05. Another Lover

And all my friends have gone to find
Another place to let their heart collide
Just promise me you'll always be
Cause you are the only one
― Ed Sheeran – One
***
Mobil mereka berhenti tepat di tempat parkir supermarket yang telah disediakan. Pria tersebut pada akhirnya melepas sabuk pengaman serta membuka kunci mobil. Tidak lupa meminta Areun menunggu sebentar setelah Yoongi keluar, berjalan cepat memutar, sampai akhirnya dengan manis membukakan pintu untuk sang istri.
Setelah keduanya berhasil keluar, Yoongi yang sedikit tidak nyaman lantaran Areun yang tampak kedingan pun membenarkan letak syal merah muda milik Areun agar sedikit lebih rapat.
"Sudah?" tanyanya memastikan, Areun mengangguk.
Begitu setelahnya, Yoongi segera mengaitkan jemarinya dengan Areun. Membawa tangan itu dan menuntunnya agar berjalan beriringan. Sesekali Yoongi melempar sebuah topik untuk dijadikan sebagai bahan pembicaraan.
Diam-diam dalam hati, Yoongi bersyukur. Teramat malah. Sembari mengambil satu troli besar untuk didorongnya bersama, selagi Areun memilih bahan-bahan pangan yang mereka beli sembari mengeceknya dari daftar belanjaan yang sudah dibuatnya di rumah. Sudah berjalan sekitar satu bulan ini mereka menghabiskan waktu bersama dan Areun sama sekali tidak mengecewakannya. Barangkali, belum. Pernikahan mereka berjalan begitu saja. Seperti orang-orang normal kebanyakan.
Paginya Yoongi dan Areun akan berangkat kerja bersama. Areun akan bangun lebih awal untuk memasak sarapan. Berangkat bersama-sama menggunakan bus yang syukurnya tempat mereka berkerja berada di satu jalur yang sama. Areun akan tiba lebih dulu di sekolah tempatnya mengajar dan setelah itu Yoongi akan lanjut ke kantornya. Semuanya berjalan dengan normal seperti kehidupan pernikahan orang lain kebanyakan.
Dan jangan tanyakan perkara mobil yang tadi mereka bawa. Itu adalah mobil milik Hoseok yang kebetulan dititipkan pada keduanya karena pria Jung tersebut memutuskan untuk pergi ke Busan dengan transportasi umum bersama istrinya. Berpikir barangkali saja adik bungsu dan sahabatnya tersebut bisa menggunakan mobil tersebut untuk pergi kemana pun mereka inginkan.
"Kita perlu membeli daging tidak, sih?" Areun bertanya saat mereka berhenti tepat di depan tempat khusus daging.
Yoongi tampak berpikir dengan dua tangan yang ia tumpukan pada dorongan troli, "Terserah kau saja, sih. Kalau aku sendiri tidak makan daging ya tidak masalah. Lagipula kita sudah mempunyai ayam, bukan?"
"Iya juga. Mungkin ini terlalu awal untuk membeli daging. Dan juga ... ini akhir bulan. Ku pikir membeli yang lain saja, deh."
Yoongi tersenyum, "Kalau kau mau ya beli saja. Masih ada uang. Tidak usah khawatir," ujar Yoongi menenangkan.
Areun menggeleng pelan, "Tidak apa-apa. Kalau ingin makan daging, kita makan di luar saja. Begitu lebih baik. Ayo kita pergi ke tempat lain, Kak Yoongi. Kita harus membeli buah," ucap Areun sembari melihat lagi daftar belanjaan mereka.
Satu hal yang baru saja Yoongi tahu dari istrinya adalah, gadisnya tersebut sangat memerhatikan kesehatan. Dari segi apapun itu. Areun yang kerap membuat bekal makan siang untuk keduanya dengan alasan masakan rumah lebih sehat daripada makanan di restoran, camilan buah yang harus selalu ada, olahraga rutin yang selalu ia lakukan setiap pagi, porsi makan yang dijaga, air putih yang secara rutin dikonsumsi. Semua semata-mata agar hidup menjadi manusia yang sehat katanya.
Jadi, disaat orang lain memiliki stok camilan berupa jajanan ringan berisi keripik kentang atau sejenisnya, keluarga kecil Yoongi memiliki persediaan buah yang selalu segar di kulkasnya. Dikonsumsi mereka berdua secara langsung ataupun diolah menjadi minuman jus yang menyegarkan.
Baiklah. Untuk yang satu itu Yoongi bangga memiliki istri seperti Areun. Mengingat selama ini dia sendiri tidak terlalu memerhatikan kesehatannya.
