💕8. I Do💕

Prita mengutuki kebiasaannya. Melawan sang ibu sudah menjadi makanan sehari-hari sejak Prita kecil. Itulah sebabnya Prita memutuskan untuk bekerja di Solo, agar bisa menjaga jarak dengan sang ibu.

Namun, saat melihat ibunya mencengkeram kain dasternya sendiri, dengan dadanya yang naik turun seperti terbelit sesuatu yang menyesakkan, Prita sadar tindakannya salah besar! Selama ini dia tidak pernah akur dengan sang ibu yang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak, tapi bukan berarti Prita tidak menyayangi wanita paruh baya itu. 

Saking sayangnya, Prita takut kehilangan wanita itu, terlebih hanya Bu Vera sekarang adalah satu satunya keluarga dalam hidupnya. Prita tak punya siapa-siapa lagi. Prita pun tak tahu apa yang salah dalam hubungan ibu dan anak itu. Hanya saja, sikapnya selalu berlainan dengan hatinya. Tak pernah sekalipun Prita bersikap manis, layaknya Chilla yang selalu tersenyum. Raga ringkih Chilla selalu membuat Prita benci dengan kakaknya, karena Mamanya selalu memberi perhatian lebih pada Chilla. Sedang Prita, yang dikaruniai raga sehat, merasa tak pernah dipedulikan oleh Bu Vera.

Prita kalut dan hampir menangis. Segera disambarnya smartphone dan mengantar sang ibu yang kesakitan itu ke rumah sakit terdekat. Prita memapah ibunya menuju mobil, dan setelah memastikan ibunya duduk dengan nyaman di jok, Prita berlari mengitari mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

***

Prita duduk di atas lantai bilik IGD itu. Dirinya merasa lega sang ibu sudah ditangani oleh tenaga medis. Dokter menginstruksikan agar Bu Vera dirawat inap. Sesudah mengurus segala sesuatunya, Prita tinggal menunggu ibunya untuk dipindahkan ke ruang rawat inap.

Prita menyembunyikan wajahnya di bawah lengan yang bertumpu di lutut yang tertekuk. Sesekali isakan teredamnya keluar dari mulutnya. Prita sangat menyesal sudah membuat kebohongan yang membuat ibunya terkejut.

Apa aku harus berterus terang bahwa aku tidak hamil?

Prita menggeleng berulang. Tidak! Itu artinya aku akan dijodohkan dengan Indra. Bahkan aku tidak mengenal laki-laki itu! Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cinta!

Berulang kali Prita mengatur nalarnya. Peperangan batin dan pergumulan di hati terus berlanjut membuat perasaaan Prita tak tenang. Lagi, Prita hanya bisa terisak. Bingung dengan keadaannya. Tak bisa menyalahkan sang ibu yang menginginkannya menikah karena memang usia Prita sudah matang untuk menikah. Tapi Chandra, lelaki yang sekarang menguasai hatinya, belum menunjukkan tanda-tanda ingin melamarnya.

Prita ... kamu dan Chandra kan baru pacaran satu bulan ini, masa langsung minta dilamar?

Prita berdecak. Chandra yang selalu bersikap tak serius itu membuat hati Prita gundah.

Apa yang harus aku lakukan?

"Ta, Mama belum mau mati! Kamu tidak usah menangis seperti itu!" Kata-kata Bu Vera menyeruak ke indra pendengaran Prita. Prita mendongak, menggosok telinganya, meyakinkan diri bahwa itu adalah suara sang ibu. Buru-buru dia bangkit sambil menyeka lebih dulu air matanya.

"Ma, Mama tidak apa-apa?" Prita terlihat kalut.

"Kamu cemas Mama mati?" tanya Bu Vera lemah.

"Mama jangan ngomong mati-mati!" Mata Prita kembali berkaca-kaca. Bu Vera mengusap pipi mulus Prita.

