12 - Biarkan


***

"Jadi tahun ini peraturannya sedikit berubah. Semua orang bisa ikut dan gak di klasifikasikan melalui umur. Pastinya kalian semua gak terlalu peduli juga sama hal itu."

Mex menutup lembaran di tangannya dan meletakkan ke atas meja. Menatapi petarung miliknya satu persatu. "Gue gak perlu lagi ngeraguin kemampuan kalian. Kita cuma perlu ngabisin semuanya satu persatu."

Setelah membagikan jadwal latihan kumpulan di ruangan bubar.

"Bentar," tahan Mex pada Raga. "Gue ngomong sama lo bentar."

"Kenapa?"

"Soal Satya."

Raga mendengus. "Udah ya. Kemaren Kevin, sekarang lo. Emang gue keliatan lemah banget apa gimana?"

"Bukan gitu," Mex terlihat serius dengan perkataannya kali ini. "Satya udah berkembang pesat. Lo belum pernah ketemu dia lagi setelah tanding taun lalu. Kemampuan dia berubah drastis dari yang terakhir -"

"Sama kayak gue," sela Raga. "Thanks buat peringatannya. Tapi gue tau gimana cara ngadepin dia. Lo gak usah takut. Kita bakalan menangin uang itu."

Mex mengusap rambutnya. "Gue lebih takut kehilangan petarung gue daripada uang."

Raga terkejut. Pasalnya, Mex selalu mementingkan uang dan kemenangan di atas segalanya.

"Ya, tapi gue juga gak mau uangnya ilang." Lanjut Mec cengengesan. Membuat Raga mendengus. Ia menepuk pundak Mex sambil berlalu keluar. Melambai acuh atas teriakan Mex yang belum selesai bicara.

Kevin sudah menunggunya di ruang ganti. Berbincang ringan soal latihan yang dilakukan Raga. Kevin sebenarnya juga seorang petarung seperti Raga. Namun cowok itu sudah pensiun dan memilih menjadi pendamping Raga dalam bertinju.

Ponsel Raga tiba-tiba bergetar. Membuatnya membuka layar dan menemukan chat yang sangat sering ia lihat belakangan ini. Tak pelak, chat yang tidak pernah ia balas itu membuat Raga sedikit terhibur. Karena biasanya, chat itu berisi curhatan dan kegiatan tidak masuk akal.

"Wah, anjing."

Umpatan dari Kevin di sebelahnya itu membuat Raga menoleh dari layar ponsel. "Apa?"

"Lo ngapain senyum-senyum sambil liatin hape gitu! Wah wah... " Kevin terlalu histeris menemukan sahabatnya bertingkah tidak wajar. Ia bangkit dan mondar mandir.

"Apaan dah." Dengus Raga dan kembali bersandar. Menggeser layar lagi.

"Metta?" Tebak Kevin. Raga menaikkan alisnya bertanya. Kemudian Kevin mengumpat untuk kebutuhan dirinya lalu kembali duduk.

"Lo kesurupan?"

"Jadi lo udah beneran itu sama si Metta?" Tanya Kevin mengabaikan wajah bingung Raga.

"Beneran apa maksudnya?"

"Jangan pura-pura bego lo. Bego beneran mampus."

Raga tertawa.

"Ga, seriusan. Lo udah beneran ama itu cewek?" Tanya Kevin lagi. "Atau jangan-jangan lo sama dia udah tidur bareng, makanya lo jadi gini."

Raga dengan mudah menoyor kepala sahabatnya itu. "Ngomong lo kenapa dah ngaco. Emang gue gak boleh senyum. Muka muka gue. Kenapa lo yang sewot?"

"Ini gue bukan sewot, njing. Gue nanya. Lo sendiri yang bilang gak bakal suka sama cewek itu. Liat sekarang..."

"Gue gak suka sama cewek itu."

"Bullshitt... "

"Serah lo tai."

