Extra Part
Satu tahun lalu.
"Anda akan tinggal di mana, Ketua? Sebaiknya Anda mencari tempat yang tidak disangka musuh."
"Kau benar. Aku sedang memikirkan untuk berbaur dengan masyarakat," jawab Jonggun. Dia menatap ke luar jendela mobil yang menampilkan pemandangan kota Seoul. Kota yang telah ia tinggali selama beberapa tahun, sejak SMA hingga sekarang dia memimpin perusahaan milik keluarga Yamazaki dari Jepang.
"Tempat tinggal Anda yang kemarin sudah tidak aman. Bagaimana kalau perumahan, Ketua?" kata bawahan Jonggun.
Perumahan, ya ..., batin Jonggun. "Tolong carikan. Kalian turunkan aku di perusahaan dan tinggalkan mobil."
"Baik, Ketua."
°˖ ⊹ ꒰𖠔꒱ ♡
"Jadi, Anda memilih perumahan ini?" tanya Song Tae Oh. Ia mengarahkan mobil masuk kawasan elit yang menjadi pilihan sang atasan. Kesan pertama adalah tenang dan mewah. Masing-masing rumah memiliki halaman yang agak luas. Tidak berdempetan.
"Ya ... di sini aman dan tak akan ada yang menduga aku tinggal di tempat ini," jawab Jonggun.
"Baiklah. Saya akan bicara dengan pemiliknya. Bagaimana kalau Anda menunggu di kafe dulu, Ketua?" tawar Song Tae Oh ketika melihat kafe yang dibangun khusus untuk kawasan elit ini.
Jonggun turun dari mobil. Masuk ke kafe. Urusan tempat tinggal ia limpahkan semua pada Song Tae Oh--bertemu pemilik dan berbincang-bincang--jadi Jonggun cukup memilih saja. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengatasi masalah musuh hingga tidak punya waktu untuk mengurus rumah. Jonggun menyesap kopi yang baru saja dibawakan oleh staf kafe--table service. Ia memandang ke luar. Mengamati area perumahan yang sepi.
Jonggun bosan. Setelah kopinya habis dan membayar, dia keluar dari kafe. Berjalan-jalan sambil mengintai area. Beberapa rumah dia lewati, tampak sunyi seperti tidak berpenghuni. Mungkin orang yang tinggal di sini lebih fokus pada kehidupan masing-masing. Yah, itu bagus. Tiba-tiba dia mendengar suara anak kecil menangis. Jonggun terus melangkah hingga suara itu terdengar jelas. Dia menoleh ke kiri, mendapati sebuah playground. Di sana, ada anak kecil yang sedang dipeluk wanita berambut pirang. Perempuan itu tampak menenangkan si anak yang menangis.
Jonggun berhenti melangkah. Melihat pemandangan itu membuatnya teringat akan masa lalu. Dirinya yang dulu tak mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Tak pernah diberi kesempatan merasakan cinta. Melihat wanita asing itu memeluk anak kecil membuat perasaan aneh muncul dalam dada Jonggun. Rasa damba akan keluarga normal yang sudah berubah jadi rasa pahit.
"Kakak, kepalaku sakit banget," keluh si anak kecil.
"Sakit sekali, ya? Mau Kakak temani pergi ketemu orang tua kamu?" tanya si wanita.
Sang pria memperhatikan wajah sang gadis. Tampak masih muda. Senyum yang lembut dan tatapan mata yang tenang. Jonggun akui, wanita itu adalah yang tercantik dari semua perempuan yang pernah menemaninya dulu. Mungkin berlebihan, tapi melihat perempuan itu langsung membuatku berpikir begini, batin Jonggun. Ia mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan langkah--sebelum dianggap aneh karena memperhatikan orang.
°˖ ⊹ ꒰🌱꒱ ♡
"Ini rumah Anda, Ketua," kata Song Tae Oh. Dia memberikan kunci rumah pada sang atasan.
Jonggun membuka pintu. Lalu masuk. Ia memperhatikan isi rumah yang kosong. "Pindahkan barang-barangku hari ini dan tambahkan perabotan rumah."
"Baik, Ketua."
Keesokan paginya. Jonggun mulai menempati rumah baru. Semalam, para bawahannya sudah bekerja keras membawa semua barang dan perabotan untuk diisi di rumah ini. Hanya bawahan yang dia percayai dan Song Tae Oh saja yang boleh datang.
Jonggun membuka pintu kamar. Dia melepas jas dan dasi. Lalu menggulung lengan kemeja. Ia melihat ke balkon yang dipasangi tirai putih. Matanya menyipit ketika melihat siluet orang di balkon rumah seberang. Jonggun baru sadar kalau kamarnya ini berhadapan dengan kamar tetangga. Ia menghela napas. Lalu melangkah mendekati pintu balkon, hendak menutup tirai rapat-rapat karena dirinya tidak mau bersosialisasi dengan orang tidak penting. Namun, gerakannya berhenti ketika melihat wajah orang yang duduk di seberang sana. Seorang wanita. Perempuan berambut pirang. Gadis yang dia lihat di taman kemarin bersama anak kecil.
Dia tinggal di rumah seberang? batin Jonggun. Mengernyit. Apakah ini hanya kebetulan? Hidup dalam bahaya membuat Jonggun harus mencurigai orang-orang yang dia temui. Ia kembali memperhatikan si gadis yang tampak santai membaca buku. Melihat ketenangan itu membuat kewaspadaan Jonggun perlahan runtuh. Pertanyaan lain muncul dalam kepala. Siapakah nama wanita itu?
°˖ ⊹ ꒰🌱꒱ ♡
Jonggun membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah punggung seorang wanita yang tidak tertutup apa pun. Ia mengerjap. Lalu mencium kulit putih itu dengan lembut sambil mengeratkan pelukan. Jonggun menaruh wajah di antara lekukan leher si wanita yang merupakan istrinya. Yuna.
Yuna masih terlelap dalam mimpi. Sepertinya kegiatan semalam cukup menguras tenaga dan waktu tidurnya. Ia sampai tidak terganggu ketika Jonggun mulai mengusap dan mencium dirinya.
Ah, tadi aku bermimpi tentang pertemuan pertamaku dengan Yuna, ya, batin Jonggun. Dia mengecup puncak kepala Yuna. Tak pernah ada di pikirannya bahwa hubungan ia dan sang wanita bisa sedalam ini. Ia pun tidak menyangka bahwa perasaannya pada Yuna begitu besar hingga mereka memutuskan untuk mengucapkan kalimat sakral beberapa bulan lalu.
"Hmm ... Jonggun." Yuna berbalik menghadap sang pria. Ia mengerjap. Lalu mengusap wajah Jonggun dengan lembut. "Selamat pagi."
"Pagi, Yuna."
°˖ ⊹ ꒰🌱꒱ ♡
Uyeaaah, ekstra chapter-nya pun upload! Dari awal nulis cerita ini, aku memang sudah rencanain kalau pertemuan pertama mereka jadi flashback singkat aja di ekstra part. Cuma ya baru sekarang aja bisa dilanjutkan.
Kita ketemu di In The Quiet Corner of Memories dan Echoes Of Her Soul, ya! Baybay!
Regard,
Ann White Flo
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top