8 - Cara Bermain

"Berisik banget sih lo pada!" Teriak Metta. "Gue gak mau jalan sama kalian!"

Wahyu dan Adnan meringis ketika mendapati Metta meneriaki mereka. Dengan membawa piring makanan masing-masing keduanya mundur perlahan dan mengambil meja terpisah yang tidak jauh dari sana.

Kevin, ikut tertawa. Ia menepuk pundak Raga sambil lalu kemudian ikut bergabung di meja Wahyu dan Adnan.

"Ga," panggil Metta lagi. "Jangan cuekin gue, ih."

Raga masih tidak menatapnya. Membuat ia menarik mangkuk cowok itu. "Gue mau ngomong."

Raga kemudian menepuk punggung tangan Metta untuk menjauh dari mangkuknya. Melanjutkan makan tanpa bicara.

"Kenapa lo gak jemput gue tadi pagi? Gue kan udah line lo jutaan kali. Dibaca kek apa kek gitu. Gue hampir telat tau gak gara-gara nunggu lo tau,"

Sebenarnya Metta tidak peduli ia terlambat. Ia hanya ingin menarik perhatian Raga sebanyak mungkin saat ini.

"Gue gak nyuruh lo nunggu." Sahut Raga.

"Tapi gue udah kasih tau lo kan tiap pagi jemput gue. Gimana sih,," Metta menendang kaki Raga dari bawah meja. Namun itu sama sekali tidak membuat Raga bergeming.

"Nanti pulang temenin gue pokoknya." Ucap Metta. Mendapati jika Raga kembali sibuk dengan makanannya. Metta nenatap cowok itu tidak percaya.

"Raga,!" Metta merajuk. Ia mengambil tempat sambal ditengah meja dan membuka tutupnya. "Kalo lo diem aja gue makan nih sambel."

Ancaman Metta itu hanya mampu membuat Raga melirik ke arahnya selama 2 detik.

"Beneran gue makan ini sambel," cewek itu menyendok sambal dalam ukuran penuh. "Ga. Gue makan nih!" Lanjut Metta mengarahkan sendok ke mulutnya.

Melihat jika usahanya percuma membuat Metta menurunkan sendok sambal dan mencebik kesal.

"Gak jadi dimakan?" Tanya Raga. Metta tau jika cowok itu menertawakannya.

"Gak. Sakit perut entar gimana. Siapa yang perhatiin gue. Lo aja cuek begini."

Metta mengaduk-ngaduk sambal. "Pokoknya gak mau tau. Nanti pulang temenin gue. Itung-itung nebus tadi pagi lo gak jemput gue. Ya, Ga. Mau ya?"

Raga yang sudah menyelesaikan makannya menggeser mangkuk itu ke samping. Lalu menjulurkan tangan ke arah Metta. Melepaskan tangan cewek itu dari tempat sambal dan menggesernya juga ke samping.

"Apasih lo dari tadi bawel banget?" Tanya Raga pada akhirnya. Cowok itu kini menatap Metta yang membuat Metta tersenyum sumringah.

"Hari ini gue ada pemotretan. Temenin,yah."

"Gak. Males. Ngapain gue disana?"

"Ya nungguin gue. Cuma bentar kok gak bakal lama. Abis itu baru kita ke club?"

"Lo kenapa jadi banyak minta sih sekarang? Rese tau gak."

Metta melipat kedua tangannya diatas meja dan memajukan tubuhnya ke depan. "Gue rese aja lo suka gimana gue gak rese coba," ucapnya dengan tersenyum dan mata berkedip.

Raga yang merasa geli melihat ekspresi Metta menepuk dahi cewek itu dengan telapak tangan.

"Bangun. Ngimpi terus kerjaan lo."

"Bang Raga, semua hal yang kita inginkan itu berawal dari mimpi. Dan mimpi itu gak selalu harus tidur. Gue sekarang gak tidur tapi bisa liat mimpi gue." Ucap Metta dengan bertumpu dagu.

"Lo lebih nakutin kalo ngomong hal kayak gitu,"

"Ck, lo itu ya bener-bener." Metta membawa rambutnya ke satu sisi. "Nanti naik mobil gue aja apa gimana? Atau pake motor lo juga gak papa,"

"Gue gak mau naik mobil lo dan lo gak boleh naik motor gue."

"Oh God!,"Metta berdecak. "Ada apasih sama lo dan motor lo itu. Kemaren gue boleh naik mobil super mewah lo itu. Ini timbang motor doang,"

"Itu mobil punya orang tua gue. Gak masalah siapa aja yang mau naik. Tapi lain urusan kalo motor. Kesian motor gue dinaikin cewek bawel kayak lo."

Sekalinya ngomong, ini cowok minta disambelin mulutnya. Batin Metta.

