Empat
"Pris, bangun dong! Udah jam 11 nih."
Prama yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias, mengerling kesal ke arah istrinya yang masih bergulat dengan selimut dan bantal.
Setelah menyiapkan sarapan Prama pukul 05.30 subuh tadi, Prisa kembali tidur dan kemungkinan akan bangun di atas jam 12 siang--hal yang selalu dilakukan wanita itu selama lima hari mereka resmi menjadi suami istri.
Matahari sudah semakin meninggi dan cahayanya masuk menerebos lewat celah ventilasi, menciptakan efek hangat di wajah Prisa yang terpapar langsung sinarnya. Wanita itu membiarkan rasa kantuk bermanjaan dengan matanya.
Prama mendekat ke ranjang, menepuk-nepuk pipi istrinya pelan. Wanita itu hanya bergumam tidak jelas dan memutar posisinya membelakangi Prama.
"Sayang, aku laper." Tubuh Prama menunduk, lelaki itu berbisik di telinga Prisa, "Masakin sesuatu dong."
Dengan gerakan liar, Prisa mengacak-acak rambutnya. "Aku tuh masih ngantuk, Praamanaa," protesnya, "dan aku capek. Salah kamu sendiri gak ngasih kesempatan aku tidur sampe subuh," rutuk wanita itu dengan mata terpejam.
Setelah mengajak Prisa 'begadang', Prama tertidur tanpa dosa dan Prisa-- yang walaupun sangat lelah dan mengantuk--menyempatkan dirinya membuat jus jeruk dan roti panggang untuk suaminya. Rasanya baru beberapa menit ia kembali tidur, Prama sudah membangunkannya lagi.
Ah, jadi istri itu tidak seindah di sinetron yang pagi-pagi sudah dandan cantik dan menyiapkan semuanya lalu menyambut anak-anak dan suami di meja makan dengan cantik dan senyum merekah. Itu bullshit!
Selama lima hari ini, kalaupun Prisa bisa membuatkan sarapan berat untuk Prama, menyiapkan segala keperluan suaminya, itu semua terjadi karena dia mengabaikan keadaan dirinya sendiri yang menggenaskan. Alih-alih tampil cantik, bisa cuci muka sambil menemani Prama sarapan saja sudah syukur. Selalu ada hal yang terabaikan jika ia memprioritaskan sesuatu. Semua tidak bisa berjalan beriringin.
"Buruan dong, sayang. Aku janjian ketemuan dengan penyuntik modal nih, jam 11.30."
Mata Prisa sempurna terbuka. Ia duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Pertemuan lagi?" tanyanya tidak suka. "Kita udah lewatin lima hari masa honeymoon kita tanpa ngapa-ngapain karena kamu terus sibuk dengan rutinitas kamu!" tunjuk Prisa di depan wajah Prama.
"Tinggal dua hari loh, Pram," wanita itu berdiri dari ranjang, menyeret tubuhnya yang hanya tertutup kemeja kebesaran milik suaminya. Ia melipat kedua tangan dan memandang ke luar jendela besar, dengan wajah yang tertekuk jengkel.
Pramana meloloskan napas kasar dari paru-paru, ia melenggang mendekati istrinya yang tengah merajuk. "Hari ini ajah, Pris. Please. Ngertiin aku, yah?" bujuk pria itu sembari menyapu punggung istrinya. Prama percaya bahwa suara pelan penuh rayuan dan usapan kecil adalah komposisi tindakan yang paling pas 'dicemilkan' untuk perempuan dalam mode merajuk seperti ini.
"Kalau aku berhasil buka cabang hotel di sini, itu untuk masa depan kita juga kan? Untuk kebahagiaan jangka panjang kita."
"Halaaah udah lah." Prisa menepis tangan Prama di bahunya. Ia bosan mendengarkan bujukan sejenis yang selama tiga hari ini Prama lontarkan ketika ia menuntut suaminya itu untuk menemaninya jalan-jalan mengitari kota Malang---tempat yang Prama pilih untuk menghabiskan bulan madu mereka.
