💕10. Propose💕
Mereka makan malam dalam diam. Hanya denting sendok garpu yang beradu di atas piring, serta gelegak air yang tertuang ke dalam gelas yang mengisi kekosongan sunyi di ruang makan.
"Ini rumah apa kuburan ya? Sepi amat ...," kelakar Pak Widhi mencoba memecah kebekuan suasana.
"Hush, Pa! Bukan kuburan, tapi rumah duka!" Chandra tak habis pikir dengan orang tuanya yang masih bisa menerimanya dan seolah melupakan tingkah 'nakal'nya.
"Pa ... Ma ... Ga lucu!" ucap Chandra datar.
"Emang papa dan mama nglawak, Mas?" Chandra mendesah panjang.
"Maaf ya Ta, kamu harus kuatin hati nantinya menghadapi orangtuaku."
Prita hanya diam saja dari tadi, dan menunduk. Badannya kembali bergetar. "Ta ...." Chandra menyibak surai yang menjuntai menutupi wajahnya. Pipi Prita tampayk tembem karena makanannya menyumpal di rongga mulut, urung dikunyah.
Prita meletakkan sendoknya dan menyeka bibirnya dengan kain yang diletakkan di pahanya. "Ta?"
"Mas, habis ini antar Prita pulang. Orang hamil memang sensitive seperti itu," kata Bu Laras.
"Iya, Ma."
***
Chandra tampak bingung menghadapi Prita yang hanya bisa menunduk selama perjalanan. Gadis itu menutup wajahnya dan memperdengarkan suara pilu. Chandra tak tega membiarkan Prita sendiri dan memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Cahaya lampu yang menyoroti jalanan menjadi penerang kegelapan di dalam mobil. Chandra hanya mengamati punggung Prita yang bergetar naik turun, tak tau harus berbuat apa untuk menenangkannya. Chandra merutuki dirinya karena tidak berpengalaman dalam berhadapan dengan perempuan. Begini salah, begitu juga salah. Andai ada kamus besar 'Cara Menghadapi Perempuan', dipastikan dia akan langsung memesannya sebelum buku itu dicetak.
Chandra menghela napas panjang, memandang gadis langsing di depannya. "Ta, aku sudah ngelakuin apa yang kamu mau, tapi kenapa kamu malah sedih gini? Aku kurang gimana? Harus apa?"
Prita hanya menggeleng berulang, membuat Chandra semakin bingung. "Ta, please, ngomong dong. Aku bukan cenayang yang bisa nebak isi hati orang!"
"Jangan kaget ya ...."
"Apaan sih, Ta ...." Jantung Chandra berdebar kencang tak jelas.
Pelan-pelan Prita menurunkan tangannya dan menoleh ke arah Chandra. Chandra tersentak dan beringsut ke belakang melihat penampakan Prita yang kacau : rambut hitamnya menjulur ke depan dengan garis-garis hitam yang kini terlihat seperti aliran sungai berlumpur di pipi putihnya. Penampakan Prita mengingatkan Chandra pada karakter film horror Jepang yang keluar dari kotak televisi.
"Ta, wajahmu nakutin!"
"Tuh kan! Aku jelek, aku nakutin!" Prita mencondongkan badannya melampaui persneling mobil, hendak melayangkan pukulan ke tubuh pemuda di depannya. Namun, Chandra langsung menyambar pergelangan Prita untuk menenangkannya.
"Dari tadi kamu nutup wajahmu, dan nunduk gara-gara malu eyelinermu luntur kemana-mana?" Prita mengangguk.
"Ya ampun, Mas. Aku malu sekali sama Papa Mama mu!"
Chandra menepuk jidatnya. Kecemasannya rupanya terlalu berlebihan. Alih-alih merasa bersalah, Prita sedari tadi menunduk karena menyembunyikan riasan matanya yang hancur.
Chandra mendesah, melihat baik-baik wajah Prita yang seperti setan dengan riasan mata yang hancur karena luntur. Chandra menyekap kedua pergelangan tangan Prita dengan satu tangannya sementara tangan yang lain merogoh ke saku celananya.
