Sebelas
Development Dysplasia Of the Hip (DDH) adalah gangguan yang terjadi karena femur kaki lepas dari lengkung tulang panggul. Yang menyebabkan kaki tidak simetris dengan lipatan paha berlebihan pada kaki yang ada kelainan. Dan ukuran kaki tampak lebih pendek. Ada banyak faktor penyebab DDH diantaranya adalah faktor keturunan juga bawaan down syndrom saat kehamilan.
Hidup di desa terpencil, di tengah-tengah lingkungan yang minim informasi, ketiadaan fasilitas kesehatan, juga keterbatasan ilmu dalam masyarakatnya membuat Ratu kecil yang mengalami kelainan DDH tidak pernah tersentuh medis. Deteksi dini seperti tes borlow untuk mengeluarkan kaput femoris dari Acetabulum, atau juga tes Ortolani yang seharusnya dilakukan sejak bayi pun tidak pernah dijalaninya.
Ironinya. Satu-satunya petugas medis yang bisa ditemui waktu itu hanyalah Bidan desa yang sudah dianggap penduduk setempat sebagai dokter umum yang bisa menangani berbagai jenis penyakit. Ratu bahkan pernah dibawa ibunya ke tempat praktik si Bidan dan hanya di beri suntikan Vitamin. Himbauan rujukan ke Puskesmas kabupaten pun tidak digubris oleh kedua orang tuanya karena terganjal masalah finansial.
Di kampung, Ayahnya hanya seorang petani musiman berpenghasilan minim yang bahkan tidak mampu membeli sebuah Pavlik untuk therapi kesembuhan Ratu. Hasil sawah milik kepala kampung yang di olah orang tuanya pun hanya mampu membiayai kehidupan sehari-hari. itu pun ibunya harus menjadi buru cuci di rumah kepala kampung untuk menyokong biaya sekolah Ratu dan kakaknya, Baskara.
Oleh ibunya---Priyai Utomo, Ratu kecil hanya diberi penanganan dengan metode tradisional hasil masukan dari beberapa orang. Setiap malam menjelang tidur, Priyai akan mengikat kedua kaki Ratu dengan kain selendang dan baru akan melepas di pagi hari saat anaknya terbangun. Menurut apa yang di dengar wanita itu, cara ini bisa membuat kedua kaki anaknya tumbuh menjadi seimbang dan sama panjang. Seminggu dua kali, Ratu bahkan dibawa ke tukang urut kampung dengan keyakinan bahwa metode ini bisa membantu menstabilkan ukuran paha dan membuat kakinya kembali ke ukuran normal. Tapi semua usaha yang dilakukan Priyai tidak membawa perubahan bagi Ratu.
Pasrah dalam keputusasaan, Priayi pun menghentikan semua usahanya saat Ratu berumur lima tahun. Pada akhirnya ... Dwi Ratu Inggara dibiarkan tumbuh dalam ketidaksempurnaan.
Namun dibalik kekurangan anaknya, Priyai bersyukur karena Ratu di anugrahi wajah cantik dan otak yang cerdas. Selama mengenyam bangku pendidikan, Ratu selalu menjadi juara umum di sekolahnya. Saat SMA, ia bahkan mendapatkan beasiswa dan bisa bersekolah di Kabupaten. Ratu mematahkan cibiran orang-orang di desanya yang menganggap ia hanya 'jago kandang' dan tidak akan mampu bersaing dengan orang kota. Nyatanya, prestasi gadis itu semakin gemilang, ia bahkan sering menjuarai olimpiade-olimpiade sains atau juga beberapa perlombaan yang diadakan antar kabupaten dan provinsi.
Lulus dengan nilai terbaik kedua se-Provinsi, Ratu dibiayai Pemda setempat untuk kuliah ke luar daerah. Ia tercatat sebagai Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura di sebuah Universitas di Bogor.
