Lima Belas

"Pramana aku tau, menghadirkan cinta di dalam pernikahan kita mungkin hal terakhir yang bisa kamu sanggupi. Jadi aku nggak akan menuntut cinta dari kamu, apalagi mendesak kamu untuk belajar mencintai aku. tidak, tidak akan. Aku tidak akan mengulang bagian itu karna aku benci penolakan. Tapi ... aku akan sangat hargai kalau kamu memang punya keinginan untuk belajar mencintai aku secara otodidak."

Kilasan ucapan Prisa berlari-lari lagi di pikiran Prama. lelaki itu melenguh pelan sambil memijat alis. Selang beberapa menit, ia menggeser laci meja kerjanya dan megeluarkan sebuah bingkai kecil. Pramana menatap foto itu lamat-lamat sembari menggerakan telunjuk mengusap wajah wanita di dalam balutan kebaya putih itu--wanita yang akhir-akhir ini memperlakukan Pramana seperti bidak dalam permainan caturnya.

Pramana diatur sedemikian rupa menurut kehendak Prisa. Digerakan sesuai keinginan Prisa, tidak lupa diberi titah yang haram hukumnya untuk dibantah. Semua itu dipenuhi Prama semata-mata untuk memperbaiki hubungannya dengan wanita itu.

"Masa depan seperti apa yang kamu bayangkan untuk hubungan ini, Pramana?" Tanya Prisa ketika malam itu Pramana meminta sebuah kata maaf dari bibir wanita itu.

Pramana memilih untuk tidak megaktifkan pita suaranya. Ia hanya mengirim satu tatapan dalam pada wanita yang tengah berkacak pinggang di depannya.

"Nggak bisa jawab?" Cecar Prisa lagi. Ia tertawa sumbang. "Fine! Aku ubah bentuk pertanyaannya dan aku turunkan tingkat kesukarannya." Jeda semenit sebelum Prisa kembali melanjutkan, "Kamu masih punya hasrat untuk hidup dengan aku?" Tanya Prisa. "Kalau iya, aku punya lima keinginan yang harus kamu penuhi. Kalau tidak, sekarang juga kita selesai!"

Gertakan Prisa sukses merangsang detak jantung Prama. Laki-laki itu berdiri dengan wajah memucat, ia menukar posisi mereka dengan membimbing Prisa sampai wanita itu terduduk di ranjang, sementara ia sendiri duduk bersimpuh di depan wanita itu.

"Jujur, aku belum punya gambaran apa-apa untuk hubungan kita ke depannya, Pris. Tapi..." Prama meraih tangan Prisa. "Aku tidak siap dan tidak akan pernah mau untuk selesai dengan kamu. Perpisahan hanya akan terjadi kalau salah satu di antara kita mati." Ucap Prama sunggu-sungguh.

"Selama kamu dan aku masih hidup, aku pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Kamu jangan kemana-mana, tetap di sini, tetap jadi istriku, kasih aku waktu untuk istirahat, untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Kamu harus bantu aku sampai aku berhasil mengisi penuh hati dan pikiranku dengan sosokmu. Kamu mau kan, sayang?"

Waktu berpikir Prisa dimanfaatkan Prama dengan menambahkan, "Please, bantu aku ke luar dari kesesatan ini kalau memang kamu ingin aku berubah untukmu."

"Kalau memang kamu ingin aku berubah untukmu..." Prisa mengulang dengan tawa sumbang. sementara Pramana menyumpahi kesalahannya dalam memilih diksi yang seolah-olah memberi kesan bahwa dia hanya terpaksa mengabulkan kehendak Prisa.

"Jangan salah paham, Pris. Aku juga ingin berubah. Demi kita, demi pernikahan ini, demi diriku sendiri." Ujar pria itu merevisi maksudnya. "Aku butuh bantuan kamu, Pris. Bantu aku."

"Aku bisa bantu kamu, Prama. Tapi masalahnya, hati kamu siap nggak menerima sosok selain Mba Ratu?"

