INTERVIEW

"Ini diisi ya." Seorang perempuan berkacamata menyerahkan lembar kertas berisi tanya jawab yang lumayan banyak, ke tangan seorang pemuda yang duduk dengan rapi pada kursi yang berhadapan dengan satu-satunya meja di ruangan itu.

Pemuda itu mengangguk seraya tersenyum, diraihnya kertas yang di atasnya tertulis interview sheet. Beberapa saat ditatapnya lembaran itu, dan beberapa saat kemudian mulai asyik mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada.

Pemuda yang hari itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam itu, bernama Canis Major. Baru saja lulus beberapa bulan lalu dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Sesuai dengan keahliannya, maka dia menulis legal staff garis miring HR staff pada pertanyaan posisi yang dilamar.

Perempuan yang tadi memberinya kertas, sudah keluar ruangan entah ke mana. Yang jelas, Canis sendirian di ruangan itu. Bahkan setelah semua pertanyaan diisi, dan bagian bawah yang bertuliskan 'Semua data di atas adalah benar adanya' ditandatangan, perempuan berkacamata tadi belum juga kembali.

Sampai Canis sudah gelisah, duduknya sudah berubah gaya entah sampai berapa kali.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit ....

Dan akhirnya pintu itu terbuka juga. Canis menoleh ke arah pintu, perempuan tadi datang tidak sendiri kali ini. Seorang perempuan lain yang tubuhnya agak besar, turut serta sekarang.

"Sudah saya isi, Bu," ujar Canis sambil menyerahkan kertas pada si kaca mata yang sudah duduk di hadapannya.

Si kaca mata mengambil alih kertas dari tangannya. Lalu, mendekatkan bibir ke telinga si besar. Sepertinya berbisik. Karena setelah itu, si besar yang mengarahkan bibir ke telinga si kaca mata.

Canis menghela napas, menatap bergantian perempuan-perempuan di hadapannya yang masih berbisik bergantian.

Apa-apaan?

"Baiklah ... Ca ... Canis?" Si besar yang berbicara sekarang, mengakhiri ucapannya dengan tanda tanya. "Nama kamu unik. Canis? Apa artinya?"

"Canis Major?" Canis mengulang.

Kedua perempuan itu mengangguk serempak.

"Uhm ... Canis Major itu adalah salah satu dari 88 rasi bintang modern, dan juga ada dalam daftar 48 rasi buatan Ptolemaeus. Rasi ini terletak di sebelah tenggara Orion, dilalui oleh perpanjangan bidang Tropic of Capricorn di langit, dan pita Bima Sakti di ujung timurnya. Rasi ini melambangkan-"

"Cukup ... cukup!" Si kaca mata yang tadinya terlihat menyimak, langsung memotong ucapan pemuda berbibir tipis itu.

Canis segera berdeham dan membugkam mulut dengan segera. Padahal, masih ada kelanjutan dari arti namanya yang hendak disampaikan. Tetapi, sepertinya keduanya tidak sabar mendengar penjelasannya sampai selesai. Fiuh ... pasti mereka tipe-tipe yang tidak menyimak saat guru bercerita tentang rasi-rasi bintang pada masa sekolah dulu.

"Jadi kamu cum laude dari fakultas hukum UGM, ya? Melamar jadi staf legal atau HR?" Si besar yang kemeja abu-abunya terlihat sangat ketat, bertanya. Interview sheet terlihat berada di tangannya.

"Sesuai dengan jurusan saya, Bu." Canis menjawab dengan sopan. Senyum tidak luntur dari bibirnya.

"Sayang, ah, kalau cum laude cuma jadi staf." Si kaca mata menggeleng-geleng seakan-akan menyayangkan pilihan posisi yang tertulis.

Senyum manis pemuda itu segera berubah menjadi senyum serba salah. Sebagai seorang sarjana hukum yang memutuskan untuk tidak membuka kantor notaris atau konsultasi hukum, posisi apalagi yang tepat untuk karirnya?

"Memangnya bisa kalau saya langsung melamar jadi manajer di legal departemen?" Canis bertanya dengan serius.

Kedua perempuan di hadapannya mengerjap, lalu menggeleng berbarengan.

"Kirain bisa." Canis mendengkus dengan kecewa.

"Maksud saya, daripada cuma jadi staf, saya mau merekomendasikan kamu jadi personal assistant big boss di sini. Bagaimana?"

Yang berbicara adalah si besar, tapi si kaca mata yang terlihat berusaha menahan tawa, dan gagal. Karena meski tawanya tidak pecah, tapi dengkusan geli lolos dari mulut bergincu merah menyala itu. Sampai-sampai liur sedikit muncrat melewati celah bibir yang terkatup. "Maaf," katanya, sambil mencoba mengatur rasa geli yang sepertinya keterlaluan.

Canis jelas merasa curiga. Mengapa si kaca mata harus tertawa segeli itu saat si besar menawarkan posisi PA untuknya? Apa yang salah dengan si bos besar? Apakah si bos adalah seseorang yang sulit dikendalikan, pemarah, tua bangka yang posesif?

"Kalau saya menolak posisi itu?" Canis bertanya. Bayangan bos tua bangka yang pemarah sudah memenuhi benaknya. Bukannya pemuda itu tidak tahan banting, hanya saja kalau setiap hari kerjaannya hanya untuk dimarahi, rasanya ilmu yang didapatnya selama sekolah sampai kuliah akan sangat sia-sia.