Memiliki kekurangan, tidak lantas membuat Ratu terkucil oleh rasa minder. Ia bahkan menjadi Mahasiswi yang cukup terkenal karena kepintarannya. Ratu gampang berbaur dan mudah menempatkan diri, karna itulah ia memiliki banyak teman dari berbagai jurusan, salah satunya dengan Riskita atau Kiki yang notabennya mahasiswa dari Arsitektur Lanskap.
Lambat laun, Pertemanan Ratu dengan Kiki semakin akrab. Setiap weekend, keduanya sering pulang ke Jakarta dan menginap di rumah Kiki. Dari situ Ratu bisa kenal baik dengan semua anggota keluarga Kiki, termasuk juga mengenal Pramana yang saat itu masih duduk di bangku SMA dan sering main ke rumah Kiki karna pertemanannya dengan Sammy.
Selama beberapa tahun berinteraksi dengan Ratu, Pramana diam-diam mengagumi wanita itu. lambat laun, jentik-jentik perasaannya mulai tumbuh dan semakin menguat setiap waktunya. Sampai suatu hari, pria itu memutuskan untuk jujur tentang perasaannya pada Ratu.
"Lo yakin, Pram?"
Sammy ikut merebahkan dirinya di samping Prama yang tengah terlentang menghadap langit-langit kamar dengan mata menerawang.
"Yakin!" Sahut Prama mantab. "Selama empat tahun ini aku kenal Mba Ratu, sering jalan sama dia, berkali-kali ngobrol, diskusi, sharing berbagai hal, aku tertarik dengan semua yang ada pada Mba Ratu. Kagum dengan pandangan hidupnya, terlebih-lebih dengan cara dia menempatkan diri di tengah-tengah pandangan orang yang meremehkan dia."
Bibir Sammy tertarik ke samping. Ia melirik Pramana dengan wajah serius.
"Bro, gue tau Mba Ratu cantik. Siapa pun yang lihat dia dalam setengah visual gua yakin pasti langsung tertarik, tapi---- " Sammy menggaruk pangkal hidungnya sebentar seraya mengumpulkan keberanian untuk berkata. "Uhm... gue gak bermaksut melecehkan yah, tapi... you know, Pram. Mba Ratu kan----"
"Pincang?" Potong Prama vulgar.
Sammy meringis. Tidak menyangka Prama akan memilih kata sejujur itu. Padahal tadinya ia akan menyebut 'Tuna Daksa' biar kedengarannya lebih halus dan tidak menyinggung perasaan Pramana. Namun Prama sendiri malah terang-terangan mengucap kata yang sangat tidak tega Sammy sebut itu.
"Masalahnya dimana, Sam?" Prama bertanya santai. "Lo tau, gue emang gampang suka sama perempuan hanya karna mereka cantik atau pintar. Tapi... Lo juga tau jenis jatuh cinta gue kayak apa dan perempuan seperti apa yang bisa menyentuh ekspektasi gue."
Selama umur pertemanan mereka, rasa-rasanya ini kedua kalinya Sammy melihat Prama jatuh cinta. Ia ingat Prama bukan tipe laki-laki yang suka coba-coba dengan perempuan, pria itu pernah pacaran dengan Aniva, teman sekolah mereka yang merupakan anak dari seorang penjual Es cendol di depan sekolah. Aniva yang berprestasi meski pulang sekolah membantu ayahnya menjual cendol berhasil merebut hati Pramana.
Tiga bulan Prama membangun pendekatan, mereka akhirnya jadian dan pacaran sampai kuliah tingkat dua. Itu pun putus gara-gara Aniva minder dengan nama besar ayah Pramana yang semakin menanjak. Melihat Prama yang tidak main-main menjalani hubungan waktu itu, Aniva memprediksi hubungan mereka akan mengarah ke jenjang lebih serius. Bukannya bahagia, gadis itu malah merasa terancam. Ia takut dan merasa tidak siap menghadapi kenyataan. Hubungan beda kasta hanya akan memposisikan dirinya juga keluarganya menjadi bahan cacian orang-orang. Jika sampai ia menuruti egonya untuk memiliki Prama, sama saja ia menyakiti keluarganya sendiri. Perbedaan mereka terlalu jauh. Setelah berdiskusi panjang lebar lengkap dengan drama air mata dan peluk-pelukan panjang, pada akhirnya keduanya sepakat untuk berpisah.