Iyah. Seperti dugaan Prisa dan juga dugaannya sendiri, Pramana tidak langsung menjawab pertanyaan sesederhana itu. Ada durasi waktu yang cukup lama sebelum dia mengangguk, disusul kata 'Ya' yang terujar ragu. Pramana tidak pernah tau bahwa dalam konteks kepastian hati, perempuan butuh jawaban cepat tanpa diselingi adegan berpikir lama dengan drama bola mata terpeleset ke kiri juga kernyitan di dahi yang menandakan bahwa jawaban yang akan hadir adalah jawaban dari hasil berpikir keras, bukan yang menyuarakan isi hati yang tulus. Pramana tidak tau bahwa Prisa merekam semua itu di kepalanya dan memasukan itu ke dalam list lukanya.

Prisa berdiri. "Okay," jawabnya. Ia menyeret langkah sampai ke pintu lalu berbalik dan bersandar dengan melipat tangan di dada. "Kamu yakin mau perbaiki semuanya Pram?"

Pramana mengangguk. Dan Prisa tersenyum kecil.

"Kita harus mem-pause hubungan aneh kita ini sampai di sini Pram."

Berdiri, Pramana memandang Prisa dengan dahi yang berlipat-lipat. "Maksudnya?" Tanya Pria itu bingung sekaligus gugup. Ada rasa khawatir yang bergelayut di pikirannya. Ia takut kalau-kalau Prisa meminta hal yang tidak mungkin ia sanggupi.

Prisa tidak peduli dengan sinyal wajah Prama yang mengisyaratkan tanya. Ia melanjutkan, "Kita akan mem-pause hubungan ini, memutar ulang dari awal dengan mengganti beberapa hal yang salah. Lalu kemudian kembali memulai dengan tittle baru. Dan... aku punya lima hal yang harus kamu turuti. Tapi tidak perlu kamu tau dalam sekali sebut. Biarkan bertahap seiring berjalannya waktu..."

Suara ketukan pintu menarik paksa Prama dari arus pikirannya. Ia memasukan kembali bingkai foto itu ke laci. Prama berusaha mengembalikan wajahnya ke mode normal, ia tidak mengijinkan rekan-rekan kerja melihatnya dalam keadaan kacau. Baginya, totalitas itu harus berjalan seimbang antara kinerja dan tampilan fisik.

"Masuk," kata Prama mempersilahkan.

Pak Wisnu--Manajer hotel Pratu tersenyum dan mengikuti perintah Prama dengan duduk di kursi tepat di depan meja besar hadapan Prama.

"Pak, ada undangan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi." Pak Wisnu meletakan amplop putih ke meja Prama.

"Oh ini tentang survey KHL untuk penetapan UMP tahun 2017 yah, Pak?" Tebak Prama seraya membaca surat itu.

Pak Wisnu mengangguk.

Setahun sekali, Pratu hotel mendapatkan surat undangan dari Kemenakertrans yang diberikan melalui Disnakertrans kota setempat untuk menghadiri rapat hasil survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang wajib dihadiri semua pengusaha di berbagai bidang baik pengusaha makro maupun mikro. Tapat ini untuk menyepakati angka nominal upah para buruh yang bekerja di perusahaan mereka.

Setiap tahunnya, Pramana sebagai owner Pratu hotel selalu rutin menghadiri undangan itu, hanya saja kali ini ... keadaan tak memungkinkannya untuk datang.

Hadir di sana, sama saja kembali menciptakan satu pertemuan dengan Ratu, karna wanita itu juga akan hadir dalam sosialisasi itu sebagi pemilik Pratu swalayan. Pramana tidak mungkin melanggar sumpahnya pada Prisa. Ia tidak ingin memanaskan kembali keadaan rumah tangganya yang sudah mulai kondusif seminggu belakangan ini.

Berdiri, Pramana melipat surat itu dan kembali meletakan ke dalam amplop. "Pak Wisnu, saya minta tolong bawa surat ini ke bagian HRD saja, Pak. Minta salah satu dari mereka untuk wakilin Pratu ke sana."

Lagi-lagi Pak Wisnu mengangguk dan ikut berdiri.

"Oh, yah, Pak." Prama mencegat ketika pria 48 tahun itu hampir mencapai pintu. "Lima atau enam hari ke depan, saya belum bisa datang ke hotel. Mohon bantuan Pak Wisnu untuk meng-handle beberapa hal tanpa saya."

