32 - Keputusan

Aku pernah membuat duniaku berporos pada satu titik bernama Kamu. Lalu, Kamu memutuskan pergi. Duniaku berhenti.

- Ametta Rinjani -

💞Play the music before read💞

Di dua jam pertama setelah makan siang, Metta bertahan dengan hanya mengirimi pesan untuk Raga. Itu pun berakhir tanpa ada balasan. Dan sekarang semua masakan Metta sudah mendingin sempurna tapi cowok itu belum juga datang.

Metta kembali melihat jam untuk yang kesekian kalinya. Yang menunjukkan waktu mendekati makan malam. Ia lalu beranjak mengangkat semua piring. Bermaksud memanaskan makanan agar nanti saat Raga datang, cowok itu bisa langsung mencicipi masakannya.

"Bisa berubah gak ya rasanya?" gumamnya menatap ke dalam microwave. Setelah selesai menata kembali meja makan, Metta mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk kesekian kalinya hari ini.

Ametta Rinjani
Ga, dimana?

Setelah memastikan pesan itu terkirim, Metta kembali duduk di sofa menghadap televisi yang menyala tanpa suara. Ia jadi gelisah memikirkan keberadaan Raga. Tidak biasanya cowok itu terlambat.

Dulu saja saat Metta memaksa minta jemput, Raga selalu datang tepat waktu.

Ponselnya yang bergetar menarik perhatian Metta, berharap itu kabar yang ia tunggu. Namun nama pemanggil yang tertera disana membuatnya meluruhkan bahu turun.

"Halo,"

"Selamat malam, Nona."

"Apa?! Jangan basa basi. Gue lagi nunggu kabar orang."

"Saya tidak akan menyita waktu Nona terlalu lama," laki-laki itu berdehem. "Ini mengenai Tuan,"

"Sejak kapan urusan Tuan kalian jadi urusan gue?"

"Tidak lama lagi, Nona akan segera bertemu tuan."

Metta menarik tubuhnya menjadi duduk tegak.

"Jadi, 'Tuan' lo itu memutuskan keluar dari sarangnya?" Metta mendengus. "Untuk apa? Mengecek keadaan peliharaannya"

"Sampai hari itu tiba, saya harap Nona tidak membuat masalah. Waktu pertemuan masih dibicarakan oleh Tuan dan akan saya sampaikan langsung keputusannya. Selamat malam."

Sambungan terputus, dan Metta kebingungan.

Ia masih memandangi layar ponselnya beberapa saat sebelum berubah mejadi gelap. Metta tidak tahu harus merasakan apa. Tentu bertemu dengan walinya sendiri adalah keinginannya sejak dulu. Dan sepertinya ia akan mengetahui siapa orang di balik kehidupannya selama ini.

Apakah ia harus senang?

Pasti akan sangat tidak nyaman melihat orang itu. Namun itu lebih baik dari pada menghabiskan hidup seorang diri dengan sendirian.

Tidak, Metta tidak sendirian.

Ia memiliki Raga saat ini. Hanya memikirkannya saja Metta sudah merasa penuh akan bahagia. Bertemu ataupun tidak dengan walinya, rasanya tidak begitu penting lagi sekarang.

Metta bermaksud menelpon Raga ketika terdengar bel berbunyi dari pintu depan. Tanpa menunggu ia berlari membuka pintu, sudah mempersiapkan diri untuk marah -tidak benar-benar ingin marah- karena Raga yang sudah sangat terlambat datang.

"Kamu kemana aj-- Loh? kok basah kuyup?" ucap Metta terbelalak.

Di luar memang sedang hujan dan itu sebabnya ia menutup semua jendela sekarang. "Kamu gak bawa mobil?"

Cowok yang masih meneteskan air hujan dari lengannya itu tidak menjawab. Menatap Metta diam tanpa suara. Hanya dengan selapis kaus di tubuhnya, cowok itu pasti kedinginan.

"Kamu mau sakit," Metta menarik tangan Raga masuk. "Iya sih tau situ kuat. Bisa gebukin orang. Tapi yang namanya flu gak liat badannya ada otot atau enggak."