"Prita, anak Mama. Maafkan Mama, ya. Pasti kamu berat sekali, ketika Mama harus memperhatikan kakakmu yang sakit-sakitan. Sampai Mama tidak tahu bahwa kamu sudah dirisak oleh kawanmu, dan kamu tetap diam. Kamu bersikap nyleneh, melawan Mama, tapi sebenarnya kamu menyembunyikan lukamu." Prita tak bisa membendung lagi air matanya, semuanya leleh begitu saja. Prita hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau kamu sudah hamil, bilang ke pacarmu, supaya kalian cepat menikah. Mama tidak mau bayi ini tidak punya Papa seperti kamu kehilangan Papamu."

"Ma, sudahlah jangan bicarakan itu " pinta Prita.

"Ta, Mama hanya ingin kamu berada di tangan yang tepat. Tidak mengulangi kesalahan Mama karena terlalu menyayangi lelaki yang akhirnya meninggalkan kita. Kamu paham maksud Mama kan? Karena semua sudah terlanjur, segera atur pernikahan kalian."

Tenggorokan Prita tersumbat. Apakah dia harus jujur? Namun Prita hanya bisa bungkam, menangis di samping ibunya seolah ibunya hendak pergi. 

Bu Vera sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Prita hanya bisa menatap nanar wanita yang kini terlelap. Napasnya masih satu-satu dengan bantuan selang oksigen yang menyumpal di kedua lubang hidungnya.

Sejak awal, Prita merasa sudah menjadi anak durhaka. Selalu bersikap dingin, lantaran sang Mama yang jarang memperhatikannya. Prita hanya bisa duduk terkulai lemas di sofa di sisi dinding kamar. Gadis itu merogoh smartphone  untuk mengetikkan pesan kepada Chandra.

Prita : Mas, Mama sakit. Aku ta

Dihapusnya lagi apa yang sudah diketik.

Prita : Mas, besok temui aku di Cafedangan. Jam 16.30. Ga pake molor! On Time!!

Ya, sebaiknya begini! Daripada aku harus kehilangan Mas Chandra. Lelaki yang aku suka saat pertama aku bertemu dengannya.

Tak sampai satu menit, balasan dari Chandra muncul di layar hpnya.

Chandra : Siap Prita sayang

Prita mendengkus. Beberapa lelaki yang mendekatinya sering mengatakan kata-kata gombal seperti itu, tapi hanya ucapan dari bibir Chandra yang mampu membuat Prita berbunga-bunga. Setidaknya Prita sudah sedikit terhibur dengan hanya membayangkan ekspresi konyol Chandra.

***

"Mas, aku disuruh Mama menikah secepatnya." Ucapan Prita membuat minuman di mulut Chandra menyembur. Lagi-lagi Prita menghadapi tingkah ajaib Chandra yang menyebalkan. Prita paham Chandra pasti akan terkejut mendengar pernyataannya

"Eh, Ta, kita ini pacaran belum ada setahun loh." Entah apa faedah Chandra mengingatkan umur pacaran mereka. Membuat Prita ragu kesungguhan Chandra.

"Aku tahu, Mas. Tapi kesehatan Mama tidak seperti dulu. Sejak kepergian Mbak Chila mama sering ngedrop, dan kemarin Mama bilang supaya aku cepat menikah," jelas Prita singkat, padat dan jelas.

Chandra mendengkus pelan. Namun helaan napas pria itu terdengar Prita. "Mas menolak?"

"Bukan begitu, Ta," kilah Chandra. Otaknya berputar mencari alasan. Jujur, Chandra belum siap berkomitmen. Ini pacaran pertamanya dan dalam waktu kurang setahun dia ditagih menikah. "Papa dan Mamaku pasti senang sekali mendapat menantu perempuan seperti kamu. Cuma-"

"Cuma apa Mas?" Mata besar Prita membelalak, berusaha menelisik kedalaman hati Chandra.

"Kamu tahu bukan, Cinde enam bulan lagi akan menikah. Dan keluarga besarku masih memegang teguh adat Jawa. Dalam setahun tidak bisa ada dua kali pernikahan, Ta."

Prita mulai berkaca-kaca. Prita paham adat itu karena dirinya juga hidup di kota yang masih memegang teguh adat istiadat. "Lantas ... Mas mau aku dinikahkan dengan lelaki lain?"