"Baik."

***

"Hal pertama yang harus kamu turuti adalah, jadi pasangan kencanku yang asik. Pram, karna kita dulu tidak sempat berkencan, maka kita akan mulai sebagai teman kencan. Jadi ... kamu dilarang bertindak seperti suami aku, begitu juga sebaliknya. Oke? Lupakan sejenak status kita, masalah kita, dan bertindaklah selayaknya pasangan-pasangan kasmaran yang sedang berkencan. Dan mari memulai dengan berdebar-debar. Hanya ada aku, dan kamu..."

Prisa melambai dengan senyum yang merekah lebar pada Prama. Ia berlari kecil menuruni anak tangga dan memeluk lengan Pria itu, hangat.

"Udah lama?" Tanyanya bersemangat.

Prama tersenyum, mengacak rambut bermode pixie cut istrinya atau juga pacar barunya, atau mungkin juga teman kencannya. (?) Entahlah ... Pramana bingung, ia sendiri hanya menuruti instruksi wanita itu. Biarkan saja hidupnya mengalir sesuai arus yang diciptakan sendiri oleh Prisa.

"Empat malam lalu di warung pempek dekat hotel kamu, besok malamnya di Flo café, kemarin malam nasi goreng Bang Wawan. Uhm..." Prisa menerawang.

"Malam ini kita makan di mana?" Tanya Prisa excited. Mata almond wanita itu menari-nari di atas ornamen wajah Prama. Dilihatnya, titik-titik hitam tersebar di sepanjang dagu, tulang rahang, dan bibir atas pria itu. Padahal sebelumnya Pramana tidak pernah nyaman ketika wajahnya ditumbuhi kumis dan janggut. Rutinitasnya setiap pagi ya menghilangkan titik menyebalkan itu dari wajahnya. Karna menurut Prama, tidak perlu berusaha keras menghadirkan hal-hal berbau laki-laki seperti itu untuk mempertegas identitasnya sebagai pria sejati.

Pramana berkelakar, memiliki kumis tak lantas mengelempokan ia sebagai pria perkasa, manly abis, tahan lama, dsb... toh tanpa kumis pun ia tetap 'laki' dan Prisa bisa membuktikannya sendiri di tempat tidur. Waktu itu Prisa hanya tertawa-tawa menanggapi. Dia sendiri ikut membantu Prama, mengolesi shaving foam ke dagu dan rahang suaminya lalu membersihkannya dengan wet shaving, lalu acara itu akan berakhir dengan morning sex hebat yang membuat keduanya terlambat ke kantor masing-masing.

Melihat Prisa yang tak lepas memandang wajahnya, Prama tersenyum kecil, dia tau wanita itu sedang memikirkan soal wajahnya yang kacau akhir-akhir ini. "Jelek yah?" Tanya Pria itu sembari mengusap wajahnya malu.

Prisa mengangguk. "Banget," balasnya. Seringai lebar membungkus wajah lelah wanita itu. "Shaving gih, besok pagi."

Tersenyum, Pramana berbisik, "Bareng kamu?"

Pupil mata Prisa berotasi satu putaran. Dengusan sebalnya mengundang tawa Prama. Pria itu hampir saja menghadiahi satu kecupan di bibir Prisa tapi wanita 25 tahun itu menghindar dengan sigap. "Eit, hukum orang kencan, tak ada kecupan sebelum kenyang."
Pramana hanya mencibir tanpa suara lalu meraih tangan Prisa dan membimbingnya masuk ke mobil.

***

"Loh, ini kan jalan menuju rumah kamu?" Ujar Prisa setelah setengah jam mereka membelah jalanan malam. Ia melirik Prama dengan tatapan protes. "Katanya mau makaaaan," runtuk wanita itu dengan bibir mengerucut.

"Iyah. Malam ini kita masak berdua di rumahku yah?" Pramana memajukan kepalanya cepat. "Aku kenalin dengan papaku, kamu mau nggak?" Bisiknya kemudian.

Prisa menepuk pipinya. "Ya ampuun. Gimana ini? Aku nggak siap ketemu calon ayah Mertua." Ujarnya pura-pura. Ia memperbaiki letak rok pensil-nya.