Ia membawa Raga duduk di sofa yang tadi ia tempati. Sedangkan Metta buru-buru mengambil handuk dari kamar mandi kemudian mengambil duduk di meja menghadap Raga. Ia mulai mengeringkan rambut cowok itu yang basah.

"Pake jas hujan dong. Yang gocengan di pinggir jalan kan banyak tuh. Warna warni," Metta kemudian menutupi bahu Raga dengan handuk. Mencoba mengeringkan tubuh Raga.

"Kamu dingin banget," Metta lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya, menangkup wajah Raga. "Anget gak?," tanyanya seraya membalik-balikkan tangan di sana.

Raga masih diam. Hanya memandangnya dengan tatapan tak terbaca. Metta turut mendekat mengamati sesuatu disepasang mata menenangkan itu.

"Kalo gini aku baru nyadar kalo bulu mata kamu panjang," Metta mengangkat jarinya dan menyentuh kelopaknya, membuat cowok itu memejamkan mata.

"Tapi tetep cantikan mata aku," ujarnya menyunggingkan senyum. Metta membawa tangan Raga menyentuh kelopak matanya. "Panjang juga, kan. Lentik lagi,"

Metta merasakan tangan Raga beralih membelai wajahnya, namun dengan bergetar.

"Masih dingin ya? Oh tadi aku baru selesai manasin sup, bentar aku ambilin," Belum sempat ia berdiri, Raga menahan tangannya. Masih tanpa kata dengan pandangan yang-- aneh?

Metta menurunkan pegangan Raga. "Bentar aja,"

Ia kemudian berlalu ke dapur dan kembali membawa semangkuk sup. Duduk di depan Raga dan menyodorkan sesendok sup mengepul hangat.

"Aaaaa..."

"Ta,"

"Aaa dulu. Ini aku bikinnya berdarah-darah," Metta memperlihatkan tangan kirinya yang penuh plester luka. "Gamautau. Aaa dulu pokoknya,"

Metta tersenyum saat bibir yang tadinya tertutup rapat segaris itu menerima suapannya.

"Gimana? Enak?"

Raga masih saja diam. Kali ini cowok itu mengambil alih mangkuk yang dipegang Metta, meletakkannya di meja untuk memperhatikan tangannya yang dibaluti plester.

"Sakit sih," ucap Metta. "Tapi pas masakannya selesai jadi gak mikirin lagi,"

Raga lalu memandangnya. Kali ini sudah Metta pastikan ada yang tidak beres.

"Metta, kenapa kamu ngelakuin semua ini?"

"Heh?" Metta mengerjap. "Maksudnya masak?"

Ia menggaruk telinganya yang tidak gatal dengan senyum malu. "Kamu kan jago masak. Masa aku terus yang makan enak. Jadi, biar gak rugi-rugi banget pacaran sama akunya, aku juga harus bisa masak dong. Ya walaupun gak seenak masakan kamu,"

Dengan tatapan Raga yang sejak tadi sudah mengganggu Metta, ia bertanya. "Kenapa sih, Ga? Kok jadi aneh gini?"

Raga tidak menjawab. Lebih tertarik menggenggam tangannya yang penuh plester luka bermotif bintang.

Metta masih belum bisa melihat wajah Raga ketika cowok itu menariknya mendekat dan meletakkan kepalanya di bahu Metta. Tarikan napas Raga terasa berat.

"Raga, rambu kamu basah lho ini," ucap Metta. Namun tidak mengelak. "Kamu kenapa sih? lagi ada masalah emang?"

Metta meraih handuk di bahu Raga. Menyeka tetesan air yang masih ada.
Mengusap rambut lembab cowok itu dan berakhir menutupi punggung lebar Raga. Punggung yang ia sukai karena sangat nyaman dan----

"Sebaiknya kita akhiri sekarang."

Suara siapa itu tadi?

Metta menarik diri dan menatap Raga dengan dahi berkerut.

"Heh?"

Raga membalas tatapannya. "Aku mau ini berakhir."

Ia mendengar apa yang dikatakan Raga sebelumnya. Karena meski suara cowok itu sangat pelan, namun Raga mengatakannya tepat di samping telinganya.

Metta hanya berharap kalau telinganya salah.

Ini menjadi buruk ketika ia mulai ketakutan. Bukan pada hujan yang semakin deras di luar.

