CONFUSING FEELING

Adhara menatap pasangan di bawah sana. Pandangan datarnya berbanding terbalik dengan apa yang dirasa dalam hati. Wanita itu mendengkus, sebelum kembali berbalik untuk menatap layar laptop. Namun, bagaimana pun gelisah tidak dapat ditepis. Pasalnya itu adalah gadis yang sama dengan yang yang dilihatnya di kos semalam. Pertanyaan mengapa gadis itu bisa berada di depan gerbang, tentu saja bergelayut di benak.

Sebenarnya percuma saja menatap layar dan mencoba berkonsentrasi untuk terus bekerja. Karena huruf dan angka yang terpampang, seolah-olah berlarian dari pandangan. Maka, Adhara menutup laptop dan kembali menggeser kursinya menuju jendela. Diintipnya lagi ke luar, dan entah harus merasa lega atau kecewa karena tidak lagi melihat Canis dan gadis itu di sana.

Lagi Adhara menghela napas, mengempas punggungnya dan memejamkan mata. Kepalanya bersandar mencoba mencari kenyamanan.

Tidak pernah Adhara merasa seperti ini sebelumnya. Pria-pria yang mampir hanyalah sebuah candaan baginya. Pelampiasan, lalu diempas begitu saja. Namun, Canis tidak begitu. Pemuda itu menahan diri, terlihat begitu patuh, tetapi sangat peduli dan selalu mengkhawatirkannya. Ini adalah hal baru. Atau apa karena ia tidak terlalu peduli karena terlalu mandiri?

Yang sebelum-sebelumnya? Ck! Tujuan mereka hanya uang dan tubuh moleknya. Adhara tahu itu dan enggan terjebak, sehingga lebih dulu melepaskan. Bermain-main, lalu pergi begitu saja.

"Are you ok, Bu?"

Sebuah suara membuat Adhara membuka mata. Sosok Canis terlihat berdiri di seberang mejanya dengan sorot mata khawatir. Pemuda itu, selalu saja memandangnya dengan cara seperti itu. Kadang, dengan pandangan malu-malu, atau salah tingkah.

"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" Adhara menegakkan punggung. Matanya jatuh pada paper bag di meja. Itu pasti makanannya.

Canis tersenyum. Digesernya paper bag mendekat pada Adhara sambil berkata, "Ibu memejamkan mata, saya khawatir Ibu sakit atau merasa pusing."

Adhara menengadah menatap Canis. Pemuda ini masih seumur bawang, tidak ada apa-apanya dibanding pria-pria yang pernah mampir di hidupnya. Seujung kuku pun tidak. Tidak perihal kesuksesan, tidak juga mengenai koneksi. Tidak ada apa-apanya. Bahkan masalah hati, mungkin pengalaman Canis masih bisa dihitung jari.

"Aku baik-baik saja." Adhara menurunkan pandangannya lagi pada paper bag, mengeluarkan wadah plastik dari dalam sana. "Aku mau makan." Lagi, dia menengadah, menatap pada Canis sambil mengangkat kedua alis naik.

Canis terlihat paham. Pemuda itu segera pamit keluar ruangan, meninggalkan Adhara sendirian.

***

Sudah hampir pukul 8 malam saat Adhara menarik pintu ruang kerjanya terbuka. Tepat pada dinding sisi pintu, Canis yang tadiya bersandar seraya memainkan ponsel, segera berdiri tegak dan memasukkan ponsel ke postman bag yang tersangkut di bahunya. Sedikit menunduk disambutnya Adhara yang melangkah keluar.

Canis membiarkan Adhara berjalan lebih dulu dan mengikuti bosnya dari belakang. Jarak yang cukup. Tidak terlalu jauh, tidak juga terlalu dekat. Bagi Canis, bisa menatap Adhara dari belakang seperti ini adalah sebuah kecanggungan. Gerak bahu, pinggul, dan langkah kaki Adhara selalu saja membuatnya merasa serba salah.

Hampir semua kubikel sudah kosong, lampu-lampu di ruangan pun sudah redup. Namun, mata Canis tetap awas. Memperhatikan tubuh yang berjalan di depannya, seraya sesekali menoleh untuk memastikan bahwa sekitar mereka aman.

Mata Canis sedang menatap ke arah lain saat tiba-tiba punggung Adhara menghantam dadanya. Tidak keras memang, hanya saja cukup membuat pemuda itu terkejut dan menghentikan langkah.

Adhara berbalik, menengadah menatap Canis kemudian memberengut. Dengan perlahan dia berpindah ke sisi Canis dan menggelung lengan pemuda itu.

"B-Bu?" Canis kebingungan saat Adhara tiba-tiba saja menyandarkan kepala di lengannya.