Dua tahun dalam kesendirian, Pramana kembali jatuh cinta pada sosok Ratu yang ditemuinya saat masih berseragam Putih Abu-abu. Dan setelah memantapkan keyakinannya, siang ini, Mahasiswa akhir itu memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Ratu.
Sammy menepuk pundak Prama. "Kalo emang Mba Ratu yang bisa bikin lo jatuh cinta kali ini, ya udah lo maju! gue percaya lo bisa terima dia apa adanya."
Pramana tersenyum, meletakan lengannya di dahi dan pikirannya menerawang membayangkan wajah Ratu. Ia jatuh sejatuh-jatuhnya pada Dwi Ratu Inggara. Dan tidak bisa menunggu lama untuk memilikinya.
***
Februari, 2005
"Ratu." Panggil Prama. Ini pertama kalinya dia memanggil perempuan yang lebih tua empat tahun darinya itu tanpa embel-embel sapaan 'Mba'.
Ratu yang saat itu sedang memakan es serut tersebut menoleh kaget. Dia tersenyum geli dan menepuk lengan Prama. "Nggak sopan!" Cibirnya seraya tertawa.
Pramana tidak menggubris, ia menatap Ratu tanpa menyentuh sedikit pun es serutnya.
Merasa diperhatikan lama, Ratu mengangkat wajahnya lagi dan menatap Prama. "Kenapa?" Tanya wanita itu tidak mengerti.
Prama menyetok oksigen sebanyak mungkin di paru-parunya. Ia kemudian berujar pelan, "Aku mau, mulai saat ini, berhenti nganggap aku sebagai adik."
Dahi Ratu membentuk tiga garis vertikal, wanita itu meletakan mangkuk es nya ke rumput taman.
"Kenapa? Kenapa Mba harus berhenti nganggap kamu sebagai adik?"
"Karna kamu harus membiasakan diri melihat aku sebagai lawan jenis! Memposisikan aku sebagai laki-laki!" Jawab Prama tegas. Dan Ratu malah menyambutnya dengan tawa sampai-sampai beberapa orang yang duduk di taman sore itu menatap risih keduanya.
"Emang selama ini Mba pernah nganggap kamu perempuan, Pram?"
Prama membiarkan tawa Ratu mereda. Ia mencondongkan tubuhnya dan menarik tangan Ratu kedalam genggamannya. Wanita itu lantas terdiam.
"Berhenti memperlakukan aku seperti adik kamu dan lihat aku sebagai laki-laki dewasa! Lawan jenis yang juga punya potensi untuk mengikat kamu dalam hubungan yang konteksnya lebih dari sekedar kakak-adik!"
Ratu membatu. Tangannya bahkan bergetar dalam genggaman Pramana. Terjawab sudah semua pertanyaan dia tentang sikap Prama yang beberapa bulan ini berbeda kepadanya. Prama yang mulai protektif, Prama yang menatapnya dengan cara tidak biasa, Prama yang memeluk dan mencium puncak kepalanya setiap kali lelaki itu berpamitan pulang. Ratu pikir Pramana hanya menganggapnya sebagai kakak perempuan, ternyata ...
"Aku sayang sama kamu!" Pramana menatap Ratu sendu. "Jatuh cintaku mengarah padamu. Jadi... hapus cara interaksi kita yang lalu, dan mari memulai dengan cara yang baru."
Kelopak mata Ratu berkedip lambat. Wanita itu menarik tangannya dari genggaman Prama namun lelaki itu malah menariknya kedalam pelukan.
"Dengar baik-baik, karna aku hanya akan meminta sekali." ujar Prama pelan. Dia meletakan dagu diatas pundak Ratu. "Dwi Ratu Inggari, jadilah pacarku."
