A & E
Suara beruntun tembakan di udara terdengar berkali-kali. Saling sahut menyahut, berbaur dengan bisingnya kendaraan di malam hari. Empat orang lelaki mengenakan seragam aparat keamanan mengejar pasangan penjahat terkenal di Amerika Serikat yang diberi nama Geng Costra. Aparat itu sesekali mengarahkan pistolnya pada dua orang di depan mereka, menembakkan beberapa butir timah panas, tetapi meleset.
Dua pasang kaki dibalut celana kain hitam dan mini dress selutut, serta sepatu kulit di depan mereka terus berlari menerjang apa pun yang ada di depannya. Tangan kiri si lelaki berjas cokelat—Andrew Costra, dan tangan kanan si perempuan bertopi cap— Elizabeth Costra, bertaut, saling menggenggam sementara tangan yang lain memegang erat senapan mereka.
"Stop or we shoot!"
Teriakan para aparat itu tidak diindahkan. Keduanya terus berlari, melewati gang-gang sempit, tempat kumuh, bahkan pelabuhan. Kemudian melompati tumpukan sampah, berlari hingga merusak beberapa fasilitas umum akibat peluru yang meleset. Semakin cepat keduanya berlari, semakin cepat lari empat orang polisi di belakang mereka.
Elizabeth melirik sang suami dengan seringainya. Sepersekian detik berikutnya tawanya lepas, bersamaan dengan ledakan cukup besar yang terjadi di belakang sana.
Andrew ikut melepas tawa, tangannya menarik Elizabeth agar berlari menjauh mengikutinya.
"Good job, Lee!"
Sebuah mobil Ford V8 Klasik yang mengkilap berhenti tepat di depan keduanya. Secepat kilat, Andrew mengambil alih kemudi. Elizabeth dengan gesit duduk di samping suaminya. Lalu, Lee, rekan Elizabeth dan Andrew segera turun dari mobil itu. "Aku sudah memasukkan barang-barang curian itu ke dalam sini. Aparat keparat yang lain pasti sedang melacak kalian. Jadi, ke mana kalian akan pergi?"
Elizabeth dan Andrew melempar pandang. "Mungkin kami akan pergi ke Louisiana. Kau bisa bersembunyi dengan Ralph, bukan?"
Lee mengangguk, lelaki berpakaian serba hitam itu menepuk bahu Andrew. "Kupercayakan semuanya pada kalian. Selamat tinggal!"
Setelah itu, Lee menghilang. Segera saja Andrew menjalankan mobil Ford V8 Klasiknya. Lelaki itu membawa mobil curiannya menuju Louisiana. Di sana, keduanya memiliki sebuah tempat persembunyian. Para polisi itu akan sulit menemukan mereka, pikir Elizabeth—yang selalu menyusun strategi.
Mereka melewati jalan raya yang berkelok, menikmati perjalanan mereka sambil bernyanyi dan menari. Keduanya saling menatap penuh cinta, seakan pencurian besar-besaran yang sering mereka lakukan bukanlah hal yang meresahkan.
"You pick me up when I feel down."
"Oh, yeah? No matter how deep in the night."
"I got your back when we go out."
"You know I'm always on your side."
"You make this world a little wild."
"And we shout through crowded streets! Turn up the noise and make it loud. And let the world fall at our feet!"
"Hahaha. Kau penyanyi yang hebat, Elizabeth."
"Bukan aku, tapi kita, Sayang!"
"Ya, ya, ya, kau benar."
Suasana mobil menjadi tegang saat melewati jalan pedesaan di Bienville Parish. Andrew bisa melihat beberapa lampu mobil menyala di kejauhan. "Perasaanku mengatakan ini hal yang buruk," ucap Andrew pada sang istri.
Elizabeth justru tersenyum. "Mari kita hadapi."
"Kau yakin?"
"Aku selalu seyakin ini!"
Mobil yang sewarna dengan gelapnya laut di malam hari itu melaju lebih cepat tatkala Andrew menancapkan gasnya. Rumah-rumah mulai tertinggal di belakang bersama dengan kumpulan debu yang beterbangan. Tidak ada lagi benda-benda yang menghalangi mata, jalanan menjadi lebih luas dari lapangan penerbangan pesawat.