"Aku lelah. Mau digandeng," bisik Adhara.

Spontan Canis melongok ke kanan dan ke kiri. Bagaimana kalau ada orang yang melihat mereka? Bagaimana bila ada gosip yang beredar?

"Ini kantor, Bu. Bagaimana kalau ada yang lihat?"

"Semua sudah pulang." Adhara mengentak lengan Canis, memintanya melangkah sementara kepalanya masih juga menempel di lengan pemuda itu dengan nyaman.

"Nanti bisa ada gosip kalau ada yang mengecek CCTV ...." Canis masih berusaha mengingatkan.

"Sudah terlalu banyak gosip yang beredar tentang aku."

"Tapi bukannya Ibu bilang tidak ingin ada gosip yang beredar?"

"Aku berubah pikiran." Adhara menghentikan langkah, menatap Canis dengan pandangan mengancam. "Apa kamu nggak bisa diam saja dan menurut?"

Canis menelan liurnya, kemudian mengangguk. Selanjutnya, dengan patuh mengikuti langkah Adhara. Pemuda itu tidak tahu, bahwa ada senyum yang dikulum Adhara agar tidak lepas menjadi tawa. Wanita itu merasa senang bisa menggoda Canis, sedikit membalas perlakuan pemuda itu pada hatinya siang tadi.

"Ini hukuman," gumam Adhara.

"Hukuman?" Canis mengernyit, mengharapkan jawaban yang pastinya sia-sia.

***

Malam ini kembali Canis menginap di kediaman Adhara. Sedari tadi selepas mandi dan berpakaian tidur, sampai waktu menunjukkan pukul 11 lewat 15 menit saat ini, pemuda itu terlihat sibuk di ranjang dengan laptop yang terbuka di pangkuan. Ia sedang menelusuri biografi seorang Adhara Kamaniya, dan berkali-kali berdecak kagum. Lalu, rentetan gosip mengenai wanita itu dengan deretan pria-pria mapan nan tampan. Ini yang menarik.

Canis berusahan membuat catatan-catatan kecil mengenai pria-pria itu. Menelusuri profil mereka juga satu persatu, dan memastikan apabila ada yang mencurigakan. Kasus teror itu belum selesai, meski tidak ada lagi pesan-pesan meresahkan yang datang. Namun, bisa saja kejadian lagi, apalagi Adhara belum juga melaporkan kejadian itu ke kepolisian. Bagaimana Canis tidak merasa cemas?

Pintu yang diketuk membuat Canis mengangkat kepala untuk menatap ke arah suara. Dia menunggu sejenak, menunggu apakah aka nada ketukan selanjutnya. Saat ketukan terdengar lagi, segera pemuda itu menutup laptop dan meletakkannya di kasur. Ketika ketukan terdengar lagi, Canis sudah bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu.

Tidak ada orang lain selain dirinya dan Adhara di unit apartemen ini. Lalu, untuk apa Adhara mengetuk pintu kamarnya selarut ini? Saat kenop ditariknya untuk membuka pintu, benar saja Adhara terlihat berdiri di sana dengan gaun tidur berbelahan dada rendah.

"Ada apa, Bu?" tanya Canis, berusaha mengabaikan penampilan menggoda Adhara.

Adhara mendongak, menatap wajah Canis dengan mata menyipit. "Bukankah kamu menyukaiku?" tanyanya tanpa basa-basi.

Canis membelalak, tidak menyangka dengan pernyataan Adhara.

"Aku tau kamu tertarik padaku ...." Adhara mengulurkan tangan, menyusuri sisi wajah Canis dengan jari telunjuk tangan kanannya.

"Bu ...." Sekuat tenaga pemuda itu menahan debar yang bergolak.

"Kalau kamu menginginkanku, mengapa tidak tidur di kamarku, dan malah memilih tidur di sini?" Telunjuk Adhara berhenti tepat di atas bibir pemuda itu.

Canis menatap Adhara dengan lekat. Jakunnya tidak dapat ditahan untuk tidak bergerak. Ingin rasanya menarik Adhara masuk dan memenjarakan wanita itu di kamarnya. Namun, tidak boleh!

"Apa Ibu juga tertarik pada saya?" Canis bertanya dengan suara yang nyaris gentar. Hasratnya sedang benar-benar diuji saat ini.

Adhara terdiam sejenak, padangannya segera turun ketika menyadari Canis menatapnya tanpa berkedip. Ditariknya jari dari bibir pemuda itu seraya berkata, "Nggak. Tentu saja nggak. Kamu bukan tipeku."

Canis diam saja, meski sesungguhnya hatinya kecewa. Kedua tangannya mengepal erat, menahan segenap hasrat yang sesungguhnya hendak diluapkan.