Ratu tidak menjawab. Ia diam. Bahkan saat Pramana menarik diri dan menangkup kedua pipinya, wajah lelaki itu mendekat ke wajahnya dan detik selanjutnya yang dirasakan Ratu hanya sentuhan kenyal bibir Prama diatas bibirnya.
***
September, 2016
"Makasih, Pram."
Ratu menempelkan telapak pada matanya yang sembab. Ia baru akan membuka pintu mobil untuk turun tapi Prama menahan pundaknya. Perempuan itu berbalik menatap Prama.
"Kalau kamu mau, kita bisa pakai pengacara untuk ajukan permohonan hak asuh Sultan." Usul Prama.
"Nggak, Pram." Tolak Ratu. Perempuan itu mendorong pelan tangan Prama dari pundaknya. "Aku ga mau membagi-bagi hak kepemilikan atas anak. Sultan berhak tumbuh dibawah asuhan kedua orang tuanya dengan kadar yang sama rata. Tidak memberat di salah satu pihak antara aku dan Darian."
Prama meremas rambut di dua sisi kepalanya. "Tapi dia mau memonopoli hak kepemilikan atas Sultan, Rat." Suara Prama naik dua oktaf. Urat-urat lehernya bahkan tercetak jelas.
"Dia mau menjauhkan kamu dari anakmu! Kamu lihat sendiri bagaimana ganasnya dia tadi malam. Kamu harus lapor polisi Rat. Minta perlindungan hukum! Atau bila perlu penjarakan dia sekalian."
Gelengan tegas Ratu membuat Pramana mendesah pelan. Laki-laki itu mengutuk kelembutan hati Ratu. Semalam saat Pramana sampai, ia menyaksikan sendiri bagaimana Darian dengan kasarnya menarik-narik Sultan dari dalam pelukan Ratu. Pria itu bahkan hampir mencekik Ratu kalau tidak dicegat Prama dan Sammy.
"Darian hanya marah, karna aku bawa Sultan pergi selama dua tahun ini. Jadi, wajar kalau dia bersikap seperti itu." Ratu melirik Sultan yang tertidur di jok belakang mobil.
"Lagian Sultan udah gede, Pram. Udah hampir 10 tahun. Udah bisa menentukan sendiri siapa yang akan dia pilih. Itu pun aku ga akan pernah menyodorkan pilihan untuk dia. Karna aku dan Darian punya hak yang sama rata atas Sultan. Aku ibu yang ngelahirin Sultan, tapi Darian adalah Ayahnya. Andil kita sama. Jadi... aku gak mungkin memenjarakan Ayah dari anakku dan kamu hanya orang lain untuk aku dan Sultan. Tolong jangan atur-atur kami! "
Ada rasa sakit di hati Prama saat mendengar ucapan panjang lebar Ratu. Wanita itu menaruh kehormatan yang begitu tinggi pada laki-laki yang 10 tahun lalu menikahi dan mencampakannya dalam keadaan hamil. Sementara kepada Prama, pria yang selalu ada di samping Ratu saat wanita itu dalam masa sulit, yang memasang badan untuk menangkis semua anggapan miring orang-orang kepada Ratu, yang bahkan menempatkan dirinya sebagai ayah dari anak yang dikandung Ratu, yang menunggui dan menemani Ratu selama wanita itu menjalani proses bersalin, yang ikut merawat Sultan sampai anak itu besar, malah tidak dianggap oleh Ratu.
Pramana bukannya menghitung seberapa besar andilnya untuk hidup Ratu, tidak. Demi Tuhan dia ikhlas saat itu, namun Prama tidak bisa menerima jika Ratu memperlakukannya seolah-olah ia tidak ada artinya sama sekali di mata wanita itu.
"Aku sayang kamu juga Sultan! Aku bukannya ikut campur, Aku----"
"Pramana ini sudah pagi. Sebaiknya kamu pulang! Jangan berkoar soal kasih sayang kamu ke aku dan Sultan sementara Istri sendiri kami biarin terlantar di rumah."
