💕5. First Date💕
Hati Chandra berbunga-bunga. Keinginan menjadi pacar Prita, gadis remaja yang pernah ditemuinya itu akhirnya terwujud. Namun, terbersit tanya dalam hati Chandra. Kenapa gadis itu mau menjadi kekasihnya?
Alis Chandra mengernyit. Dahinya tampak berkeriput. Bibir merahnya mengerucut. Otaknya berputar menjawab tanya hatinya.
Prita ... dia memeluk Brave. Tapi setelah itu mengiyakan tawaran menjadi kekasihku?
Chandra menggigit sudut bibir bagian kiri. Ujung pulpen yang dipegangnya, berulang kali diketuk-ketukan dengan irama yang teratur.
"Chan!" Panggilan itu tak diindahkan Chandra. Karena memang dia tidak mendengarnya. Isi dalam cangkang kepalanya masih dipenuhi rasa penasaran tentang perasaan Prita. "CHANDRA!!!" Honey kini sedikit melengkingkan suaranya.
Chandra tersentak. Mendongakkan kepala ke arah wajah Honey yang menyembul dari papan batas meja kerjanya. "Hon, aku belum budeg tau!"
Honey berdecak kesal. "Heh, Chandra! Makan gaji buta banget sih kamu. Kerja ... kerja! Mana laporan hasil kegiatan dinas luarmu kemarin?" Yang ditanya hanya meringis dan memberikan pandangan mengiba seperti Puss in Boots di film animasi Sherks.
"Arrghhh!" erang Honey paham dengan jawaban tak berbahasa itu. "Kapan mau kamu kumpulkan? Kamu tidak mau dapat uang perjalanan dinas?"
"Maulah. Dapat duit kok ditolak," ujar Chandra.
"Makanya bikin laporan hasilmu! SPJ perjalanan dinas paling lama 3 hari dikumpulkan kan? Kalau lebih dari itu ... hangus! Mengerti?" Honey memberikan pelototan tajam kepada Chandra.
"Iya. Ini lagi bikin," kilah Chandra. Jawaban Chandra berhasil menenangkan Honey.
Chandra kemudian menguasai dirinya. Berusaha melupakan segala ganjalan di hatinya.
Ayooo Chandra!!! Kerja ... kerja ... kerja!! Jadilah ASN yang profesional! Chandra menyemangati dirinya. Lelaki itu tak ingin lagi ritme kerjanya terpengaruh perasaan aneh yang tak penting.
Pukul dua belas, pada jam istirahat makan siang, Chandra mengumpulkan laporan hasilnya ke Honey. Gadis itu, seperti biasa, mengajak Chandra keluar makan siang.
"Nih, laporannya." Chandra mengulurkan selembar kertas dari mejanya melalui papan pembatas kubikel kerja mereka.
"Thank you." Honey menerimanya, menyatukan lembaran kertas itu dengan lembaran SPPD yang lainnya. "Eh Chan, makan yuk."
"Ehm, aku ga bisa Hon," tolak Chandra. Honey mendongak, tak percaya ajakan makan siangnya ditolak lelaki itu. "Aku ada janji sama pacarku?"
"APA??" Honey sontak meninggikan suara.
"Reaksimu berlebihan, Hon. Biasa aja kali!" protes Chandra yang kini memakai jaket kulit warna coklat yang sedari tadi disampirkan di sandaran kursi.
"Si ... a ... pa?" Suara Honey bergetar.
"Kamu ga kenal! Ntar deh, aku kenalin. Dah ya Hon!" Chandra meraih kunci motor yang tergeletak di mejanya. Chandra berjalan miring cepat di antara deretan kursi yang tertata saling bertolak belakang. Begitu bisa keluar dari area kerjanya yang sempit, lelaki itu segera mempercepat langkah turun ke parkiran.
Honey terperanjat. Tak percaya dengan informasi yang didengarnya dari Chandra. Lelaki itu, selama ini diketahui betah menjomlo. Bahkan Honey sempat meragukan ketulenan Chandra. Lelaki selengekan, sedikit malas, tapi cerdas, dan hidupnya terlalu easy going itu sejak awal memikat Honey. Selama ini Honey hanya diam. Memendam perasaan, tak ingin merusak persahabatan mereka.
Chandra punya pacar?
Hati Honey patah begitu saja. Niatnya mendekati Chandra untuk memperdalam kualitas hubungan mereka selain sebagai teman kuliah dan sekarang teman kerja se seksi pun kandas. Dalam hati, Honey menjadi penasaran dengan sosok perempuan yang menjadi kekasih Chandra.