Kelopak mata Chandra membuka lebar mendengar pernyataan Prita. "Maksudmu?" Alis Chandra mengerut dan menyatu di pangkal hidungnya.

"Aku akan dinikahkan dengan pria lain pilihan Mama, kalau dalam tahun ini tidak menikah." Tangan Chandra mengepal. Urat di lengannya menonjol mendengar ucapan Prita. Memang Chandra belum pernah bertemu mama Prita. Lelaki itu tak bisa membayangkan kalau itu benar terjadi. Itu artinya ia akan kehilangan Prita.

"Kamu bercanda kan?" desis Chandra. Giginya beroklusi rapat. Hanya bibir merahnya saja yang bergerak.

"Memang Mas kira aku ini Mas Chandra yang suka cengengesan?" Nada bicara Prita terdengar gusar. Chandra menelan ludah kasar. Dirinya memang tak siap berkomitmen. Usianya masih 28 tahun. Namun dia pun tak siap harus berpisah dengan Prita yang sejak pertemuannya di depan gerbang rumah membuat hatinya berdesir ... kembali.

"Sorry ...."

"Jadi?" Prita mengangkat alisnya menunggu keputusan Chandra.

"Kalau misal kita menikah tahun depan-"

"Berarti aku sudah milik orang lain!" Prita mengambrukkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya bersedekap dan bibirnya mencebik kesal.

"Tapi tidak mungkin kita menikah tahun ini," kilah Chandra.

"Bisa saja!" Kerlingan Prita menatap Chandra yang kini sudah berpeluh dingin.

"A ... pa?" tanya laki-laki itu hati-hati.

"Kalau aku hamil ...."

"APPPPAAAAA????!!!!" Sontak Chandra terpekik keras membuat Prita harus membungkam mulut pria itu, menyisakan pelototan mata yang semakin membesar. Tak percaya dengan ide gila itu.

"Gila kamu, Ta! Bisa-bisa aku dibunuh papaku sebelum menikahi kamu." Chandra menepis tangan Prita kasar. Keringatnya semakin deras menghujani wajahnya.

"Tidak mungkin lah. Justru kita akan segera dinikahkan," jawab Prita enteng. Chandra menatap Prita yang menjentik kuku jari panjangnya seperti mengeluarkan kotoran di dalam kukunya.

"Itu dosa, Ta! Zinah!"

"Siapa bilang aku hamil betulan. Bilang saja aku hamil, supaya kita bisa menikah." Prita lantas mencondongkan badannya mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah pucat Chandra. Tangan gadis itu menutup gerakan bibir dari samping seolah membisikan suatu rahasia. "Nanti bikin anaknya setelah kita menikah. Beres kan?"

Ludah Chandra tertelan kasar membuat tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering menjadi sakit. Buru-buru diraihnya sedotan, dan diteguknya cepat float itu sampai tak bersisa.

"Bagaimana?" Prita menumpukan kedua lengan di atas meja mengamati ekspresi Chandra.

"Itu artinya kita bohong kan, Ta?" Wajah Chandra tampak mengiba.

"Ya sudah, Mas. Sepertinya kita belum berjodoh!" Prita bangkit, menarik tas selempangnya. Saat akan menggeserkan kaki keluar dari tempat duduk, tangan Chandra menyergap pergelangannya. Kepala Prita mendongak, menyerong membelakangi Chandra. Dalam hati gadis itu tersenyum puas, Chandra tak ingin lepas darinya.

"Tunggu, Ta!"

"Apalagi?" Prita memasang muka jengkel.

"Aku ... aku mau menikahmu! Aku akan bilang kalau aku menghamilimu." Seringaian terpajang di wajah tirus sang gadis. Senyum kemenangan karena mengalahkan prinsip kekasihnya yang enggan berkomitmen.

"Ok, aku tunggu kabar secepatnya." Prita tersenyum miring saat membalikkan badan. Punggungnya menjauh meninggalkan Chandra yang termangu seorang diri.

Chandra termenung. Sedikit menyesali ide gilanya.

"Gawat ... siap-siap Mama kasih hadiah aku kemoceng ajaibnya sama dapat bonus sabetan sabuk Papa nih." Chandra bergidik ngeri.

