Levi

Hari-hari di regu Levi Ackerman terasa semakin sempit bagiku. Bukan karena medan latihan atau perintah yang terlalu berat--itu sudah sewajarnya--tapi karena orang-orang di dalamnya seolah sepakat untuk tidak benar-benar menganggapku ada.

Aku selalu berdiri di barisan yang sama, menerima perintah yang sama, namun setiap kali aku mendekat, percakapan berhenti. Saat aku mencoba berbicara, mereka menjawab seperlunya, lalu pergi tanpa menunggu.

Aku tahu posisiku. Aku anggota baru. Aku ceroboh, sering sala. Dan yang paling buruk, aku terlalu sering diperhatikan oleh Kapten Levi.

"(Y/N), fokus."

Suara itu selalu datang tepat saat aku melakukan kesalahan sekecil apa pun. Aku langsung menegakkan tubuh, memperbaiki posisi dengan cepat.

"Kau mau mati?"

Aku menggeleng, berusaha menghalau pikiranku.

"Jika tidak, berhenti bertingkah seperti orang bodoh."

Nada suaranya datar, dingin, tanpa emosi. Tidak pernah ada belas kasihan dalam setiap tegurannya. Dan setiap kali itu terjadi, aku bisa merasakan tatapan orang lain--beberapa menahan tawa, beberapa terang-terangan meremehkan.

Aku menunduk sedikit, menahan semua perasaan itu. Aku menghormatinya sebagai kaptenku, tentu. Tapi itu tidak membuat semuanya lebih mudah.

Latihan berakhir, dan seperti biasa, mereka pergi berkelompok. Aku mencoba berjalan di belakang mereka, menjaga jarak yang sopan, berharap setidaknya bisa ikut dalam diam. Tapi langkah mereka justru dipercepat. Salah satu dari mereka melirik ke arahku, berbisik pelan, lalu mereka berbelok menjauh.

Aku berhenti. Tidak ada yang menoleh.

Aku menarik napas pelan, lalu berbalik arah tanpa mengatakan apa pun.

Jika kehadiranku memang tidak diinginkan, tidak ada alasan untuk memaksakan diri.

Lapangan latihan perlahan kosong. Aku berjalan ke tepi, ke bawah pohon yang berdiri agak jauh dari area utama. Tempat itu cukup sepi, cukup jauh dari pandangan orang lain.

Aku duduk di sana, menjaga postur tetap rapi meski tidak ada yang melihat. Tangan di atas lutut, punggung tegak, seperti saat masih diawasi.

Beberapa saat kemudian, aku menurunkan bahu sedikit, menghela napas lelah-- Tentu saja bukan karena latihan.

Aku menunduk, menatap tanah.

Mungkin memang ini tempatku. Bukan di antara mereka, tapi di luar, cukup jauh agar tidak mengganggu.

Suara langkah terdengar. Ringan, teratur, dan tidak terburu-buru.

Aku langsung menegakkan tubuh lagi tanpa sadar. Langkah itu berhenti di dekatku.

"Kenapa kau di sini?"

Aku tidak langsung menoleh. "Hanya... sedang istirahat, Kapten."

Tak seorang pun bicara selama beberapa saat. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya yang biasa.

Lalu, pria itu menyilangkan tangannya dan berdecak.

"Kau mengganggu pemandangan."

Aku menunduk sedikit. "Maaf, Kapten."

"Kau menyedihkan."

Jawabannya cepat, nyaris memotong. Lalu beberapa detik kemudian, bayangannya bergerak, dan tanpa banyak suara, dia duduk di sisiku.

Semestinya aku berdiri-- Dia toh tidak menyuruhku pergi. Jadi aku diam dan tetap di posisi semula.

Keheningan di antara kami membuatku sedikit gugup, tapi aku tetap berusaha menjaga ekspresiku untuk terlihat tenang. 

"Latihanmu buruk."

"Ya, Kapten."

"Kau harus lebih fokus lagi."

"Ya, Kapten."

Lalu keheningan datang lagi seperti bumerang yang kembali dalam sekejap setelah baru saja dihempas pergi. 

Kepala pria itu tertoleh ke arahku, matanya mendarat ke mataku yang kebetulan sedang memperhatikannya. Canggung, buru-buru kulempar tatapanku ke tanah dan menarik napas.

Namun dia bahkan tidak bergerak sedikit pun, masih menatapku dengan ekspresi datarnya yang khas.

"Kau tahu kenapa mereka menjauhimu?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam sedikit lebih lama.

"Karena... saya tidak cukup baik." gumamku pelan.