Andai saja Prisa tahu Prama mengajaknya ke sini dengan tujuan terselubung, ia tidak mungkin mengiyakakan ajakan Prama dan lebih memilih bulan madu ke ujung Timur Indonesia. Di Raja Ampat misalnya. Sayangnya, ia terhipnotis janji Pramana yang mengiming-iminginya dengan hal-hal menarik seputar kota Malang.
Ternyata setelah lima hari di sini, tak ada satu pun agenda bullshit itu yang mereka jalankan karena padatnya kegiatan Prama yang sibuk bertemu dengan beberapa penyuntik modal untuk tujuannya membangun cabang pertama hotelnya di sini. Pada akhirnya ... semua agenda tersebut hanya menjadi wacana tak terealisasikan.
"Kebahagiaan jangka panjang?" Prisa mencemooh. "Omong kosong apa itu?" Wanita itu mencecar suaminya dengan intonasi suara yang mengintimidasi penuh dan tatapan murka.
Prisa menambahkan, "Kebahagiaan sederhana saja hanya jadi wacana, gimana dengan kebahagiaan jangka panjang?" Nada pertanyaan Prisa mengandung skeptisme kental. Ia tertawa sarkatis setelahnya. "Penuhi dulu tuh janji kamu untuk menyenangkan aku di sini, bukan di atas ranjang saja!" bentak wanita sebelum berlalu ke kamar mandi.
Prama memijat pelipis. Ini nih, hal-hal yang ia takutkan sekaligus paling dihindarinya. Meminta pengertian perempuan tentang kesibukan pekerjaan hampir tidak mungkinnya dengan meminta ijin mereka untuk menikah lagi dengan wanita lain. Perempuan pengertian itu hanya takhayul!
Okay. Prama tahu, dia cukup jahat, membiarkan Prisa berhari-hari terkurung di rumah milik temannya yang mereka tinggali selama di sini. Hanya saja, ia berharap Prisa bisa sedikit memahami alasannya. Toh kalau ia berhasil melobi penyuntik modal dan keinginannya untuk membangun cabang hotel di sini terwujud, pada akhirnya Prisa-lah yang paling mendapatkan banyak keuntungan atas itu.
Iya, Prisa istri Prama. Keberhasilan Prama adalah keberhasilan untuknya juga. Mapannya Prama berarti mapan juga keluarga mereka kelak. Kenapa hal sesederhana itu saja tidak bisa diterima oleh otak logis wanita?
Prama mengacak rambutnya frustrasi. Dengan berat hati ia melangkah, membuka pintu kamar mandi dan mendapati istrinya tengah menangis di atas water closet.
"Dua jam saja Pris," Prama bernegosiasi. "Kamu temani aku. Kita sama-sama ke sana, setelah itu, aku ngikut ke mana pun kamu mau. Kita geledah kota Malang semaumu. Yah?"
Prisa menghapus air matanya cepat. "Nggak usah sok baik!"
Nah, kan? Perempuan... oh perempuan....
Prama mengabaikan rasa kecewanya atas sikap Prisa, lelaki itu mendekat dan berlutut di depan kaki istrinya. "Jangan marah. Ini semua untuk masa depan kita juga. Please,;kali ini saja aku minta kamu ngerti, yah?"
"Kali ini?" ulang Prisa tidak suka, "ngerti?" Prisa tertawa hambar. "Yang kemarin-kemarin itu apa namanya kalau bukan ngerti, Pram?" Tatapan mata luka Prisa hadiahi untuk Pramana yang tengah mengamati wajah penuh air matanya itu.
"Kita ke sini tuh honeymoon, Pram. Tapi kamu manfaatin itu untuk kerja. Dari hari pertama sampai sekarang aku gak pernah melangkah ke luar dari rumah ini dan nunggu kamu seharian."
Prisa menyetok boros oksigen ke paru-parunya, perempuan itu kembali mengeluh, "Kamu selalu pulang jam 02.00 dini hari. Minta maaf, ngerayu dengan pelukan, sentuhan, cumbuan kamu, biar aku tenang. Tapi, aku nggak butuh itu, Pram!" Tangisan Prisa semakin meledak, ia memukul-mukul bahu suaminya. "Aku maunya kamu luangin waktu kamu, nemenin aku. Karena bulan madu itu bukan melulu hanya aktifitas di ranjang, Pramana!"