Namun, mereka tidak tahu jika ada benda yang menyala setelah mereka melewatinya. Titik-titik merah mengkilat menyala sejauh dua puluh meter. Cahaya putih dan jingga menyala tepat di depan mata, disusul oleh dentuman dahsyat memekakkan telinga yang melahap mobil Andrew dan Elizabeth tanpa ragu-ragu.
Tidak ada waktu untuk berteriak atau mengumpat karena kesialan yang menimpa pasangan suami istri tersebut. Beruntungnya, Andrew sempat membaca keganjilan itu, ia dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya, melompat bersama dengan Elizabeth.
Bukan berarti keberuntungan ada di pihak mereka. Ledakan yang menggema dalam lorong telinga memberikan efek berdengung dan pandangan yang memburam, belum lagi pecahan mobil yang ikut terlempar bersama dengan mereka.
Elizabeth yang berada di bawah tubuh Andrew yang kehilangan kesadarannya mencoba untuk bangkit. Darah yang ada di bajunya bercampur dengan darah milik suaminya.
"Andrew, sadarlah!"
Elizabeth tidak tahu apakah Andrew masih bisa diselamatkan atau tidak. Darah yang terus mengucur dari tubuh Andrew membuat Elizabeth tidak bisa bernapas dengan benar.
Wanita itu membopong tubuh suaminya, mencoba berlari meski tidak mungkin. Keduanya berjalan masuk menuju hutan yang gelap. Elizabeth tentu saja mengkhawatirkan darah dan jejak kaki yang tertinggal.
Elizabeth mencengkeram pinggang suaminya. Hanya ada air sungai deras di depan. Itu adalah satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkannya. Kesadaran Elizabeth mulai menghilang, ia mengikat Andrew pada tubuhnya, lalu menceburkan diri bersama-sama.
***
Elizabeth berjalan memasuki sebuah ruangan kamar tidur yang ada di rumahnya. Sosok pria yang baru saja tersadar dari tidurnya Itu menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan bayang-bayang bangunan super tinggi yang setara dengan mereka.
"Bagaimana pagimu? Apa kau semalam bermimpi dengan indah?"
Pria dengan rambut acak-acakan itu menoleh padanya. "Aku tidak ingat mimpi apa yang aku alami semalam, tapi sepertinya cukup mengerikan."
Andrew pagi tadi bangun dengan keringat di wajahnya, degup jantungnya memenuhi Indra pendengaran. Ia seperti baru saja mengalami hal menyeramkan yang bisa membuat jiwa pemberaninya bergetar.
Elizabeth berjalan dan meletakkan secangkir kopi di atas nakas yang tak jauh dari tempat Andrew.
"Kuharap espresso three shots dengan pancake pisang ini bisa membantumu tetap baik di pagi hari."
Senyum menawan terpasang di wajah Andrew saat melihatnya. "Kau selalu tahu apa yang kusukai. Aku jadi penasaran bagaimana caramu mengetahuinya."
Elizabeth membalas dengan senyuman kecil. "Anggap saja aku beruntung karena menebaknya dengan benar."
"Tebakanmu tentang diriku selalu tepat. Apa benar itu tidak sengaja?"
Elizabeth memandang cahaya matahari yang mulai meninggi. Tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan itu. Terakhir kali Elizabeth berteriak jika ia adalah istri dari Andrew yang bangun dengan amnesia itu berakhir buruk. Jadi, ia memilih untuk menyimpannya saja, membiarkan pikiran pria itu tetap berada dalam tahun yang sama dengan pertemuan mereka.
Ledakan besar membuat Andrew syok, begitu pula dengan benturan keras yang membuat otaknya mengalami cedera yang parah. Beruntungnya, Ralph dan Lee berhasil menemukan mereka sebelum polisi itu datang. Mereka bertindak cepat saat mendapat sinyal ledakan dari mobil yang ditumpangi Andrew dan Elizabeth.
Namun, Elizabeth kali ini memutuskan untuk menjawabnya.
"Sepertinya, itu karena aku mencintaimu."
Ada keterkejutan dan semburat tipis di wajah Andrew saat mendengarnya. "Itu—"
Elizabeth memotong dengan cepat. "Tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya. Aku tidak peduli meski kau tidak mencintaiku. Aku hanya perlu membuatmu terperangkap dalam pesonaku."
Ya. Elizabeth hanya perlu melakukan itu. Sama seperti dulu.
***END***
Ditulis oleh yourrangger & Fukuyama12
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top