Kevin memandang Raga kali ini dengan seksama. "Gue sih gak masalah lo mau suka ama cewek mana aja. Tapi lo perlu hati-hati sama Metta. Gue tau gue sama yang lain sering ngomongin Metta, tapi itu karena kesukaan cowok doang. Tapi lo," Kevin menghela nafasnya.

"Gue kenapa?"

"Gue tau lo gimana. Dan gue tau Metta gimana."

Raga cukup pintar mengartikan maksud sahabatnya itu.

"Lo lebay lagi. Soal Satya sekarang ini. Kayak pacar aja lo lama-lama."

Kevin menendang kaki Raga yang bisa di hindari cowok itu. "Yaudah gue balik duluan. Senyumin aja tuh hape ampe dia senyumin lo balik."

Kevin keluar meninggalkan Raga yang kembali menatapi ponselnya. Mau tidak mau, Raga jadi memikirkan apa yang dikatakan Kevin tadi.

Metta masih menyebalkan. Raga aku itu. Masih bermasalah dan berisik. Cewek itu selalu memaksa masuk ke daerah teritorialnya. Mencoba mengusik Raga dari pada seharusnya.

Sebenarnya Raga hanya sedikit membiarkan Metta bertindak lebih dan tidak ingin terlalu ambil pusing. Lagipula, ia hanya perlu mengabaikan Metta.

Siapa yang menyangka jika itu ternyata sulit.

Tidak bisa dielakkan, Metta membawa warna baru bagi hari Raga.

Namun, keputusannya untuk menghindari masalah selama masa sekolah masih terpatri di kepala. Beriringan dengan teriakan Papanya ketika mengetahui kegiatannya bermain tinju.

Pesan kembali masuk dari chat yang ia pandangi sejak tadi.

Lo udah makan?

Raga tidak pernah kalah dalam bertanding tinju. Ia selalu menaklukan ring dan lawan dengan gemilang. Dia petarung sejati yang pintar membaca suasana. Menganalisa lawan dengan tepat. Dan Raga yakin bisa menghadapi Metta.

Raga kemudian memilih tombol add di pojok kiri atas. Menutup chat cewek itu dan memasukkan ponselnya ke saku. Ia lupa sejak kapan Raga berhenti mendorong Metta menjauh. Namun, ia juga tidak ingin menariknya mendekat. Raga hanya membiarkan apa yang terjadi saat ini. Mengikuti permainan yang cewek itu lakukan.

Mengikuti kata hati?

Raga mendengus dan meraih ranselnya.

Mana mungkin.

***

"Kue udah. Bunga udah. Udah semua kayaknya. Ayo jalan." Metta menggeser duduknya dengan kue yang ia pangku.

Setelah menyebutkan alamat tujuan, Raga menjalankan mobilnya.

"Gue bisa nurunin lo di jalan sekarang kalo lo tetep gak bilang kita mau kemana." Ucap Raga kesal.

Metta tergelak. Ia menjulurkan tangan dan menepuk pundak kokoh Raga. "Ih abang jangan galak mulu. Kan gue makin gemes," Metta ingin menjulurkan tangannya lebih jauh menyentuh pipi Raga namun langsung di tahan oleh cewek itu.

"Udah gue bilang jangan sembarang pegang-pegang."

"Ish..."

Setelah keluar dari jalan tol, hamparan pepohonan mulai terlihat di sekitar. Raga sudah semakin kesal saja karena tidak mengetahui tujuan dengan jelas.

"Nyokap gue hari ini ulang tahun." Ucap Metta ketika hening menelusup. Raga sempat menoleh beberapa saat lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan.

"Gue mau ngerayainnya. Lo kan pacar gue. Jadi sekalian mau gue kenalin."

"Siapa yang pacar lo?"

"Ck. Tuh kan mulai."

"Lagian kenapa gak sama temen-temen lo aja. Kenapa maksa gue buat nganterin."

"Nah. Temen-temen gue aja gak pernah gue ajakin ikut. Jadi, lo salah satu yang beruntung kali ini."