***
Hal yang paling dibenci Prita adalah menunggu. Dan kini, Prita duduk di sebuah rumah makan yang menjual mie bandung, tempat kencan makan siang pertama mereka. Dan di kencan pertamanya, Chandra terlambat 10 menit.
Prita sudah bergejolak dadanya. Rahangnya mengerat sempurna sementara tangannya menghentak-hentakkan sedotan dalam gelas yang sudah kosong. Chandra berlari tergopoh setelah memarkir sepedanya. Lelaki itu bergegas masuk ke dalam rumah makan yang mulai dipadati pelanggan yang hendak makan siang.
"Sorry," ujar Chandra sambil mengelap keringat. Cuaca kota Solo sungguh panas, ditambah kemacetan, cukup berhasil membuat Chandra kegerahan.
Prita berdecak kesal. Minuman yang dipesannya sudah habis tak berbekas. "Mas, kesel aku sama kamu! Ini kencan pertama kita! Masa kamu terlambat!"
"Iya, maaf." Chandra melepas jaketnya dan meletakkan di kursi di sebelahnya.
Dada Prita memburu. Dia bukan type perempuan yang sabar. "Aku jadi ga mood makan. Udah kenyang sama minuman."
"Ta, jangan gitu dong. Tadi sewaktu mau keluar aku dipanggil Kepala Dinas. Kami mengobrol sebentar!" Chandra meraih tangan Prita yang bertumpu di meja.
Prita menelisik raut muka Chandra. "Kesel tahu ga sih! Seumur-umur aku ga pernah nunggu cowok pas kencan gini!"
"Iya. Sorry!"
"Kali ini aku maafkan! Tidak ada yang kedua...mengerti?" Chandra hanya menganggukkan kepala berulang seperti boneka pegas yang ada di dashboard mobil Prita.
"Mau makan apa?" Prita menyodorkan daftar menu.
"Yang bukan mie ada ga ya?" tanya Chandra.
Prita mengernyit bingung. "Kenapa ga mie saja? Kan kita makan di rumah makan mie bandung?"
"Aku ga suka mie. Lihat bentuknya kaya cacing." Chandra nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Prita mendesah. "Tuh, di sebaliknya ada menu lain yang bukan mie."
Chandra membalik lembarannya. Matanya menelusuri beberapa menu yang akan dipesannya. Sementara mata Prita menatap tajam kekasihnya, menyadari sesuatu di hari pertama jadian, yaitu perbedaan selera makan.
Prita sangat menyukai segala macam makanan yang berbentuk juluran panjang gandum yang disebut mie. Sedang Chandra sama sekali tak menyukainya. Dan ini pasti bisa menjadi perselisihan di kemudian hari bila Prita ingin makan mie di sebuah tempat makan yang tak menyajikan masakan lainnya.
"Aku mau nasi goreng seafood," kata Chandra. Prita menuliskan pesanan Chandra di selembar kertas pesanan. Setelah mengisinya, Prita memanggil pelayan dan memberikan kertas itu.
"Ta," panggil Chandra dengan kepalanya diletakkan di punggung tangannya yang saling bertaut, sementara sikunya bertumpu di atas permukaan meja.
"Ehm ...." Alis Prita naik, memperlihat kerutan halus di dahinya yang tampak licin.
"Dulu kamu SMA mana?" tanya Chandra basa basi. Chandra ingin memulai percakapan tentang kisah pertemuan mereka di masa lalu.
Prita menelan ludah kasar. "Kenapa memang?"
"Engga. Pengen tahu aja. Aku kan pengen mengenal kamu, Ta."
Prita ingin menjawab pertanyaan Chandra, tapi kata 'Bintang Timur ' itu tak mampu keluar dari mulutnya. Terlalu mengerikan apa yang dialaminya di sana, membuatnya ingin menghapus segala ingatannya tentang SMA itu. Kecuali ingatan tentang seorang lelaki yang menyelubunginya dengan jaket almamater, yang meneguhkannya agar menjadi perempuan yang kuat.
"SMA Sang Timur."
"Oh ...." Chandra hanya memberi jawaban singkat. Sedikit heran kenapa tidak memberi jawaban SMA Bintang Timur.
"Kenapa?" kejar Prita.
"Ga." Chandra kecewa. Padahal ia ingin menceritakan bahwa dirinyalah lelaki yang menemui Prita sewaktu dirisak oleh teman-temannya. Kalau bisa, Chandra ingin mengulang semuanya. Berharap saat itu, dia tidak pilek dan memakai masker, sehingga Prita akan mengenalinya.