Ratu keluar dari mobil, membangunkan Sultan dan terlihat masih mengantuk. Keduanya pun berlalu ke dalam Swalayan, meninggalkan Prama yang terpaku meremas setir mobil.
***
Prisa berdiri di depan washtafel melihat pantulan bayangannya di cermin kamar mandi. Bibirnya Pucat, juga pipi yang sedikit tirus. Ia menggeleng dan ragu-ragu mengeluarkan testpack. Bibir wanita itu tergigit resah. Ia ingat sebulan ini dia dan Prama beberapa kali berhubungan tanpa pengaman. Walaupun Prama selalu hati-hati, tapi ... tetap saja kekhawatiran melanda Prisa.
"Kenapa?"
Sebuah tangan besar memeluk tubuh telanjang Prisa dari belakang. Pramana yang muncul dengan muka bantal dan dalam keadaan setengah bugil, melingkarkan tangannya di perut Prisa dengan dagu yang bertumpu di pundak istrinya. Ia membenamkan wajah ke lekukan leher Prisa, mengendus wangi shampo yang terkuak dari rambut basah istrinya.
Prisa tidak menjawab, tidak juga menanggapi aksi Prama yang bahkan tengah menjilati lehernya. Tangan Prama turun meraba daerah bawah perut Prisa. "Di bawah shower?" Bisik Prama.
Tawaran morning sex-nya tidak digubris Prisa, Prama mengangkat kepala, mengamati wajah Prisa dari pantulan kaca di depan mereka. Laki-laki itu tersenyum geli melihat sepasang dada Prisa yang membusung indah disana. Tangan Prama lantas naik mencubit gemas kedua puncak dada istrinya.
"Minta di gigit banget yah ini?" Prama mengeraskan cubitannya. "Mau aku gigit? Sampe teriak-teriak kayak semalem? Hum?" Tantang Prama.
Bermaksut 'mengerjai' Prisa, dia membungkukan badan, kepalanya turun ke dada Prisa tapi kemudian ia berhenti bergerak ketika melihat sesuatu yang dipegang Prisa.
Alis kiri Prama terangkat, ia lalu merebut testpack dari tangan Prisa. "Pris kamu..." Prama membalikan tubuh Prisa. "Kamu telat datang bulan?" Tanyanya gusar.
Prisa mengangguk pelan dengan wajah memberenggut. "Ya seharusnya udah dari seminggu yang lalu, tapi... sampe skarang belum dapet juga." Prisa menjelaskan hati-hati, ia tau dirinya dan Prama memang belum berencana memiliki anak dalam waktu dekat ini, dan hamil di luar rencana memanglah ide yang buruk! Demi Tuhan dia belum mempunyai persiapan apa-apa untuk jadi seorang ibu.
Prama memijat alisnya dengan mata terpejam.
Melihat gelagat Prama, Prisa semakin takut. Bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Prama pasti juga belum menyiapkan diri untuk kehamilan ini.
"Maaf kalau aku benar-benar hamil" Desis Prisa pelan.
"Tck," Prama berdecak tidak suka, ia mendekat dan mengacak rambut Prisa. "Ngomong apa sih kamu? Yang harus minta maaf tuh aku karna ga hati-hati." Prama mencium puncak kepala Prisa singkat. "Sekarang kamu cek dulu. Yah? Kita jangan cepat-cepat berspekulasi bisa ajah emang kamu telat kayak biasa."
Prisa mengangguk. Ia meraih gelas kecil di atas washtafel dan beranjak ke water closet. Pramana menunggu dengan gusar.
Prama menyukai anak-anak, tapi mempunyai anak dengan Prisa tanpa lebih dulu memastikan perasaannya ke wanita itu adalah bencana besar! Ia belum tau akan seperti apa masa depan pernikahannya, jika Prisa hamil, hubungan emosional keduanya akan semakin kuat dan secara otomatis Prama akan terikat dengan wanita itu. Prama tidak bisa! Demi Tuhan ia tidak mau membiarkan posisi Prisa semakin mengakar disisinya. Itu hanya akan melukai Prisa jika suatu saat ia memang harus melepas wanita itu demi Ratu.
