Fate - 21

Dan... Semua yang kukira akan terjadi sebenarnya sama sekali tidak terjadi hari itu. Vivian bahkan... Atau mungkin lupa padaku. Dia beken di sekolah dalam sekejap. Tapi tidak ada adegan lovey-dovey antara dia dan Axel.

Bagaimana bisa? Tanyaku dalam hati sambil mengambil bola basket oranye yang bertebaran di lapangan indoor. Tinggal beberapa orang yang juga membantu Mr. Snow membereskan lapangan yang tadi dipakai kelas kami. Dan aku. Secara menakjubkan. Mencari Axel. Dia tidak ada. Kuangkat bahuku, dia tidak penting.

"Sudah selesai?" tanya Tiffany yang baru keluar dari gudang penyimpanan peralatan olahraga. Aku mengambil bola oranye yang satu itu, "uhm... Yeah." Dengan susah payah aku mengangkut enam bola oranye sekaligus.  

Tiffany mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hanya tinggal kami berdua. Dia menghela nafas. "Sorry. But I have to go. Aku belum mengerjakan tugas matematika dari Mr. Brendan."

Aku memutar bola mata, "kau pintar tapi malas mengerjakan tugas."

Tiffany memberikan kunci gudang penyimpanan padaku, "daripada kau, mengerjakan tugas terus tapi otaknya tetap lemot." Dia menyeringai. Aku cemberut. Perkataannya selalu benar. "Nih kuncinya. Kalau sudah kau kasih ke Mr. Snow ya."

"Hem." Aku mengambil kunci tersebut menggunakan mulut karena tanganku penuh. Oh ya, kalau kau belum tahu, berat badanku berkurang 2 kg saat kemarin aku menimbangnya. Perubahannya tidak terlalu signifikan sih, tapi aku benar - benar senang. Pertama kalinya dalam hidupku, berat badanku berkurang bukan bertambah. Bertambah. Bertambah.

Aku berjalan menuju gudang. Kubuka pintu hitam tersebut menggunakan kaki. Setelah terbuka, aku celingak - celinguk. Kali saja ada maling atau makhluk pengganggu di sana. Aman. Aku bersiul sambil memasukkan bola basket dalam keranjang hitam yang besar.

Saat ingin membuka pintu untuk keluar dari gudang, helaan nafas teratur seseorang menghentikan semuanya. Aku menengok ke belakang. Mencari asal suara tersebut dengan kaki berjingkat. Hingga sudut gudang membuat perhatianku tertarik.

Di sana. Axel. Tertidur di matras. Seperti bayi. Bayi gorilla. Oke dia bukan bayi gorilla. Dia... Dia... Dia... Dia... Dia... Tampan.

Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun. Hanya kehehingan antara aku dan Axel. Aku tidak mempunyai ide apapun kenapa Axel tertidur di tempat seperti ini. Maksudku, dia sangat sangat sangat takut hantu kan? Gudang itu identik dengan hantu. Banyak sekali film horror yang ada adegan di gudangnya.

Jarang - jarang aku liat muka polosnya. Tanpa sadar aku menyeringai. Aku berjongkok di sampingnya. Memperhatikan wajahnya yang tertidur. HA-HA. Ternyata mukanya tidak seiblis yang aku duga.

Rambutnya yang berwarna cokelat itu berponi. Warna rambutnya kepirangan mungkin. Hidungnya mancung tanpa cacat sedikitpun. Baju olahraganya membalut sempurna tubuhnya... Yang atletis? Tidak tidak, dia triplek. Oke itu hanya salah satu alasanku yang tidak menerima kenyataan. Dia... atletis. Kuturunkan pandanganku dari hidungnya. Aku menelan ludah. Bibirnya berwarna merah muda. Sialan! Bahkan bibirku tidak semenarik itu. Kenapa dia punya segala yang tidak aku punya sih? Aku mulai mendumel dalam hati. Rasanya ingin kujambak rambut cokelatnya itu sampe dia botak.

"Udah puas muja wajah gue yang ganteng tak terkira ini?" tanya... Uhm siapa yang bertanya? Tapi suaranya milik Axel. Oh Axel yang bertanya.

Oh.

APA?! JADI DIA GAK TIDUR? Kurasakan darahku menaik, berkumpul di pipi.

"Aku gak muja wajah iblis kamu itu." elakku. Harga diriku tinggi. Enak saja.

Dia membuka sebelah matanya. Satu alisnya naik. Warna matanya cokelat. Astaga kenapa cowok iblis kutu kupret ini sangat amat amat tampan?

"Muka lo itu... Mesum, Tay. Lo kayak mau nerkam gue." Dia menyeringai.

"In your nightmare!"

"Serius, gue gak bercanda. Apa ya kata orang jika semuanya tau... Lo ngestalk cowok paling ganteng yang lagi tidur di gudang?"

"How dare you..."

"Sure, gue berani."

"Jerk!"

"Fat."

"Shut up!"

"Eww. You pouting. Makin jelek. Gak ada imut - imutnya."  

"You... You..."

"What?"

"Please don't tell anybody."

"I'll tell your friends. Your beloved Mommy. Your CRUSH. The Jocks. The Bimboo."

"Jangan! Eh kutu kupret kamu tuh ya ishhh. Jahat banget sih jahat banget!" Aku mulai menggerutu. Axel tertawa menyebalkan.

