Prolog
Adhara menarik lengan kemejanya yang turun sampai ke bahu, melirik ke arah Yoga yang masih bersandar pada dinding dengan terengah. Mereka baru saja bersenang-senang. Bersenang-senang versi Adhara tentunya, yang cuma berakhir nanggung untuk Yoga. Bagaimana tidak nanggung? Kalau pada akhirnya resleting celana yang sudah turun, dipaksa naik lagi karena Adhara harus kembali ke kantornya?
"Makasi. Aku puas," ujar Adhara setelah setelah mengancing seluruh kancing kemeja, dan sengaja meninggalkan tiga kancing teratas terbuka.
"Apanya yang puas? Nanggung, Ra!" Yoga protes. Napasnya belum juga teratur, bagian atas tubuhnya saja masih telanjang.
"Kamu menang banyak loh." Adhara merogoh tas kecil hitamnya, mengambil lipstik berwarna merah dan memulasnya kembali di bibir. "Cakep enggak?" tanyanya ke arah Yoga---yang sedang memungut kemeja di lantai---setelah melipat bibir beberapa kali untuk meratakan warna.
"Terserah!" Yoga bersungut, mengenakan kemeja dengan buru-buru karena kesal.
"Kamu sukses bikin kemeja aku lepas, Yoga. Pemandangannya bagus ga? Kalau yang lain, dapet bibir aja udah girang." Adhara terkekeh, mencangklong tas dan mendekati si pria atletis yang sudah berkemeja sekarang.
Dengan sengaja Adhara mendekatkan wajahnya ke wajah Yoga. Sedikit berjinjit, untuk kemudian menempelkan pipi ke pipi pria yang terlihat menegang sekarang.
"Semoga kita enggak harus ketemu lagi," bisiknya.
Yoga segera menarik wajahnya dan menatap Adhara dengan mengerutkan kening.
"Aku dicampakkan?" tanyanya enggak percaya.
"Kamu diselamatkan." Adhara tersenyum manis, membuat lesung di pipinya terlihat jelas. Kemudian ditariknya kerah kemeja putih milik Yoga, ditempelnya bibir bergincu merahnya di sana. Kemudian tersenyum ketika merah bibirnya menoreh cap yang sempurna. "Kenang-kenangan dari aku," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Yoga hanya bisa menganga. Ditariknya kerah kemeja untuk melihat cap yang ditinggalkan wanita cantik gila, yang didekatinya seminggu belakangan ini. Mereka bertemu di sebuah seminar mengenai teknologi, aura Adhara segera menyetrum penglihatan dan bagian bawah tubuhnya. Berdenyut. Dan ketika hari ini wanita seksi itu mengajaknya bertemu di sebuah hotel, dia tidak bisa menolak sama sekali. Keberuntungan yang tidak boleh dilewatkan.
Namun, entah mengapa, justru Yoga merasa telah dilecehkan. Adhara begitu menggairahkan pada awalnya, mendominasi saat hasrat mereka memercik, kemudian menjadi kejam saat memaksanya berhenti. Sialan!
"Aku pergi, ya ...." Adhara berbalik, melangkah menuju pintu keluar kamar hotel dengan anggun. Sepatu bertumit tingginya berderap berirama.
Begitu dia membuka pintu, seorang dengan tubuh menjulang segera muncul di baliknya. Membuat Adhara mendengkus lelah. Canis---pria muda yang juga asisten pribadinya---terlalu setia.
"Sudah selesai, Bu?" Canis bertanya dengan wajah canggung.
Adhara benar-benar melangkah melalui pintu, kemudian membiarkan benda itu menutup di balik punggungnya.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya wanita itu penasaran. Jangan bilang kalau Canis sama sekali tidak beranjak sejak tadi mengantarnya sampai ke kamar ini. Kalau iya, artinya sudah satu jam lebih.
"Baru saja, Bu." Canis tersenyum, wajah tampan nan muda itu terlihat menatap atasannya dengan sopan.
Adhara mengangguk-angguk. Kemudian berjalan mendahului Canis. Di belakangnya, satu langkah di belakangnya, Canis mengikuti dengan sigap.
"Akan ada meeting satu jam lagi, Bu. Jarak lokasi dari hotel ini, sekitar setengah jam." Canis melapor.
"Masih ada waktu untuk makan siang. Kita makan dulu, ya." Adhara menawarkan, dia lapar sekali.
"Terserah Ibu saja." Pria itu berjalan lebih cepat, menyejajarkan langkah ke sisi si wanita.
Dengan cepat Adhara meraih lengan si asisten, mengaitkan tangannya di lengan yang terasa kokoh. "Itu tadi rahasia, oke?" Disandarkannya kepala di bahu Canis.
Canis menghela napas, kemudian mengangguk.
"Kenapa enggak denganku saja, Bu?" tanyanya pada akhirnya, penasaran.
"Kamu masih terlalu muda," sahut Adhara.
"Penting banget apa yang namanya umur?" Canis menghela napas kecewa.
Adhara diam saja, kepalanya semakin bersandar manja. Sementara langkah mereka beriringan menuju lift.
BERSAMBUNG.
Verlita's speaking:
Hai! Setelah Double Date, aku bermaksud menggarap cerita ini dengan serius. Jadi, kalian baru boleh tanya update-nya setelah Double Date tamat, ya.
Sebelum Double Date tamat, silakan masukan dulu cerita ini ke reading list/library kamu.
Thanks,
Verlita ❤
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top