Areun memasukkan dua sisir pisang dan masing-masing satu kantung plastik apel serta jeruk yang sudah ditimbang ke dalam troli belanjaan mereka. Selain makanan, ada pula hal-hal lain seperti sabun cuci tangan, sabun cuci piring, detergen, pembersih kamar mandi, dan perlengkapan mandi mereka yang tentu saja selalu habis di akhir bulan. Saat Areun memilih belanjaan tersebut, Yoongi melakukan tugasnya dengan menata setiap belanjaan mereka. Memisahkan makanan dan perlengkapan lain agar tidak tercampur.
"Areun? Jung Areun?"
Kegiatan mereka terhenti. Pasta gigi yang hendak ditaruh Areun terhenti di udara sedang Yoongi yang tengah fokus menata barang-barang mereka menghentikan kegiatannya. Atensi mereka kini berubah. Secara otomatis beralih menuju sumber suara saat salah satunya dipanggil.
Lain halnya dengan Yoongi yang tengah menatap heran di hadapannya, Areun sendiri memasang senyum. Nampak tak asing dengan eksistensi pria tersebut sampai-sampai sebuah nama yang Yoongi tebak milik pria tersebut meluncur dari bibir kekasihnya.
"Park Jimin," jawab Areun balik. Netranya tampak senang sekali melihat presensi Jimin. Pria tersebut juga memasang sorot yang sama. Tampak sama sekali tidak canggung berjalan lebih mendekati mereka dengan satu keranjang belanjaan di tangan kirinya.
"Ya ampun aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu, Reun?"
Areun tertawa kecil. Mengangguk seolah menyetujui ucapan Jimin barusan, "Aku baik, Jim. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku baik, baik sekali." Jimin membalas tanpa menghilangkan senyum di bibirnya. Matanya menyipit dengan eye crinkle yang tampak jelas.
"Oh, iya," Areun seolah mengingat dengan satu presensi yang seolah dilupakan di antara mereka, menatap Yoongi dan Jimin bergantian, ia berkata, "Kenalkan, ini suamiku. Min Yoongi."
Jimin seolah tampak bingung dan sedikit terkejut. Namun Yoongi tidak terlalu mempermasalahkan itu. Dalam hatinya ia sedikit senang lantaran Areun yang tidak juga melupakan eksistensinya. Lelaki tersebut mengulurkan tangan. Menatap lurus Jimin dan sedikit memberikan remasan di genggaman tangan mereka, "Min Yoongi, aku suaminya," tegas Yoongi. Memberikan penekanan pada si pria Park tersebut lantaran teramat sadar bagaimana cara Jimin memandang dan tersenyum kepada istrinya yang membuat Yoongi tidak suka.
"Park Jimin. Ah, bagaimana cara mengatakannya, ya? Hubunganku dan Areun sedikit rumit sebenarnya," Jimin memberikan nada candaan sekaligus mengerling pada Areun. Yoongi sendiri yang sejak awal tidak suka dengan pria berambut seperti rambut jagung tersebut semakin kesal lantaran Areun yang hanya tertawa kecil menanggapi candaan tersebut.
"Jangan membawa masalah, Jim," sahut Areun. Detik selanjutnya, ia menatap Yoongi untuk menuntaskan kuriositas pria tersebut, "Dia temanku, Kak Yoongi. Kami cukup dekat dulunya, tapi sibuk di kehidupan masing-masing setelah itu."
"Kalian tidak pernah saling kontak setelahnya?" Yoongi bertanya. Memincingkan matanya dan terang-terangan memandang tak suka pada Jimin.
Jimin sendiri agaknya sadar dengan perubahan ekspresi Yoongi, jadi ia berdeham sebentar sebelum membantu Areun melanjutkan penjelasannya, "Begini, Hyung―"
"Sejak kapan kau menjadi adikku?" Yoongi berujar tak suka.
Jimin memutar bola matanya. Tampak tidak peduli dengan bagaimana nada bicara Yoongi yang jelas-jelas tak suka. Areun tampak gelisah menyadari suasana yang sedikit berbeda di antara mereka. Jimin melirik sebentar padanya seolah memberi tanda bahwa biar ia yang berbicara di sini.
"Baiklah, Yoongi-ssi," ucapnya mengalah, "tidak perlu khawatir bagaimana hubunganku dan Areun setelah ini. Karena―sungguh, aku tidak akan merebutnya seperti apa yang kini ada di dalam kepalamu. Setelah kuliah, aku dan Areun sibuk dengan dunia dan urusan kami masing-masing. Aku yakin orang sepertimu pasti paham bagaimana pertemanan pada akhirnya harus diputuskan secara tiba-tiba karena kesibukan, bukan? Orang dewasa sepertimu pasti pernah merasakannya."
