☆» dua
"Astaga (Name), peralatan menggambarmu berdebu sekali. Kau tak pernah memakainya?"
Aku menoleh ke arah Yachi yang mengambil tas kain berisi peralatan gambar milikku di pojokan kamar. Hari ini aku ada kerja kelompok dua orang tugas Biologi. Aku menawarkan rumahku jadi tempat pengerjaan tugas pada Yachi. Ya, sebenarnya biar sekalian pulang saja, sih. Masa bodoh dibilang egois, Yachi saja tak menolak.
"Iya, aku berhenti menggambar."
"Heeh?"
Reaksi yang sama ke-234719393828 kalinya dari orang-orang setiap kali aku berkata demikian.
"Kenapa berhenti?"
Pertanyaan yang sama ke-62727281929 kalinya dari orang-orang.
"Lebih baik kita bahas tugas, Yachi. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu."
"Eh, maaf-maaf! Sungguh maafkan aku atas keingintahuanku! Sekali lagi maaf!"
Ah, seharusnya aku tak perlu menjawab sekasar itu. Yachi dengan sifat paranoid dan tidak enakannya itu sedikit merepotkan. Sudahlah, sudah telanjur kepalang juga.
Lagipula aku memang muak ditanyai begitu terus. Aku muak jika harus menjawab alasannya. Aku tidak ingin mengingat memori yang berkaitan alasanku itu. Aku tidak ingin mengenang kehilangan yang membuatku tak bisa menggambar kembali. Biarlah begini. Biarlah kemampuanku mati seiring mayat dia menjadi makanan serangga di bawah sana juga.
Aku menatap peralatan gambarku yang berdebu lekat-lekat. Sepertinya memang harus dibuang saja.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top