Prama berkata pelan, "Maaf, Pris."
Ada rasa kecewa yang mengental di dada Prama. Dia baru tahu Prisa bisa seribet ini hanya menyangkut dengan waktunya. Sedikit banyak, hal itu menakuti Prama. Mengingat bagaimana kesibukannya selama ini, jam kerja yang tidak tentu, jam pulang juga tidak pasti. Dia yakin, ke depan, masalah mereka banyak berasal dari hal ini.
"Kamu mandi yah sayang? Biar aku yang siapin sarapan untuk kita. Abis ini, kamu temenin aku, kita meeting sebentar, aku janji akan nemenin kamu jalan-jalan hari ini. Please...," mohon lelaki itu seraya menghapus air mata istrinya.
Prisa tak menjawab. Tidak juga luluh. Dia jelas masih marah namun memutuskan untuk mengikuti perintah Prama. Berdiri dan menghidupkan shower, mengguyur tubuhnya yang masih dibalut kemeja Prama.
Prama menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya, ia melangkah keluar menuju dapur kecil rumah itu dan mengecek bahan makanan apa yang bisa dimasak untuk sarapan mereka. Dilihatnya telur dan beberapa potong sosis, ia memutuskan untuk membuat omlet sosis saja.
***
"Oh, Pramana Robert, hai... senang bertemu denganmu."
Seorang pria berusia sekitar 50 tahunan menyapa Prama dengan ramah ketika Prama mendekati meja yang dipesan di dalam restoran sebuah hotel. Prama tersenyum sopan dan balas menyapa.
"Pak Rayan, senang bertemu denganmu juga. Bagaimana kabar Anda?"
"Baik-baik Prama, silakan duduk." Rayan menunjuk kursi di balik meja bundar besar di depannya. Pramana mengangguk, mengikuti instruksi dan duduk dengan sopan.
"Isrimu di mana? Aku dengar kamu baru menikah beberapa hari lalu?" tanya Pak Rayan seraya menggulir tatap ke sekeliling penjuru restoran.
Prama tersenyum simpul. "Lagi di hotel, Pak. Istirahat. Dia masih capek mungkin aku ajak lembur semalaman," jawabnya sengaja menyelipkan candaan. Berhasil, Rayat tertawa terbahak-bahak menanggapi.
"Aku tahu, aku tahu, kalian pengantin baru yang masih menggebu-gebu. Tentu saja istrimu itu masih capek dengan aktifitas kalian." Rayan mengusap kumis tebalnya. "Aku iri pada gairah pengantin baru. Sudah lama sekali rasanya urusan ranjangku membosankan. Aku dan istriku pun tidurnya sudah saling memunggungi. Apalah daya orang tua renta seperti kami."
Prama tertawa sopan, ia meneguk air putihnya sebelum ikut menimpali, "Mungkin kalian butuh liburan, dan bulan madu lagi, Pak Ray. Hanya berdua. Saya rekomendasi Raja Ampat untuk romantic trip. Ada yang bilang, pantai bisa meningkatkan romantisme pasangan, juga membakar lagi gairah-gairah yang sudah lama tenggelam." Prama mencopy kalimat Prisa yang digunakan wanita itu waktu membujuknya bulan madu di Raja Ampat kemarin.
Rayan menggangguk antusias. Telunjuknya teracung di udara. "Ide bagus!" seru pria itu seraya tersenyum lebar. "Kamu tahu?" Dia mencondongkan badan dan memelankan nada suaranya lalu berbisik, "Selama 22 tahun menikah, aku dan istriku selalu melakukannya di kamar. Hustru itu kami sudah bosan dengan suasananya."
Prama mengikuti tingkah Pak Rayan dengan memajukan lagi badannya, "Kalau begitu kalian butuh suasana baru, terima saja sarankanku, Pak. Mungkin setelah pulang dari liburan kalian bisa dapatkan seorang bayi lagi."
Rayan terbahak-bahak mendengar candaan Pramana. iyah, istrinya memang baru berusia 40 tahun dan belum dinyatakan manopouse, tapi rasanya mempunyai bayi di umur yang nyaris menginjak angka 50 sangatlah geli di bayangkannya.