Adhara terlalu menggoda untuk diabaikan. Namun, Canis enggan disamakan dengan pria-pria yang pernah mengisi hati bosnya itu. Canis enggan ditinggalkan tanpa memberi kesan apa pun. Dia tidak sama, dan tidak akan pernah sama dengan mereka.

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk saya tidur di kamar Ibu," ucap pemuda itu dengan suara rendah yang penuh keyakinan.

Adhara sesungguhnya merasa salah tingkah dan serba salah. Namun, dengan gaya angkuhnya, wanita itu selalu berusaha dan sukses menutupi gelisah di hati. Walaupun kali ini, rasa gelisah akibat penasaran akan siapa sebenarnya gadis yang dua kali dilihatnya bersama dengan Canis, benar-benar tidak bisa ditahan.

"Hmm ...." Adhara mengengadah lagi, dan matanya segera bersirobok dengan Canis, membuatnya memaki dalam hati. "Aku penasaran dengan gadis yang kulihat di kosan kamu kemarin. Kalian terlihat ... hm ... akrab?"

"Oh! Ariel," sebut Canis, membuat darah Adhara sedikit memanas. Namun, seperti biasa Adhara tetap mempertahankan sikapnya. Tetap mengangkat dagu seakan apa yang didengarnya bukan hal penting.

"Apa dia gadis yang katamu pernah kamu cium, kamu sentuh, kau cinta—"

"Dia masa lalu. Dan saya tidak terlalu suka bercerita tentang masa lalu." Canis memotong omongan Adhara, wajahnya terlihat serius.

Adhara berdeham, tidak menyangka bahwa Canis bisa terlihat seserius barusan.

"Baiklah ... lupakan ...." Adhara mengibas-ibaskan tangan, meminta agar personal asistennya itu melupakan apa yang baru saja mereka bicarakan.

"Ibu tidak tertarik pada saya?" Canis bertanya lagi, memastikan. Karena dia tidak buta, gelagat Adhara berkata lain. Caranya bertanya tentang Ariel, sangat jelas lebih dari sekadar rasa penasaran.

"Nggak!" Adhara menantang wajah Canis. Keduanya saling adu pandang tanpa ada yang mau mengalah untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Adhara berbalik, saat merasa dirinya akan kalah menghadapi tatapan Canis.

Namun, ketika tubuh langsing itu hendak melangkah meninggalkan ambang pintu, tangan Canis yang terkepal langsung terurai, terulur untuk meraih lengan putih yang terbuka.

Adhara membelalak, nyaris berteriak saat Canis memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan pemuda itu. Namun, teriakan itu lenyap bersamaan dengan bibir yang tetiba menempel di bibirnya dengan keras.

Adhara tidak dapat berkutik, terlebih ketika Canis mendesaknya rapat pada dinding tanpa melepas pagutan. Pemuda itu seperti seekor singa yang baru saja menerjang buruan yang sudah diincarnya sejak tadi. Melawan Canis sekarang pun rasanya percuma. Tenaga pemuda itu jelas lebih besar, dan hasratnya sedang berkobar.

Maka, Adhara diam saja, membiarkan matanya tetap terbuka sementara pemuda itu seperti kehilangan akal. Ada sedikit kecewa, menyadari bahwa ternyata ada sisi Canis yang terlihat sama dengan pria-pria kebanyakan yang mendekatinya. Nafsu.

Merasa ada yang salah dengan ciuman yang dilancarkannya pada Adhara, Canis membuka mata dan merasa sangat terkutuk ketika bosnya itu ternyata sedang membuka mata. Membuat mata mereka bertemu dengan memalukan.

Perlahan diaturnya kuat kecupan di bibir, kecupan yang sejak tadi tak berbalas. Memejamkan mata sejenak sebelum meninggalkan kecupan lembut di bibir nan lembut itu.

Malu-malu Canis membuka kembali matanya, menarik wajahnya menjauh dan segera menunduk. Perasaan bersalah langsung menyergap.

Adhara menghela napas, mengulum bibirnya yang terasa tebal sesaat, kemudian menghela napas lagi.

"Ma-Maaf, Bu. Itu tadi—"

"Mulai besok, kamu nggak perlu menjagaku lagi. Tidak perlu menginap lagi. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri dan melapor sendiri ke polisi." Adhara berbalik setelah mengucapkan kalimat itu.

"Bu ...." Canis memelas saat melihat bosnya berjalan menjauh. "Saya minta maaf, Bu ...," lirihnya.

Bukannya menjawab permintaan maaf Canis, sambil terus melangkah Adhara justru berseloroh. "Dari mana kamu belajar mencium dengan cara menyakitkan seperti itu? Ck! Amatir!"