Dia tidak langsung menanggapi. Setelah beberapa saat, kepalanya terangguk.

"Itu salah satunya."

Aku menggigit bibirku. Dadaku terasa sesak.

"Dan yang lainnya?"

"Kau terlalu memperhatikan mereka." 

Aku sedikit mengernyit, tapi tidak berani menoleh langsung.

"Tentara yang sibuk memikirkan bagaimana dia dilihat orang lain biasanya mati lebih cepat." 

Nada suaranya tetap datar, tapi kali ini tidak terasa seperti hinaan. Lebih seperti pernyataan.

"Maaf, Kapten--"

"Berhenti minta maaf untuk hal yang tak berguna."

Aku mengangguk kecil.

Hening kembali turun di antara kami, tapi kali ini tidak seberat sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku tidak sendirian--meskipun yang duduk di sampingku adalah orang yang paling membuatku tertekan.

Setelah beberapa saat, Kapten Levi berdiri.

"Besok datang lebih awal."

Aku langsung mengangkat kepala. "Apa akan ada latihan tambahan, Kapten?"

"Ya. Kalau tidak diperbaiki sekarang, kau hanya akan mempermalukan regu."

Aku tertunduk malu, mengangguk. "Saya mengerti, Kapten."

Dia melirik sekilas. "Dan berhenti duduk sendirian di sini seperti orang yang menunggu dikasihani."

Aku menahan napas.

Pria itu melanjutkan, "Kalau kau ingin diakui, buat mereka tidak punya pilihan selain mengakuinya."

Lalu dia berjalan pergi begitu saja. 

Aku tetap duduk di tempat semula dengan punggung yang tegak, tangan masih di atas lutut. Tapi kali ini, dadaku terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena semuanya berubah, tapi karena, entah bagaimana, Kapten Levi tidak benar-benar meninggalkanku sendirian.

***

Keesokan harinya aku datang lebih awal, jauh sebelum matahari benar-benar naik. Lapangan masih kosong, udara dingin menusuk, dan embun masih menempel di rumput. Aku berdiri tegak di tengah lapangan, menunggu tanpa bergerak sedikit pun.

Langkah itu datang seperti biasa. Tenang dan teratur.

Lalu Kapten Levi menatapku sebentar dan mengalihkan pandangan ke arah lapangan yang masih kosong.

"Ayo."

Tanpa penjelasan, dia berjalan lebih dulu, dan aku mengikutinya dari belakang. Kami tidak menuju lapangan latihan, melainkan keluar ke arah hutan di luar markas.

Aku ingin bertanya apa yang sedang ia rencanakan dan ke mana semua orang, tapi aku mengurungkan niatku. Aku hanya akan mempercayakan sisanya kepada pria itu. 

Kami pun tiba di bagian terdalam hutan yang terasa lebih sunyi. Cahaya matahari yang baru terbit hanya masuk sedikit di antara celah-celah daun. Kapten Levi berhenti di area yang cukup terbuka, lalu menoleh ke arahku.

"Pakai perlengkapanmu."

Aku menurut dan menyiapkan perlengkapan latihan yang biasa kupakai sehari-sehari. Begitu aku selesai dan kembali berdiri dengan tegak di seberangnya, ia mengeluarkan belati dari sabuknya.

"Serang aku."

Aku membeku. "K-Kapten?"

"Kalau kau ragu, kau mati. Ayo."

Aku menggertakkan gigi, lalu mulai bergerak. Dengan ODM Gear, aku melesat ke udara, mencoba menyerangnya dari samping. Namun, hanya dalam hitungan detik, aku berhasil dijatuhkan. Tubuhku menghantam tanah cukup keras.

"Terlalu lambat."

Aku langsung bangkit lagi dan kembali melesat, kali ini aku akan menyerangnya dari belakang-- dia menjatuhkanku lagi.

"Gerakanmu gampang dibaca."

Dan lagi.

"Kau terlalu panik."

Dan lagi...

"Gerakanmu berisik."

Aku terengah. Napasku mulai tidak beraturan, tetapi itu tak menghentikan Kapten Levi. Setiap kesalahanku langsung dihentikan, diperbaiki, dipaksa untuk terus mengulangnya sampai dapat hasil yang menurutnya benar.

"Lihat aku."

Aku mengangkat pandanganku. 

Dalam satu gerakan singkat saja, dia menunjukkan jalur, sudut, dan pewaktuan yang tepat--semuanya cepat, efisien, tanpa gerakan sia-sia.

"Kau punya kekuatan, (Y/N), tapi kau membuang-buang tenagamu dengan kecerobohan."

Aku menahan napas.