Chandra menatap nanar setelah pertemuannya dengan Prita. Dia tak menyangka gadis itu mempunyai ide gila agar terbebas dari perjodohan konyol itu. Tapi mengaku menghamilinya?

Ya Tuhan, berpegangan tangan saja hanya beberapa kali, masa harus mengaku aku menghamilinya?

Chandra menggaruk-garuk kasar kepalanya yang tidak gatal. Merutuki keputusannya yang sama konyolnya dengan mengiyakan begitu saja permintaan Prita.

Bahkan aku belum yakin dengan perasaanmu, Ta. Dan sekarang kita diharuskan menikah supaya kamu tidak dijodohkan. Mungkin akan lebih mantap kalau kamu bilang menyukaiku. Ah, tapi melihat gengsimu yang selangit, aku hanya bisa bermimpi mendengar kata-kata itu.

Chandra bergegas ke parkiran motor setelah mobil Prita menghilang dari pandangannya. Pikirannya sekarang lebih kalut lagi untuk memberitau orangtuanya. Seingat Chandra, Papanya adalah sosok lelaki tegas yang selalu mendidiknya agar menjadi lelaki bertanggung jawab dan selalu mengajarkan agar bisa menahan diri dalam hal apapun. Sedang Mamanya adalah sosok wanita cerewet yang sangat disiplin dan selalu mementingkan norma-norma dalam masyarakat. Dan kalau itu digabungkan, Chandra yakin rumahnya akan jadi medan perang dunia ketiga.

Sudah lebih dari sepuluh tahun, Pak Widhi dan Bu Laras tak pernah memarahinya dengan berlebihan. Kalaupun Chandra ada salah, mereka akan bicara dengan baik-baik. Sekilas ingatan Chandra tertuju pada kenangannya sewaktu SD, dimana dirinya yang sering membuat ulah dihadiahi kemoceng ajaib Sang Mama dan sabetan sabuk kulit Papa.

Chandra bergidik mengingat rasa ngilu tangkai kemoceng yang membelai betisnya. Meninggalkan bilur biru yang saat di sekolah justru dia bangga-banggakan. Tapi tidak dengan pecutan dari sabuk Pak Widhi yang membuat Chandra kapok dan berjanji tidak akan merisak temannya lagi sampai kepala teman sekelasnya dulu bocor dan harus dilarikan ke rumah aakit.

"Ya Tuhan, ampunilah aku! Aku belum berbuat, tapi harus bertanggung jawab. Dan aku tidak berani menghadapi papa mamaku," gumam Chandra.

Lelaki itu berusaha mengenyahkan kegalauannya dengan pulang lebih cepat dan berkutat dengan game PS di kamarnya. Tetap saja, kata-kata Prita untuk menikahinya dalam tempo waktu yang cepat dengan embel-embel mengakui menghamilinya, membuat mood Chandra berantakan.

Dilemparnya stick PS itu ke atas kasur, karena tetap saja dia tidak ingin barang kesayangannya rusak, hanya karena emosi sesaat. Direbahkannya badan Chandra di atas karpet bulu-bulu yang empuk dan melipat lengannya ke atas agar bisa digunakan sebagai bantal kepalanya.

Chandra melempar pandangannya yang kosong ke arah langit-langit kamarnya. Otaknya terasa ruwet seperti benang kusut. Chandra tak pernah berurusan dengan perempuan, tidak pernah menjalani hubungan serius, dan sekalinya berpacaran, otaknya sering dihinggapi kegalauan-kegalauan yang membuat alisnya bertaut di atas pangkal hidungnya.

Chandra meraih gawai yang ada di atas kasurnya. Sprei lama bermotif spiderman sudah kusut, sekusut pikirannya. Chandra mengetikkan pesan kepada Prita, berharap gadis itu mengerti isi hatinya.

Chandra : Ta, sepertinya tindakan kita ini salah deh. Tidak seharusnya kita membohongi orang tua. Sabar ya. Kalau mau menikah tunggu tahun depan. Sekalian tabunganku sudah cukup.