Pelan-pelan diusapnya pipi Prita yang bergaris hitam dengan sapu tangan kain yang diambil dari sakunya. "Ta, kalau kamu mau nangis, nangis aja. Aku yang akan menyeka air mata di pipi kamu, menggantikan air mata kesedihanmu dengan air mata kebahagiaan."
Prita mencebik, memandang Chandra. "Pasti eyelinerku udah luntur dari tadi. Iya kan?"
Chandra memiringkan bibirnya berpikir. "Ehm, ga juga. Tadi kamu nangisnya jaim banget. Nangis tapi dikit-dikit nyeka air mata biar ga leleh ke pipi."
"Mas tau?" Chandra mengangguk sambil memonyongkan bibir merahnya. "Nyebelin!"
Prita menepis tangan Chandra, kemudian menghentakan badannya kembali duduk di posisinya. Prita menurunkan Sunvisor yang di dalamnya terdapat cermin. "Ya Tuhan, hancur sekali!" keluh Prita kemudian meraih sapu tangan Chandra untuk menghapus riasan yang belepotan.
"Ta, kenapa kamu tadi nangis?" tanya Chandra.
Prita tak langsung menjawab, dia masih sibuk dengan mascara dan eyeliner yang leleh di sekitar matanya. Prita menghela napas panjang, menatap Chandra. "Mas, kita kualat ga ya?"
Kualat. Itu kata yang membuat Chandra bergidik. Suatu kata yang berarti akan berakibat buruk di kemudian hari sebagai akibat ulahnya hari ini. Chandra hanya termangu tak mampu memutar kata. Hanya cengiran khasnya yang bisa dia tunjukan pada Prita untuk menghalau gundah gadis itu.
"Yang penting, setelah kita halal, kamu hamil. Bereskan?" kata Chandra yang menganggap membuat anak hanyalah soal masuk keluar masuk keluar dan lepas.
Prita mengangguk mempercayai pemuda yang usianya lebih tua darinya 3 tahun. Hanya pada Chandra, Prita nantinya bisa bertumpu dan menyandarkan rasa penatnya. "Semoga ...," ucap Prita lirih.
***
Pagi itu begitu sibuk. Sebagai keluarga pihak laki-laki, Bu Laras menyiapkan beberapa oleh-oleh yang akan dibawa untuk melamar Prita. Hati Chandra sedikit terasa getir, mengingat antusias sang mama menyambut sang calon menantu.
"Ma, biasa aja kenapa? Ga usah heboh!" Chandra mendekati mamanya yang kini sibuk merangkai beberapa oleh-oleh termasuk seekor ayam kampung goreng yang didandani menjadi cantik. Chandra bergidik melihat ayam yang mukanya menghadap ke arahnya seolah mengejeknya 'pembohong'.
"Mas, pernikahan itu sekali seumur hidup! Melamar itu juga sekali seumur hidup! Semua harus disiapkan matang! Jangan karena kamu DP duluan jadinya kita enak-enakan! Tau kan sekarang enaknya berapa detik, repotnya seumur hidup!" Bu Laras nyerocos panjang lebar.
"Berarti kami ini hasil enaena Papa Mama yang merepotkan ya, Ma?" Bu Laras mengerling tajam pada anak sulungnya.
"Mas, kamu mau jadi bapak! Bisa serius sedikit tidak?!" sergah Mama Chandra.
Chandra mendesah. Serius? Aku lupa menjadi serius, Ma!
"Mas, ngobrol dulu yuk. Papa pengen ngopi-ngopi di luar." Pak Widhi menunjukkan cangkir kopinya dan diikuti Chandra yang juga meraih cangkir kopi yang sudah disediakan oleh mamanya.
Chandra duduk di kursi sebelah kiri meja. Di teras itu, mereka bisa mengamati suasana jalanan depan gang yang tak begitu ramai. Dengan leluasa mereka duduk di depan rumah tanpa risih dilihat oleh orang yang lalu lalang karena pagar tertutup fiber abu.
Aroma kopi itu menenangkan Chandra kala menghirup sebelum menyesapnya. Bunyi seruputan nikmat terdengar saat pemuda 28 tahun memasukkan cairan hitam itu ke rongga mulut.
