yakin tidak ada yang mengenalku, tapi ternyata aku dianggap sebagai perebut calon suami sang ratu, huh?" sindir Patricia pedas.
"Dia hanya ingin membuatku sibuk saja, dan dia mengira kau hanyalah wanita biasa yang tidak bisa melakukan apa-apa." Balas Darren sambil terkekeh.
"Dia tidak tahu kalau aku mampu mengoyakkan jantungnya yang masih berdenyut!" desis Patricia geram.
Darren mengangguk. "Maka itu aku bilang padamu kalau aku tidak mencemaskanmu sekarang. Kau cukup mampu untuk menghadapi mereka saat ini. Dan aku akan melindungimu apapun yang terjadi nanti, karena aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun."
"Apakah ayah dan kakakku tahu?"
"Tentu saja. Karena itulah, mereka tidak membiarkanmu datang sendirian tanpa pengawalan."
"Dan kakakku menyuruhmu yang mengawalku, karena dia tahu kau memiliki kuasa untuk menjagaku dan melindungiku disini," gumam Patricia pelan.
Darren mengangguk sambil beranjak dari duduknya lalu menumpukan satu lututnya, berlutut tepat di depan pangkuan Patricia. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Petal. Sekalipun aku harus kehilangan nyawaku karena menelantarkan tugas kenegaraan yang tidak kukehendaki."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," sahut Patricia cepat. "Dan aku sangat bersemangat untuk menemui wanita ular itu."
Darren terkekeh dan melingkari pinggang Patricia dengan kedua tangannya. "Aku mendengar ada nada cemburu disini."
"Aku tidak cemburu. Aku hanya merasa tidak terima dengan caranya yang licik dalam menyerangku. Dia sangat pengecut dan beraninya main curang. Seharusnya dia berhadapan langsung denganku!"
"Dia tidak sekuat dirimu. Dia hanya wanita manja dan cengeng yang bisanya hanya merengek," balas Darren sambil memiringkan wajahnya dan mencium bibirnya.
"Sepertinya kau sangat mengenalnya," sahut Patricia tidak suka.
"Tidak seperti aku mengenalmu," balas Darren hangat.
"Jadi, kenapa namamu menjadi Darren Petterson?" tanya Patricia sambil mendorong bahu Darren untuk bisa menatapnya.
"Ada seorang pekerja bangunan yang baik hati, yang mau menampungku ketika aku baru menapaki kakiku di Chicago. Aku tersesat dan tidak tahu mau kemana, lalu dia mengajakku pulang dan mengenalkanku pada istrinya. Namanya David Petterson, dan istrinya bernama Sarah Petterson. Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan yang membuatku merasakan kehangatan sebuah keluarga. Dan mereka tidak memiliki anak meski sudah menikah puluhan tahun," jawab Darren dengan senyuman.
"Dan kau menjadi putra mereka?" tebak Patricia dan Darren langsung mengangguk.
"Aku bilang aku dibuang oleh keluargaku dan mereka percaya saja. Namun melihat kebaikan mereka, aku tidak enak hati. Lalu aku membuat pengakuan kepada mereka, dan mereka hanya tertawa saja. Disitu mereka mengingatkanku untuk menjadi anak yang baik dan jangan mengecewakan orangtua," tukas Darren sambil memainkan ujung rambut Patricia dengan jarinya. "Mereka mengangkatku sebagai putranya dan menamaiku Darren, nama yang sudah mereka siapkan untuk menyambut calon buah hati yang tidak kunjung datang pada mereka."
"Jadi kau lebih merasa nyaman dengan nama Darren Petterson, dibanding Oscar Julian blablabla itu?"
Darren tertawa. "Aku tidak suka nama yang berbau jaman dulu itu."
Patricia mengangguk setuju. "Aku pun begitu. Aku lebih menyukai Darren Petterson yang ada di hadapanku, bukan Oscar Julian yang menyeramkan seperti tadi saat berhadapan dengan orang-orangnya tadi."
Ekspresi Darren menghangat dan mendekatkan wajahnya untuk bisa melihat Patricia lebih dekat. "Aku pun lebih senang jika kau mengenalku sebagai Darren, sih bawahan yang berhasil memenangkan hati nonanya dan mencintainya dengan sepenuh hati."
Patricia mengembangkan senyuman dan mengusap pipi Darren dengan lembut. "Aku tidak percaya kalau bawahan yang sering kuhina ini adalah seorang putra mahkota. Ralat. Seorang raja. Aku seperti seorang cinderella yang kehidupannya berubah dalam satu malam."
"Salah. Kau sudah menjadi ratu dalam hidupku sekitar tujuh tahun lalu, Petal."
"Benarkah?"
Darren mengangguk dengan mantap. "Benar. Karena itu, maukah kau menikah denganku?"
Deg!
Patricia belum sempat memberikan responnya dan Darren sudah bertindak lebih jauh. Pria itu terlihat merogoh sesuatu dari saku jaketnya, mengambil sebuah kotak beludru hitam dari situ, dan memperlihatkan sebuah cincin dengan batu permata yang sederhana namun indah disitu.