Chandra mendesah panjang, ketika menyentuh tanda 'send' untuk mengirim rangkaian kalimat itu ke gawai Prita. Chandra menunggu balasan Prita dengan gelisah. Namun bukan dibalas dengan tulisan, Prita justru menelponnya.

"Hallo ...."

"Mas, Mas ga sayang ya sama aku?" Prita menyerocos tak menanggapi sapaan Chandra.

"Ta, bukannya gitu. Kalau aku ga sayang, ngapain nembak kamu? Ngapain kita jadian," terang Chandra.

"Aku udah bilang Mama juga kalau aku hamil!"

Chandra menelan ludah kasar. "Ya ampun, Ta. Asli, Ta, kita nanti dosa! Kualat udah bohongin orangtua."

"Ya sudah kalau gitu! Mungkin emang Mas ga niat sama aku!"

"Kasih satu alasan kenapa aku harus berbuat sejauh itu!" Suara Chandra terdengar tegas. Namun tak ada jawaban dari Prita di balik telepon. "Ta ...."

"Aku sayang Mas dan aku ga mau nikah selain sama Mas! Puas!" Prita berbicara dengan irama yang cepat dalam satu tarikan napas.

Chandra hanya terbengong, belum bisa mencerna kata-kata yang masuk dalam otaknya. "Hah?"

"Kok 'Hah' sih?" sahut Prita terdengar kesal dan sewot

"Katakan sekali lagi ...."

"Ogah, ga ada siaran ulang!"

"Ya sudah, mungkin aku perlu berpikir ulang--"

"Aku sayang kamu dan ga mau nikah sama orang lain! Arrrrgggghhhhh!!!" Chandra tergelak. "Kok malah ketawa sih?"

"Aku juga sayang banget sama kamu, Ta," balas Chandra.

"Makanya kalau sayang, kamu mau kehilangan aku?"

"Tapi cara kita salah!" Chandra mengingatkan lagi dengan suara rendahnya yang khas.

"Aku tahu. Tak bisakah kamu melakukannya untuk aku?"

"Aku akan coba."

***

Makan malam bersama keluarga Widhi Bimantara kali itu, Chandra hanya bisa terdiam. Cinde, adiknya masih dalam masa observasi setelah transplantasi dan kali ini giliran Bu Joan yang menjaga Brave dan Cinde, karena sore tadi Chandra mengirim pesan pada ibunya agar pulang malam ini.

"Kamu kok diam saja, Mas?" tanya Bu Laras melihat gelagat aneh anak lelakinya.

Chandra mendongak, menyunggingkan senyuman tak jelas yang semakin membuat mamanya penasaran. "Ada masalah?" tanya Bu Laras lagi.

"Mas Chandra, kamu WA mamamu, supaya pulang malam ini dan tidak menjaga adikmu, karena ada sesuatu yang mau kamu ceritakan." Suara berat Pak Widhi membuat badan Chandra mulai bereaksi gelisah.

"Ma, Pa, kalau misal Chandra minta dilamarin Prita gimana?" Bu Laras dan Pak Widhi saling pandang.

"Loh, kamu tahu kan adikmu 6 bulan lagi mau menikah." Alis Bu Laras mengkerut.

"Aku tahu, Ma. Hanya saja, Mama Prita sakit. Beliau ingin Prita segera menikah," jelas Chandra.

"Mas, kamu tahu kan keluarga besar kita masih memegang adat Jawa. Dalam setahun tidak bisa menikahkan kakak adik sekaligus," terang Pak Widhi.

"Chandra tahu Pa, tapi ...."

"Tapi apa?" Bu Laras mulai menghirup aroma ketidak beresan.

"Tapi ...." Chandra berusaha menekan lidahnya supaya tidak terlontar kata yang terlintas di otaknya.

"Tapi apa Mas? Bicara yang jelas!" sergah Pak Widhi tak sabar.

"Tapi ... Prita hamil ...."

"APAAAAAA?????!!!!!!" Serempak kedua orangtua Chandra membelalak, dan suara mereka bagaikan guntur di malam cerah.

🏵TANGLED🏵

Pusing Chandra, punya pacar sekali bikin mumet!

Tengkyu udah baca sampai part ini...
Besok Peony ya...

💕Dee_ane💕

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top