"Gimana kalau papamu nggak suka sama aku? Papamu kan pengacara terkenal, aku sendiri cuman iler kering di pinggiran mulut anak SD. Gimana kalau kita nggak disetujui menikah?" Tanya wanita itu hiperbolis.

Tawa Prama berderai. Sumpah ini hal paling konyol yang ia dan Prisa lakukan selama umur pernikahan mereka--melakoni peran sebagai pasangan yang tengah berkencan. Sedikit aneh iyah, dua minggu lalu mereka masih perang syaraf, ia masih melihat wanita di depannya berwajah suram dan menangis dalam diam. Kali ini melihat Prisa dalam versi baru, bersemangat dan wajah yang terus dibingkai senyum, bolehkah Pramana berharap akan hidup dengan Erika Prisa yang semenyenangkan ini?

Okay. Prama tau semua ini hanya gestur palsu yang sengaja diciptakan Prisa entah untuk tujuan apa. Tapi ... jika ia mempunyai remote yang bisa mengontrol sikap siapa pun, ia ingin mem-pause sikap Prisa dan menguncinya dalam mode seperti ini.

"Emang aku pernah bilang mau lamar kamu jadi istriku? Huh? Ge-er banget, siapa juga yang mau kenalin kamu ke papaku? Kita ini cuma teman kencan, aku juga belum kenal kamu, jadi... jangan terlalu berharap banyak untuk hubungan in--"

"Yeeeee," potong Prisa sembari menepuk keras pundak Prama. "Turunin aku di sini." Rajuk wanita itu pura-pura.

"Kalau aku nggak mau?" Tantang Prama. Matanya bergantian menatap jalanan di depannya dan Prisa.

"Kita selesai!"

"Nggak akan sebelum aku seret kamu ke ranjangku."

Prisa melipat tangan di dada dan menaikan dagunya dengan wajah jumawa. "Nggak mau! Kamu mesum!" Bentaknya, meniru-niru gaya merajuk anak remaja.

"Loh, aku kan udah rugi banyak ke kamu. Traktir kamu makan, ajak kamu jalan-jalan, nonton, antar jemput kamu ke kantor, jajanin kamu empat hari ini, korbanin pulsa untuk chat dan video call sama kamu, masa aku gak dapet apa-apa sih?"

"Dasar pelit! Kita gak jadi makan! Turunin aku di sini!" Perintah Prisa ketika security di rumah Prama membukakan pintu gerbang untuk mereka. Mobil berhenti tepat di garasi dan Prisa ke luar dengan membanting pintu mobil cukup keras lalu masuk ke rumah. Di belakangnya, Pramana tertawa-tawa menanggapi. Ya Tuhan apa mereka berdua sudah gila saat ini?

***

Kamu msh marah yah?

Jangan ngambek dong. Aku kangen nih!

Angkat VC-ku yah?

Sehabis mandi, Pramana duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia mengirim rentetan chat pada Prisa. Tak mendapat jawaban, lelaki itu menghubungi Prisa melalui Video Call.

"Hai," sapanya ketika wajah cantik Prisa muncul memenuhi LCD ponselnya. "Jangan ngambek dong teman kencan, nggak seru ah." Ledek Pria itu.

Prisa yang terlihat sedang mengeringkan rambutnya melotot garang di ponselnya. "Yaa aku gak suka yah punya teman kencan yang perhitungan."

"Bukan perhitungan kok sayang, hanya... minta jatah preman." Pramana terkekeh.

"Ga ada!" Ujar Prisa lalu memutus sambungan VC-nya. Lagi, tawa Prama mengudara. Ia meletakan ponsel di nakas dan berbaring. Pandangannya kemudian menyapu-nyapu langit-langit kamar tamu tempat ia tidur. Tawa yang sedari tadi terlukis di wajah mendadak hilang berganti guratan resah.

Prama bertanya, ada apa dengan Prisa? Untuk apa semua permainan ini? pura-pura menjadi teman kencan. Tidur di kamar berbeda setiap harinya, menjalankan ritual-ritual layaknya orang berkencan, saling mengirim Chat, video call sebelum tidur, padahal hanya tidur bersebelahan kamar, jalan-jalan, janjian makan siang di luar. Itu semua ... maksudnya apa?