Canis mengsap kasar wajahnya dengan telapak tangan. "Dari film, Bu! Dari film!" serunya kesal pada diri sendiri.

"Ganti tontonanmu, Bocah!" sahut Adhara, bersamaan dengan suara pintu kamarnya yang dibanting.

Canis mengutuk-ngutuk dirinya sendiri. Menarik-narik rambutnya sendiri dengan kasar, dan menampar-nampar wajahnya dengan kesal. Rasa malu dan rasa bersalah bercampur jadi satu.

***

Keesokan harinya pun, semua terasa canggung. Tidak ada percakapan di mobil saat perjalanan ke kantor. Tidak ada ajakan makan siang, titip makan siang, atau pun perintah-perintah seperti biasanya.

Sampai dengan sore hari, ketika Canis memastikan bahwa tidak ada jadwal meeting yang akan menyebabkan bosnya itu pulang terlambat pun, tidak ada percakapan di antara mereka sama sekali. Buat Canis, ini melelahkan.

Dari meja kerjanya, Canis mencoba mengintip Adhara yang masih belum juga beranjak dari ruang kerjanya. Pemuda itu masih melihat Adhara berkutat di balik laptop. Entah apa yang masih dikerjakan Adhara. Sementara para karyawan mulai meninggalkan meja dan kubikel masing-masing untuk pulang.

Ponsel di mejanya tiba-tiba berdering. Nama Ariel terlihat pada layar, membuat Canis mengabaikan, enggan menyahut panggilan. Tetapi, begitu dering ponsel berhenti, notifikasi pesan masuk berdenting.

Mau tidak mau Canis membuka pesan. Sebagaimana dugaannya, pesan dari Ariel.

Aku di lobi. Kita harus bicara dan aku nggak bakal pergi sampai ketemu kamu.

Canis berdecak. Dia tidak mau Adhara sampai bertemu dengan Ariel. Semalam Canis mengambil kesimpulan kalau Adhara sesungguhnya cemburu pada gadis masa lalunya, meski wanita itu tidak mengakuinya.

Sekali lagi Canis mengintip dari jendela ruang kerja Adhara yang tirainya terbuka. Memastikan bahwa Adhara tidak akan terburu-buru meninggalkan ruang kerjanya. Canis merasa harus segera menemui Ariel, dan agar gadis itu berlalu sebelum Adhara meninggalkan ruangan dan melihat kedatangannya.

Bergegas Canis menuju lobi. Benar saja, di sana Ariel sedang berdiri menunggunya. Begitu melihat kehadiran Canis, gadis itu segera menghampiri.

"Mau apalagi, Riel?" Canis bertanya dengan terburu-buru.

Tanpa aba-aba Ariel melempar tubuhnya pada Canis. Didekapnya erat tubuh lelaki itu, seolah-olah tidak akan dilepasnya lagi.

"Riel!" Canis merasa risih. Dia hendak melepaskan diri, tapi Ariel justru mendekapnya lebih erat.

"Aku nyesel, Can. Aku nyesel ninggalin kamu tanpa penjelasan apa pun ...." Ariel mulai berkata-kata dengan suara gemetar. "Aku masih cinta sama kamu, mau balik sama kamu. Aku nggak bisa tanpa kamu, Can!" Ariel terisak, membiarkan air matanya membasahi kemeja yang dikenakan mantan kekasihnya.

Canis bergeming, bingung dengan bagaimana harus bersikap. Sementara Ariel semakin tersengguk di dadanya. Rasanya semakin serba salah saat menyadari semua mata memandang ke arah mereka dengan padangan penuh tanya. Namun, rasa serba salah itu semakin menjadi saat sebuah tangan berjari lentik muncul tepat di depan wajahnya.

Canis tertegun, melihat Adhara berdiri di belakang tubuh Ariel yang masih bertahan melekat di tubuhnya. Sorot mata Adhara datar saja, raut wajahnya pun biasa saja nyaris tanpa ekspresi. Tangan wanita itu terulur tepat ke hadapan wajah Canis.

"Kunci mobil," pintanya.

Canis bergeming.

"Kunci mobilku." Adhara mengulang ucapannya.

Tersadar, Canis segera merogoh saku celana dan menyerahkan kunci mobil Adhara.

Adhara tersenyum. "Kamu tidak perlu mengantar jemputku lagi mulai besok," ujarnya, kemudian berlalu meninggalkan pasangan yang masih berpelukan.

Canis merasa seperti orang bodoh saat ini. Membiarkan Adhara pergi begitu saja, karena Ariel yang menangis di pelukannya.

Ceritanya foto Canis dan Ariel zaman dulu. 😁

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top