"Kalau kamu menolak?" Si besar mengerutkan kening dan membuka lembar kedua interview sheet. Di sana tertera ekspektasi gaji yang Canis tulis. Sebagai pemula, lelaki berhidung mancung itu hanya menulis angka enam juta. Itu pun dengan catatan dalam kurung; negotiable.

"Iya. Karena posisi itu sepertinya tidak sesuai dengan-"

"Artinya kamu akan kehilangan gaji sepuluh juta per bulan, di luar uang transportasi tiga juta, asuransi kesehatan full cover, uang lembur lima puluh ribu per jam ...."

Sepuluh juta per bulan? Di luar uang transport tiga juta? Dan lain-lain, dan lain-lain ....

"Saya bersedia!" Canis berseru memotong ucapan.

Si besar segera menghentikan penjelasan panjang lebarnya. "Sepuluh juta itu selama masa probation tiga bulan. Kalau berhasil melewati masa tiga bulan, akan ada penyesuaian lagi ...." Dia menambahkan. "Yakin setuju dengan posisi tersebut?" Perempuan itu bertanya lagi untuk memastikan.

Canis mengangguk tanpa ragu. Perusahaan mana yang mau membayar anak baru lulus tanpa pengalaman sebesar itu? Ini adalah kesempatan emas. Dia akan berusaha beradaptasi mengahadapi bos tua yang pemarah. Tidak apa, demi sepuluh juta sebulan di luar tiga juta uang transportasi.

Senyum mengembang dikedua bibir perempuan-perempuan peng-interview. Senyum mencurigakan yang sudah diabaikan oleh Canis sepenuhnya.

"Kalau begitu, selamat bergabung di Kamadhara Tech, Canis Major." Si kaca mata segera mengulurkan tangan ke arah Canis yang terlihat kebingungan.

"Cuma begini?" Lelaki itu bertanya ragu-ragu. Apa semua interview pekerjaan sebegini mudahnya, singkatnya?

"Kami lihat kamu sudah sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh bos kami ...." Si kaca mata cepat menarik tangannya yang tak bersambut.

"Kriteria?"

"Tampan, muda, dan cerdas." Si besar menambahkan.

Canis mendengkus. Kriteria macam apa itu? Ada-ada saja.

"Kalau begitu-" Ucapan Canis terputus bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dan berderit. Kedua perempuan di hadapannya lantas berdiri dari duduk dengan serentak.

"Bu ...," kata keduanya bersamaan.

"Sedang interview?"

Suara yang dari balik punggungnya, terdengar merdu di gendang telinga Canis.

"Kandidat PA Ibu, Bu." Si besar menyahut dengan senyum takut-takut.

PA Ibu? Artinya, yang berada di belakangnya adalah si bos besar?

Sontak Canis turut berdiri, kemudian berbalik dan menemukan paras yang menyenagkan matanya.

Yang berdiri di ambang pintu adalah seorang wanita berambut panjang yang kecantikannya adalah di 10,5 kalau dengan skala 1-10. Iya, kecantikan yang dilihatnya saat ini adalah kecantikan di atas rata-rata. Jantungnya segera berdegup dengan cepat dengan kurang ajar.

Cinta pada pandangan pertama? Tidak! Pemuda itu langsung mengambil kesimpulan kalau ini adalah suka pada pandangan pertama. Masalah cinta, nanti dulu ....

"Well, good luck!" Dan Canis yakin, kalau senyum yang baru saja dilemparkan oleh si cantik itu jelas tertuju untuknya. Senyum dan ucapan semoga beruntung itu, jelas-jelas disampaikan untuknya.

Lalu, pintu tertutup lagi, menyisakan debar yang tidak bisa langsung kembali ke posisi normal. Astaga!

"Itu tadi ibu bos. Masih single, loh, Dek ...."

Canis tidak tahu siapa yang berbicara kali ini. Entah si kaca mata, atau si besar, karena dia tidak melihat dan masih fokus pada debar di dada. Yang pasti informasi barusan, adalah informasi terpenting yang dia butuhkan. Informasi, kalau ibu bos ... masih sendiri.

Canis segera berbalik, kembali menatap kedua perempuan yang terpergok sedang menahan senyum di belakangnya.

"Kapan saya mulai bekerja?" tanyanya dengan semangat yang mendadak muncul.

"Besok ... bisa?"

"Bisa!" Tangan Canis segera terulur. Sungguh, tidak sabar rasanya, untuk segera bertemu lagi dengan bos cantik.

BERSAMBUNG.

Verlita's speaking:

Hai! Akhirnya up juga part 1 dari Sparkling Adhara. Semoga kamu suka, ya.

Cerita ini akan tayang tiap Rabu dan Minggu---kalau tidak ada halangan 😁. Harapanku, kalian akan terhibur dengan kisah ini.

Jangan lupa vote dan comment yang banyak juga, Gaes, itu salah satu moodbooster yang bisa bikin aku semangat nulis.

Oiya, kalian bisa follow aku di IG: Verlitaisme, untuk mengikuti spoiler-spoiler ceritaku yang sedang on going, atau update mengenai cerita yang akan segera terbit.

Well, sekalian aku mau ngenalin, ini Canis Major, yang namanya diambil dari salah satu rasi bintang yang ada. Hehehe.

Thanks, ya!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top