Cukup memusingkan meladeni Metta yang sudah seharian ini selalu mengikutinya kemanapun. Sejak pagi ia menjemput hingga pulang, Metta selalu berada di sekitarnya. Saat hening seperti barusan saja ia seperti mendengar gaungan suara berisik cewek itu di belakang kepalanya. Raga tiba-tiba bersyukur kalau mereka tidak sekelas.

Mobil Raga berhenti di sebuah rumah yang asri dengam banyak tumbuhan dan bunga. Rumah itu terbilang kecil namun memiliki halaman yang begitu luas. Metta turun yang diikuti Raga dengan membantu membawakan bunga di jok belakang.

"Eh neng Metta. Lama gak kesini, non." Sambut seorang wanita berumur dengan wajah sumringah.

"Mbok gimana kabar?"

"Baik, non baik." Ia memperhatikan bawaan Metta. "Oh iya. Mbok gak liat tanggal hari ini. Maaf ya non."

"Gak papa."

"Wah, non bawa temen?" Raut terkejut tidak dapat disembunyikan wanita itu. Ia menatap Raga dan mengangguk menyapa, yang dibalas Raga dengan sopan.

Metta kemudian masuk lebih dalam dengan diikuti Raga di belakang. Rumah itu terlihat sangat bersih. Hampir tidak ada apa-apa selain perabot rumah standar. Tidak ada foto atau lukisan apapun. Seperti tidak ada kehidupan disana.

Cewek itu membuka pintu kaca yang mengarah pada taman belakang. Taman itu tak kalah luas seperti yang di depan. Raga masih mengikuti Metta menyusuri rumput yang hijau itu ketika tiba-tiba langkahnya berhenti. Melihat Metta duduk di atas rumput.

Metta meletakkan kotak kue itu di atas rumput dan membukanya. Menampilkan ukiran selamat ulang tahun dan nama Rinjani di atasnya. Tanpa lilin.

"Selamat ulang tahun, bu." Ucap Metta sambil mengusap batu nisan berwarna abu-abu.

"Hari ini ibu ulang tahun lagi. Gak kerasa ya. Sesuai permintaan ibu tahun lalu, kali ini Metta bawain kue yang rasanya coklat. Ada hiasan bunga-bunganya juga. Sama kaya kesukaan ibu."

Raga masih diam di tempatnya berdiri. Menemukan gundukan tanah di tengah halaman luas ini adalah hal yang cukup mengejutkan baginya.

"Hari ini Metta gak sendirian," cewek itu menoleh ke arahnya dan melambai untuk mendekat.

Raga meletakkan bunga yang tadi ia bawa di samping batu nisan. "Selamat ulang tahun, tante."

Metta sempat tersenyum ke arah Raga namun cowok itu tidak melihatnya. Kemudian ia kembali mengusap ukiran nama Rinjani di batu nisan itu dengan perasaan rindu.

Raga memperhatikan Metta yang masih bicara pada nisan ibunya. Mengusap batu itu dan mencabut rumput yang panjang di sekitarnya. Cukup lama Raga diam disana sampai ketika Metta yang tiba-tiba berdiri.

"Ayo pulang." Ajaknya.

Raga mendongak ke arah Metta. "Lo gak bacain doa dulu?"

Mendengar pertanyaan itu, Metta lalu memperhatikan nisan ibunya. Setiap kali ia datang Metta hanya akan bicara dan menceritakan kehidupannya. Tidak ada doa. Tidak ada pengharapan.

"Gue gak tau caranya." Sahutnya pelan.

Raga kemudian meraih tangan Metta. Membawa cewek itu kembali duduk di atas rumput. "Ikutin gue."

Raga mulai mengangkat tangannya dan melafalkan sebuah doa. Yang diikuti begitu saja oleh Metta. Ini pertama kali Metta berdoa di pusara ibunya.

Dari balik bulu mata, Metta tidak bisa berkedip menatap cowok itu yang memimpinnya mengirim doa untuk ibunya.

Sudah berapa kali Raga berhasil menghentakkan degup jantungnya menjadi semakin cepat?

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top