SR-2
Written by verlitaisme
Untuk beberapa saat aku mematung di depan pintu besar yang terbuat dari kaca. Berkali-kali menghela napas untuk menetralisir perasaan campur aduk dalam dada.
Enggak, aku enggak akan mundur karena aku memang pantas mendapatkan ini. Seorang laki-laki harus bertanggung jawab atas perbuatannya, apalagi jika itu sangat menyakiti seseorang yang seharusnya dibuatnya bahagia.
Kupejamkan mata erat-erat sambil sekali lagi menghela napas dengan berat. Lalu, terdengar pintu berkerit. Segera kubuka mata dan melihat seseorang berseragam berdiri di ambang pintu, menatap penuh selidik.
"Mau apa, Nak? Jangan hanya berdiri depan pintu jika ingin melaporkan sesuatu," katanya.
Aku berdeham. Sialnya, debar dadaku semakin menjadi. Kedua telapak tangan segera mengepal erat di kedua sisi tubuh, liurku berkali-kali kutelan, lalu berdeham dengan kencang. Mataku terasa sakit karena menatap sedikit membelalak ke arah si petugas.
Namun, kekuatan dan keyakinan itu muncul lagi. Aku yakin, jauh di sana, Brisa sedang menatapku, memastikan aku enggak menarik apa yang sudah kujanjikan.
"Saya mau menyerahkan diri, Pak," ucapku yakin dan lancar. "Saya ... membunuh ...."
Padahal, aku masih SMA. Menyerahkan diri sebagai pembunuh, dalam pakaian putih abu-abu.
*
*
*

Beberapa waktu lalu saat Papa mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke kota lama kami, aku nyaris melonjak kegirangan. Untungnya salah satu tanganku saat itu sedang memegang tas sekolah yang baru kuturunkan dari punggung, sehingga cengkeraman pada salah satu tali bisa menahanku supaya enggak melompat-lompat. Tetapi percayalah, hatiku berdegup kesenangan.
"Tapi kamu sama Mama enggak harus ikut." Waktu itu perkataan Papa yang ini langsung membuat semangatku sedikit memudar. "Kamu baru aja naik ke kelas tiga, kalian bisa tetap di sini dan mempersiapkan kuliahmu. Setuju?"
Setuju apanya?! Jelaslah aku enggak bakal setuju. Aku sudah lama menginginkan pulang, meski tahu perasaan campur aduk akan segera menyergap begitu memasuki kota itu. Aku sudah lari terlampau lama dan jauh, saatnya kembali untuk membenahi semuanya lagi.
"Aku mau ikut, Pa!" protesku dengan wajah memeberungut karena sebal yang bercampur dengan sedikit nada permohonan.
"Sekolahmu?" Papa mengerutkan kening.
"Bisa diatur!" sahutku asal.
"Apanya yang diatur?" Mama tiba-tiba muncul dari ruang tengah. Di tangannya terselip cangkir yang dari aromanya aku tahu kalau itu teh melati. Dia mendekat ke arah kami dan menyerahkan cangkir itu kepada Papa. "Kita di sini aja, Kael." Mama menoleh padaku. "Mama sudah ngatur jadwal les persiapan perguruan tinggi. Kalau ikut Papa, akan sangat merepotkan beradaptasi dan nyari-nyari guru les lagi," imbuhnya.
Aku menghela napas panjang dan dalam, tidak menyahut. Hanya melangkah meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Aku enggak mungkin tinggal sendirian di sini, dan mengabaikan kesempatan untuk kembali ke kota itu.
Malamnya, aku memutuskan untuk enggak ikut makan malam, terus enggak turun sarapan dan enggak pergi ke sekolah besoknya. Lalu, dilanjutkan dengan enggak makan siang, dan enggak makan malam lagi. Sampai akhirnya mereka mengalah, dan membiarkanku ikut kembali ke kota kecil di mana aku dilahirkan.
Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri menatap rumah lama kami dengan senyum yang paling lebar. Mendongak menatap ke arah lantai dua di mana kamarku berada. Terlihat tirai kamarku yang bergerak-gerak tertiup angin, setelah Mama membukanya tadi.
