Fate - 18

It's longer than usual:'). Sorry I'm not perfect writer. Just amateur. So, don't blame me. Oiyaa di chapter 19 mau Axel POV apa Abel POV? Axel POV kayaknya mantep. Hahaha.

PS : Princess Series [2] : The Cherfull Princess. COMING SOON! Be prepare, Reader!

-Princess Series-

Cewek pirang-mata biru-langsing-mungil-unyu itu masih memeluk Axel erat. Padahal sepertinya Axel sudah kehabisan nafas, lihat saja mukanya berubah menjadi warna ungu. Aku hanya melihat pasangan itu dengan dahi berkerut bingung.

Axel punya tunangan? Secantik itu?

Bagaimana cewek itu mau dengan Axel?

Huh. Bukan urusanku kan? "Uhm, bisakah kalian keluar?" tanyaku dengan nada ketus. Keduanya menoleh bersamaan. Vivian menatapku seolah aku pengganggu yang harus dimusnahkan. Sementara Axel menatapku bengis. Mungkin dia mengira aku tidak ingin menolongnya dari jeratan cewek pirang-mata biru-langsing-mungil-unyu itu. Aku mengedikkan bahu, lalu menatap pintu utama yang masih terbuka lebar.

"Rumahnya Axel lima langkah juga nyampe," kutunjuk rumah Axel yang bisa dijadiin Rumah Yatim Piatu itu karena saking besarnya, lalu menatap mereka kembali. "Jadi kalo mesra – mesraan gak ada yang liat." Oke aku tidak tahu kenapa nadaku menjadi dingin seperti itu.

Axel menaikkan satu alisnya saat mendengar perkataanku yang terakhir. Tapi aku tidak perduli. Aku hanya ingin dua pengganggu ini keluar dari rumahku sekarang juga. Aku sama sekali tidak menyangka Axel membuat rencana aku menjadi pacarnya supaya Abel berpaling padaku sedangkan dia sebenarnya mempunyai tunangan. Jujur aku kecewa, sangat.

"Gue bisa jelasin semuanya, Tay." Axel berbisik padaku, seolah dia dengan sok taunya bisa membaca pikiranku. Bah.

"Jelasin apaan? Semuanya udah jelas kan?" tanyaku. Nadaku bergetar. Entah kenapa.

Vivian melepaskan pelukannya pada Axel, lalu berkacak pinggang di hadapanku. "Hey Faty Girl, jangan mencoba mendekati tunanganku ya!" peringatnya dengan nada angkuh dan sombong. Dia menekankan kata 'tunangan' di kalimatnya. Aku memutar bola mata.

"Penampilan menipu yah." Komentarku. Dia mendelik, "apa maksudmu?"

Aku menyeringai menyeramkan, tandanya aku sangat marah. Aku jarang menyeringai seperti itu, mungkin. "Kau sangat cantik, tapi lidahmu seperti ular." Ujarku setengah berbisik, mempelankan suaraku supaya otak Vivian yang lemot mengerti.

Maksudku, dia salah tanggap kan? Tadi saja aku sama sekali tidak menggoda Axel. Tapi dia dengan angkuhnya memperingatiku. Hal apa lagi yang bisa dikatakan selain dia memiliki otak yang lemot dan berproccesor rendah?

"Kau..." wajah Vivian merah padam, aku menaikkan daguku. Menatapnya bengis. Mau ngajak berantem? Jambak – jambakan? Sini aku ladeni, kemarahanku sudah mencapai ubun – ubun soalnya. Siapa sih yang gak marah dibilang Faty Girl? Cih.

Mami berdiri dari sofa di ruang tamu dan mendekati kami. Axel dan Mami berusaha meleraiku dan Vivian yang sama – sama ingin mengeluarkan gunung meletus sekarang juga. Kurasa Axel dan Vivian SANGAT cocok, keduanya sama – sama membuat gunung meletus di kepalaku keluar dengan dahsyat. Membuatku menjalankan detensi menyebalkan dari ketua yayasan.

"Taylor sabar," Mami memperingatiku. Aku mengangguk dan mundur teratur. Melangkah sedikit menjauh dari pintu utama. Aku menunjuk lagi ke luar pintu utama dengan tegas.

"NOW, GO AWAY!" teriakku kencang, membuat Vivian dan Axel terkejut.

"Taylor, what the hell? She's my fiancé. Why you so rough?" tanya Axel sedikit berteriak.

Lagi – lagi aku tersulut emosi. "I know that's Bimboo is your fiancé. But I don't have a reason to treat her nicely if she's not doing same to me! NOW GO AWAY OR I'LL KICK YOUR ASS!!!"

Axel merangsek maju ke depan dan memegang kedua bahuku kasar, wajahnya merah padam. "She's not Bimboo!" aku mendorongnya mundur. "I HATE YOU!"

Dengan kasar aku berbalik, memunggunginya, aku menendang bokongnya. Membuat Axel terjerembab ke depan. "Aku benci sekali padamu. Sangat sangat benci! Jangan tunjukkan muka dungumu di hadapanku! Jerk." Umpatku.

"Dasar cewek bagong yang kasar! Gue juga gak mau liat muka tolol lo lagi di hadapan gue!" lalu dia mengerang kesakitan, cewek ular itu membantunya berdiri dengan wajah khawatir. Bah. Ftv dimana – mana.