"Ma-maksudnya apa? Kamu ngomong apa?" Metta tertawa hambar. "Mau teh? Aku bisa bikin teh. Sebentar,"

Metta yang setengah berdiri tertahan karena Raga menariknya kembali duduk.

"Hubungan ini. Kita akhiri hubungan ini sekarang."

Mungkin cowok itu membaca raut keterkejutan yang ada di wajahnya sekarang. Karena tenggorokannya tiba-tiba kering, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Kita harus putus."

Jadi, cowok itu memperjelas maksudnya untuk menambah goresan lain yang ternyata perih di dada Metta.

"Aku gak ngerti," ucap Metta lirih. "Aku gak tau kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh gini. Tapi aku gak mau putus."

"Kamu pikir selama ini aku serius?" Cowok itu lalu bangkit berdiri. Membuat handuk dibahunya jatuh. "Aku cuma main-main,"

Main-main?

Metta masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Namun berapa kalipun ia mengerjap, matanya hanya melihat punggung tegap Raga berjalan menuju pintu.

Raga akan meninggalkannya?

"Raga!" panggil Metta berdiri, menahan jalan Raga. "Ini ada apa sih? Kita baik-baik aja kemarin. Enggak- kita bahkan baik-baik aja tadi siang. Sekarang kenapa jadi gini,"

Raga tidak mendengarkan, menggeser Metta ke samping dan berjalan melaluinya.

"Tunggu, tunggu." Metta menahan Raga lagi. Tepat di depan pintunya. "Kenapa kamu tiba-tiba jadi gini, sih?" Metta berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jatuh sekarang. "Masakan aku gak enak?"

Metta mencengkram satu tangan Raga dengan dua tangannya. "Aku akan belajar lagi. Aku janji bakal belajar masak lagi. Tapi kamu jangan pergi, Ga. Jangan,"

Raga melepaskan pegangannya di lengan cowok itu. "Yang tadi kurang jelas? Ini cuma permainan."

Tanpa terarah, tangan Metta terangkat lagi menahan ujung baju kaus Raga. Ia harus memegangi cowok itu, seolah-olah jika ia melepaskan sedikit saja, Raga akan menghilang.

"Tunggu dulu," Ada banyak kata yang berkumpul di mulutnya. Namun tidak ada satupun yang terucap. Bisakah Raga memahami keinginannya hanya dengan diam? Karena Metta sepertinya tidak terlalu mampu untuk bicara dengan benar sekarang.

"Kenapa kamu tiba-tiba gini? Kenapa jadi pengen putus. Aku salah apa?"

Metta bisa merasakan sudut matanya mulai tergenang basah. Lalu kepalanya menggeleng seraya memegang erat ujung baju itu. Hanya ujung baju itu harapannya sekarang.

Apa yang harus dia lakukan tanpa Raga? Bagaimana bisa Metta mampu sendirian lagi setelah ini?

Pegangannya tetap erat, namun Raga lebih memilih menggenggam tangannya. Melepaskan tarikannya hanya untuk mengingatkan kehangatan yang diberikan tangan itu terancam tidak akan lagi Metta rasakan nanti.

Raga menatapnya. Apakah cowok itu melihat air matanya yang jatuh sekarang? Tidakkah dia sadar jika Metta bisa saja hancur?

"Kita put-"

Metta bergerak cepat menutup mulut Raga. Kepalanya menggeleng kuat yang menyebabkan air matanya jatuh.

"Jangan," isaknya tertahan. "Jangan kaya gini. Aku gak mau, Ga. Gak mau,"

Raga menurunkan tangannya, lalu mundur untuk memberi jarak.

"Bagian mana yang gak kamu ngerti?" Raga menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bertaruh sama yang lain, sampai dimana bisa menaklukan seorang Ametta Rinjani. Cewek angkuh penuh kesombongan yang memandang laki-laki hanya sebagai mainan. Dan itu," Raga menunjuk ke arah meja makan yang penuh dengan makanan. "Kamu melakukan itu semua seperti orang tolol. Sekarang katakan, bagaimana rasanya dijadikan sebuah mainan?"