"Gue bakal tutup mulut, asalkan lo cium gue."

"Oh."

Eh tunggu. Apa tadi dia bilang? Cium. Cium gue. Hmm... Cium ya. Cium itu... Kok otakku jadi lemot gini? Oke dari pertama, dia akan tutup mulut kalau aku...

Cium dia.

WHAAAAAAAAAAAATTTTTTT?! Et kutu kupret udah gila ternyata. Udah gila. Udah gila.

"Ogah aku! Enak aja kamu cium - cium. Ish jijijijijiijjijijiik. Pervert! Mesum! Nyebelin! Kutu kupret! Ish ish sana jauh - jauh." Aku mulai berdiri, menyilangkan lenganku di dada dan menjauh darinya.

Axel.

Yes! Akhirnya tu orang bereaksi juga. Processornya emang rendah banget. Hahahahaha gue yakin dia udah ngira yang iya-iya. Hm... Makin menarik nih. Liat badan gembrotnya, ish pengen banget gue kurusin. Dasar gentong... Gentong.

"Gue gak bakal tutup mulut loh," gue ikut berdiri, berkacak pinggang di depannya.

"Ta--tapi..." Oke. Dia. Blushing.

MANIS BANGEEEEEEEETTTT! Pengen gue bawa ke rumah terus gue taro di rumah barbie aja rasanya. Bego banget Abel gak nyadar dia manis kayak gula. Oh ya gue harus fokus. Fokus Axel! Fokus!

"Pilihannya cuman dua." Gue menaikkan tanganku, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. "Cium." Gue menurunkan jari telunjuk sambil menyeringai. "Atau gue sebarin kemesuman lo di sini."

"Tapi aku gak ngapa - ngapain kamu!"

"Tapi gue bakal bilang kalo lo nelanjangin gue."  

"Kamu ngancam?!"

"Iya."

"Mau aku telanjangin aja sekalian heh?"

"Iya--eh enggak! Enak aja." Shit. Kayaknya pipi gue merona denger dia ngomong gitu. Sialan, udah kayak cewek aja sih.

"Hahahahahahhahahaha Axel blushing! Axel blushiiing. Axel blushiiing. Axel blushiiing."

Ayolah otak... Berpikir berpikir. Jangan sampe Taylor ngatain lo kayak gitu. Harga diri gue di atas segala-galanya. Rasanya ada lampu terang benderang di dekat kepala gue saat ide itu muncul.

Gue pegang erat tangan Taylor yang lengah karena dia ketawa seperti babi lepas.

Sing...

Dia berhenti ketawa. Matanya menatap wajah gue dari atas sampe bawah. Lalu dia menelan ludah. Oke, gue yakin dia tertarik sama gue. Gue menyeringai. Lihat Taylor, sekarang siapa yang bakal terjebak huh?

"Tutup matanya."

"Kamu mau nyium aku?" matanya menatap polos.

Gue berusaha untuk tetap di tempat, "menurut lo?"

"Gak! GAK MAU! AKU KASIH TAU KAK SETO LOH. PELECEHAN BEGO. AXEL BEGO." Dia menggeliat berusaha melepaskan diri. Dengan cepat gue injek kedua kakinya. Biar diem.

"Tutup matanya."

Dia diem. Matanya bergerak gelisah. Sesekali menelan ludah. Gue menggeram.

"Taylor."

"Apa?"

"Tutup matanya."

"Ogah."

"Tutup."

"Gak!"

"Tutup atau gak gue sebarin sekarang juga?"

Taylor langsung menutup matanya cepat. Sip, sekarang dengan mudah gue bisa melihat wajahnya dari deket. Hm... Alis tebalnya berwarna cokelat. Oh rambut cokelat kemerahannya itu asli? Tapi Maminya dia rambutnya hitam. Ya sudahlah. Gue perhatikan lagi wajahnya. Pipinya tembam. Walau tidak terlalu. Bulu matanya sangat amat lentik. Pake apaan sih dia? Lalu hidungnya mancung. Gue menatap sesuatu di bawah hidung. Tanpa sadar gue menelan ludah.

"Udah boleh aku buka?"

Lingkaran setan di mana - mana. Lingkaran setan di mana - mana. Lingkaran setan di mana - mana. Tahan Axel tahan. Lo cuman pengen buat dia takut doang kan? Uhhh tapi gue gak tahan. Gue menghela nafas panjang.

Tepat saat dia membuka matanya yang indah, gue cium...

Pipinya.

Lima detik berselang, gue baru menjauh darinya. Setelah melepas pergelangan tangan dan kakinya, gue berkacak pinggang. Pandangan mata Taylor shock berat. Dia natap gue. Terus natap dirinya sendiri. Gue jadi garuk - garuk kepala. Gimana kalo gue nyium bibirnya? Gue bakalan dilaporin beneran ke Kak Seto lagi.

"Kamu tadi... Tadi..."

"Kenapa? Lo jadi suka sama gue?"

"Gak! Gak akan pernah. Asal kamu tau ya, aku--"

Tok. Tok. Tok. Pintu gudang diketuk oleh seseorang. Gue sama Taylor memekik tertahan.

"Taylor! Lo di dalem? Gue mau ngomong sama lo nih. Kata Mr. Snow, lo ada di gudang."

Itu. Suara. Abel.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: #wattys2016