Di ruangan lain, tepatnya di sebelah kamar tamu yang Prama tempati untuk tidur beberapa malam ini, Prisa membubuhi tanda check di item pertama dalam list yang ia tuliskan di sebuah buku agendanya.

1. Memulai lagi dengan berkencan. Check. ✔

***

Prisa mendorong Prama keras. Laki-laki itu bergeming di posisinya, dorongan Prisa di punggung sama skali tak membuatnya tergerak. Ia berbalik dengan tampang memohon.

"Please," bujuknya. "Ada 32 orang perempuan di dalam sana, ibu-ibu semua, masa aku harus gabung sama kalian? Yang penting kan aku udah kenalan sama mereka, jadi aku tunggu kalian di luar ajah, yah?" Prama masih mencoba bernegosiasi. Sedari dua jam lalu tiba di tempat ini, laki-laki itu harus rela jadi bahan uwel-uwel para ibu-ibu itu. Dicubit, dielus, ditarik-tarik bergiliran. Mau kabur, dipelotiti Prisa. Terpaksa ia hanya minta ijin ke toilet dan main ponsel di sana selama hampir setengah jam sampai Prisa datang menginterupsi aksi kaburnya itu.

Telunjuk Prisa tergerak di udara. "No," tolaknya. "Itu semua temen-temen aku, perkumpulan orang Minahasa. Kamu harus ke dalam berbaur sama mereka. Ga pake alasan!"

Hembusan napas kasar lolos dari mulut Pramana, mau tak mau ia mengikuti Prisa dengan langkah berat ke dalam restoran itu. Bisa Prama dengar tawa membahana ibu-ibu itu dan disusul teriakan memanggil namanya. Senyum paksa langsung terbit di wajah Prama ketika Prisa mempelototinya.

"Heh mari sini jo Pramanaa, jangan jauh-jauh, torang nya' bagigi pa ngana," ujar salah seorang ibu beralis antagonis yang dikenal Prama sebagai istri salah seorang anggota DPRD.

[Ayo ke sini Pramana, jangan jauh-jauh, kita nggak gigit kamu kok]

Pramana meringis, sambil mengusap tengkuknya.

"Siniiii Pramaaa." Panggil seorangnya lagi sambil menarik tangan lelaki itu. Ia pasrah saja digiring duduk di tengah kerumunan ibu-ibu tersebut dan mulai diinterogasi macam-macam. Mulai dari pertanyaan seputar momongan yang tak kunjung hadir di pernikahannya dengan Prisa, sampai dengan gaya apa yang sering digunakan mereka saat bercinta. Walaupun risih, Prama tetap menjawab seadanya. Obrolan itu bermuara sampai ke les privat gratis soal gaya-gaya kamasutra.

Di meja lain, Prisa yang tengah berkumpul dengan beberapa wanita yang seumuran dengannya menatap Prama yang tengah dikucek-kucek para ibu-ibu itu. Ia tertawa geli mendapati wajah Pramana yang memerah. Prisa tau suaminya itu tidak biasa dengan keramaian, juga tidak nyaman diseret masuk ke dunia yang asing baginya, namun bukan tanpa maksud Prisa mengajak Prama ke sini.

Seperti wanita-wanita lain di luar sana, Prisa juga ingin memperkenalkan Prama dengan dunianya--hal yang tidak sempat keduanya lakukan sebelum mereka menikah--mengenali dunia masing-masing. Karna sejatinya menikah bukan tentang penyatuan dua orang saja, ada banyak unsur dari masing-masing pihak yang harus 'dikawinkan' juga.

Diam-diam Prisa mengabadikan pemandangan itu dalam sebuah potret yang ia ambil dengan senyuman miris. Ia akan mengingat momen ini baik-baik di otaknya.

***

"Karna aku sudah nurutin kamu seharian ini, jadi aku ingin tidur satu kamar sama kamu malam ini!" Pramana mendumel saat keduanya naik ke tangga menuju kamar masing-masing.

Tersenyum, Prisa tak menggubris ucapan pria itu. Ia melongos masuk ke kamarnya dan menghalang Pramana di depan pintu ketika pria itu hendak mengekorinya masuk.