Metta masih mendengar setiap kata menyakitkan itu dengan tubuh bergetar. Ia mengerjap. Tidak ingin hujan turun semakin deras di ruangan ini.

Raga kemudian berjalan melewatinya. Cowok itu sudah memegang handle pintu tapi belum membukanya. Metta pikir cowok itu akan berubah pikiran. Raga pasti sedang mengerjainya sekarang.

Sebentar lagi ia akan mendengarnya tergelak karena tidak bisa menahan tawa. Dan semuanya akan kembali seperti sebelumnya.

Ini tidak mungkin terjadi.

"Jangan pernah lagi ngirim pesan," lalu pintu itu terayun terbuka. "Kamu sangat mengganggu."

Pintu yang berakhir tertutup, adalah awal di mana hujan di matanya turun perlahan.

Air mata yang jatuh, seperti memberi jalan suaranya untuk keluar.

"Raga?" Panggilnya seperti tersadar. "Raga!"

Metta berlari membuka pintu, mengejar pintu lift namun terlambat. Metta menggedor lempengan besi dingin yang sudah tertutup itu sekuat tenaga.

"Raga jangan... Raga jangan pergi." isaknya. "Raga!"

Dengan terisak, Metta memadang sekeliling. Ia memukul-mukul tombol lift di sebelahnya. Namun itu terlalu lama bagi Metta. Ia tidak bisa kehilangan Raga hanya karena menunggu sebuah lift.

Dengan tangis yang sudah membanjir ia lalu berlari menuju pintu darurat. Setiap langkah turun yang ia ambil, mengundang isak perih di dadanya. Membuat napasnya semakin tersita.

Raga tidak boleh meninggalkannya. Metta tidak akan membiarkan itu.

Entah di lantai ke berapa ia jatuh terjerembab menghantam anak tangga. Membuat beberapa anggota tubuhnya terasa perih namun tidak seberapa dengan sakit yang ada di dadanya sekarang.

Metta berdiri lalu keluar dari tangga darurat. Menemukan lift yang baru saja terbuka.

Metta tidak mempedulikan tatapan dari semua orang yang berada satu lift dengannya. Ia hanya ingin segera turun dan masih sempat menahan Raga.

Metta tau jika percuma memencet tombol lift karena itu tidak akan membuat kecepatannya berubah menjadi roket. Ia hanya perlu melakukannya, karena tangisannya juga turut membanjir sesak.

Belum lagi pintu lift terbuka sepenuhnya, Metta sudah menyelipkan tubuh keluar dan berlari menuju parkiran. Rasanya seluruh tubuhnya sudah bergetar sekarang sampai kepalanya pening.

"Raga!! Raga," panggilnya di parkiran sepi itu. Ia melihat sebuah motor hitam di ujung portal. Dengan kedua kakinya ia langsung berlari mengejar, namun suara petir yang nyaring menyentak Metta. Membuat ia menutup telinga kuat-kuat dan berjongkok tepat di tepi kanopi, di depan hujan yang menghantam semen abu-abu.

"Raga!" Teriaknya pada hujan yang menghalangi, seolah sedang menertawakan kelemahannya.

Metta bukan lagi anak kecil. Ia mempunyai tubuh dewasa dengan kaki kuat. Seharusnya Metta bisa lebih cepat berlari. Tidak peduli jika lutunya yang berdarah. Tidak peduli jika rasa pegal akibat menuruni tangga menyerang tubuhnya. Tidak peduli pada dinginnya lantai menusuk telapak kakinya.

"Raga!!!" Metta memjatuhkan kepalanya di antara lutut. Memeluk dirinya sendiri seakan semua energi ikut lenyap dengan kenyataan jika ia terlambat mengejar Raga.

Metta bisa merasakan rasa dingin menusuk dari lantai beton parkiran di telapak kakinya yang telanjang. Menjalar ke setiap ruas tulangnya. Berakhir disatu bagian di tengah dadanya, menambah rasa perih di hati.

"Raga," gumamnya lemah. Tidak untuk memanggil cowok itu. Tapi untuk menyadarkan dirinya.

Jika sekali lagi, ia terbuang.

kali ini bersama ketakutannya yang berkumpul jadi satu.

Hujan, dan kehilangan Raga.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top