Beberapa orang dari jasa kepindahan yang disewa Papa terlihat mondar-mandir membawa masuk beberapa barang yang kami bawa dari kota sebelumnya. Enggak banyak sebenarnya, karena perabot lama kami masih ada di dalam rumah lama. Tante pengurus rumah tangga, sepertinya berhasil merawat rumah beserta perabotan kami dengan baik selama lima tahun enggak kami tempati.
Sebenarnya ada alasan menarik dari kepindahan kami. Papa bermaskud memperkuat cabang perusahaannya di kota ini. Cabang ini dulunya adalah holding company. Yeah, anggap saja begitu. Karena sebenarnya dulu Papa memang hanya punya satu, dan belum bercabang-cabang. Cuma satu waktu itu, tapi cukup untuk membiayai semuanya.
Make up Mama enggak pernah dari brand murahan, dan sepatuku enggak pernah dari merk lokal. Kemudian, Papa memutuskan melebarkan sayap dan kami pindah ke kota yang lebih besar. Kepindahan yang menyelamatkanku dari sesaknya kota kecil waktu itu. Ck!
Sekarang cabang perusahaan IT milik Papa sudah ada di mana-mana, tapi dirinya enggak pernah lupa dengan kota kecil ini. Maka, alih-alih mempercayakan pengembangan di tangan orang lain, dia memilih untuk membesarkannya sendiri. Rela pergi pulang jika dibutuhkan di kantor pusat.
Bisa jadi, gigihnya aku menurun dari gigihnya. Seenggaknya, kegigihan dengan sedikit merajuk agar diizinkan untuk ikut pindah. Hehehehe ....
"Kita akan melihat-lihat sekolah nanti ...." Tiba-tiba pundakku ditepuk pelan, dan Mama sudah berdiri di sebelahku. Aku menoleh dan melihat Mama sedang menatap rumah lama kami dengan berkaca-kaca.
Lihat! Untung kami benar-benar ikut pulang. Bisa jadi sebenarnya Mama merindukan kota ini juga---meski tak pernah terucap dari bibirnya, dan juga teman-teman sosialitanya yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Ini kota kecil, ketika kamu benderang dengan uang, maka seluruh kota bakal tahu.
"Aku bakal milih sekolahku sendiri." Aku menanggapi perkataan Mama tadi.
Mama segera menoleh padaku. "Sudah punya pilihan?" tanyanya.
Kuangkat kedua pundak dan kembali menatap ke arah kamarku di lantai dua. Aku punya rencana, dan itu adalah salah satu alasanku memaksa ikut kembali.
***
Aku bisa mendengar suara jeritan di ujung telepon. Jeritan kaget dan gembira lebih tepatnya. Saat ini aku sedang menghubungi seorang teman lama, dan syukurnya nomor ponselnya enggak berubah. Segera terdengar kehebohan ketika aku menambahkan satu orang lagi. Lalu, kami benar-benar bernostalgia di telepon untuk beberapa waktu.
Keduanya protes mengapa aku pergi dan mengganti nomor ponsel, dan baru menghubungi mereka sekarang. Mereka juga terkejut saat tahu kalau aku kembali ke kota ini pagi tadi.
"Gue emang lewatin rumah lo pas berangkat tadi. Gue pikir rumah lo dijual dan itu penghuni baru." Jo menyahut. Lalu bertiga kami tertawa.
"Well, Guys ...." Kupotong tawa yang sedang berderai-derai. "Gue harus segera nyari sekolah, karenanya gue butuh beberapa informasi ...."
Terdengar hening dan khusuk saat aku menyebutkan beberapa informasi yang kubutuhkan. Syukurnya, semesta mendukung. Cuma butuh sekali telepon, dan aku langsung bisa menentukan di mana aku bakal bersekolah.
**
Nasib orang ganteng adalah harus pasrah saat semua mata cewek-cewek menatap ke arahmu dengan buas, siap menyergap, sok kenal, dan sok deket. Padahal masih SMA. Bagaimana pas mereka dewasa nanti? Bakal langsung lepas baju depan aku kali, ya?
What the fuck, Kael! Mesum! Behave!