Tidak memperdulikan erangan sakit dari Axel. Aku berlari menuju tangga spiral di rumahku dan menaikinya. Seperti sihir, aku menaiki langsung dua anak tangga.

Hatiku kacau. Aku tahu, Axel baik. Tapi aku tidak suka saat dia membela Vivian. Bukan aku. Padahal aku yang benar. Vivian yang salah. Dia cari ribut duluan. Tapi kenapa Axel membela Vivian? Kenapa dia membentakku seperti itu? Apa aku tidak penting baginya?

Ck, pikiranmu sudah melantur kemana – mana, Taylor.

Tanpa sadar aku menangis dalam diam sepanjang perjalananku menuju kamar.

Dan di kamar, aku menangis tertahan. Air mataku mungkin ratusan jika Mr. Brendan, guru Matematiku menghitungnya.

This is bad day. Ever.

-Princess Series-

Aku pergi ke rumah Mikayla untuk acara teh sore dengan tidak bersemangat. Mataku sembab. Pikiran dan perasaanku kacau. Rasanya seperti kau terbang di awang – awang dan kau jatuh ke dalam dasar neraka. Aku bahkan tidak tahu aku memakai rok atau celana jeans atau baju terusan. Aku juga tidak perduli pada berat badanku lagi. Aku lupa janji Axel untuk membuatku menjadi kurus—oke sebenarnya aku pura – pura lupa.

Bahkan aku tidak ingin diantar oleh supir pribadiku. Aku ingin berjalan menggunakan kakiku sendiri. Maka dari itu aku tidak membawa ponsel atau apapun yang berharga. Aku hanya membawa diri. Seperti biasa Jakarta sangat macet saat aku berjalan di jalan raya. Aku menutup hidungku saat asap keluar dari knalpot.

Aku kembali melihat ke depan. Sumpah, sekarang aku seperti anak yang hilang, sendirian, tidak membawa apa – apa, dan wajah mengenaskan—serta gendut. Lalu mataku terbelalak. Aku melihat dia sedang berjalan berbeda arah denganku. Tampilannya benar – benar sempurna. Aku melongo, berhenti berjalan.

Hanya untuk melihat Abel yang terkejut bercampur heran melihatku.

"Taylor?"

"Abel?"

Aku terkejut. Jantungku tidak berdegup liar seperti biasanya. Aneh. Nada bicaraku padanya pun tidak segugup dulu. Aku merasa biasa saja. "Lo mau kemana jalan sendirian gitu?" tanya Abel.

Aku mengangkat bahu, "ke rumah Mikayla." Jawabanku membuat matanya membulat.

"Serius? Mikayla itu... Kakaknya Michael bukan?" tanyanya. Aku mengangguk polos.

"Astaga! Kebetulan banget. Gue lagi bingung nyari rumahnya Kak Michael. Teleponnya gak aktif. Lo bisa gak anterin gue ke sana?" pintanya memelas. Lagi – lagi aku hanya bisa mengangguk, mulutku terkatup rapat.

Aku merasa sangat biasa pada Abel.

"Thank's ya," dia tersenyum miring. Seharusnya aku meleleh melihat senyumnya yang menawan. Tapi aku malah mengingat senyum Axel yang sama persis seperti yang Abel lakukan padaku.

Aku benar – benar bingung.

Kami akhirnya berjalan bersisian, menuju rumah Mikayla. Abel terus mengoceh tentang kebingungannya mencari alamat Michael. Dia juga menggerutu karena ponsel Kak Michael tidak aktif.

Lalu di obrolan yang itu aku merasa air mukaku berubah tegang.

"Tay."

"Ya?" tanyaku malas.

"Maafin gue ya, waktu itu pas lo..." mukaku berubah tegang. "Waktu lo ne—nembak gue, gue buat lo malu di hadapan semuanya. Gue minta maaf banget. Saat gue liat muka lo, gue merasa sangat bersalah," Abel menatapku. "Gue bener – bener minta maaf."

Aku hanya mengangguk otomatis. Aku memang tegang, tapi aku tidak kecewa. Rasanya benar – benar biasa saja. Kami kembali berjalan, atap rumah Mikayla yang berwarna merah sudah terlihat di kejauhan. Sesampainya di sana, Abel memencet bel pintu rumah Mikayla. Tak lama, wajah imut dengan mata belo itu tampak di balik daun pintu. Dia terkejut melihatku dan Abel berbarengan. Tatapannya padaku penuh arti. Aku membuang muka. Setelah Abel mengatakan maksudnya, dia pergi ke tangga menuju lantai dua. Mungkin ke kamar Kak Michael. Mikayla masih menatapku penuh arti. Aku tetap mengacuhkannya.

"Yang lain sudah datang?" tanyaku cepat.

Mikayla tidak menatapku lagi, dia mengangguk. Lalu tangan mungilnya memegang pergelangan tanganku. "Yuk."

Meskipun aku mengobrol seru dengan mereka sore itu, tapi pikiranku penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa kujawab sendiri:

Apa Axel baik – baik saja setelah aku meninggalkannya di depan pintu utama rumahku?

Kenapa Axel tidak memberitahuku bahwa dia sudah mempunyai tunangan?

Kenapa Axel membela si Bimboo?

Dan... apakah Axel mencintai Vivian?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: #wattys2016