Yoongi melirik pada Areun sekali lagi. Istrinya tersebut mengangguk membenarkan. Menyadari bahwa pikiran negatif itu hanya sebuah paranoid yang mengganggu, Yoongi pada akhirnya mengangguk dan mengalah. Tidak mau terlihat seperti orang bodoh karena terlihat seperti suami yang terlalu posesif kepada istrinya. Namun, saat pria Min tersebut hendak mengangguk dan menerima penjelasan, ucapan selanjutnya dari Jimin mampu membuat Yoongi mengernyit heran dan menatap keduanya sekali lagi.
"Itu hanya penjelasan singkat dariku. Selebihnya bisa kau tanyakan pada istrimu sendiri, Yoongi-ssi. Bagaimana pun, dia yang paling paham terkait hubungan kami yang sebenarnya." Jimin mengerling jenaka dengan tawa setannya yang membuat Areun membulatkan mata sempurna. Dalam hati mengutuk pria tersebut habis-habisan, sedang Jimin seolah menikmati sekali waktunya mengganggu dua sejoli tersebut.
"Ah, satu lagi," Jimin berujar. Kerlingan jenakanya mendadak hilang dengan sorot sendu yang ia tujukan pada Areun. Membuat Yoongi seolah nyaris mati penasaran terhadap hubungan dua orang tersebut di hadapannya. Ayolah, dia bahkan baru saja menikah sebulan dan sudah saja ada satu kerikil pengganggu di sini.
"Aku tidak menyangka kau berhubungan dengan pria bermarga Min lagi, Reun," ucap Jimin, mengangkat bahunya setelah itu melanjut, "aku tahu sih bahwa banyak orang bermarga sama di Korea Selatan ini. Tapi entah kenapa perasaanku mengatakan hal yang sebaliknya dan kau pasti paham apa maksudku."
Yoongi sudah tidak tahan. Ia mengerang kesal lantaran melihat dua orang itu yang terus menciptakan tanda tanya besar di kepalanya, "Baiklah, Park Jimin. Barangkali itu menjadi urusan Areun terkait siapa saja dia menjalin hubu―"
"Dia adalah kakak Jungkook." Areun sepihak memotong ucapan Yoongi. Tidak tampak memedulikan pandangan tak percaya suaminya yang sebenarnya berniat membelanya. Sedangkan Jimin nampak sedikit terkejut dengan satu sudut bibir yang tertarik. Entah harus senang atau meringis mengetahui tebakannya benar.
"Dia adalah kakak kandung Jungkook dan―ya, aku kembali berurusan dengan mereka."
Jimin tampak menghela napasnya, "Well, aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi tapi ku harap kau tidak memutuskan ini secara terburu. Kuharap―kau bisa mengatasi apapun yang kau hadapi ke depannya. Oke, Reun?" Jimin berujar, tangannya yang berbas terulur untuk memberikan sedikit remasan pada bahu Areun.
Areun mengangguk, "Terima kasih, Jim. Kau tidak perlu khawatir."
"Oke, maaf sudah mengganggu kalian. Ku pikir kita harus berpisah karena aku pun ada urusan yang harus ku selesaikan. Senang bertemu denganmu Reun, dan Yoongi-ssi," Jimin menjeda sejenak sembari menatap Yoongi yang masih menatapnya tajam, "perlakukanlah temanku ini dengan baik."
"Kau tidak perlu meminta itu, aku tentu akan melakukan tugasku sebagai suaminya."
Jimin tersenyum hangat, tampak lega, "Baguslah. Senang mendengarnya. Kuharap―pernikahan kalian berjalan dengan baik dan dilimpahi kebahagiaan."
Detik setelahnya, Jimin benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya. Namun sekalipun eksistensi pria Park tersebut sudah benar-benar tidak ada, Yoongi masihlah menatap Areun dengan tatapan menyelidiknya. Menuntut penjelasan lebih atas ucapan menggantung Park Jimin beberapa saat lalu.
Areun paham. Sangat tahu bagaimana suaminya tersebut tengah dilanda penasaran yang kuat. Sembari mendorong kembali troli belanjaan mereka bersama Yoongi, Areun berkata tanpa perlu ditanya.
"Nanti akan aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya, Kak Yoongi," ucapnya, "Kali ini, aku hanya akan bicara sedikit saja. Jimin adalah orang yang paling berharga dan paling membantuku setelah ... Jungkook pergi," ucapnya. Sedikit berat dengan nada bicara yang melemah di dua kata terakhir.
Areun kembali berucap, tersenyum lemah pada Yoongi dengan melanjut setengah meringis dalam hati, "Dia membantuku melewati masa-masa sulit dan mengobati hatiku selama Jungkook pergi―"
"―singkatnya, dia sahabatku ... sekaligus mantan pacarku setelah Jungkook."
***
Eits, sebelum pergi jangan lupa tinggalkan vote dan komentar dulu 😊😊
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top