"Nikmat ya, Mas," kata Pak Widhi memulai percakapan. Chandra tersenyum simpul.
"Waktu berjalan cepat. Papa tidak menyangka, kamu sudah akan menikah. Sudah pinter bikin anak lagi!"
Kalimat itu bernada sarkas membuat Chandra menyemburkan air kopi yang sudah masuk. Melihat reaksi anaknya, Pak Widhi terkekeh.
Chandra mendesah kencang. "Pa, terima kasih tidak marah."
"Semua sudah terjadi. Marah pun Prita tetap hamil. Iya kan?"
Prita tidak hamil, Pa. Papa seharusnya memarahi aku dengan pecutan sabuk itu lagi karena membesarkan laki-laki pembohong besar. Lelaki bucin yang mudah disetir oleh perempuan!
"Selamat ya, Mas, kamu jadi calon Papa!"
Seketika rasa malu menyiksa Chandra. Membuat lelaki itu hanya bisa termangu menatap pemandangan mobil dan kendaraan lain yang melalui gang sempit itu. "Pa, maafin Chandra ya."
"Boleh jujur, Mas?" Chandra mengangguk menanti lanjutan kalimat sang ayah, "Papa kecewa dengan sikap Mas Chandra yang tidak bisa mengendalikan diri. Satu yang dulu Papa selalu tekankan ke Mas Chandra, 'jadi orang harus bisa mengendalikan diri'."
Lagi-lagi Chandra tersenyum kecut.
***
Menjelang sore, keluarga Widhi Bimantara berangkat ke Klaten menuju ke rumah Prita. Ini kali pertama, Chandra ke rumah Prita dan bertemu dengan mamanya. Perjalanan kali ini, hanya ditemani oleh alunan musik pop masa lalu kesukaan Pak Widhi dan Bu Laras. Membuat Chandra semakin larut dalam pikirannya yang bercampur aduk karena kegalauan akibat kebohongannya.
Chandra menyandarkan sikunya di lekukan pintu, dan tertahan oleh kaca jendela yang tertutup. Kebiasaan kalau gelisah sungguh tak bisa ditutupi, yaitu memainkan bibir bawahnya membuat Bu Laras yang menangkap pemandangan itu merasakan keanehan sikap Chandra.
"Ada apa, Mas? Sejak pertemuan dengan Prita kemarin kamu terlihat gelisah?" tanya Bu Laras dari jok belakang.
"Ah, mau menikah pasti gelisah lah, Ma," ucap Chandra berusaha mencari alasan.
"Mama harap tidak ada yang serius yang kamu pikirkan! Atau jangan-jangan kamu belum sreg?" Bu Laras berusaha menebak isi hati anaknya.
"Sreg ga sreg harus nikah to, Ma! Memecahkan berarti membeli," timpal Pak Widhi.
"Hush, Papa ini! Emang Prita barang pecah belah yang dijual?" Bu Laras tak enak mendengarnya.
Pak Widhi mendesah panjang. "Anak gadis itu ibarat gelas kristal yang dipajang. Kita berharap gelas kristal itu berada di tangan pembeli yang tepat. Tapi begitu pecah, walau bisa disambung pun tak lagi sama seperti dulu. Dan yang memecahkan wajib membeli."
Obrolan orangtua Chandra itu menambah penat lelaki itu. Seolah secara tidak langsung dia dituding sebagai perusak anak gadis orang.
***
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Prita. Rumah itu cukup luas dengan halaman yang bisa memuat 2-3 mobil. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu gerbang.
"Orangtua Prita ternyata kaya ya, Pa," komentar Bu Laras saat mobil masuk ke halaman rumah. Chandra sendiri pun tertegun saat turun dari mobil. Sebuah bangunan berlantai dua dengan pilar yang besar di serambi depan menyambut mereka.
"Ayo, masuk!" ajak Pak Widhi tak mengindahkan reaksi istri dan anak lelakinya.