15 Menit setelahnya Prisa mendekati Prama, meraih tangan suaminya dan meletakan testpack diatas telapak Prama. "Kamu yang lihat, yah? Aku takut." Wanita itu kemudian berbalik tidak mau menghadap suaminya.
Dengan tangan bergetar, Prama membalikan testpack itu. Sesungguhnya ia lebih tidak siap dari Prisa tapi ia memaksakan diri untuk melakukannya.
"Udah belum? Aku hamil yah? Aaah, please jangan bilang aku hamil, kita belum siap, please please!" Prisa memekik dengan tangan yang menutup kedua telinganya. Berlebihan memang, tapi ia benar-benar parno kali ini.
Merasakan tepukan Prama di pundaknya, jantung Prisa rasanya mau meledak. "Aku beneran hamil yah?" Tebaknya saat melihat wajah Prama yang gelisah.
Prama mengangguk pelan dan Prisa oromatis mengusap wajahnya. Shit! Prisa berpikir, Tuhan pasti memurkai dirinya dengan Prama saat ini yang bisa-bisanya menyambut karunia dengan tampang kecut seperti ini. Orang tua macam apa mereka yang bahkan tidak bahagia mendengar soal kehamilan.
Pramana tersenyum lebar melihat reaksi Prisa karna kebohongannya. Ia kemudian menunjukan testpack yang hanya tercetak satu garis merah disana. Hasilnya negatif.
"Pramaaaaa." Prisa memeluk Prama, senang. Kalau pasangan-pasangan lain akan kecewa saat melihat hasil tes yang negatif, Prama dan Prisa malah menunjukan pemandangan sebaliknya.
Ketakutan Prama terhembus bersama napas panjangnya. "Kamu bikin aku takut ajah sayang." katanya seraya mengecup tangan Prisa kemudian menyeret langkahnya untuk memenghidupkan shower. Air dingin lantas mengguyur tubuhnya.
Sambil membusakan badannya dengan sabun Prama berujar. "Kita baru lima bulan menikah, sebelumnya nggak pacaran lebih dulu, dan masih butuh waktu untuk berduaan lama-lama. Uhmn... canggung nggak sih kalo tiba-tiba ada makhluk lain yang hadir di tengah-tengah kita? menginterupsi ketenangan kita?"
P
risa diam. Berpikir. Mencerna. Kemudian mengangguk ragu. Wanita itu kemudian keluar dari kamar mandi.
Lega? Iyah Prisa lega. Tapi dia menangkap nada lain dari suara prama yang tidak tahu kenapa sangat tidak enak di pendengaannya. Iyah Prisa tau mereka sepakat untuk tidak punya anak dalam waktu dekat tapi mendengar lolongan Pramana, hati Prisa terasa panas.
Ungkapan Prama seolah-olah mengindikasikan bahwa lelaki itu sama sekali tidak menginginkan anak di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Prisa kembali ke kamar mandi. Ia mendekati Prama. "Pram," panggilnya.
"Hum?"
Tangan Prisa terlipat di dada. "Aku nggak tau yah apa ini cuman perasaanku saja, tapi... aku kok gak suka yah dengar pernyataan kamu sebelumnya? Itu kedengarannya kayak kamu benci banget punya anak dari aku. Kamu juga kayaknya gak punya gambaran apa-apa soal kehidupan rumah tangga kita kedepan. Boleh tau maksut kamu apa yah ngomong kayak gitu?"
Gerakan tangan Prama yang sedang membusai rambutnya dengan shampo terhenti. Ia mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya ia keceplosan menyuarakan isi hatinya. Dan terkutuklah kejelian istrinya ini.