Ibu Wakil Kepala Sekolah langsung yang menemaniku ke kelas baru. Privillage jadi anaknya yang punya Radeva IT Corporation, yang terkenalnya sejagad kota. Kalau enggak ada nama besar Papa dan perusahaannya, kayaknya yang bakal anter aku adalah wali kelas saja.
Aku berdiri di depan kelas, menyapu pandangan ke setiap sudut dan berasa mual saat melihat wajah Daud di antara siswa. Dia salah seorang teman lama yang bertelepon denganku tempo hari, dan ternyata kami sekelas. Bukannya aku mual karena harus melihatnya, tapi karena tiba-tiba matanya berkedip genit ke arahku. Lagi nge-cost play cewek-cewek sekelas yang terlihat kedip-kedip dan senyum lebar ke arahku kayaknya. Heran, kenapa harus Daud yang kulihat pertama kali? Iyuh!
Lalu mataku bergerak lagi, dan berhenti pada seorang gadis yang terlihat berbeda dari yang lain. Gadis berambut ombak tersebut justru terlihat sibuk dengan buku di tangan, dan terlihat enggak peduli dengan kehebohan kelas.
"Silakan perkenalkan diri kamu." Ucapan WaKepSek membuatku mengalihkan pandang dari si rambut ombak.
Setelah sekali lagi menyapu pandangan ke seluruh sudut kelas, dan bersirobok dengan beberapa mata genit cewek-cewek sekelas, aku pun memperkenalkan diri. "Hai! Hai! Nama gue Kaelus Radeva. Kalian bisa panggil gue Kael. Yang mau nongkrong bareng gue pulang sekolah, gue traktir." Well, enggak ada salahnya menghamburkan sedikit uang untuk perkenalan.
Setelah perkenalan yang heboh, WaKepsek memintaku untuk duduk di kursi belakang yang kosong. Tetapi, sepertinya aku enggak mau duduk di sana. Ada satu kursi yang lebih menarik perhatianku.
Uang memang bukan segalanya, tapi uang mempermudah segalanya. Dan di sinilah aku setelah proses negosiasi paling mudah yang pernah kulakukan. Duduk di sebelah si rambut ombak yang ternyata terlihat lebih manis saat dilihat dari dekat. Aku menatapnya seraya bertopang dagu.
Enggak diacuhkan, didiamkan, enggak diajak ngobrol sama cewek, ini adalah pengalaman baru. Hal yang enggak biasa dirasakan oleh orang ganteng, populer kayak aku. Damn!
"Halo, nama gue Kael. Nama lo siapa?"
Terus dicuekin. Masa buku lebih menarik dari pada aku?
"Haloooo!" kulambai-lambaikan tangan di depan wajahnya, dan berhasil! Sekarang dengan wajah terlipat yang terlihat kesal, dia menatapku.
"Lo ngomong sama gue?" tanyanya ketus, membuatku menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kembali padanya.
"Ya kali sama patung," sahutku sambil memasang senyum andalan. Tapi, kayaknya enggak ngaruh ke gadis di sampingku ini.
Dia berdecak sebelum menyahut. "Ilona," katanya. "Tambahin Brisa," sahutnya lagi setelah aku mendesak meminta nama lengkapnya.
Terus dia cemberut lagi. Sok sibuk lagi dengan bukunya. Aku dicuekin lagi, diabaikan lagi. Benar-benar, deh. Betapa mencairkan suasana dengan si Manis ini lumayan menguras tenaga. Kurogoh kantong celana, teringat kalau masih ada beberapa cokelat di saku.
"Gue enggak suka cokelat," bilangnya saat kusodorkan cokelat padanya.
Disangkanya aku bakal nyerah? Cowok Gemini anti diabaikan! Maka kuletakkan cokelat tepat di meja bagiannya.
"Nolak pemberian itu nyakitin hati orang yang ngasih, Brisa. Seenggaknya terima aja dulu, buangnya pas gue enggak lihat," kataku sambil menatap sisi wajahnya yang terlihat sedang menahan emosi. Tanpa menatap ke arahku, diraihnya lima permen cokelat dari meja dan menjejalkan semuanya ke dalam tas.