"Pleasee, satu malam. saja, Pris. Aku janji gak nuntut macam-macam. Cuman meluk kamu dan tidur semalaman." Bujuk Prama lagi. "Lagian aku capek seharian ini keliling Jakarta, ikutin kamu datengin rumah temanmu satu per satu. Gak mungkin kan aku nyari 'kerjaan' lagi malam ini."

Prisa berdecak sebal. Berlebihan sekali Pramana ini. Ya, memang sih tadi mereka main ke beberapa rumah teman Prisa, tapi nggak sampai keliling Jakarta juga.
Melipat tangan di dada, Prisa berujar, "Orang kencan mana bisa tidur bareng cobaa?" Tantang wanita itu.

"Masa bodoh," bentak Prama. Ia menerobos masuk ke kamar. "Kita pasangan menikah, bukan pasangan kencan. Pokoknya malam ini aku ingin tidur dengan kamu sebagai suami istri, bukan--"

Ucapan Prama terputus ketika dilihatnya Prisa meninggalkannya dan berjalan menuju kamar sebelah. Prama mengejar tapi wanita itu sigap menutup pintu, Pramana lantas menggerutu kesal. "Pelit banget, sih, Priiiiis." Teriaknya sambil menumbuk pelan pintu kamar. "Satu malam ajah, please. Aku cuma mau peluk kamuuu."

"Bodooooo," sahut Prisa dari dalam. Pramana mengusap wajah frustrasi. Setengah jam mencoba bernegosiasi, Pramana menyerah ketika Prisa tak kunjung luluh. Ia kembali ke kamarnya, ralat-- kamar yang digunakan Prisa seminggu ini dan berbaring dengan mendekap guling yang meninggalkan wangi Prisa.

***

Pramana nyaris terlelap ketika merasakan pergerakan di depannya. Mata pria itu terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Prisa yang begitu dekat dengan wajahnya.

Mengerjap beberapa kali, kepala Pramana mundur dengan mata yang menyipit hanya untuk mengkroscek kebenaran penglihatannya.

"Pris?" panggilnya serak.

Prisa tersenyum. "Malam ini saja, yah kita tidur sama-sama, Pramana. Janji?"

Tidak sampai dua detik setelah ucapan Prisa meluncur, pria itu mengangguk antusias. Detik selanjutnya Ia merengkuh tubuh Prisa dan membawanya ke dalam pelukan.

"Aku kangeeeeeeeen," aku Prama sembari membenamkan ujung hidungnya ke ubun-ubun Prisa. "Udah hampir---"

"Ssssttt..." Prisa memperingati Prama untuk diam. Wanita itu membalikan posisinya hingga membelakangi Prama dan memerintahkan Pria itu agar menyelimutinya dengan pelukan. Dengan senang hati Pramana melakukannya. Memeluk Prisa, cukup erat namun tetap memberikannya ruang untuk bernafas.

Pada akhirnya pelukan hangat yang berbulan-bulan sudah tak dirasakan keduanya itu mengantarkan mereka pada tidur yang nyenyak dan tentram malam itu. Mereka mengabaikan hati masing-masing yang terluka karna merasa harus mendapatkan kenyamanan dalam kepura-puraan...

***

Pukul 03.00 dini hari, Prisa terbangun. Pelan-pelan wanita itu melepaskan pelukan Prama dan bangkit. Ia mengeluarkan agenda dari dalam laci lemari dan membaca kembali deretan tulisan di dalam list-nya. Mata Prisa memindai barisan kedua dalam list tersebut. Kemudian bolpoin di dalam tangannya bergerak mencontreng item ke dua.

2. Mengenalkan Prama dengan duniaku ✔

Sejenak Prisa menatap wajah tidur pria itu dan berbisik pelan, "Aku sudah tidak sabar Pramana. Tidak sabar memberimu hadiah terbesar. Kalau tiba saatnya, kamu yang akan mencontreng sendiri item nomor lima dengan tanganmu!" Ujar wanita itu kemudian melangkah meninggalkan Pramana menuju ke kamar sebelah.

Prisa tidak tau, dalam diam ada sepasang mata yang masih terjaga dan sepasang telinga yang mendengarkan dengan jelas apa yang ia ucapkan barusan...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top