"Yajadi terus gimana. Iring-iringan lagi?"

Raga mengangkat bahunya.

Metta menengadah dan meremas-remas tangan gemas. Ia mengambil tempat sambal dan menyendok penuh isinya.

"Sini bilang Aaaaa Bang Raga. Biar gue sambelin itu mulut."

***

Mobil yang Raga ikuti dari setengah jam yang lalu berhenti di depan sebuah gedung bercat merah dan hitam. Tampak sangat mencolok ditambah palang nama besar berupa M Entertainment di badan gedung.

Raga memarkir motornya di samping mobil Metta. Ia turun dan langsung merasakan sebuah tangan melilit lengan kirinya.

"Yuk," ajak Metta.

"Gak ada gandeng gandengan. Lepas gak?"

"Ishh, jangan malu malu."

Meski Raga sudah berusaha melepaskan tarikan Metta, namun cewek itu selalu berhasil membuat Raga kesal dengan terus menyapa semua orang yang ia lihat dan memperkenalkannya sebagai pacar.

"Hey Shally, apa kabar? Kenalin ini cowok gue. Namanya Raga."

"Barni, ngapain lo? Jangan gabut mulu. Ini kenalain cowok gue. Cakep kan. Jangan naksir lo awas."

"Lah udin. Gulung kabel jangan melamun. Kesetrum baru tau rasa. Liat dong cowok gue ini."

"Eh Put gue minta minum ya yang dingin dingin. Dua buat gue satu sama cowok gue. Ini, namanya - mmpphhh."

Raga menutup mulut Metta dengan tangannya. "Kalo lo ngenalin gue sama orang yang gue sendiri gak mau kenal disini, gue tinggal."

Metta tersenyum. Ia menurunkan tangan Raga namun cowok itu menahanya tetap disana.

"Gue serius, gila!"

Metta akhirnya mengangguk dan menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk tanda OK. Barulah setelah itu Raga menurunkan tangannya.

"Biar semua tau. Jadi lo gak digangguin bencong sama cewek disini." Ujar Metta. Mereka berdua berjalan melewati kesibukan team studio yang sedang menyiapkan tempat pemotretan.

"Sebaiknya ini cuma sebentar kayak yang lo bilang," Raga mundur dan memilih duduk di sofa. Mereka sudsh berada di sebuah ruangan dengan satu sisinya ditutupi cermin lebar. Terdapat banyak lampu di setiap sisi dan juga kursi di depannya. Jika Raga tidak salah menduga, itu seperti meja rias milik wanita.

Ketukan di pintu menghantarkan seseorang yang langsung masuk dengan tumpukan pakaian di tangan. Ia bicara dengan cepat dan buru-buru keluar setelah menyerahkan pakaian itu untuk Metta.

Raga duduk dengan bersandar santai pada sofa empuk berwarna merah itu sebelum ia tersentak kaget. Bagaimana Metta membuka baju seragam di depannya tentu tidak bisa membuat Raga santai.

"Eng, ngapain lo?" Tanya Raga dengan ragu. Mencoba menutupi keterkejutannya. Setidaknya, cowok itu hanya akan menaikkan sedikit standar kegilaan Metta. Dari cewek gila gak tau malu, menjadi cewek sinting gak tau malu.

"Gue mau ganti baju. Lo denger kan tadi disuruh cepet-cepet."

"Mungkin lo bisa cari tempat ganti yang gak ada cowok liat."

"Gue justru seneng kalo diliatin." Cewek itu mengedipkan matanya untuk Raga. "Gak masalah kan kalo gue ganti baju disini, di depan lo?"

Yang benar saja.

Tanpa persetujuan pun cewek itu menanggalkan baju seragam dan membiarkannya tergantung di kursi. Menyisakan tangtop putih ketat yang mencetak jelas lekukan ramping di tubuhnya. Caranya menatap Raga, adalah tipe tatapan yang mampu membuat laki laki mana saja berlutut di depannya. Tidak peduli jika lututnya terluka sekalipun.

Mungki Raga bukan salah satunya.

Raga tau jika cewek di hadapannya itu sedang bermain. Dia bukan cowok bodoh yang tidak bisa melihat usaha gencar Metta mendekatinya. Puluhan chat yang cewek itu kirimkan cukup membuat Raga mengerti jika Metta tengah berusaha menarik perhatiannya.

Bisa jadi, Metta melakukan ini semua karena merasa harga dirinya terluka. Setiap kali Raga punya kesempatan, cowok itu selalu mencoba mendorong Metta menjauh. Mungkin hal itu justru menimbulkan keinginan bagi Metta mendapatkannya.

Dan jika Metta tengah membuka arena bermain untuknya, Raga cukup tangguh untuk mengalahkan cewek itu.

***

TBC

Dikit... :"

Faradita
Penulis Amatir

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top