"Ini adalah cincin ibuku. Dia memberikannya padaku ketika aku sudah akan meninggalkan negeri ini. Dia yang paling memahamiku dan mendukung setiap keputusan yang kuambil. Aku akan mengenalkannya padamu dan aku yakin, dia akan menyukaimu."
Patricia menatap Darren dengan perasaan yang terdalam. "Benarkah?"
Darren mengangguk sambil mengeluarkan cincin itu dari kotaknya, "Dia bilang padaku untuk kembali kepadanya jika aku sudah menemukan wanita pilihanku. Dengan menyematkan cincin ini pada jarimu, maka dia tahu bahwa aku sudah membuatnya bangga dengan memberikan kesempatan untukku mencarinya."
"Apakah ibumu membantumu untuk keluar dari sini waktu itu?" tanya Patricia ketika Darren memasangkan cincin itu pada jarinya.
"Yeah. Meski dia harus menerima amukan ayahku, namun ayahku tidak akan berani berlaku kasar padanya karena ayahku sangat mencintai ibuku." jawab Darren lalu mengecup punggung tangannya.
Patricia tersenyum ketika melihat perlakuan manis yang dilakukan Darren padanya. "Aku bahkan belum menjawab iya padamu."
"Tidak ada penolakan darimu dan itu berarti iya," sahut Darren lalu menatap padanya dengan sorot mata penuh cinta di dalamnya.
"Jadi, kapan kita akan bertemu dengan mereka?" tanya Patricia dengan antusias.
"Secepatnya. Tapi itu bisa nanti," jawab Darren sambil memiringkan wajahnya dan mencium lekuk lehernya.
"Hei, kita sudah diserang dan tidak mungkin kita bisa berlama-lama disini." seru Patricia dengan suara tertahan ketika Darren sudah asik menghisap lehernya.
"Mereka sudah tahu kalau kita akan mendatanginya. Beri mereka waktu untuk mempersiapkan diri selagi kita bisa memanfaatkan waktu yang tersisa," bisik Darren pelan.
"Aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku ingin membuat perhitungan dengan wanita sialan itu karena sudah menyerangku dengan tidak sopan!" balas Patricia sambil menjauhkan kepala Darren dari lehernya dengan kasar.
Darren mendengus dan menatap Patricia dengan tajam. "Tidak seharusnya kau berlaku kurang ajar padaku seperti barusan, Petal."
"Why? Karena kau adalah putra mahkota yang menghilang? Atau calon raja gagal yang kabur-kaburan?" sahut Patricia dengan alis terangkat setengah, seolah menantang dirinya.
Darren memberikan ekspresi dingin yang penuh otoritas saat ini. Sorot matanya menghunus tajam dan dia terlihat tersinggung dengan ucapan Patricia barusan.
Tanpa berkata apapun, dia langsung beranjak berdiri dengan tangannya yang sudah mencengkeram lengan Patricia dengan erat. Patricia tersentak karena dirinya langsung ditarik paksa dan Darren menyeretnya untuk berpindah ruangan. Shit! Itu seperti ruang eksekusi dengan peralatan yang menyeramkan. Ada cambuk, rotan, dan berbagai alat lainnya.

"Apa yang ingin kau lakukan, Darren?" seru Patricia ketika Darren sudah memborgol kedua tangannya diatas kepala, dengan tiang penyangga disitu.
Darren menyeringai dingin. "Aku ingin memberikan hukuman pada orang yang sudah bersikap tidak hormat pada seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi disini. Supaya kau tahu siapa yang berkuasa disini, Petal!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Gausa kaget kenapa aku bisa upload jam segini untuk lapak ini.
Demi supaya Sabtu sih babang bisa update, jadi aku luangkan waktu untuk tulis part ribetnya.
(Sebenarnya dipaksa sama dia 😔)
Jadi, udah nggak penasaran lagi tentang siapa Darren kan?
Rata-rata jawabannya memang benar, cuma posisi Darrennya yang salah 😛


Ada yang pernah tanya alur cerita siapa yang buat?
Ide cerita dan alur dari aku.
Yang nulis babang.
Cuma part yang menurut babang ribet, aku yang nulis 😑
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top