"Kalau kau terus seperti itu, kau akan mati sebelum sempat berguna."

Aku mengangguk pelan. "Saya akan memperbaikinya, Kapten."

Pria itu berhenti sejenak dan menatapku cukup lama hingga akhirnya mengangkat bahu. 

"Aku tahu."

Itu bukan sebuah sindiran. 

Aku terdiam sejenak saat sesuatu yang aneh mengusik perutku. Aku pun berkedip dan berusaha mengembalikan fokusku dan melanjutkan latihan hari itu dengan Kapten Levi.

Berikutnya terasa lebih tenang, fokus, dan tak terburu-buru. 

***

Beberapa waktu kemudian, dia akhirnya menghentikan latihan. Napasku terasa berat, tubuhku penuh keringat dan debu, tapi aku masih berdiri.

Bagiku itu sudah suatu kemajuan.

Kapten Levi berjalan ke bawah pohon terdekat, lalu duduk tanpa banyak bicara. Aku ragu untuk sesaat, lalu mendekat dan berdiri beberapa langkah darinya.

"Duduklah."

Aku langsung duduk berseberangan dengannya.

Keheningan menyelimuti jantung hutan itu, hanya ada suara hembusan angin dan daun yang saling bergesekan dari atas kepala kami, juga sesekali suara kicauan burung di kejauhan.

Setelah mengambil napas beberapa saat, aku merasa lebih rileks, walaupun sadar akan siapa yang berada di hadapanku sekarang. Dan, meski pria itu merupakan salah satu sosok yang disegani di divisi kamu, aku merasa jauh lebih tenang bersamanya dibanding dengan yang lainnya.

"Kapten Levi," panggilku lirih.

Dia tak menoleh. "Apa?"

"Kenapa Kapten memilih saya untuk menjadi anggota regu anda?"

Pria itu hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya membalas tatapanku.

"Kenapa tidak?"

"Eh?"

"Maksudku, ya. Memang kau ceroboh, lambat, dan terlalu banyak berpikir hal tidak penting,"

Aku berkedip. "Tapi?"

"Tapi kau tidak lemah."

"Tidak lemah, ya?" Pandanganku jatuh ke tanah selama beberapa detik, lalu kembali terangkat untuk menemui tatapannya. "Apa yang membuat anda memberi saya penilaian tersebut?"

"Di hari pertama kau dan kadet lainnya datang dan mengikuti tes," Dia berhenti untuk berpikir sejenak. Frustasi karena tak dapat menemukan kata-kata yang sesuai, ia hanya mengangkat bahu dan menghela napas. "Begitulah. Intuisiku saja. Skormu tertinggi dalam kemampuan serangan jarak dekat dan jarak jauh. Itu sangat jarang. Dan, jangan terlalu berbesar hati dulu, tapi aku rasa kau berpotensi untuk memimpin regumu sendiri suatu saat nanti."

Mendengar hal itu membuat hatiku terenyuh. Kuangkat pandanganku ke langit dan tanpa sadar bergumam, "Terima kasih, Kapten. Saya lega."

"Apa?"

Aku tersipu, terkejut bahwa dia bisa mendengarku. Aku tersenyum canggung, lalu menjawab sambil menggaruk leherku dengan malu-malu,

"Y-Yah.. Saya pikir semua orang membenci saya."

Tak ada yang berbicara lagi setelah aku berkata seperti itu. Sesaat, kupikir mungkin aku salah bicara.

"Aku tidak peduli mereka membencimu atau tidak." Ucapnya akhirnya. "Selama kau tidak mati sia-sia, itu cukup."

Aku menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar, sudut bibirku terangkat sedikit-- Kata-katanya kasar, tapi anehnya itu terasa seperti bentuk perhatian. Dan tanpa bisa kutahan, aku terkekeh pelan. Suara itu bahkan membuatku sendiri terkejut.

Kupikir lagi, mungkin aku telah salah. Karena setelah itu, Kapten Levi benar-benar mematung. Matanya terkunci di wajahku dengan ekspresi datar yang khas dirinya, namun..

Kusadari bahwa matanya sedikit lebih lebar dari yang biasa. Mungkin bukan marah, karena tatapannya tidak terasa dingin. Sebaliknya, sorot matanya justru terasa... hangat, kali ini. 

Aku lalu merasa jantungku berdebar hebat.

Bagaimana tidak..

Aku baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ujung telinga pria itu... sangat merah.

Menyadari tatapanku, dia langsung memalingkan wajah dan berdeham pelan.

"Kalau kau sudah cukup istirahat, kita lanjut."



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top