Di serambi depan sudah ada Prita yang berdandan cantik seperti biasa menunggu kedatangan mereka. "Selamat datang Om, Tante--"
"Kok Om, Tante sih? Papa, Mama gitu dong." Prita hanya meringis saja ketika Bu Laras mengoreksinya.
Dari dalam, Bu Vera yang sudah lebih segar kondisinya, keluar menyambut tamunya. Mata Bu Vera berbinar ketika mendapati Chandra. Pemuda itu memang lain dibanding Keanu dan Brave. Sikapnya santai, tapi senyumannya bersahabat. Matanya teduh, tapi membius.
Chandra maju ke depan menyalami Bu Vera dan mencium punggung tangannya-suatu hal yang jarang dilakukan lelaki dewasa kepadanya. "Kenalin, Ma. Saya Chandra, calon mantu Mama."
Bu Vera terkesiap, mata jenaka Chandra membuatnya terperangah. "Ah, ya ... ya ... Mari masuk!"
Lagi, Keluarga Bimantara disuguhi oleh pemandangan rumah yang megah. Walau rumah itu megah dibanding dengan rumah kecil mereka, tetapi rumah itu terkesan dingin. Dengan sungkan Pak Widhi, Bu Laras dan Chandra duduk di sofa jati berukir. Mereka ngobrol basa basi sejenak sebelum akhirnya masuk ke inti.
"Jadi, maksud kami datang kesini adalah ingin melamar Prita," kata Pak Widhi.
Bu Vera mendesah ringan, tetapi masih terdengar oleh tamunya. "Mas Chandra ASN ya?"
"Iya Ma ...."
"Prita terbiasa dengan gaya hidup yang ..." Bu Vera berhenti sejenak memperhatikan Prita yang duduk dengan kikuk, "Mas Chandra bisa lihat sendiri. Saya hanya berharap, menikah dengan Mas Chandra Prita menjadi dewasa."
"Ma!" sergah Prita gusar namun tak dihiraukan oleh Bu Vera.
"Ta, suamimu, bukan pengusaha, seperti Mama yang bisa kasih apapun keinginan kamu setiap saat kau minta. Setelah menikah kamu harus manut dengan suamimu."
"Mama tidak perlu khawatir. Prita sudah menjadi tanggungan saya! Dia memilih saya, dia pasti sudah tahu konsekuensinya bahwa saya hanyalah seorang ASN golongan 3A yang masih mendapat gaji 80%. Bukan begitu, Prita?"
Prita melotot ke arah Chandra, sedikit kesal. Harusnya Chandra meyakinkan Prita kalau hidupnya terjamin bersama pria itu.
"Rejeki bisa dicari. Asal kita bersyukur dan pandai-pandai mengatur keuangan pasti bisa cukup kok." Bu Laras menengahi percakapan yang tak nyaman itu.
Bu Vera tersenyum. "Saya paham. Yang saya harapkan agar Mas Chandra bisa setia pada Prita apapun kondisinya."
***
Saat para orangtua bercengkerama, Prita dan Chandra mencari tempat lain di depan televisi. Prita sedikit gusar dengan sikap Chandra.
"Ta, kok cemberut sih?" tanya Chandra.
"Mas, kamu kok ngomong gitu sih di depan Mama? Soal ASN, gaji, golongan?"
"Lha kan emang kenyataannya begitu, Prita Sayang? Nyesel?" Prita menggeleng. Baginya hidup bersama Chandra adalah keinginannya saat ini.
"Kamu tahu, aku kasihan sama kamu ... Selama ini temanmu hanya barang-barang bermerk sebagai pengganti bentuk perhatian mamamu." Chandra menyibak rambut Prita, kemudian menyurukkan kepalanya di dekat daun telinga gadis itu. "Mulai saat ini, aku akan melimpahi kamu dengan perhatian dan kasih sayang, bersama anak yang akan kita buat nanti." Tangan Chandra mengusap perut Prita seolah di perutnya terdapat jabang bayi.
Prita hanya bisa menggeram. Lagi-lagi Chandra melontarkan candaan tak bermutu, tapi cukup membuat rasa kesalnya luruh.
💕Dee_ane💕💕
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top