Prama meraih tangan Prisa agat mendekatinya. "Maaf kalau kamu tersingung. Aku cuma berpikir, kita kan nggak pernah pacaran sebelumnya, waktu penjajakan kita cuma sekitar tiga atau empat bulanan gitu jadi kita masih butuh adaptasi, sayang. Biar nggak terlalu shock kalau ada malaikat kecil yang datang di tengah-tengah kita." Prama mengusap punda telanjang Prisa.
"Lima bulan ini kita juga sering berantem hanya karna hal-hal kecil, ya aku pikir kalau punya anak kayaknya bukan ide bagus. Emang kamu mau anak kita lahir dari orang tua angin-anginan kayak kita?"
Prisa berpikir. Kemudian menggeleng.
"Nah makanya! Sambil kita menyiapkan diri, kita matangkan dulu beberapa rencana masa depan kita. Nikmati masa 'lajang' kita sebelum kita menjadi Mama dan Papa yang nggak punya waktu berduaan karna kerepotan mengurus anak. Kamu akan pakai daster lusuh dengan alis yang botak sambil nyusu anak, dan aku akan pakai sarung tua sambil mencuci sprei bekas ngompol anak-anak kita. Nyeremin nggak?"
Prisa tertawa pendek dan mencubit perut Prama.
"Nah, gitu, senyum dong biar lakinya seneng." Pramana melingkarkan tangannya di perut Prisa. "Sekarang..." tangan Prama terseret naik, ia membungkus kedua dada Prisa dengan tangannya. "Waktunya melanjutkan yang tadi..."
"Tck, udah jam 8 Pramana!"
"Bodo!"
***
"Cincin kamu mana?"
Tanya Prisa ketika melihat Prama tidak mengenakan Cincin nikah. Prama menginjak rem dan mobil mereka yang baru keluar dari gerbang lantas berhenti.
Prama menyengir tanpa dosa. "Aku lupa." Akunya.
Tidak mau membuat kesalahan dua kali di pagi hari yang berujung pada kecurigaan Prisa padanya, Pramana lantas turun dan kembali ke kamar mengambil cincinnnya.
Prisa baru akan mencegat tapi bunyi dering ponsel Prama menginterupsinya. Ia meraih ponsel itu dan melihat nomor si penelpon yang tertera tanpa nama. Prisa tak menggubris, ia kembali meletakan ponsel itu ke dashboard. Mungkin saja salah sambung. Namun ketika ponsel itu kembali berdering Prisa akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.
Begitu menggeser tombol hijau, Prisa disambut oleh teriakan si penelpon.
"Maksut kamu apa Pramana? datang ke sekolah Sultan setiap hari dan bilang kalau kamu Ayahnya? Kenapa kamu lakuin itu Prama? Kamu pikir kamu siapa? berhenti ganggu hidup aku dan Sultan! Harus berapa kali aku bilang ke kamu, tinggalin semua masa lalu kita di belakang! Kita sekarang sudah punya kehidupan sendiri-sendiri Prama, kamu udah punya istri, lupain aku dan cintai istrimu, kalaupun kamu belum bisa cintai dia, setidaknya kamu hargai janji pernikahan yang kamu ucap di depan Tuhan! Kamu pikir itu main-main? Tolong... Berhenti temui Sultan dan stop mantau-mantau aku dari jauh setiap malam! Aku nggak suka!"
Telepon ditutup sepihak. Tangan Prisa bergetar dengan tubuh melemah seketika. Ia bersandar lunglai di sandaran kursi.
____________
A/N : keterangan medis diatas saya baca dari beberapa artikel di blog di bawah ini.
Tapi buat teman-teman yg lebih ngerti dunia medis, kalau ada istilah yang salah tolong koreksinya yah. Karna basic saya bkn disitu tapi part ini mmg mengharuskan saya utk menjamah ranah itu. jadi sekali lagi... kalau nemu kesalahan kasih tau!
http://catatanmahasiswafk.blogspot.co.id/2012/03/ddh-developmental-dyslocation-of-hip.html?m=1
http://hendra-r.blogspot.co.id/2010/08/ddh.html?m=1
https://klinikkaki.com/2015/10/26/799/
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top