"Jadi, bagaimana kabar Ayahmu? Kawanku itu lututnya masih kuat untuk naik tangga kan?" Rayan terkekeh, kerutan di bawah matanya tercetak jelas. "Oh, yah, berapa banyak yang kamu butuh untuk usahamu ini?"
Prama tersenyum hangat menyambut penawaran ini. Akhirnya usahanya berhasil. Tidak sia-sia ia menyelingkuhi acara bulan madu mereka dengan pekerjaan kalau akhirnya semua yang diusahakannya berbuah manis.
***
Beberapa meter di belakang meja Prama, Prisan menempati meja di sudut restoran tersebut. Dengan perasaan jengkel setengah mati, wanita itu mengawasi kedua pria tersebut yang tampak tengah tertawa lepas di sana. Prisa memutar minumannya dengan sedotan lalu menyeruput dengan berisik.
Lagi-lagi Prisa luluh dengan permintaan Prama yang tidak ingin melibatkannya dengan acara makan siang. Alasannya, Prisa bisa mati kebosanan mendengar obrolan seputar bisnis mereka. Akhirnya Prisa menurut dan duduk terpisah dengan Prama sambil menunggu kedua pria itu selesai makan siang. Prisa tidak sabar ingin jalan-jalan berdua hanya dengan suaminya tanpa diganggu oleh urusan-urusan pekerjaan Prama.
Tiga jam menunggu, sudah empat gelas minuman yang Prisa habiskan, belum ada tanda-tanda mereka akan mengakhiri obrolan itu. Jam sudah menunjukan pukul 03.20. Dengan tidak sabar, Prisa mengeluarkan ponselnya dan mengetikan WA untuk suaminya.
ErikaPrisa : Pram...
ErikaPrisa : Prama, aku bosen 😕
ErikaPrisa : Sudah 3 jam aku nunggu 😟
Tidak ada satu pun pesan Prisa yang dibalas bahkan dibaca suaminya. Pria itu justru sedang tertawa cekikikan di sana. Dengan sisa-sisa tenaganya Prisa memutuskan untuk menunggu sebentar lagi, sampai satu jam berlalu Prama masih betah di tempat, tidak ada tanda-tanda akan beranjak.
Prisa menyerah, ia memanggil pelayan meminta bill dan membayar lalu dengan kesal berjalan ke luar melewati meja Prama begitu saja tanpa mau menyapa suaminya.
Di tengah obrolannya, Prama menangkap sosok Prisa berjalan menuju pintu. Ia lalu pamit sebentar pada Pak Rayan dengan alasan akan ke toilet, dikejarnya Prisa yang bahkan tengah berlari kecil menuju pelantaran parkir.
"Mau kemana, Pris?" cegat Prama, menahan tangan istrinya. Wanita itu berhenti dan menatap Prama dengan tatapan tajam.
"Menurut kamu?" Prisa berusaha menahan emosi yang akan meledak.
"Kamu jangan kayak anak kecil, Pris! Kamu tahu, aku nggak lagi main-main di dalam."
Prisa masih datar, ia melepas lilitan Prama di pergelangan tangan, tapi suaminya itu malah mengeratkan cengkramannya. "Jangan pulang, tunggu sampai aku selesai!" Prama memerintah masih dengan nada tenang. Walaupun kesal dengan Prisa, tapi ia berusaha menekan emosinya agar tidak memicu pertengkaran lebih jauh.
"Enak di kamu dong, yah? Kamu pikir waktu aku cuman untuk menonton kamu cekikikan dengan rekan kerjamu? Egois sekali kamu!" Dengan satu hentakan keras, Prisa mencoba meloloskan dirinya dari Prama. "Lepasin! Aku mau pulang, kamu lanjut ajah ngobrol sana. terserah selama apa kamu mau. Bila perlu, gak usah pulang sekalian!" bentak Prisa, berang.
Prama tersentak dan diam beberapa detik. Selama ia kenal, baru kali ini Prisa membentaknya sekeras ini, ia menggeleng pelan dan mengusap wajahnya.
"Terserah kamu!" tandasnya. Ia melepaskan tangan Prisa dan kembali masuk ke dalam restoran itu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top