Senyumku melebar. Brisa terlihat menggemaskan saat cemberut dan kesal seperti itu.
"Anak manis ...," gumamku sebelum mengalihkan pandang ke depan kelas. Seorang guru laki-laki berkacamata terlihat sudah bersiap memulai pelajaran.
Hari-hariku di kota ini sepertinya akan sangat berwarna. Semoga enggak kelam kayak yang sudah-sudah. Kulirik Brisa di sebelah, dan menerka-nerka. Wajah yang terlihat tidak bersahabat itu seolah-olah menyimpan banyak hal. Pasti banyak sekali cerita yang akan terkuak nantinya dari si Manis berambut gelombang ini. Enggak sabar rasanya mendengar cerita-ceritanya, mendengarnya tertawa, menemaninya menangis, memberinya semangat, dan membuat hidupnya lebih menarik.
**
Ada satu pohon yang sangat besar di halaman belakang sekolah. Pohon paling rimbun yang membuat daerah sekitarnya menjadi teduh. Aku duduk di atas rumput dan bersandar pada batang pohon kayu besar itu. Jo, yang berambut hitam, duduk di sebelahku. Sementara Daud, teman sekelas yang tinggi badannya melebihi tinggi tubuhku beberapa senti, terlihat tidur telentang tidak jauh dari kami duduk. Kami masih berseragam, dengan tas-tas yang kami tumpuk dan dijadikan bantal oleh Daud.
Pikiranku masih jatuh pada Brisa. Sulit sekali mengalihkan benak dari gadis yang satu itu. Ini baru sehari. Kalau berhari-hari aku enggak diacuhkan juga, bagaimana aku harus bertahan?
"Brothers," kataku pelan, yang disahut dengan gumaman-gumaman malas dari teman-teman yang mengantuk. "Gue mau minta bantuan kalian ...."
"Apa?" Suara Jo terdengar serak. Kutoleh ke arahnya, matanya masih memejam sambil bersandar di batang pohon.
"Tolong cari tau tentang Brisa ....."
Keduanya segera membuka mata, dan menatap ke arahku dengan kening mengerut.
"Ilona Brisa?" Jo mengulang nama yang kusebut. "Cari tau tentang---?"
"Semuanya." Kuabaikan wajah-wajah penuh tanda tanya itu. "Kesukaannya, keinginannya, kebiasaannya. Semua. Gue mau tau semua tentang cewek itu ...."
Daud mengehela napas, kemudian menutup wajahnya lagi. "Dia enggak menarik kecuali karena dia pintar dan cantik. Selain itu ... nol besar!"
"Bro ...? Serius? Mesti Ilona banget? Ilona Brisa? Enggak mau lihat-lihat koleksi cewek-cewek SMA Bintang yang lainnya dulukah, sebelum ngambil kesimpulan?" Jo terdengar prihatin.
Aku menoleh ke arah Jo dengan tatapan penuh keyakinan. "Brisa. Mesti Brisa ...."
Lalu, sama seperti Daud, Jo ikut-ikutan menghela napas dan kembali memejamkan mata.
"Dasar enggak setia kawan!" kesalku. Tetapi enggak lama kemudian, kudengar keduanya mengikik.
"Tapi serius, Bro." Mata Jo masih terpejam meski barusan dia mengikik geli. "Anita dua kali lebih cantik dan ramah dari Ilona. Ck!"
Aku hanya tersenyum. Setelah sekian lama, rasa setia kawan kami ternyata enggak pernah luruh. Mereka akan melakukan apa pun untukku, sebagaimana aku pun akan melakukan hal yang sama untuk mereka.
Kutatap langit sore ini, yang agak terhalang rimbunnya dedaunan si pohon besar. "Brisa. Ilona Brisa ...," gumamku sebelum turut memejamkan mata, menikmati tidur sore seraya dibelai angin sepoi-sepoi.
To be continued
Guys, jangan lupa besok bab 3 tayang di lapak ini.
Sini dong sini ngumpul yg udah punya kecurigaan sama Kael, secara cowok-cowoknya Putrie W itu kebanyakan bermasalah ya🤣
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top