Akan sangat canggung sekali bila Chandra bercerita bahwa dia bertemu seorang gadis remaja di Bintang Timur, sementara Prita merasa tak ada hubungannya dengan sekolah itu. Chandra memutuskan untuk bersabar. Menunggu Prita bercerita bagian dari masa lalunya, termasuk masa di mana dia pernah bersekolah di SMA Bintang Timur.
"Ta ...," panggil Chandra lagi. "kamu beneran mau pacaran sama aku?"
Manik mata Prita membulat ketika Chandra melontarkan pertanyaan konyol itu. "Jadi, Mas kecewa jadian sama aku?"
"Bukan, bukan ..." Chandra berusaha meredam emosi Prita. "aku tahu dari Cinde kamu menyukai Brave, dan aku lihat kamu memeluknya ... kemarin."
Prita tersenyum, sedikit senang. Ada percikan rasa cemburu di bola mata Chandra. Dan itu membuat Prita tahu bahwa Chandra tulus mencintainya, seperti dulu pria itu tulus menghiburnya. "Mas cemburu?"
Chandra sok berpikir. Bola matanya mengerling ke sudut atas kanan. "Aku bukan laki-laki pencemburu buta Prita." Untuk sementara Chandra memberi tameng dalam hatinya, tak ingin terlihat sebagai laki-laki yang pencemburu. Menurut info terpercaya dari Cinde, Prita putus dari mantan-mantannya karena alasan nyleneh. Mantannya terlalu cemburu buta, dan itu membuat Prita jengah.
Oleh karena itu, Chandra harus hati-hati menentukan sikap di awal mereka pacaran. Berusaha bersikap biasa di depan Prita, tak ingin menunjukan tanda-tanda posesif, apalagi kalau sudah menyangkut nama Brave. Chandra tak ingin gadis di depannya kesal, karena merasa dibatasi, sehingga bisa merusak hubungan mereka. Chandra paham, Brave seperti sosok kakak dalam hidup Prita. Namun tetap saja, Chandra merasa perasaan Prita terhadap Brave tidaklah secepat itu luntur.
Mereka makan dengan bercakap-cakap untuk pengenalan lebih jauh. Sampai akhirnya waktu mendekati pukul satu membuat mereka harus cepat kembali ke kantor masing-masing.
"Aku ke toilet dulu. Sekarang biar aku yang bayar. Besok giliranmu!" Prita melongo. Baru kali ini ada lelaki yang menyuruhnya membayar. "Ya elah, gitu aja kaget! Aku ga mungkin lah tiap siang ngeluarin duit terus makan berdua sama kamu. Ga bisa nabung dong buat nglamar kamu."
Chandra berlalu begitu saja ke kamar kecil, meninggalkan Prita yang tersipu.
Nglamar? Ya ampun, Mas. Baru juga sehari jadian ....
Prita menepuk pipinya ketika gawai Chandra bergetar karena ada panggilan masuk. Prita membaca sekilas nama kontak yang melakukan panggilan.
Honey?
Prita memutar gadget Chandra, mengamati gambar profile yang tertera di layar telepon.
Cantik ... Siapa dia? Kenapa tulisannya 'HONEY'? Jangan-jangan ...?
Mendengar langkah Chandra mendekat, Prita segera memutar kembali arah smartphone Chandra. Menampilkan sikap biasa. Padahal dalam hatinya bergolak rasa ingin tahu.
Siapa Honey? Aku jadi penasaran. Prita, kenapa kamu jadi cemburu? Seperti bukan kamu saja.
Chandra duduk dan saat yang sama muncul pesan di gawainya. Mata Prita memicing tatkala Chandra sibuk mengetikkan sesuatu di smartphonenya.
"Ngirim pesan ke siapa, Mas?" tanya Prita dengan nada kadar kepo yang ditekan semaksimal mungkin.
"Bukan siapa-siapa. Cuma temen."
Temen tapi kamu tulis 'Honey' di kontak??
Prita hanya mengeluarkan suara 'o' saja dari mulutnya. Dan ketika berpisah jalan, Prita tertekan dengan perasaan tak percaya pada sosok Chandra. Rasa cemburu menyusup tak ingin ada orang lain yang bisa merampas perhatian lelaki itu. Perhatian tulus yang membuatnya nyaman seperti sepuluh tahun yang lalu Chandra memberikan penguatan.
Mas Chandra, kamu yang memaksa aku jadi pacarmu! Dan, kali ini kamu yang tidak akan lepas dari genggamanku, sekalipun kamu memohon!
❤Chandra-Prita❤
💕Dee_ane💕💕
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top